
Malam itu Siska tengah menenggelamkan wajahnya didada bidang sang kekasih,tentu saja,malam ini seperti biasa,mereka baru saja selesai bercinta, kegiatan yang memang sering Galang dan Siska lakukan,meski mereka belum menyandang status sebagai sepasang suami istri.
"Sayang .." panggil Siska menongkang wajah,menatap Galang.
Galang menunduk,mengecup mesra dahi Siska.
Cup,
"Iya sayang," jawab Galang begitu lembut,
"Aku .." Siska terlihat menunduk,
Galang sedikit mengerutkan kening,tak mengerti dengan sikap kekasih nya,Pria itu menarik dagu Siska dengan lembut,mengecup sekilas bibirnya.
"Apa sayang?"
"Aku hamil," ucap Siska, sedikit takut pria yang sangat ia cintai itu menolak keberadaan janin dalam kandungannya.
Mata Galang,seketika membulat,tak percaya.Demi memastikan kebenaran ucapan Siska Galang pun bertanya, menatap lekat kedua mata Siska,
"Kamu serius?" Tanya Galang,
Siska hanya mengangguk pelan, memperlihatkan ekspresi yang begitu khawatir.
Galang memnyunggingkan senyum,ia memeluk erat wanita yang paling ia cintai itu,membiarkan dia tenggelam dalam dekapan nya.
"Kalau gitu,kita besarin dia bareng bareng," pinta Galang.
"Kamu serius sayang?" Tanya Siska, membalas memeluk dengan erat.
"Tentu sayang,"
Cup, Galang kembali mengecup pucuk rambut Siska.
Malam berganti pagi,cahaya di upuk timur menerangi bumi perlahan ,mengeringkan embun didedaunan, perlahan tapi pasti.
Jam di dinding berdetak,menunjukan waktu yang berganti,kini seiring mentari terbit menyinari bumi,waktu telah menunjukkan pukul 8.00 pagi.
Galang baru selesai mandi bersama Siska,bahkan pria itu menggendong Siska ke tempat tidur, menghujani nya dengan ciuman.
Setelah dirasa puas,Galang berdiri dari posisi nya,ia memberikan sebuah dress merah cantik,meminta Siska segera memakai pakaian.
Ia sendiri mengambil stelan kantor nya,
"Sayang kapan kamu kesini lagi?" Tanya Siska, dengan nada sedih.Detik itu,entah kenapa Siska merasa Galang akan pergi jauh,padahal sudah biasa Galang pergi kantor dan terkadang pulang ke rumah itu.
Galang yang sedang mengenakan kemeja,sejenak menghentikan aktivitasnya,ia mendekati Siska menarik kepala nya perlahan,mengecup lama kening wanita itu.
"Sayang jangan sedih gitu! Aku bakal kesini nanti malem, okey?" Ia mengelus lembut pucuk rambut Siska.
Siska tersenyum sendu,ia kembali melihat sang kekasih melakukan aktivitas mengenakan pakaian nya.
Setelah Galang berlalu dengan mobilnya,Siska memutar tubuhnya hendak kembali ke dalam rumah.
"Selamat Pagi," ucap seorang polisi, mengagetkan Siska yang hendak membuka gerbang.
Iapun menoleh dan melihat polisi itu,
"Pagi pak,ada apa ya?" Tanya Siska , berusaha tenang,meski ia merasa sedikit was was.
°°°
Sementara itu,Galang tengah mengendarai mobil menuju kantor nya,namun perjalanan nya terganggu oleh getaran ponsel disaku jas nya,Galang menginjak pedal rem,ia sejenak menghentikan mobil, untuk mengangkat telpon yang masuk.
"Ya Hallo."
"Bos, cewe itu udah balik ke rumah sakit," lapor salah seorang bawahan Galang.
__ADS_1
"Okey ,Lo pantau terus,kalau dia keluar rumah sakit,Lo langsung bawa dia ke Villa,gue udah gak tahan buat lenyapin cewe j a l a n g itu!!" Pinta Galang, dengan rahang mengeras,ia sudah begitu kesal dan tak ingin memberi ampun lagi pada orang yang ia anggap sebagai sebab atas kematian adiknya.
Tutttttt ..
Galang mematikan telpon itu,tanpa mendengar jawaban dari bawahannya.
Galang mengepalkan tangannya,
"Cih...Lo berani kabur dari gue Tanika,Lo bakal tahu akibatnya,gue jamin ,hari ini adalah hari terakhir buat Lo."
Galang menginjak pedal gas, melajukan mobil secepat mungkin,namun tiba-tiba ..
Ckittt ..
terdengar bunyi gesekan ban dan aspal yang begitu cepat,Galang menghentikan mobil itu dengan repleks,karena tiba tiba dua mobil sedan hitam,menghadang nya di depan, lalu keluar beberapa orang dari dalam mobil itu.
Tanpa persiapan,Galang di seret keluar dari mobil,lalu dipukuli bahkan hingga babak belur dan tak sadarkan diri.
dengan berbagai luka diwajah,Galang diangkut masuk ke dalam salah satu mobil sedan itu.
°°°
"Maaf Pak,tapi .. saya tidak merasa melakukan itu." Ucap Siska terdengar gugup, membuat dua polisi dihadapan nya semakin curiga.
"Kalau begitu,anda bisa ikut kami untuk dimintai keterangan,kami memang hanya sedang menyelidiki kasus ini,anda hanya orang yang dituduh sebagai salah satu tersangka,anda bisa menjelaskan nya dikantor." Jelas salah satu polisi itu,
Siska terlihat gugup,ia mulai berpikir apa yang harus dia lakukan,matanya mulai terlihat bingung,melirik kiri kanan,ia sesekali mengerjap mata dan membasahi bibir nya yang terasa kering akibat gugup.Siska tak siap jika harus dibawa ke penjara, apalagi dia tengah mengandung,rasanya.. Tidak!! Tidak ingin Siska merasakan dingin lantai juga dinding penjara.
"Ee .. bagaimana kalau bapa bapa masuk dulu,saya harus menelpon seseorang." Pinta Siska,masih terlihat gugup.
Kedua polisi itu, saling tatap tak mengerti,semakin membuat mereka curiga,
"Maaf Bu,kami tidak punya waktu,anda bisa langsung ikut kami sekarang." Tegas salah satu dari dua polisi itu.
"Saya mohon pak,ini penting." Wajah Siska terlihat memelas.
Jelas,itu hanya siasat Siska dia hanya berdalih untuk menelpon seseorang,padahal dia sedang mencari cara untuk kabur.
Siska masih mundar mandir di belakang rumahnya,tiba tiba ia melihat kunci mobil yang tergantung dipintu belakang rumah itu,Siska sejenak mengigit jarinya,
Dengan cepat ia mengambil kunci mobil itu,mengendap ngendap lewat pintu yang menuju garasi.
Brummmmm ...
Polisi yang menyadari suara sebuah mobil, mereka segera keluar,bahkan salah seorang dari mereka mengumpat kesal.
"Sial!! Dia kabur .. "
Mereka pun bergegas menuju mobil dan dengan cepat menstarter mobil itu.
Mobil polisi pun mengejar mobil berwarna merah itu,Siska sesekali dengan gelisah melirik kaca spion,mendapati mobil polisi yang masih mengejarnya.
Siska sedikit mendengus kesal, perasaan nya sudah semakin tak karuan,ia menginjak pedal gas, semakin menaikan kecepatan mobil,bahkan menyalip mobil atau motor dihadapan nya,suara sirine mobil polisi,seakan jadi jalan untuk Siska semakin menambah kecepatan.
Kini Siska sudah tak berada dijalan raya,dia berada dijalan berbelok,matanya masih sibuk melihat ke belakang,mobil polisi nampaknya sudah tak bisa mengejar nya,namun ada masalah yang lain disana,Sebuah Truk pasir berada dihadapannya,tak ingin terjadi tabrakan, membuat Siska membanting stir dan ...
Braakkk ..
diluar dugaan Siska,ia tak melihat jurang disamping jalan itu,alih alih ingin selamat dari tabrakan, yang terjadi malah lebih buruk dari itu, mobil Siska terpental ke jurang,bahkan membuat mobil itu jungkir balik,Siska yang tadi tak sempat mengunci mobil, membuat nya keluar mobil,juga jatuh terpental ke jurang, kepalanya terbentur dahan pohon besar,mobil yang terperosok juga, membuat mobil itu menjatuhkan batu batu,hingga menimpa satu tangan Siska, wanita itu juga mengerang kesakitan saat merasakan sakit,termasuk diperutnya,darah turun membanjiri betis putih Siska,ia menjerit sekilas,hingga pada akhirnya suaranya hilang, seiring matanya yang tertutup.
°°°
Dua hari kemudian,Siska telah ditangani dokter dan harus menginap di Ruang ICU dengan kondisi tak sadarkan diri,bahkan bayi dalam kandungan nya, mengalami keguguran saat kecelakaan itu.
Banu menghubungi Faris yang tengah bersama Tanika dirumah sakit,ia mengabarkan perihal kondisi Siska saat ini.
"Hallo, Assalamualaikum." Sapa Faris pada Banu disebrang telpon.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Ris,kita udah berhasil nemuin cewe yang ikut terlibat kasus Bu Tanika, tapi .. dia kecelakaan Ris, sekarang dia di rumah sakit, polisi minta supaya Bu Tanika kesana, memastikan dia wanita yang membantu Galang atau bukan," Jelas Banu dengan terperinci.
"Okey kalau gitu,gue bakal minta Bu Tanika kesana,thanks Ban buat bantuannya." Jawab Faris,lalu menutup telpon.
Faris menaruh kembali ponsel disaku jasnya,ia menoleh ke arah Tanika yang sedang asik menyuapi Rista dikamar rawat itu.
Seulas senyum terukir indah dibibir Faris,ia menggenggam lembut bahu Rista putrinya,
"Sayang,karena mama ada urusan,makannya disuapin papa ya?" Tanya Faris dengan lembut,tangan kanannya meraih mangkuk bubur yang dipegang Tanika.
Wanita itu sedikit menautkan alis,tapi tangan nya pasrah,saat Faris mengambil alih mangkuk itu.
"Urusan apa Ris?" Tanya Tanika tak mengerti.
"Banu bilang,kamu disuruh ke rumah sakit untuk cari tahu wanita itu orang yang emang ikut terlibat kasus kamu atau bukan,dia kecelakaan jadi di rawat disana." Faris sejenak diam,ia menaruh mangkuk dinakas, tangannya merogoh ponsel disaku jas. "Aku bakal telpon Laras buat temenin kamu,"
Baru saja Faris akan mencari kontak Laras,tangan Tanika menyentuh lembut punggung tangan Faris,ia menggeleng sembari tersenyum.
"Gak usah Ris,biar aku sendiri,aku gak mau terus ngerpotin Laras."
Faris menatap khawatir,
"Kamu yakin?" Ada guratan tak percaya diwajah Faris,Faris masih khawatir Galang akan menjegat Tanika dijalan atau hal lainnya.
"Iya,kamu tenang aja,aku bakal baik baik aja." Senyum simpul Tanika tunjukkan dihadapan Faris.
Wanita itu mengelus lembut rambut putri kecilnya,mencium kening nya begitu lama, setelah nya ia berpamitan pada Rista
"Sayang,mama keluar sebentar,kamu sama papa ya?" Jelas Tanika begitu lembut.
Rista meraba raba sekitar, tangannya mencari tangan sang ayah,
"Papa mana ma?"
Faris dengan segera menggenggam tangan mungil itu,ia yang sedari tadi jongkok,kini beralih duduk disamping Rista,dengan tangannya yang setia mengenggam tangan Rista.
"Papa disini sayang,kamu disuapi sama papa ya?"
Senyum merekah terlihat indah diwajah manis Rista, gadis itu nampak senang.
"Mau pa .. asikk papa suapin Rista .." ceria gadis itu,tangannya sedikit mengoyangkan tangan Faris yang mengenggam erat tangan nya.
Tanika tersenyum,ia kembali mengelus lembut rambut gadis kecil itu,
"Ya udah sayang,mama berangkat ya, Assalamualaikum," pamit Tanika.
"Waalaikumsalam,mama pulang lagi ya.." pinta Rista dengan senyum.
Alamat Rumah Sakit dikirim via message oleh Faris,saat Tanika tengah diperjalanan,
Sesampainya di Rumah Sakit,Tanika langsung bertanya pada salah satu suster tentang kecelakaan yang terjadi dua hari yang lalu,Tanika segera dituntun suster ke salah satu Ruang ICU,nampak didepan ruang ICU itu sudah ada dua polisi berjaga disana,
Tanika menghampiri kedua polisi itu,ia berusaha tenang bertanya kepada salah satu dari polisi itu,
"Maaf pak,saya Tanika Kusuma Pratama,apa benar bapak memanggil saya?"
"Benar Bu,saya sudah izin dokter,agar ibu bisa masuk, silahkan Bu!! kondisi tersangka saat ini sedang tak sadarkan diri,jadi ibu hanya tinggal lihat saja, sebagai bukti keterlibatan Ibu Siska dalam kasus ini."
Polisi itu menggeser tubuhnya,agar Tanika bisa masuk.
Tanika sempat terkejut saat tahu Siska kecelakaan dan tak sadarkan diri.Hal yang membuat nya semakin terkejut adalah kondisi menyedihkan Siska saat ini,mata dan dahinya diperban,bahkan ia menggunakan selang oksigen untuk membantu pernapasan nya, monitor disana tak henti berbunyi, kondisi Siska begitu kritis,mata nya penuh luka lebam,lengan yang juga diperban.Wanita angkuh itu,kini benar benar terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.
Perlahan kaki Tanika melangkah mendekati Siska,ia langsung hafal saat melihat bibir Siska,bibir yang memang begitu kejam menghina nya.Rasanya ia sudah tak sanggup melihat wanita itu,seakan menoreh luka lama dihatinya,bergegas ia berbalik,namun sebuah tangan mencengkram erat pergelangan Tanika,meski begitu lemah, cengraman itu.Tapi,Tanika tahu,itu seakan sebuah isyarat agar ia tak pergi meninggalkan ruangan.Tanika melihat sosok pemilik tangan itu,matanya sudah terbuka,meski begitu sendu dan sayu,
Wanita itu dengan susah payah berusaha berucap,sakit di sekujur tubuhnya seakan membuatnya sulit berucap,hingga sebuah lirihan terdengar ditelinga Tanika,meski pelan ia dapat mendengar nya.
"Mm aaf.."
__ADS_1