
FOV : Faris
..enaknya nikah itu,kalau pegangan gak jadi dosa,malah jadi pahala yang berlipat, kalau kamu Ban,kamu punya pacar gak?" Tanya Pak Yusuf tiba tiba, membuat aku menahan tawa dan berhasil membuat wajah Banu sedikit merah.
"Nggak pak" jawab Banu pelan.
"Nah ..bagus itu gak punya ya?" ada sebagian murid yang sedikit tertawa mendengar perkataan Pak Yusuf yang menggema itu, karena mengunakan mik dan sound sistem.
Sedang kan wajah Banu,ku lihat makin merah mendengar tawa kecil murid yang lain.
"Loh jangan ketawa,bagus Banu ini selain dia cerdas dia juga jaga akhlak nya dengan tidak pacaran.Pacaran itu ya ,saya pertegas cuma nambah dosa aja,jangankan pegang ,liat aja itu udah dosa,dan dosa melihat itu bagai akar menuju dosa yang lebih besar.Beda lagi kalau udah nikah,yang tadinya pegangan haram jadi dosa,kalau udah nikah pegangan tangan dengan suami/istri itu dosa langsung luntur seketika,gimana ban enak kan?"
Banu tersenyum malu mendengar jawaban itu,aku sendiri juga ikut tersenyum mendengar nya,malah sampai ingat Bu Tanika tadi mencium tanganku ..Ya ampun aku kok malah mikirin dia.
"Nah itu baru pegangan,kalau yang lebihnya .. wih itu lebih lagi,terus ya kalau misal nya suami istri melakukan.. maaf ya, hubungan badan,itu para malaikat itu banyak yang doain mereka,tentu nya doa yang baik buat mereka, kebayang gak tuh berapa banyak dosa yang luntur?"
Semua murid tersenyum senyum mendengar kan penjelasan Pak Yusuf,nampak nya pembahasan seperti ini,memang paling banyak disukai murid murid.
Selesai pengajian rutinan pagi itu,yang memang seperti biasa beres pukul 9.00 pagi, semua murid kembali ke kelas masing masing,dan seperti biasa memulai pelajaran hari ini.
Pagi itu aku tak langsung ke kelas aku di minta Banu mengantarkan nya ke toilet, kebetulan juga aku ingin pergi ke toilet.
Sepulang dari toilet Banu terus membahas nikah dihadapan ku.
"Wih .. ris,enak bener ya nikah,apa gue nikah aja ya setelah lulus ini? Itu pegangan tangan aja udah luntur dosa,mana kalau pegang yang mulus enak kan?" Banu berceloteh seakan membayangkan dia sudah menikah.
"Dasar Lo ya,emang lu udah punya calon nya gitu?" Tanya ku sedikit menggoda Banu.
"Hehe gak tahu ya ..sama siapa.. tapi kan,gue ganteng masa gak ada cewe yang mau" pede nya Banu keluar,aku hanya tersenyum mendengar itu.
Kami berjalan menuju kelas kami, cukup lama karena toilet memang agak jauh dan kelas aku pun berada diatas dekat ruang guru.
"Terus cewe yang Lo suka kaya apa Ban,btw gue gak pernah tahu tuh?" Tanyaku sembari menaiki tangga,ya .. aku memang penasaran pada Banu,dia tak pernah cerita karakter wanita seperti apa yang dia suka,meski kita memang cukup dekat,Banu tak pernah membahas wanita, ini memang pertama kalinya,aku mendengar dia antusias membahas wanita.
"Bu Tanika .." jawab Banu menatap lurus ke depan.
Aku yang memang sedang menatap wajahnya,menanti jawaban, tiba-tiba merasa kaget dan tersentak mendengar jawaban Banu.
Hah ?? Bu Tanika?? Maksud nya cewek yang disuka Banu Bu Tanika, nggak mungkin ..
Aku mencoba memastikan.
"Maksud Lo ,Lo suka Bu Tanika?" Tanya ku penasaran,masin menatapnya lekat,kali ini aku membalikan badannya kehadapan ku dan juga menghentikan langkah ku.
Entah kenapa hati ku sedikit bergejolak mendengar jawaban Banu tadi.
Tapi Banu malah memukul tangan ku yang memegang kedua bahunya.
"Dasar **** lu.. bukan itu,liat tuh .." Banu mengerakkan wajahku dengan telunjuknya. "Ada Bu Tanika kesini,mata nya itu, gue takut dia marah,karena kita malah ngobrol disini"
Benar saja,mata Bu Tanika menatap kemari dengan tatapan menyelidik dan tajam seperti biasanya.
"Kalian lagi ngapain diem didepan tangga?" Tanya Bu Tanika yang kini sudah didepan aku dan Banu.
"Nggak Bu .." jawab Banu cepat.
__ADS_1
"Terus ngapain kamu pegang bahu Banu gitu,mau pelukan?" Tanya Bu Tanika padaku ,yang memang sedari tadi bengong ,tak sadar kalau kedua tanganku masih dikedua bahu Banu.
Banu sontak memukul kedua tangan ku,aku meringis kesakitan memegang kedua tanganku yang dipukul Banu tanpa kelembutan sedikit pun.
"Lo ngapain sih, dasar aneh" aku melihat Banu yang sedikit mengeryitkan dahinya.
"Ya udah Bu saya duluan Bu , Assalamualaikum" Banu pergi duluan dan meninggalkanku yang masih meringis memegang punggung tanganku yang sedikit perih.
"Waalaikumsalam" jawab Bu Tanika.
"Kamu kenapa gak masuk? Mau ngalangin jalan saya?" Wajah guru itu kembali datar dan tegas seperti biasanya.
Aku menatap sedikit menggoda istriku itu.
"Jangan marah gitu Bu,nanti cepet tua loh" goda ku sembari sedikit mendekat kan wajahku pada nya.
Bukan tanpa alasan aku berani melakukan itu,tentu nya, karena suasana disana sudah sepi,karena para murid sudah masuk kelas, begitu juga dengan guru guru.
"Apaan sih kamu?" Wajah Bu Tanika sedikit memerah menahan malu,ya sekali pun dia mencoba galak,tapi malunya itu tak dapat ditutupi.
Aku juga tidak tahu apa yang dirasakan Bu Tanika kalau dekat dengan ku,yang jelas,aku suka melihat nya tersipu malu seperti itu.
"Nggak Bu.. ya udah aku masuk kelas dulu ya" lalu aku membisikan sesuatu ditelinga Bu Tanika "Assalamualaikum istriku"
Aku langsung berjalan cepat, karena tak mau kena marah Bu Tanika.
Aku juga gak bisa bayangin gimana merah nya wajah Bu Tanika mendengar ucapan ku barusan hihi .. Tapi,Aku senang bisa menggoda dia.
Pulang Sekolah
Sepanjang perjalanan seperti biasa tak ada obrolan Bu Tanika fokus menyetir.
Sesampainya dirumah ,aku dan Bu Tanika masuk ke kamar masing masing,kebetulan hari ini hari Jumat mata pelajaran hanya ada satu,setelah acara pengajian,dan setelah nya para murid dan guru pulang untuk melaksanakan sholat Jumat bagi kaum Adam.
Aku pun pergi mandi dan segera bersiap pergi ke mesjid untuk sholat Jumat,oh iya .. semua pakaian ku nampak nya sudah dipindahkan ke rumah ini oleh Bu Tanika,karena aku sudah menemukan semua pakaian ku dilemari kamar.
Saat keluar kamar sembari memakai kopiah,aku melihat Bu Tanika sedang memasak sesuatu di dapur,aku tak melihat Bu Hemi seperti nya dia sedang beres beres ditempat lain,aku memberanikan diri mendekati Bu Tanika yang sibuk menggoreng sesuatu,aku berdiri persis di depan meja khusus, samping Bu Tanika.
"Bu .." tanyaku
"Mmhh" Bu Tanika masih fokus dengan gorengan nya.
"Ibu yang bawa semua baju aku yang dirumah?" Tanya ku hati hati
"Iya" jawab Bu Tanika yang kini sedang menyimpan ayam goreng dipiring.
"Makasih ya Bu,saya ngerepotin terus,terus buat tadi pagi maaf ya Bu" ucapku dengan cengengesan.
Tiba tiba Bu Tanika memandangku, setelah selesai memasukkan semua potongan ayam goreng ke atas piring.
"Kamu tahu kan kamu gak sopan?" Tanya Bu Tanika ,menghadap padaku
"Iya kan maaf Bu"
"Ya udah sana berangkat !! ntar telat lagi" Bu Tanika menatap malas kepadaku.
__ADS_1
Ia membalik badan mengambil sesuatu dikulkas.
"Ya udah Bu, saya berangkat Bu .. Assalamualaikum"
Aku berlalu pergi untuk segera pergi ke masjid.
Sepulang dari masjid,Bu Tanika yang sedang duduk santai di sofa, langsung berdiri menghampiri ku.
"Assalamualaikum"
"waalaikumsalam ,Udah pulang?? sekarang makan dulu yu!?" Ajak Bu Tanika lalu ia berjalan menuju ruang makan.
Aku pun mengekor dibelakang nya.
Bu Tanika, mengambil kan ku nasi saat aku sudah duduk di kursi itu.
"Suka ayamkan?" Tanya Bu Tanika sembari memandang ku.
Aku mengangguk saja.
Setelah selesai mengisi piring ku,Bu Tanika menyimpan piring itu didepan ku.
Dia lalu ikut duduk dihadapan ku,dia juga mengambil nasi dan lauk pauk.
Aku masih menatap nya saja,entah kenapa kebaikan Bu Tanika itu selalu membuat ku kagum padanya.
"Ayo makan!?" Pinta Bu Tanika,yang mulai mengambil suapan pertama nya.
Kami kali ini tak saling berbincang dimeja makan.
Setelah selesai ,aku membantu Bu Tanika dengan cuci piring,Dan Bu Tanika mengelap meja makan itu.
"Bu ..Bu Hemi Kemana Bu ,kok gak keliatan?" Tanya ku memecah keheningan.
"Dia tadi izin pas jam sepuluhan, katanya ada tamu penting" jawab Bu Tanika masih mengelap meja.
"Oh .. " aku membulatkan mulutku,sambil masih setia dengan cucian piring ku.
Bu Tanika tiba tiba mendekati ku dan mencuci tangan nya dengan air di washtaple.
"Eh iya Bu.."
"Apa?" jawab Bu Tanika sembari mengelap tangannya dengan tisu.
"Ibu saya janji bakal jadi suami yang baik buat ibu,saya bakal kerja bu,saya bakal nafkahin ibu lahir batin" jawabku lantang sembari menatap Bu Tanika.
Bu Tanika menggeryitkan dahinya, seakan tak percaya atau entah kenapa.
"Itu lagi,kan saya udah bilang,kamu gak usah mikir sejauh itu, pernikahan kita sementara kok,kamu gak usah repot-repot" Bu Tanika tersenyum,lalu menepuk bahuku
Ia berjalan keluar area dapur,aku menghela nafas kasar.
Lagi lagi jawaban itu,apa Bu Tanika gak anggep aku suaminya ya .. ?? Atau Bu Tanika anggep aku kaya anak kecil gitu, perasaan aku udah gede.
Apa karena dia guru dan aku murid ?
__ADS_1
Apa Bu Tanika benar benar ingin mengakhiri hubungan kita sesegera mungkin? Padahal kalau boleh jujur aku udah nyaman sama dia.