
POV : Tanika
"Aku mau ngomong .." Ucapku dengan wajah serius, sedikit menunduk,karena ada sedikit perasaan bersalah dihatiku, "sebenarnya,kemarin malam, aku diajak Ilham makan malam bersama,tapi aku lupa bilang sama kamu." Jelasku,melirik Faris, ingin tahu bagaimana reaksi nya, mendengar penuturan ku ini.
Faris terlihat bungkam,ia seperti tak mau merespon penuturan ku.Tapi,aku salah,Faris menoleh perlahan menatapku.
"Kenapa kamu bisa lupa? bagaimana Pak Ilham? Dia marah?" Tanya Faris, mengerjapkan matanya, mengisyaratkan kepenasaran diwajahnya.
"Gak,dia gak marah,tapi ..dia ingin aku makan malam dengan nya malam ini, sebagai ganti, karena aku lupa datang kemarin." Jelasku, berhadapan dengan nya.
Faris sedikit menghela nafas, seperti ada ketidaksukaan atas permintaan Ilham.
"Dimana?" Tanya Faris,memalingkan wajah menatap lurus jalanan dihadapannya.
"Java Resto,jam 20.00." jawabku, menyertakan waktu, untuk aku datang kesana.
Aku menatap khawatir Faris,pasalnya Faris memang kurang suka dengan Ilham,sejak aku pernah ngobrol dengan nya di belakang sekolah, jujur aku tidak tahu, bagaimana Faris tahu aku pernah ngobrol dengan Ilham waktu itu.Tapi,sudahlah ..Faris juga mengatakan itu bukan masalah ,meski matanya terlihat memancarkan kebohongan ketika mengatakan itu.
Masih ku tatap Faris.
Ia melihat ku, kembali menghela nafas kecil.
"Okey,kamu boleh pergi,tapi aku anter,aku bakal tunggu kamu di warung deket Resto itu." Jelas Faris, panjang lebar, membuat ku tersenyum lega.
"Makasih ris,kamu udah izinin aku ketemu sama Ilham." Ucapku memegang lembut lengan Faris.
Faris tersenyum manis, menatap ku.
"Iya,aku ngerti kok,dia teman baik kamu dari dulu,aku gak mungkin ngelarang kamu ketemu temen sendiri,asal jangan jadi demen ya!?" Faris terlihat menggoda ku , dengan senyum yang tak ku mengerti.
"Apaan sih ya nggak lah,hati aku kan cuma buat kamu." Jawab ku dengan tegas,sembari memeluk lengan Faris,lalu bersender dibahunya.
"Tuh kan nular." Ucap Faris, ucapan yang memang tak ku mengerti, membuat ku sedikit mengeryitkan dahi,lalu mengangkat kepala ku, menatap nya.
"Apanya?" Tanya ku, bingung.
"Gombal nya." Jawab Faris,sambil mencubit kecil hidung ku, sukses membuat kedua pipiku merona, memancarkan rasa malu,yang memang tak bisa ku tutupi.
Demi menjaga image ,agar tak terlihat kikuk dihadapan Faris,akupun menjauh dari nya, membetulkan dudukku disamping Faris.
"Udah ah,kita pulang." Pinta ku mengalihkan pembicaraan.
Terdengar jelas kekehan Faris,yang meski pelan,tapi benar benar membuatku merasa semakin malu.
"Ya udah,kita pulang, pegangin pipi nya biar gak terus merona." Goda Faris lagi, membuat ku memanyunkan bibir,tak terima, Faris terus saja menggoda ku.
Faris pun melajukan mobil,tak kembali mengoceh dan fokus pada kemudinya.
°°°
__ADS_1
Malam yang cerah, dapat ku lihat kerlap kerlip bintang diatas sana,di atas langit yang gelap,namun bertabur indah bintang bintang disana.Aku memegang tas navy dengan kedua tangan ku, berdiri disamping mobil menunggu Faris,yang sedang mengunci pintu.
"Udah?" Tanyaku,saat melihat Faris, memasukkan kunci rumah kedalam saku celananya.
"Udah,ayo berangkat!?" Pinta Faris, membuka kan pintu mobil untuk ku.
Akupun masuk setelah sebelumnya tersenyum pada Faris,yang juga dibalas senyuman olehnya.
Diperjalanan ,tak ada percakapan diantara kami,hanya hening yang kurasakan,Faris nampak fokus dengan jalanan dihadapan nya.
"Ris.." ucapku, memecah keheningan, sebenarnya bukan itu saja, tapi aku ingin memastikan dia tak marah padaku, karena pertemuan ini.
"Apa sayang?" Tanya Faris lembut, jujur membuat ku lega, pertanyaan itu,membuktikan satu hal,kalau Faris tak marah padaku.
"Gak apa-apa,kamu mau makan dirumah makan deket Resto itu?" Tanyaku,melirik Faris.
"Iya, tapi aku mau makan sama kamu,kamu jangan banyak makan disana,nanti makan lagi sama aku." Jelas Faris,masih fokus dengan kemudinya.
"Okey kalau gitu,aku cuma makan doang,gak lama kok." Jawab ku,agar Faris tak khawatir,aku berlama lama disana.
"Iya sayang.." jawab Faris tersenyum manis.
°°°
Depan warung makan sederhana itu,Faris memarkir kan mobil.
Aku mengambil tangan Faris dan mencium nya.
Cup,
Faris menarik tekuk leherku, dapat kurasakan kecupan hangat dikeningku,Faris mengecup cukup lama, membuat ku menutup mata seperti biasa.
"Okey,aku tunggu disini,kamu hati hati." Ucap Faris, melepaskan tangan dari tekuk leherku.
Aku membalas ucapan Faris, dengan senyuman.
°°°
Java Resto, sebuah Restoran bergaya outdoor.Malam ini ,Restoran yang memiliki kursi cukup banyak untuk pengunjung itu, nampak begitu sepi. Tak ada orang disana,namun dapat ku dengar suara musik khas yang romantis,aku berjalan masuk, melewati setiap jalan mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ilham.
Sejujurnya,ada yang beda dengan Resto ini,ada lampu lampu putih indah yang mengitari seluruh area Restoran.
Tibalah aku disebuah meja panjang,disana sudah tersedia berbagai menu makanan,yang bisa dibilang cukup menggugah selera.
"Ilham.." ucapku, melihat orang diseberang meja itu.Aku masih berdiri mematung ,di tengah lorong yang terbuat dari besi dan dedaunan yang merambat juga lampu indah disekelilingnya.
Suasana yang begitu romantis aku kira.
Nampak Ilham mendekati ku,ia tersenyum manis.
__ADS_1
"Selamat datang, akhirnya kamu datang juga." Terpancar raut wajah bahagia di wajah Ilham,ia tersenyum manis, menatap ku, tatapan yang memang aku cukup bingung untuk mengartikan nya.
Aku tersenyum,agak canggung, pasalnya suasana ini terasa berbeda bagiku.
"Sudah lama aku menanti kan ini.." Pernyataan Ilham menggantung, membuat ku merasa heran dengan perubahan nada Ilham yang terdengar lemah. "Aku tidak punya keberanian seperti Banu,tapi ada satu hal ingin aku katakan sebelum kita makan bersama." Jelas Ilham, membuat ku curiga akan pernyataan berikut nya,yang akan keluar dari mulut Ilham.
"Aku mencintaimu Tan,aku pikir hubungan palsu kita dulu bisa menjadi nyata hari ini." Jelas Ilham lantang dan jelas membuat kedua mataku merespon tak percaya,membulatkan bola mata dengan sempurna.Kaget itulah yang kurasa, benar apa yang Faris katakan "temen yang berakhir menjadi demen".
Aku menunduk sesaat,lalu menatapnya.
"Maaf ham,tapi kamu salah faham tentang hubungan kita,aku gak bisa terima kamu." Aku membalikkan badan,hendak berjalan menjauh dari darinya,aku tahu ini tak akan baik jika diteruskan.
Hup,.. Tapi , rupanya aku gagal melarikan diri dari perasaan Ilham,ia berhasil menghalangi langkah ku untuk keluar,ia memelukku dari belakang,bahkan tanpa ku sadari begitu cepat,hingga aku tak sanggup menghindar.Kedua tangan kekar nya berhasil melingkar tepat diperutku.
"Aku mohon,aku tahu kamu mencintai ku Tan,jangan tinggalkan aku Tan, kembali lah bersamaku." Bisiknya ditelinga ku, membuat ku meronta, ingin melepaskan pelukan nya.
"Lepas Ham!!" Tegasku, sedikit menggoyangkan tubuh dengan kasar,agar dia melepaskan pelukannya.
Seperti nya aku berhasil,Ilham sedikit melonggarkan pelukannya,dia melepaskan pelukan nya,tapi dia tak menyerah,kini dengan cepat dia membalikkan tubuhku menghadap nya.
"Kenapa Tan? Jangan bilang kamu tak mencintaiku Tan,itu akan menghancurkan perasaan ku,aku mencintaimu Tan,aku ingin kita bersama." Jelas Ilham, dengan binar mata penuh keyakinan.
"gak ham,aku gak cinta sama kamu,aku sudah menganggap kamu seperti saudara." Tegasku, dapat kurasakan pegangan Ilham pada kedua bahuku,mulai mengendor,ia nampak menunduk sedih,menurunkan tangannya perlahan.
"Baiklah," Ilham kembali menatap ku "jika kita tidak bisa bersama,tolong izinkan aku mencium mu untuk sekali saja." Ilham menarik wajahku,namun dengan sigap aku memalingkan wajah,menghindar dari ciuman Ilham,aku terus berusaha menghindar,tapi Ilham begitu bersikes menarik wajahku agar dia dapat mencium bibir ku.Tentu saja aku tak menyerah , perlakuan Ilham sungguh sudah keterlaluan.
Dengan sisa tenaga yang ku miliki,ku beranikan diri mendorong nya dan ..
Plakkk ..
berhasil ku berikan satu tamparan dipipinya yang mulus itu.
Ilham nampak tak percaya, memegang pipi nya yang ku kira terasa perih.
Aku mengatur nafas ku, menetralisir rasa syok dihatiku, tentu saja syok akibat perlakuan Ilham yang ingin mencium ku secara paksa,aku bukan orang bodoh yang harus berciuman dengan sembarang orang, apalagi dia bukan mahramku.Nafasku masih tak karuan, apalagi aku mengingat begitu beraninya aku menampar dia.
"Aku minta maaf,tapi yang kamu lakukan sungguh tak pantas ham,maaf karena aku memang gak cinta sama kamu." Jelasku, setelah nafas yang mulai stabil,Ilham menatap tak percaya,masih dengan tangan dipipinya,Aku berbalik, berlari keluar Restoran itu,tak ku peduli kan lagi Ilham,yang sudah pasti sangat sakit hati akan sikapku,tapi jujur,aku juga sakit hati akan sikapnya tadi.
Butuh waktu satu menit, untuk ku berlari mendekati Faris,yang kini sudah berdiri disamping mobil hitam ku.
Tanpa aba aba,aku langsung memeluk Faris dengan erat, merasa hanya tubuh Faris lah yang mampu menenangkan ku, dengan segala ketegangan yang telah terjadi padaku tadi.Harusnya aku tak pernah pergi kesana, pertemuan ku dengan Ilham hanya berhasil menghancurkan persahabatan kita yang telah dibangun lama, sungguh tak ku sangka kebaikan ku pada Ilham,dia salah artikan sebagai cinta.Nyatanya memang tak akan ada pria dan wanita yang bisa bersama hanya berstatus kan sahabat.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan Faris, menyadarkan ku dari semua kenangan ku dengan Ilham ,juga kejadian sekitar lima menit lalu itu.
Aku hanya mampu menggelengkan kepala,menutupi ketegangan ku.
"Gak apa-apa,aku cuma kangen kamu." Jawab ku, membuat sebuah tangan mengelus lembut pucuk rambut ku,yang tertutup jilbab itu.
Berikut nya ,Faris mengecup pucuk rambut itu,
__ADS_1
"Baru beberapa menit udah kangen." Ucap Faris,tak ada jawaban dari ku,hanya pelukan saja yang semakin ku erat kan ditubuhnya.Tak bisa dipungkiri memang,ada rasa bersalah dihatiku,karena menemui Ilham, harusnya aku mengerti ekspresi Faris yang tak suka aku menemui nya.