
Keindahan Mentari terbenam Pantai Teluk Penyu,
Indah memang, tapi tidak bagi Faris, tenggelam nya sang mentari dihadapan nya itu seakan menjadi pertanda hatinya yang ikut tenggelam dalam luka,jika lautan seakan menelan sang mentari sore,maka luka adalah yang menenggelamkan hati Faris.
Ya,sudah satu Minggu sejak perpisahan nya dengan Tanika,
Kini Faris,tengah berpijak diatas pasir putih, sebenarnya Faris tak ingin pergi ke tempat ini,hanya menoreh luka baginya.Tapi,paksaan Banu dan Rama membuat nya pergi ke Pantai ini.
Mereka bilang,tak ada salahnya menghibur diri,melupakan luka dihatinya.Faris mengira itu benar,tapi tidak, luka itu masih sama.Apalagi setelah tadi mengetahui Tanika tak ikut liburan karena sakit.
Liburan ini memang adalah ritual rutin sekolah Faris,setiap tahunnya.
Faris menerawang jauh,menatap sang mentari yang berangsur menghilang ditelan lautan.
Angin laut juga deru ombak yang bertambah kencang,seakan menambah kesunyian yang akan melanda tempat itu.
Hampa,itulah yang Faris rasa,meski dari tadi teman temannya terus mengajak nya bermain di pantai itu,entah untuk sekedar Selfi atau memancing,tapi Faris tak mengiyakan ajakan teman temannya,ia hanya duduk disebuah batang pohon besar dekat bibir pantai.
Puk,sebuah tangan menepuk bahu Faris, menyadarkan nya dari lamunan tak bertepi.
Faris menoleh, melihat si pelaku yang menepuk bahunya.
"Ris.." Ram ikut duduk disamping Faris.
"Lo harus sabar,seenggaknya nya Lo gak lebih terluka, kalau Lo tahu nanti , mungkin Lo bakal lebih terluka atau Lo tahu saat dia pergi sama cowok lain tanpa sepengetahuan Lo."
Faris menatap temannya itu,ia sedikit menyipitkan matanya,merasa tak mungkin Tanika melakukan itu.
"Gak mungkin ram,Tanika gak mungkin kaya gitu."
"kalau dia gak cinta,itu mungkin aja terjadi ris." Rama ikut menerawang jauh ke arah mentari yang baru tenggelam setengah nya.
Angin sore itu seakan membawa pernyataan Rama,cukup lama Faris diam hingga ia kembali berucap.
"gak ram,gue yakin dia masih cinta sama gue,gue liat jelas kebohongan dimatanya,dia hanya menutupi sesuatu yang gak gue tahu." Faris begitu yakin mengatakan itu,ia lalu berdiri.
Rama mengalihkan pandangan, melihat Faris yang berdiri.
"Lo mau kemana?" Rama mengerutkan dahinya,selain tak percaya dengan ucapan Faris,ia juga heran kemana Faris ingin pergi.
"gue mau mau mastiin sesuatu, sebelum gue pergi,gue pengen liat kejujuran dimata Tanika,gue pinjem mobil Lo buat pulang!" Pinta Faris ,ia begitu yakin Tanika akan menerima nya kembali.
Rama menghela nafas,ia mengusap kasar wajahnya,tak percaya begitu jadi bucinkah temannya ini? Sampai setelah diusir pun,ia masih ingin kembali.
"Gue gak ngerti sama Lo ris,Lo emang udah jadi bucin akut." Sejenak Faris mendengus,
"Gue minta tolong Ram!"
Rama merogoh saku celana nya, mengambil kunci mobil dan memberikan nya pada Faris.
__ADS_1
"Ni,tapi gue gak jamin Lo bakal mendapat apa yang Lo inginkan Ris."
"Lo tenang aja, setelah gue mastiin ini ,gue akan coba pergi jauh dari sisi Tanika."
Faris mengambil kunci mobil itu,
Faris benar benar pergi dari pantai itu,meninggalkan segala keindahan disana, keindahan yang Faris rasa hanya kehampaan saja.
Faris memarkir kan mobil disebrang rumah Tanika, terlihat Pak satpam tengah berjaga disana,Faris segera menyebrang, mendekati Pak Satpam, menanyakan keberadaan sang pemilik rumah.
"Pak, Bu Tanika ada?"
"Kaya nya ada den, soalnya dari tadi saya belum lihat nyonya keluar,oh ya den Faris kemana aja?"
Tanpa menghiraukan pertanyaan Pak Satpam,Faris bergegas membuka gerbang,
"Makasih pak,saya masuk ya!"
°°°
Faris mengetuk pintu juga mengucapkan salam.
Tok tok ...tok tok ..
"Assalamualaikum.."
Tapi tak ada jawaban,Faris yang tak sabar,ia mencoba membuka pintu itu dan ..
Ia mendorong perlahan pintu itu, mengedarkan pandangan mencari sosok wanita yang tak lain adalah Tanika.
"Assalamualaikum .. Tan .. kamu dirumahkan ..??"
Faris berjalan menelusuri setiap sudut rumah.Rapi, bahkan terasa begitu sunyi,tak ada Tanika juga didalam.
"Kemana Tanika,kenapa rumahnya tak dikunci?" Batin Faris,masih menelusuri dapur,lalu membuka pintu menuju halaman belakang.Tidak ada!! Tanika tidak ada disana,Faris kembali menutup pintu.
Ia menghela nafas, langkahnya mengiring nya untuk keluar,ia pikir Tanika sudah tidur mungkin, meski hatinya begitu tak karuan, entahlah .. tapi sejak tadi, firasat buruk terus menyeruak dihatinya.
Crakk .. suara gelas pecah nyaring terdengar, membuat Faris menghentikan langkah.
"Tanika !!"
Faris berlari kearah sumber suara,suara gelas pecah yang berasal dari lantai atas,Faris begitu khawatir Tanika terluka atau hal buruk terjadi padanya.
Ia berjalan cepat menaiki tangga, langkahnya terhenti, tepat di pintu kamar Tanika.
Ragu Faris untuk menggenggam gagang pintu itu, perlahan ia menyentuhnya, berharap pintu tak dikunci.Benar dugaan Faris, pintu itu memang tak dikunci,
Perlahan pintu dibuka,seiring cahaya yang ikut masuk ke ruangan yang ternyata gelap.Gelap!! Ya gelap ,Faris yang menyadari satu hal,ia segera dengan cepat membuka pintu,mencari sosok Tanika didalam.
"Tan ...Tanika.." panggil Faris,mencari diruang gelap itu.
__ADS_1
Langkah juga pandangan Faris terhenti pada sosok wanita yang tengah menekuk lutut,memeluk lututnya,jemari yang juga ia gigit,ia dapat melihat meski samar, Wanita itu bergetar hebat,jemari yang ia gigit adalah cara dia menghalau rasa takutnya.
"Faris.." lirih Tanika,yang tak lain adalah wanita itu, wanita yang duduk disudut ruangan gelap,dengan tangan gemeteran juga peluh yang terus bercucuran.
Faris yang tahu Tanika phobia kegelapan,ia segera mendekati Tanika , memeluk wanita itu, dengan keadaan dia masih memeluk lututnya.
"Tanika .. sayang ...kamu kenapa bisa ada disini?"
"Gelap .. tolong .. aku takut .. Faris.." lirih Tanika, Tanika tak mendengar pertanyaan Faris,ia hanya merasa pandangan nya fokus pada kegelapan ruangan itu.
"Iya sayang,ini aku .. kamu tenang.." Faris mendekap Tanika,mencoba menenangkan Wanita itu,ia merogoh ponsel disaku nya,
Tanika mulai melihat cahaya saat Faris menyalakan senter diponselnya itu.
Tanika masih gemeteran,ia belum bisa memfokuskan pandangan nya,Faris menuntunnya keluar kamar, mendudukkan Tanika di Sofa ruang tamu.
Faris mengelus lembut, punggung Tanika, sementara Tanika,masih gemeteran,meski tak lagi mengeluarkan keringat ditubuhnya.
"Kenapa kamu bisa disana? Kamu lupa kamu punya phobia?" Tanya Faris begitu khawatir.
Tanika menatap pria yang menyelamatkan nya itu,ia masih mengatur nafasnya.
"Kenapa kamu peduli?" Tatapan penuh luka,menatap sepasang mata yang begitu khawatir menatapnya.
"Kamu ..kamu hampir sesak nafas disana." Faris menunjuk kamar gelap itu. "bagaimana mungkin aku tak peduli,kamu sudah membuat aku khawatir, Tanika." Tegas Faris,tak percaya mantan istrinya itu,bukan berterima kasih malah menatap , dengan tatapan yang tak ia mengerti.
Tanika menelan ludah berulang kali,menahan sakit yang ia rasa, harusnya ia berterima kasih,tapi kenyataannya, ia tak bisa melakukan itu,ia tak ingin Faris kembali menaruh harapan padanya.
"Denger aku!!" Tanika menatap kedua mata Faris, dengan nafas yang terengah-engah. "Kamu jangan peduli aku lagi,kamu jangan kembali,jangan datang temui aku lagi,aku gak butuh kepedulian kamu." Susah payah,Tanika mengatakan kemunafikan nya itu.
Faris menatap tak percaya,
"Tan .." lirih Faris.
"Keluar!!" Tanika berteriak,menunjuk arah pintu, dengan tangannya yang masih bergetar,air mata lolos begitu saja.
Faris tak menjawab ataupun beranjak,ia mematung menatap tak percaya, dengan ucapan Tanika,yang Faris kira adalah dusta saja.
Mengetahui Faris yang tak kunjung keluar,Tanika kembali berteriak memalingkan wajahnya,agar air mata itu tak Faris lihat.
"Keluar ris!!! Keluar!! Hiks hiks .."
Faris berdiri perlahan,ia masih menatap Tanika, dengan mata mulai memerah,meski belum jatuh air mata itu,tapi hatinya sudah lebih dahulu hancur berkeping keping.
"Okey .." Faris mulai mengatur nafas,suaranya mulai menahan linangan air mata. "Aku pergi Tan..Aku gak bakal kembali,jika itu yang kamu mau."
Faris memutar tubuhnya, melangkah keluar rumah itu,ia tak menghentikan langkahnya sedikit pun,ia terus naik mobil dan melajukan mobil itu sekencang mungkin,bukan Pantai Teluk Penyu yang ia tuju, melainkan rumahnya,rumah yang ia harap bisa menenangkan hatinya yang terluka.
Mobil terparkir sempurna didepan rumah Faris,Faris belum turun ,ia masih mencerna setiap kalimat Tanika,juga kejadian terburuk yang menimpanya hari ini.
Faris menundukkan wajahnya diatas stir,ia memukul mukul setir itu berulang kali,meluapkan emosi juga sakit hati nya.
__ADS_1
"Nggak!! Nggak mungkin .. kamu bohong Tan .. kamu bohong!!" Teriak Faris dimobil itu.