
POV : Faris
Pagi ini aku beruntung seperti nya,karena tadi Bu Tanika sedikit meringankan pekerjaan ku,dia membantu ku mencuci piring,juga mengantarkan ku ke sekolah, dan lagi dia memberi ku uang saku, karena tahu uang yang ku berikan untuk mas kawin adalah uang untuk aku makan tiga hari kedepan,rasanya seperti ada orang yang peduli padaku.
Meski memang awalnya aku menolak,pada akhirnya aku menerima juga tawaran nya,tapi aku berjanji untuk menggantikan uang Bu Tanika,toh akulah yang harus nya memberi dia nafkah, bukan dia yang malah memberi ku uang.
Hari ini wajah ku benar benar cerah hehe .. entah kenapa,tapi aku benar benar merasa nyaman dekat Bu Tanika.
Mungkin karena dia baik padaku.
"Woy, senyum senyum .. kesurupan ya?" Tiba tiba suara Banu temanku mengagetkanku ,juga menghilangkan semua kenangan indah pagi ini.
"Apaan sih Lo,gue masih waras kali" jawab ku agak emosi.
"woles dong, oke deh kalau bukan kesurupan atau gila orang yang kaya Lo itu, pasti lagi jatuh cinta kan??" Tanya Banu dengan nada menggodaku, seperti juga ingin menyelidiki sesuatu.
Ah masa aku jatuh cinta,sama siapa ?? oh ya ampun Bu Tanika? ah tidak mungkin, sekali pun Bu Tanika istri ku tapi seperti yang Bu Tanika bilang pernikahan kami tidak normal.
"Tuh kan,sekarang ngelamun,Lo mikirin doi kan?" Banu menunjuk ke arah ku.
Pertanyaan Banu menyadarkan ku dari lamunanku sendiri.
"udah ah .. lo jangan sok tahu, mending kita ke kelas yu" ajak ku pada Banu berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba suara seseorang meneriaki namaku, suara yang memang sangat familiar.
"Faris!!" teriak seseorang yang tak lain adalah Rama,pria yang punya gaya cukup cool seperti aku hehe ..
Dia mendekati aku dan Banu.
"ris Lo ikut gue sekarang,Bu Mira mau ajak kita rapat" jelas nya padaku.
"rapat? rapat tentang apa ram?" Tanyaku bingung.
"gue juga gak tahu, paling masalah jenguk Anatasya deh,ya udah mendingan Lo ikut gue sekarang" Pinta Rama.
"Lah gue ditinggal gitu aja gitu?" Tanya Banu dengan wajah memelas dan sedikit terkejut pasalnya dia tak diajak tadi.
"Lo ke kelas duluan aja,takutnya keburu datang guru pelajaran pertama,Lo kan KM ,nanti dicariin lagi" jelas Rama pada Banu yang memang adalah ketua kelas kami.
"ya udah deh,gue duluan" Banu pun membalik kan badannya lalu pergi ke kelas.
Sementara aku dan Rama,kami masuk ke ruang guru menemui Bu Mira yang memang adalah wali kelas kami.
Seusai rapat itu,aku dan Rama langsung masuk kelas lalu menyampai kan hasil rapat kami kepada semua teman dikelas.
Setelah nya,ya begitulah kami belajar seperti biasa, pelajaran berganti lalu berganti jam istirahat, hingga yang terakhir adalah pergantian jam pelajaran yang terakhir,yaitu pelajaran Biologi ya.. pelajaran Bu Tanika.
Duh .. mengingat namanya membuat ku tak karuan,tapi sayang Bu Tanika tak bisa hadir mengajar,ya Bu Tanika sudah bilang tadi ,dia akan izin dulu hari ini, karena ingin mengurus perawatan untuk kakek, Bu Tanika itu terus saja membuat ku merasa kagum, apalagi kesungguhan untuk membantu kakek berobat,Bu Tanika benar benar baik.
sekitar pukul 11.35 , murid murid sibuk dengan kegiatan masing-masing yang entahlah, banyak dari mereka yang main main gak jelas,atau ngobrol ya ,kalau ngobrol itu kegiatan kaum hawa,ada juga yang main aplikasi di Hp ,bahkan ada yang tidur,kalau aku adalah kembaran Rama mungkin,kami berdua sedang berkutat dengan buku kami,Rama sedang mempelajari Matematika yang memang akan jadi perlombaan di olimpiade nanti, sementara aku sibuk dengan berbagai buku sains.
Tiba tiba hentakan sepatu dari langkah seseorang menghentikan semua aktivitas konyol anak-anak, mungkin hanya aku yang tak menghiraukan hentakan langkah itu, karena aku masih sibuk saja dengan bukuku.
__ADS_1
Rama mencolek bahuku, saat ternyata Bu Mira sudah berdiri didepan kelas.
"Anak anak ,hari ini karena Bu Tanika izin,jadi ibu yang gantikan Bu Tanika,tapi sebelum nya ibu mau tanya, sumbangan untuk Anatasya sudah dikumpulkan?"
"sudah Bu" jawab serentak semua murid.
"Rama,boleh ibu liat catatan nya?" tanya Bu Mira sembari menyodorkan tangan kanan ke arah Rama.
"ini Bu" Rama memberikan catatan itu pada Bu Mira.
Bu Mira melihat lihat dengan seksama.
"Ya udah, bagus ini" Bu Mira kembali memberikan catatan itu pada Rama.
"Nah, karena hari ini ibu sama Rama dan Faris mau menjenguk Anatasya, kalian bisa pulang lebih awal,ini anggap aja bonus buat kalian" jelas Bu Mira didepan kelas.
semua murid menunjukkan wajah bahagia mereka,tapi tidak dengan ku yang merasa ingin pulang tapi tak bisa, sebenarnya bukan karena tak mau menjenguk,tapi entah kenapa perutku terasa aneh , seperti agak perih,hal itulah yang membuat ku ingin pulang.
"Tapi,ingat ya ..ibu minta doa nya buat Anatasya, semoga dia cepat sembuh"
"aamiin" jawab serentak murid murid
"juga doakan kelancaran untuk nanti olimpiade satu bulan lagi, semoga sekolah kita bisa jadi juara lagi"
"aamiin" jawab serentak lagi para murid.
"okey sebelum pulang berdoa dulu, Silahkan Banu" Bu Mira mempersilahkan Banu memimpin doa.
Seusai berdoa dan para murid pulang,aku dan Rama ikut Bu Mira menaiki mobil nya.
Sepanjang perjalanan perut ku terus terasa perih dan kali ini malah agak mulas, aku sedikit meringis menahan sakit,tak kusangka,ternyata Rama mendengar ringisan ku.
"Lo kenapa ris, sakit ?? muka Lo kok jadi agak pucat gitu?" Tanya Rama sedikit. heran menatap wajahku.
"iiya ni .. gue tiba-tiba sakit peerut" jawab ku agak terbata bata, karena sakit perut.
"Lo yakin masih mau ikut? atau mau pulang aja?" wajah Rama kini jadi khawatir.
"ya gue yakin, paling pas sampai rumah sakit gue langsung ke toilet dulu" jawabku masih menahan sakit dan mulas diperutku.
Benar saja, sesampainya di rumah sakit,aku langsung meminta izin ke toilet.
"Bu Bu maaf loh ya Bu,saya izin ke toilet dulu ya Bu" izinku masih menahan rasa sakit dan mulas yang semakin menjadi.
"ya udah okey kalau gitu,ruangan nya nanti tanya ke resepsionis aja ya" Jawab Bu Mira, memandang ku aneh yang tengah meringis sakit memegang perutku.
Aku pun langsung berjalan cepat, setelah sebelumnya aku bertanya kepada Pak Satpam yang berjaga didepan rumah sakit itu, tentunya aku menanyakan keberadaan toilet dirumah sakit itu.
Setelah tahu keberadaan nya,aku langsung berlari menuju toilet.
Aku melakukan aktivitas buang air di toilet pria itu.
Setelah selesai aku keluar dan benar benar merasa lega,aku kembali berjalan tenang keluar dari ruang toilet,namun sudah sekitar beberapa meter aku menjauhi toilet itu.
__ADS_1
Aduh .. ahh .. perutku kembali sakit,aku kembali memegang perutku lalu kembali ke toilet.
Merasa lega,aku kembali keluar dengan tenang.
Dan ya ampun .. perutku kembali sakit dan mengulangi kegiatan ku Beberapa menit yang lalu.Bahkan, kini belum sampai aku menuju tiang terakhir tadi aku berdiri,aku sudah kembali lagi ke toilet.
Tok tok ..
"ris,kamu kenapa?" suara yang tak asing ditelinga ku,memanggilku dari balik pintu toilet,sembari mengetuk pintu.
Aku berdiri mencuci tangan ku, karena kebetulan aku sudah selesai dengan poopku,ku buka perlahan pintu itu,aku sudah merasa lemah akibat terus menerus mengeluarkan cairan tubuhku.
"Iiibu.." sapaku sedikit terbata bata,masih memegangi perutku yang kini terasa panas.
"Faris,kamu sakit perut? sampai pucet gitu,kamu gak apa-apa?" Tanya Bu Tanika orang yang mengetuk pintu tadi,Dengan nada khawatir dia memegang bahu ku dengan lembut.
"aduh .. Bu bentar ya sakit ini Bu" Aku malah kembali menutup pintu, Karena perutku kembali panas,ku nyalakan keran air disana,dan kembali mengeluarkan sisa sisa cairan didalam perutku.Aku terus meringis kesakitan.
Sementara Bu Tanika
"Ris,kamu tunggu ya,ibu bakal beli obat buat kamu" teriak Bu Tanika dari balik pintu, yang entah kenapa malas sekali aku menjawab nya, tentu saja, karena perutku yang masih sakit dan terasa panas.
Aku berdiri terlunglai dan lemas di depan toilet,menahan perih nya perut ku.
"Aduh kenapa bisa kaya gini sih .. sshhhh" Ah .. akhirnya,aku kembali ke toilet lagi,setelah kembali merasakan mulas.
"ris.." terdengar lagi suara Bu Tanika dari balik pintu toilet,aku rasa dia sedang memastikan keberadaan ku.
Untung sudah selesai,aku kembali membuka pintu masih dengan perlahan karena tubuhku seperti kehilangan tenaga.
"Ayo sini.." Bu Tanika merangkul tubuhku membawa nya ke sebuah tempat duduk diluar area toilet yang tak jauh dari sana.
Aku memegangi perutku
"ini .. minum dulu obat nya" Bu Tanika menyodorkan obat sakit perut ke mulut ku,aku dengan pasrah meminum nya,ia juga tak lupa menuntun ku untuk meminum air mineral di dalam botol.
"nanti juga bakal enakan,reaksi obat ini cepet kok" jelas Bu Tanika,lalu menyimpan air mineral itu disampingnya.
"Aduh Bu masih sakit..shhhh.." ringgisku masih memegang perut ku, sedikit membungkuk kan badanku.
Bu Tanika mengelus ngelus punggung ku.
"ya ya .. nanti juga sembuh kan udah minum obat ,kamu yang sabar ya" pinta nya menatap ku khawatir. "atau mau diperiksa ?" tanya nya lagi masih menatap ku.
"gak usah Bu .. shhhh .." jawabku masih dengan ringisan.
Entah bagaimana ceritanya,tapi tiba tiba aku bersender dibahu Bu Tanika, karena sudah merasa sulit menopang tubuhku yang terasa lemas ini,aku tak peduli tanggapan Bu Tanika,aku hanya butuh sandaran saat ini.
Bu Tanika mendekatkan tubuhnya,dia malah balas memeluk ku dengan lembut.
"udah kamu tenang ya,kan udah makan obat,lagian kamu ..ibu kan udah bilang jangan makan sambel,tapi masih ngeyel aja" gerutu Bu Tanika,tapi tangannya masih mengelus bahuku.
Entah kenapa aku malah merasa nyaman dengan posisi ini, apalagi ketika mengetahui kenyataan kedua tangan Bu Tanika kini sedang melingkar di tubuhku.
__ADS_1
Aku sedikit tersenyum tanpa sepengetahuan Bu Tanika.
"Terima kasih Bu Tanika" ucapku dalam hati