
POV : Faris
Perlahan ku buka mataku yang terpejam,aku ingat,aku memang membuka mata sedikit,dapat ku dengar sayup sayup suara.Ya,suara seseorang yang memang sangat ku kenal, Tanika.
"kami harus baik baik aja ris ..hiks hiks .." Sayup suara itu hilang,seiring genggaman tangan yang terlepas dari tanganku,dapat ku rasakan aku seperti tertidur melayang, menjauhi suara itu .. Apa ini? Apa ini namanya mati.. dibawa malaikatkah aku ini?
Setelah tertidur tadi, kembali kubuka mata perlahan, menyesuaikan pandangan ku, sedikit mengerjap ngerjapkan mataku,putih,itulah warna yang ku lihat,apa aku sudah mati? dimana aku surga kah ini??
Tit tit tit ..
suara apa itu,perlahan aroma khas menyeruak memasuki lubang hidung,aroma khas yang ku tahu adalah aroma khas rumah sakit,tunggu!! aku tidak mati ..lalu ..
Aku menyadari satu hal,sebuah genggaman tangan,aku merasakan seseorang menggenggam tangan ku,aku melirik tanganku yang terasa digenggam itu.
Seseorang tengah terlelap disamping tanganku yang dia genggam.
"Tanika?" pikirku dalam hati,masih berusaha menyadarkan keadaan,juga menerka kebenaran pikiranku itu,
perlahan ku angkat tangan yang ia genggam,aku yakin dia Tanika, kerudung itu, beberapa saat yang lalu,aku ingat memberi kan nya pada Tanika.
Perlahan ku elus lembut kepala Tanika, tubuhnya mulai bergerak, sepertinya dia menyadari sentuhanku.
"Faris!!" Tanika terlihat terperanjat melihat ku, dengan gerakan cepat,ia mengambil tangan yang tadi mengelusnya, menciumi punggung tangan itu berulang kali,menjadikan ku tersenyum kecil, rasanya senyumku ini begitu lemah.
"Sayang kamu udah sadar?" dia kembali menciumi punggung tangan ku, sebelum melanjutkan bicaranya. "Alhamdulillah.." masih ku rasakan ciuman Tanika dipunggung tanganku,aku tak merespon selain dengan senyuman,lama ku lihat dia mencium tanganku,tiba tiba bulir bening,jatuh dari ujung matanya, membuat ku merasa begitu sakit dihati.Sungguh,tak tega aku melihat dia seperti itu.
"Sayang.." ucapku dengan nada lemah. "kamu jangan nangis,aku gak apa-apa." jelasku, menenangkan nya,meski aku tak yakin dengan keadaan ku sendiri.
"Faris .." Tanika berhambur memeluk ku,kini kepalanya itu,tepat berada didadaku, terdengar segukan yang nyata,khas orang menangis, membuat ku repleks mengelus nya dengan tangan kananku.
"Sayang .. " ucapku merasakan tak sanggup mengatakan apa apa lagi,ku tarik kepalaku agar bisa mencium kepala Tanika.
Cup,
kupeluk Tanika,dengan satu tanganku,aku merasa tak sanggup,mengangkat satu lagi tanganku, entahlah .. tanganku itu terasa begitu kaku.
"Shtt ..sayang ,kamu jangan nangis,aku sedih loh liat kamu kaya gini." jelas ku,susah payah mengatakan itu.
Masih kupeluk Tanika yang mulai mereda kan tangisannya,ia mengangkat kepalanya perlahan, terlihat mata Tanika yang sembab.
Ku gerakan tangan kanan ku,perlahan,menghapus bulir bening yang masih jatuh dipelupuk matanya.
__ADS_1
"udah.." senyum kulukiskan diwajahku, berusaha sekuat tenaga senyum dihadapan nya. "jangan nangis sayang."
Tanika menahan tangisnya itu, terlihat berusaha mengatakan sesuatu padaku.
"aku panggil dokter ya." Tanika dengan senyum yang seakan dibuat,aku tahu jelas senyum itu hanya senyum sedih,senyum yang ia buat untuk menutupi kesedihan hatinya.
Tanika berjalan keluar,
beberapa saat kemudian, Tanika kembali dengan dokter dan seorang suster disamping nya.
Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan yang memang tak ku mengerti, setelah selesai,dokter terlihat tersenyum simpul,menatap Tanika.
"Alhamdulillah,suami mba sudah sadar, kondisi nya stabil,dia hanya butuh istirahat beberapa hari juga makan obat, sebaiknya,dia juga rawat inap dulu disini." jelas dokter,syukur terpancar jelas diwajah nya.
Dokter berlalu keluar, diikuti suster.
Setelah nya,aku melihat Tanika duduk disamping ku berbaring.
Tanika mengenggam erat tangan kananku.
"Sayang .. kamu harus sembuh ya.." ucapnya, terlihat matanya memancarkan harapan.
"sayang.. kamu terluka?" Tanyaku khawatir,Tanika mengambil tanganku, kembali menciumnya.
dia menggeleng kepala pasti.
"gak,aku gak apa-apa sayang,yang penting sekarang kamu harus sembuh." senyum sedih kembali diwajahnya,ia seperti nya sangat berusaha tersenyum.
"aku udah sembuh sayang,kamu dengar kan, dokter bilang,aku cuma butuh istirahat." jelasku, kembali mendapat ciuman dipunggung tanganku.
Aku mengatakan semua kalimat ku dengan lemah, rasanya memang sangat sulit untuk bicara,letih sekali tubuhku ini.
"kamu harus sembuh,karena aku punya kejutan buat kamu." Tanika kini tersenyum simpul.
"kejutan?" sedikit ku tautan alisku, mendengar perkataan Tanika.
"ya .. kamu harus sembuh ya, sekarang kamu istirahat,aku bakal jagain kamu disini." jelas Tanika.
Aku hanya mampu mengangguk, tersenyum kecil,
Tanika mengecup kening ku,cukup lama.
__ADS_1
Ku lihat Tanika mengusap pipinya, setelah mengecup ku, seperti nya dia kembali menangis.
"kamu jangan nangis.." pinta ku,masih pelan ku kira suara ku ini.Tapi,Tanika mendengar pintu ku itu.
"gak ..aku nggak nangis sayang." Tanika kembali terlihat berusaha senyum."ya udah kamu tidur lagi ya,ini udah malem,aku .." Tanika kembali mengenggam tangan ku. "ada disini."
Tak kuat rasanya mata ini,aku kembali menutup mata, setelah melihat senyum Tanika.
°°°
Aku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku.Ya,masih tempat yang sama, tempat terakhir kali aku d membuka mata,kali ini aku tak menemukan Tanika disamping ku,kemana dia? pengal rasanya tubuhku ini.Sudah berapa lama aku tidur?
Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan duduk, mengedarkan pandangan diruangan itu.
Ku lihat tangan kiriku, aku melihat sebuah inpusan ditangan ku,juga lengan kiriku yang diperban,inikah tangan ku yang kaku itu?Hah ... seperti nya,tanganku terluka,aku berusaha mengingat kejadian waktu itu,saat aku mendorong Tanika,aku ingat tanganku yang terbentur aspal,bahkan terseret saat itu.
Ceklek ..
Aku menoleh ke arah pintu terbuka,aku melihat Tanika masuk.
"Sayang .." Tanika terlihat kaget,lalu berlari kecil ke arah ku.
"kamu kok bangun?" Tanya Tanika,dengan mimik wajah cemas.
"aku gak apa-apa sayang,kamu jangan cemas gitu,aku gak enak terus rebahan." jelasku tersenyum. "sini deh .." ku rentangkan satu tanganku. "aku kangen .." jelasku, mengisyaratkan ingin mendapat pelukan dari nya.
Tanika dengan cepat, mendekap tubuhku,ia terdengar sesegukan.
"aku juga ,aku takut banget pas liat kamu terkapar diaspal itu,aku takut kamu kenapa napa ..hiks hiks.." jelas Tanika,
Oh .. ternyata aku memang kecelakaan kemarin,darah itu .. ternyata memang darahku ..
Ku dekap Tanika ,lalu mengecup pucuk rambut nya,yang terhalang jilbab.
Cup,
"Sayang,aku gak apa-apa,udah jangan nangis,aku cuma kangen sama kamu."
Kembali ku kecup Tanika.
Ia begitu erat memeluk ku,seakan takut aku pergi jauh.
__ADS_1