
POV : Faris
"Ris ada temen kamu nungguu,namanya Laras,dia mau ketemu kamu." Jelas Kak Syarif padaku.
Aku menoleh pada Chef Vian,diapun mengangguk, tanda boleh aku menemui nya, akupun mencuci tangan ku,lalu mengelapnya, dengan segera aku menemui Laras ,yang memang sudah duduk disalah satu kursi di restoran.
Suasana restoran memang cukup sepi, selain karena hujan, Restoran juga sebentar lagi akan tutup.
"Ada apa ras?" Tanyaku setelah duduk dihadapan nya.
"Gak,aku cuma kebetulan lewat, terus hujan,jadi mampir kesini deh,oh ya kaka masih lama kerja nya?" Tanya Laras kemudian.
Aku melihat jam tanganku,jam 21.50,itu tanda nya aku akan segera pulang, Resto juga memang mulai kehilangan para pelanggan nya.
"Sebentar lagi,emang kenapa?" Tanya ku penasaran.
"Aku cuma mau ngajak kaka minum kopi sebentar,bisa kak?" Ajak Laras , dengan antusias,nampaknya dia memang ingin sekali aku bisa pergi.
Aku agak sedikit bimbang dengan ajakannya, apakah aku harus pergi atau tidak?
Ah .. iya, ponsel ku kan ketinggalan dimesjid tempo hari.Sebaiknya,aku tolak saja ajakan Laras,aku tidak bisa mengabari Tanika kalau aku pulang larut malam.
"Maaf Ras,gue gak bisa." Aku lalu berdiri.
Aku tak melihat bagaimana ekspresi wajah kecewa Laras,karena aku pikir aku harus segera pergi ke dapur membantu chef Ivan beres beres.
Tepat dua puluh menit kemudian,Resto sudah sepi,semua karyawan juga sudah beres beres bersiap pulang.Setelah,kami semua merapikan Restoran,aku dan Kak Syarif pulang duluan.
Kak Syarif membawa motor,akupun meminta dia mengantarku pulang.
Hujan semakin deras malam ini.Baru saja,kami melaju sebentar, tiba tiba ban motor Kak Syarif kempes,kami pun terpaksa singgah disalah satu warung kopi yang kebetulan melayani Tambal Ban dan Ban bocor.
"Hey kak Faris,katanya gak bisa kopi?" Tanya Laras tiba tiba yang ternyata sudah duduk disampingku.
"Eh ras,iya nih Kak Syarif rekan kerja gue, Ban motor nya kempes,jadi gue terpaksa ke sini dulu." Jelasku merasa sedikit malu,karena seakan tak konsisten dengan keputusan ku.
"Oh gitu ya,ya udah kita ngopi dulu aja,kak Faris suka kopi apa?" Tanya Laras dengan lembut.
"Okey deh .. gue kopi moccha aja." Jawab ku akhirnya,kini rasanya tak mungkin bagiku menolak tawaran Laras,jadi sudahlah .. aku lebih baik ikut ngopi bareng dia sambil nunggu Kak Syarif.
Laras pun masuk warung untuk memesan kopi.
Hujan makin deras malam ini.
Puk ..tiba tiba Kak Syarif memukul bahuku,aku sedikit tersentak sebelum menoleh padanya.
"Ada apa Kak?" Tanya ku heran, melihat raut wajah Pak Syarif yang nampak cemas.
"Duh gimana ya ris? gue harus buru-buru pulang..." Kak Syarif sedikit bingung, untuk menjelaskan sesuatu.
"Kenapa Kak?" Tanya ku ikut khawatir melihat ekspresi wajah nya.
"Ee .. gini, istri gue mau lahiran,gue gak bisa nunggu motor gue,Bapak gue mau jemput gue sekarang,tapi gue gak bisa anterin lo pulang,gue harus buru buru ke rumah sakit sekarang." Jelas Kak Syarif yang wajah nya nampak gelisah, khawatir dan entahlah .. mungkin sekarang pikirannya sedang mengkhawatirkan istri nya yang akan melahirkan.Oh iya .. Kak Syarif adalah kasir direstoran tempat ku bekerja,dia sudah menikah dua tahun dan istri nya yang akan melahirkan itu,Kak Syarif bilang itu adalah anak pertama mereka.
Aku bisa mengerti perasaan Kak Syarif yang gelisah juga khawatir akan istrinya, apalagi ini anak pertama mereka,pasti ini adalah anak yang mereka nanti nanti selama ini.
"Ya udah kak .." aku menepuk lembut bahu kak Syarif,agar dia merasa lebih tenang. "Gue gak masalah kok, mungkin nanti juga ada yang jemput gue,Lo pulang aja, kalau masalah motor besok juga bisa di ambil kan?lagian hujan nya juga bakal reda sebentar lagi." jelas ku merasa percaya diri Tanika akan menjemput ku.Ya .. ku pikir dia akan khawatir dan menjemputku, meski pun hujan memang belum mereda sepenuhnya.
"Sorry ya ris,gue gak maksud nelantarin Lo." Kak Syarif terlihat tak karuan dia lalu menepuk bahuku,lalu berpamitan untuk ke toilet.Aku tak mengerti dengan sikapnya,tapi aku tahu dia sangat tengang hingga dia harus ke toilet.
__ADS_1
Tak beberapa lama,Bapak yang dibilang Bapak Kak Syarif dia datang, menaiki sebuah motor matic dengan setelan jas hujan lengkap.
"Eh nak,maaf, kenal syarif gak? Dia bilang dia ada di warung kopi dekat Resto tempat nya kerja." Tanya Bapa itu saat berhasil menghampiri ku.
"Oh iya .. Bapak,Bapaknya Kak Syarif? sebentar Pak,Kak Syarif lagi ke toilet dulu." Jelasku,membuat si bapak terlihat cemas dan gelisah.
"Ini kak, kopinya." Tiba tiba suara Laras, mengurungkan niat ku untuk menenangkan Bapak,yang kini pasti sedang gelisah memikirkan kelahiran cucunya.
Aku menoleh ke Laras.
"Eh .. iya ras." Aku tersenyum kaku melihat Laras ,mataku mencari Kak Syarif ke dalam warung, yang ku pikir toilet nya memang ada didalam.
"Iya Bu,besok saya ambilnya,makasih ya Bu,ini uang nya sama tadi saya numpang ke toilet ibu." Ku dengar suara kak Faris yang seperti sedang menjelaskan sesuatu.
"Iya den makasih." Terdengar juga jawaban ibu pemilik warung kopi itu.Tak lama,Kak Syarif keluar dari warung kopi itu, menghampiri kami yang berada di bangku luar warung.
"Eh bapak.." Sapa Kak Syarif pada bapaknya.
"Udah kan ke toilet nya?! ya udah yu!! sekarang kita berangkat,kasihan istri kamu,butuh kamu sekarang!!" Jelas Bapak Kak Syarif, langsung menariknya, bahkan tanpa melihat aku dan Laras yang sedang duduk.
"Eeh .. iya pak tunggu sebentar .." Kak Syarif sedikit terbata bata juga terlihat panik,saat secara tiba tiba bapaknya menarik tangan Kak Syarif.
"Ris sorry ya gue pulang duluan, Assalamualaikum." Pamit kak Syarif,saat ku lihat dia sedang mengenakan helm yang diberikan bapaknya.
"Ya kak, Waalaikumsalam,hati hati." Jawab ikut berteriak seperti nya.
Bremm .. Tak lama ku dengar suara motor matic itu melaju,tanpa ku lihat,aku sudah tahu, motor itu sudah mulai meninggalkan tempat ini.Bahkan tanpa memperdulikan hujan yang masih lebat malam ini
Kini hanya tinggal aku dan Laras,kami duduk berdua di bangku panjang depan warung kopi itu.
Dua cangkir kopi menemani kami di malam yang dingin ini,hangat kopi ini, sungguh membuat ku merasa lebih baik,dingin malam terasa larut dalam secangkir kopi moccha yang kini mulai ku seruput lagi.Kami diam cukup lama,hanya suara hujan yang masih deras terdengar disela kami menikmati kopi.
"Gue pulang sendiri aja." Jawabku setelah menyeruput kembali kopi mocha ku.
"Oh .. gimana kalau kak Faris aku anter aja,aku bawa mobil kok?!" Tawar Laras, membuat ku sedikit berpikir.
"Gak deh, makasih ras,gue pulang ya." Jawabku lalu berdiri,merasa hujan sudah mulai reda.
Aku berjalan masuk warung kopi,lalu memberikan sejumlah uang untuk membayar kopi ku dan Laras.
"Ya udah ras,gue pulang ya,soalnya takut hujan nya turun lagi,oh iya ,Lo gak harus bayar gue yang traktir." Jelasku sebelum berlalu meninggalkan Laras.
Aku dapat melihat wajah kecewa Laras,yang sekali lagi tawaran nya ku tolak.
"Kak mending Kaka aku anter aja,Kaka mau naik apa malam gini,ponsel Kaka juga gak aktif kan?" Tanya Laras yang entah dari mana dia tahu ponsel ku tak aktif, pertanyaan itu juga berhasil menghentikan langkah ku.
"Lo kok tahu ponsel gue gak aktif?" Tanya ku heran.
"Tadi aku telpon Kaka,tapi ponsel Kaka gak aktif." Jelasnya setelah berdiri.
"Oh gitu ya,gue jalan kaki aja." Jelas ku kemudian,masih menolak tawaran Laras.Aku pun kembali melanjutkan langkah ku.
"Kak apa salahnya sih aku anter? Aku tahu kok rumah Kaka jauh dari sini,lagian ini udah malem,gimana kalau ada begal atau apalah gitu.." jelas Laras panjang lebar, membuat ku menyerah pada akhirnya,
Aku pun mengangguk setuju untuk diantar pulang olehnya.
"Ya udah,makasih sebelumnya." Jawabku tersenyum padanya.
"Jadi Kaka mau kan? Ya udah ayo masuk!!" Pinta Laras yang tiba tiba mengandeng tangan ku dengan mesra membuat ku agak sedikit risih.
__ADS_1
"Iya gue ikut ..tapi gak usah pegang pengang juga." Jelas ku,menatapnya tak suka.
Laras melepaskan pegangannya dengan cengengesan.
"Hehe iya kak,sorry."
Akupun ,ikut masuk ke mobil Laras yang berwarna abu itu.
Diperjalanan,jalan nampak begitu sepi, orang orang mungkin sudah terlelap dalam tidur nya.
Sekitar beberapa menit,entah kenapa aku merasa kan hal aneh ditubuhku,aku mulai merasa gelisah dan dudukku mulai terasa tak nyaman,seakan ada sesuatu didalam tubuhku yang minta dipuaskan.Tubuhku terasa tak karuan rasanya begitu gerah, padahal ini baru saja turun hujan,aku membuka kaca jendela mobil disamping ku,ku harap ini bisa menetralisir panas ditubuhku, yang kurasakan semakin gerah.
"Kak .." Ahh ..kenapa ini?? suara mendayu dayu itu seakan menggoda ku saja.Aku mencoba menenangkan diri,tapi entah kenapa rasanya begitu panas,aku mengipas ngipas leher dengan kedua tanganku,Ya ampun .. kenapa gerah sekali,rasa nya aku tak bisa duduk dengan tenang .. aku mencoba menarik nafas untuk menenangkan diri,aku tahu ini seperti rasa nya tak tahan ingin segera menyalurkan hasrat seksual ku,tapi .. ayolah .. Faris .. aku harus kuat, sebentar lagi aku akan segera pulang.
"Kak .." kembali ku dengar suara Laras, seperti nya Laras sadar dengan tingkah aneh ku.
"Kak Faris kenapa?" Tanya nya lagi,disela sela menyetir mobil.
"Ee .." aku merasa nafasku mulai memburu tak karuan,aku kembali salah tingkah,ku melirik Laras sesaat,ya ampun ..apa ini ??kenapa aku malah melihat paha putih Laras ..aku kembali mengalihkan pandangan ku.
"Kak .. Kak Faris .. gak apa-apa?" Tanya Laras lagi.
"Gue .. ee ..mau berhenti disini aja." Merasa takut terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini,aku memilih berhenti disini.
"Loh kenapa? Sebentar kak!!? kita bakal segera sampe." Jelas Laras,mulai melajukan mobil lebih cepat lagi.
Jujur aku sudah tak bisa menahan gairah ku ini,tapi sudah lah.. bicara pun aku sudah merasa tak konsen,aku lebih baik diam dan tak melirik Laras yang kurasa akan memperburuk keadaan,jika aku melihat Laras yang mengenakan pakaian kurang bahan itu.
Aku masih salah tingkah dan juga tidak tenang dengan dudukku.
Akhirnya,mobil pun berhenti.
Aku buru buru keluar, konyol nya aku tak melihat aku dimana,aku langsung keluar begitu saja.
Saat aku sadar,ini bukan rumah Tanika,tapi depan sebuah rumah kecil seperti kontrakan.
"Loh ras ini .. bukan rumah gue." Jelasku lalu menelan ludah,saat melihat Laras yang entah kenapa begitu menggoda dengan stelan dress mini sepaha,juga jaket hitam.
Tiba-tiba Laras menarik bajuku, TIDAK !! ini sudah salah!!,kini tubuh ku semakin merasa bergairah saat nafas Laras mulai memburu dihadapan ku,wajah kami kini saling bertemu,aku sudah tak bisa menahan lagi.
Aku mendorong nya hingga dia terlentang didepan mobil, dengan kedua tangan nya yang ku pegang.
"Kenapa kak,Kaka udah gak tahan kan?" Goda nya masih menarik bajuku.
Nafasku semakin memburu, apalagi saat ku lihat wanita ini mencoba menggoda ku,dengan memainkan jarinya didadaku.
"Lepasin aja kak,aku ikhlas kok."
Laras menarik ku dan mencium bibir ku dengan ganasnya,aku tahu ini salah, tapi permainan Laras, membuat ku tak bisa menolak,aku malah ikut mengimbangi permainan Laras,bahkan aku sampai berani ingin menelusuri bagian tubuhnya...Tapi tiba tiba..
Brughhh .. entah datang dari mana .. tendangan seseorang itu berhasil menendang perutku,hingga aku tersungkur ke tanah.
"Brengsek Lo ris!! Gak tau malu Lo." Aku meringis kesakitan, akibat tendangan keras dari orang yang ternyata adalah Rama, sahabat ku.
"Lo .." Bughhh .. belum sempat aku mengatakan sesuatu,Rama sudah kembali memukul wajah ku, membuat ku kembali tersungkur dan memegang pipiku,kurasakan darah mengalir di ujung bibirku.
"Ini balasan buat perbuatan brengsek Lo,Lo harus nya mikir gimana perasaan Bu Tanika ngeliat kelakuan ******** Lo ini!!!" Bentak Rama, membuatku sedikit tersentak,sadar aku sudah tak terkendali tadi,bahkan aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini ...
"Fariss!!" Ku dengar suara wanita memanggil namaku,aku menoleh ke arah suara yang kini mendekati ku berjongkok dan memegang kedua bahuku...
__ADS_1