Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Takdir)


__ADS_3

POV : Faris


Aku mencuci muka ku saat sudah sampai kamar mandi.


Jantung ku seperti ingin copot,aku terus menarik nafas dan mengeluarkan nya perlahan, mencoba menenangkan diri dan juga mencerna setiap kejadian yang baru saja menimpa ku.


Duh,, kenapa jadi serumit ini sih, padahal hanya belajar, insiden mati lampu membuat semua nya jadi runyam,.. aku memegang pinggang ku sendiri .. arghhh .. apa yang ku pikirkan ini,Bu Tanika kenapa peluk aku dengan erat begitu ,jantung ku seperti berdebar lebih kencang saja.


Yang paling konyol lagi adalah aku harus menikah dengan Bu Tanika.. ya Bu Tanika ,Guruku sendiri,ini benar benar gila, pikiran ku mulai melayang layang membayangkan aku harus memberikan nafkah lahir batin ... Ya ampun aku kan anak SMA, bagaimana bisa?? aku makan saja mengandalkan ibu,apa yang harus aku lakukan,aku mengacak rambut ku karena frustasi dan jelas aku sangat bingung,belum lagi Bu Tanika sudah menghubungi orang tua nya, aduhh .. apa yang akan mereka katakan,murid yang mencabuli guru .. Hah ??! Ya ampun ini tidak masuk akal,benar ..ini jadi fitnah hanya karena kesalahpahaman.


Aku melirik sekitar .. dan AHA ... Aku punya ide ,aku berpikir untuk kabur saja , karena pernikahan ini gak seharusnya terjadi, kebetulan sekali,kamar mandi itu memiliki jendela ukuran sedang ,aku mencoba naik ke atas ember yang sudah ku balikan.


Aku naik jendela itu,untung saja aku masuk jendela itu dan dug .. aduh ..aku memegang lututku yang jatuh ke tanah, untung saja tidak berdarah,ya karena jendela nya juga tak terlalu tinggi.


Huffhhhh aku menarik nafas lega .. akhirnya aku bisa keluar,aku berlari kecil untuk segera pulang ke rumah.


Krekk ..ku buka pintu rumah yang tak dikunci tadi, lampu seperti nya juga sudah menyala sewaktu aku berlari kecil kesini.


Aku menarik nafas sembari duduk di sofa.


Akhirnya aku pulang,aku gak harus menikah dengan Bu Tanika. Toh,aku juga memang tak bersalah.


Kembali aku menarik nafas,lalu mengambil air putih dan meminumnya,aku duduk lagi di sofa lalu melihat tas Bu Tanika.


Ah iya Bu Tanika,apa aku egois ya meninggal kan nya disana?? Apa yang akan orang tua nya bilang,aku pria yang tidak bertanggung jawab.. eh tunggu ,aku tidak melakukan apa apa padanya .. Tapi .. agkhhh .. aku kembali mengacak rambut ku,ku ambil tas Bu Tanika.


Aku berhenti sesaat saat akan membuka pintu.


Eh iya aku akan menikah bukan nya harus ada mas kawin ya .. duh aku tidak punya apa-apa lagi.Aku teringat sesuatu lalu mengambil dompet di saku celana ku,ku ambil uang sebesar seratus ribu itu.


Baiklah..,aku menghela nafas, ku tatap uang seratus ribu itu ..


Ini uang untuk makan ku sampai tiga hari kedepannya,tapi mau bagaimana lagi sudahlah,hanya ini yang bisa ku berikan untuk jadi mas kawin.


Aku berlari menuju rumah Pak RW.


Ya .. akhirnya aku memutuskan untuk bertanggung jawab dengan yang telah terjadi,meski aku memang merasa tak bersalah,tapi aku tak mungkin membiarkan guru ku menderita sendirian dengan peristiwa ini.


Mataku terbelalak saat melihat mobil Avanza berwarna putih didepan rumah Pak RW .


Aduh ... Aku memukul jidat ku sendiri, itu pasti orang tua Bu Tanika, mati aku .. bagaimana ini ..??


Sudahlah .. aku kembali menghela nafas,aku mengetuk pintu perlahan


Tok tok ..


"Assalamualaikum" ucapku pelan.


Terdengar kegaduhan didalam rumah Pak RW,itu pasti semua orang sedang mencari ku.


Aku langsung membuka pintu yang tak dikunci itu.


"Assalamualaikum"


Seketika semua orang menatap ku yang masuk kedalam rumah.


"Nah ini nih anak nya, kemana aja kamu,mau kabur ya?" Tanya PAK RW dengan tatapan tajamnya.


"Nggak pak saya gak kabur" aku melihat Bu Tanika yang sedang tertunduk memijat kepalanya setelah melihat ku, seperti nya juga dia mengira aku kabur. Tapi, sebenarnya memang iya kan.


"Terus ditoilet gak ada .. sekarang tiba tiba muncul" gerutu Pak RW.

__ADS_1


"Saya tadi .. ambil dulu tas sama mas kawin pak" jelas ku dengan polosnya, seperti nya wajahku mulai memerah saat ku ucap kan itu,aduh ..malu sekali rasanya.


Bu Tanika memukul jidatnya, aku tidak mengerti dengan tingkahnya.


Sementara kedua orang tua Bu Tanika,nampak menahan tawa dengan apa yang ku jelaskan.


"Ya sudah sini nak!?" Pinta bapak paruh baya memakai kopiah hitam yang ku pikir adalah penghulu.


Aku pun menurut saja.


Akhirnya aku dan Bu Tanika duduk bersebelahan, dihadapan kami ada bapak penghulu juga seorang bapak berusia lima puluhan,ya .. dia adalah ayah Bu Tanika.


"Baik kalau begitu, Bapak jabat tangan nak Faris .. ya namanya ?" Dia menatap ayah Bu Tanika lalu menatap ku.


"Iya pak" jawabku dengan jantung seperti dipompa cepat dan akan meledak dalam beberapa detik saja,aku sangat tegang,aku meremas tangan ku yang sedikit berkeringat itu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang,aku melirik Bu Tanika yang terlihat memandang ku dengan tatapan yang tak ku mengerti.


Ku melihat lagi tangan ayah Bu Tanika yang sudah mengulurkan tangannya dihadapan ku.


Aku menarik nafas, melirik pak penghulu itu.


"Ayo Nak,jabat tangan nya,kita segera mulai ijab qobul nya"


Aku memberanikan diri , menjabat tangan ayah Bu Tanika.


"Baik kalau begitu kita mulai.Pak Hadi siap?" Tanya penghulu itu pada ayah Bu Tanika.


Ayah Bu Tanika mengangguk pasti.


Pak penghulu itu beralih menatap ku.


"Kamu siap nak Faris?" Tanya nya padaku menambah kepanikan ku,ku telan ludahku sejenak.


Ini pengalaman pertamaku, ijab qobul dan diusia yang baru menginjak tujuh belas tahun, benar benar seperti mimpi.


"Baik pak silahkan ucapkan ijabnya,ikuti saya ya" instruksi pak penghulu menyadarkan ke gugupan ku.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Juanda Alfarisi dengan putri saya Tanika Kusuma Pratama dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai" ucap pak penghulu di ikuti ayah Bu Tanika.


"Saya terima nikah dan kawin nya Tanika Kusuma Pratama dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai" ucapku yang jadi lantang entah karena kegugupan atau apa,bahkan aku mengucapkan dengan sekali tarikan nafas.


"Gimana saksi sah?" tanya pak penghulu pada orang disekitar kami.


"Sahh .." jawab serentak mereka yang seketika membuat ku lunglai.


Kini aku dan Bu Tanika tengah duduk di jok belakang mobil milik orang tua Bu Tanika.


Sementara orang tua Bu Tanika tengah berbincang di dalam rumah Pak RW ,entah apa yang mereka bicarakan aku tidak peduli.


Suasana disini benar benar mencekam bahkan tak ada suara ,kami hanya saling diam setelah acara ijab qobul tadi,aku sebenarnya tak sempat melirik wajah Bu Tanika sejak tadi kami disuruh naik mobil.


Aku memberanikan diri melirik Bu Tanika yang sedang memijit tulang hidung nya.


"Apa?" Tanya nya tiba-tiba ..ya ampun Bu Tanika melihat ku.


"Ngak Bu" aku geleng geleng kepala dengan sedikit gugup.


Suasana kembali hening.


Tiba tiba datang kedua orang tua Bu Tanika,ayah Bu Tanika lalu menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Rumah kamu dimana nak?" Tanya Pak Hadi padaku.


Aku melirik kaca spion.


"dekat kebun pak, lurus saja nanti belok kanan pas dekat pos ronda" jelas ku menatap ragu.


"Oh gitu ya.."


Tak ada percakapan lagi setelah itu, mobil itu terus melaju dijalan yang memang tidak bagus.


Sampai lah kami dirumahku.


"Stop pak itu rumah saya" pinta ku sembari menunjuk rumah sederhana ku.


Aku pun turun diikuti Bu Tanika dan kedua orang tua nya.


"Ini rumah nya?" Tanya ibu Tanika yang hanya diam sedari tadi.Dia nampak tak percaya melihat rumah ku.


"Kamu yakin mau nginep dulu disini?" Ayah Bu Tanika melirik anaknya.


"Iya yah , ada yang mau aku omongin sama Faris" jelas Bu Tanika membetulkan tas dipundak nya.


Hah?! Ngomong ?! Bu Tanika mau ngomong apa ya,jangan jangan dia mau skor aku disekolah lagi gara gara sikap aku tadi. Ya ampun ...matilah aku.


"Ya udah ayah sama ibu pulang,kamu baik baik ya disini" Ayah Bu Tanika menepuk pundak Bu Tanika dengan lembut ,lalu menatap ku dengan senyuman.


Ia kembali masuk ke mobil nya, sementara ibu Bu Tanika menghampiri anaknya lalu memeluk nya sesaat.


"Kamu jaga diri baik-baik ya sayang" lalu dia melihat ku "kamu jaga anak saya ya,mau bagaimana pun sekarang kamu suaminya" ibu itu mengelus bahu ku, lalu mengikuti suaminya naik mobil.


Mobil itu melaju meninggalkan kami,cukup lama aku dan Bu Tanika melihat mobil itu hingga hilang di pandangan kami.


"Ayo sekarang kamu ikut ibu!?" Pinta Bu Tanika berjalan duluan.


Aku mengikuti Bu Tanika yang menatap ku tegas tadi, seperti akan memarahiku karena tak mengerjakan tugas biologi.


Huffhhhh .. aku menghela nafas saat melihat Bu Tanika sudah duduk di sofa sembari mengeluarkan dua kertas HVS dari dalam tas nya.


"Ayo ..kamu duduk dulu?!" Pinta masih tanpa senyum.


Aku menurut saja duduk disampingnya.


"Saya mau kita buat kesepakatan" jelas nya dengan wajah serius.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa bu"?" Tanya ku tak mengerti.


"Ya .. pernikahan kita itu gak normal ris,emang kamu mau gitu hidup sama orang yang sepuluh tahun lebih tua dari kamu?!" Tanya nya sedikit emosi.


Aku tak menjawab dan masih membungkam mulutku,dalam hati aku pikir ini takdir,Bu Tanika juga cantik dia pintar, pokonya dia guru idola,rasanya tidak ada alasan aku menolaknya.


"Lagian ya ris,saya gak mau nikah sama anak kecil kaya kamu" jelas Bu Tanika, memudarkan pikiran ku,juga membuatku agak tersinggung dengan penjelasan nya barusan.


"Mohon maaf ya Bu,tapi saya bukan anak kecil,saya anak SMA kelas XI" jawab ku sedikit kesal dengan melingkarkan kedua tangan ku didada.


"Ya tetep saja bagi saya kamu anak kecil,ya udah jangan banyak protes,kita bikin kesepakatan sekarang.. ini .." Bu Tanika menyodorkan pulpen.


"Baik kalau begitu Bu,saya terima" aku mengambil pulpen itu juga kertas HVS yang tadi ia sodorkan padaku.


"Okey sekarang kita tulis kesepakatan masing,kita boleh menolak kalau kesepakatan itu gak sesuai nanti kita negoisasi lagi" jelas Bu Tanika lalu mengambil buku di meja samping meja.


Ia langsung menulis entah apa yang dia tulis.

__ADS_1


Akupun ikut menulis kan kesepakatan yang ingin ku ajukan padanya.


__ADS_2