
Faris masih di pemakaman itu, memandangi makam kakek nya.
Sementara Tanika,mendekati kedua orang tuanya yang menunggu dekat mobil.
Ya,tadi Tanika ditepuk bahu oleh ayahnya,agar menghampiri ayahnya,ada sesuatu yang ingin disampaikan ayahnya itu.
"Tan,kamu tahu Faris sedang terluka kan? Apa kamu masih mau mengambil keputusan untuk menceraikannya?" Tanya ayah Tanika,yang memang sudah tahu tentang kesepakatan itu.
Tanika diam tak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Sayang,ayah dan ibu tak marah kamu menikahi Faris,ibu tahu Faris hanya anak yang masih polos,tapi dia cukup dewasa dan ibu yakin dia bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab" Jelas ibu Tanika menggenggam kedua tangan Tanika,dengan lembut.
"Tan,saran ayah kamu harus jadi istri yang berbakti dan tetap dampingi suami kamu kapan pun dimana pun" jelas ayah Tanika menyentuh bahu Tanika.
"Aku akan pikirkan itu" Tanika menundukkan wajahnya,ia masih berpikir apa dia harus membatalkan perceraian nya, apalagi Faris kini sendirian.
Ayah dan ibu Tanika terlihat saling memandang, mereka tahu anaknya itu butuh waktu untuk berpikir.
"Ya udah sayang,ibu sama ayah pulang dulu,kamu temui Faris,dia butuh penyemangat saat ini" Ibu Tanika memeluk anaknya itu,Tanika membalas pelukan itu.
Ibu dan ayah Tanika menaiki mobil.Tapi, sebelum menjalankan mobilnya,ayah Tanika membuka jendela nya, melihat putri sulungnya itu.
"Kamu harus pertimbangkan saran ayah" ayah Tanika lalu melajukan mobil itu.
Tanika menaiki mobilnya, menunggu Faris disana sembari terus memikirkan perkataan kedua orang tuanya,Tanika ingat dengan kertas yang diberikan kakek Faris, tulisan itu bertuliskan "Jangan cerai dengan Faris".
Tanika menghela nafasnya, mungkin Tanika harus memutuskan satu hal,dia harus membatalkan kesepakatan itu.Toh,Faris sudah pernah meniduri nya,rasanya Tanika akan rugi jika dia cerai dan keperawanan nya telah di ambil Faris.
Terlebih bukan itu saja,Faris adalah anak yang baik,dia perhatian,bahkan tak pernah sedikitpun menyakiti Tanika,dia juga menghormati Tanika dengan baik.
Faris hanya belum memiliki pekerjaan,dia masih sekolah dan tentu saja itu membuat Faris tak bisa memberi Tanika nafkah.
Itu harus nya tidak jadi masalah,Faris bilang dia berjanji akan menjadi suami yang baik.
Faris tiba tiba masuk mobil, mengenakan sabuk pengaman nya.
Tanika melirik suaminya itu, tersenyum pada Faris.
"Kamu jangan nangis lagi ya" Tanika memegang pipi Faris mengelus nya dengan lembut, disertai senyuman di bibirnya.
Faris tersenyum menatap istrinya itu.
Tanika menurunkan tangan dari pipi Faris.Ia mulai mengemudi kan mobilnya.
Diperjalanan Faris hanya diam dan melamun.Tentu saja,selain memikirkan kepergian kakek nya,Faris tengah memikirkan perpisahannya dengan Tanika yang akan terjadi dalam beberapa hari lagi,atau mungkin lebih cepat dari itu.
Tanika merasa kehilangan Faris yang ceria,ia mencoba mencairkan suasana.
"Ris,kita main gelembung mau?" Tanya Tanika mencoba menghibur Faris.
Faris terkekeh mendengar pertanyaan Tanika.
"Kok kamu ketawa? Katanya kamu suka gelembung?" Tanya Tanika heran,tapi Tanika senang Faris sudah berusaha tersenyum padanya.
"Nggak Bu,saya gak mau" Faris menjawab pelan.
"Yah kok gitu .. es krim aja mau? Kita beli es krim coklat" Tanya Tanika antusias.
__ADS_1
"Ya boleh Bu" Faris mencoba tersenyum.
"Okey kita cari tukang es krim ya" Mata Tanika melihat lihat sekitar mencari tukang es krim.
Mata Tanika akhirnya menemukan tukang es krim,ia menghentikan mobilnya.
"Ayo kita turun!? Itu ada tukang es krim" Tanika menunjuk tukang es krim.
Faris ikut melihat apa yang ditunjuk Tanika.
Merekapun turun dari mobil.
"Pak es krim coklat nya dua ya ?!" Pinta Tanika pada tukang es krim itu
Tak lama tukang es krim itu memberikan dua buah es krim coklat pada Tanika.Tanika mengambil nya,ia memberikan sejumlah uang pada tukang es krim itu,juga tak lupa mengucapkan terima kasih.
Tanika memberikan es krim itu pada Faris,Faris mengambil nya dengan senang hati.
"Kita cari tempat duduk yu!?" Tanika melihat lihat sekeliling mencari tempat duduk, setelah dia menemukan nya,ia menarik tangan Faris.
"Yu kita kesana" Tanika menarik tangan Faris menuju tempat duduk yang ia lihat.
Mereka pun duduk dan menikmati es krim itu.
"Enak kan ris? Gimana kamu mulai suka sama es krim kan,ini salah satu makanan yang bikin mood naik loh" Tanika lalu kembali menjilati es krim ditangannya,setelah menjelaskan itu pada Faris.
"Emmm gitu ya Bu,enak Bu, manis" Jawab Faris masih terlihat jelas kesedihan dimatanya,ia nampak tak bersemangat memakan es krim itu, tentu saja pikiran nya masih sama seperti tadi.
"Ris .." Ucap Tanika sedikit khawatir melihat Faris,yang hanya menatap lurus ke depan.
Faris menoleh ke arah istri nya.
Faris mengeser duduk nya, mendekati Tanika.
"Ada apa Bu?" Tanya Faris.
"Itu di bibir kamu ada es krim" jawab Tanika menunjuk bibir Faris.
Faris gelagapan mencari sisa es krim di setiap ujung bibirnya, bahkan sampai ke pipi nya,tapi Faris tak menemukannya.
"Mana Bu? gak ada" Faris memperlihatkan kan tangannya yang memang bersih.
"Maka nya ,sini deh wajah kamunya" pinta Tanika agar Faris mendekatkan wajahnya ke hadapan Tanika.
Faris mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Tanika,Faris tidak curiga sama sekali dengan permintaan istrinya itu.
Hingga, tiba-tiba ..
Tanika mengoleskan es krim yang ia pegang tepat dibibir Faris.
"Hehe itu banyak ris .." Celetuk Tanika sambil menarik es krim, yang kini krimnya telah mendarat di bibir Faris.
"Ibu ..!??" Faris membulatkan matanya,ia kaget,ketika dingin es krim itu terasa di bibir nya.
"Ibu jail ih" Faris mulai tersenyum,lalu membalas Tanika,ia juga mencolek kan es krim tepat dihidung Tanika.
"Ni ...ibu juga harus coba,haha ..ibu kaya badut,cuma sayang es krimnya gak merah,ibu lucu deh" Faris menertawai hidung Tanika yang ujungnya coklat karena es krim.
__ADS_1
Tanika tersenyum,Tanika tahu Faris adalah orang yang ceria,dia tidak boleh terus terpuruk.
"Puas kamu puas, terus aja ketawa" Tanika berpura pura kesal.
"Haha .. habis ibu lucu, apa lagi ngambek gitu,ibu itu es krim nya mulai leleh,jangan dibiarin jatuh nanti jadi kaya ingus coklat hahaha .." Faris tertawa seakan lupa ,dia sedang berduka saat ini.
"Apa kamu bilang?? Ingus !?" Tanika melirik Faris.
"Hehe iya bu" Faris cengengesan.
"Okey kalau gitu,sini kamu!?biar saya kasih ingus di idung kamu" Tanika balas mencolek kan es krim ke hidung Faris.
Faris tak sempat menghindar saat Tanika melakukan itu, alhasil hidung Faris ikut dibaluri es krim sekarang.
"Haha .. iya ya,kok jadi kaya ingus, apalagi kalau jatuh" Tanika menertawakan Faris.
Faris ikut tertawa.
"Ibu awas itu mau leleh,mau jadi ingus haha .." Faris kembali tertawa melihat Tanika.
Tanika mengelap es krim dihidung nya dengan tangan.
"Udah ah udah .. lengket tahu" Tanika mengakhiri tawanya,ia lalu mengingat sesuatu,ia mengambil tisu yang ada disaku dress nya.
Faris masih terkekeh melihat wajah Tanika.
Tanika lalu mengelap es krim di hidung dan mulut Faris.
"Udah ..udah,lengket tahu" Tanika mengelap dengan telaten setiap noda di bibir dan hidung Faris.
Faris menatap lekat,wanita yang kini sedang membantu nya membersihkan sisa es krim dibibirnya.Sementara Tanika,masih fokus membersihkan sisa es krim tanpa menyadari Faris sedang menatapnya.
Dalam hati,Faris merasa begitu beruntung karena istrinya ini adalah wanita yang perhatian padanya, wanita yang mau menemani nya disaat dia terpuruk seperti ini,Faris berpikir meski hanya sesaat tapi Faris tak ingin melupakan ini,Faris bahkan berharap kebersamaan nya dengan Tanika tak sekedar sesaat tapi selamanya.Tapi .. Faris memalingkan wajahnya,saat iya sadar hubungan nya dengan istrinya itu akan segera berakhir.
Faris menghela nafas pelan,ada rasa kecewa dihatinya.
Tanika sudah selesai membersihkan noda es krim diwajah Faris.
"Nah udah, sekarang senyum dong,ingusnya udah gak ada tuh" Tanika tersenyum menatap Faris.
Faris membalas senyuman itu.
"Ya udah,sini es krimnya" Tanika mengambil bekas es krim ditangan Faris. "Ibu mau beli minum sekalian buang sampah ini,kamu tunggu dimobil aja ya" Tanika lalu berdiri.
Faris hanya membalas dengan senyuman sendu dibibir nya.
"Kamu tenang aja,saya gak bakalan ninggalin kamu terus kabur gitu aja,kamu tunggu aja di mobil okey" Tanika tersenyum meyakinkan Faris,kalau dia tak pergi meninggalkan nya sendirian.
"Iya Bu" Faris tersenyum,ia harap apa yang dikatakan gurunya itu benar,meski untuk satu hari saja Tanika menemaninya hari ini.
Tanika lalu pergi untuk mencari warung dan membeli air mineral.
Faris kembali menatap ke arah depan yang terdapat pepohonan yang jarang,juga kursi yang berada tak jauh dari sana, tempat beralaskan rumput yang hijau.
Faris menatap kosong,menatap jauh entah kemana.Karena,dalam pikiran nya hanya lah keadaan nya yang akan kesepian juga sendirian setelah ini.Lebih tepatnya, setelah ia bercerai dengan Tanika.
Faris berharap apa yang dikatakan Tanika sebelum dia pergi tadi adalah benar,dia tak akan pernah meninggalkan Faris dan akan tetap menemani nya.Tapi,Faris berpikir itu tidak mungkin, kesepakatan nya mengatakan pernikahan akan berakhir setelah olimpiade,dan itu hanya tinggal menghitung hari,bahkan mungkin jam.
__ADS_1
Faris kembali menghela nafas nya,menguatkan dirinya sendiri.
Faris mengambil keputusan,bahwa dia akan tetap mencintai istrinya itu meski mereka telah bercerai, entahlah .. Faris hanya yakin suatu saat nanti istrinya akan membalas cinta nya itu.