Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Harta Yang Paling Berharga


__ADS_3

"Kamu suka?"


Suara itu mengagetkan Tanika,dia segera menoleh dan melihat Faris tengah tersenyum manis, memandangi nya,selangkah demi selangkah Faris mendekati Tanika,Tanika memandangi sesaat dress berwarna coklat muda itu,ia tersenyum, mengangguk kan kepala.


"Suka." Jawab Tanika.


"Itu buat kamu,kamu pake ya!! Aku bakal tunggu kamu dimobil,kita ke rumah sakit setelah kamu mandi,oh ya sandwich nya kamu makan ya! Itu buatan aku." Jelas Faris,masih dengan senyum manisnya.


"Kamu serius?"


"Ya,kalau gitu .." Faris menunjuk keluar. "Aku tunggu dimobil ya!" Faris tersenyum,lalu beranjak keluar setelah mendapat anggukan dari Tanika.


°°°


"Apa maksud kamu? Galang kabur?" Tanya ayah Galang pada sekertarisnya.


Sekertaris nya itu menjelaskan sesuatu pada Ayah Galang,Ia menjelaskan perihal Galang yang didatangi polisi,namun ternyata Galang tak ada dikediaman nya,bahkan kini polisi sedang menunggu diruang tamu untuk menemui ayah Galang, meminta keterangan perihal kasus Galang,meski polisi belum menemukan bukti,tapi ucapan dari Faris lah yang menjadi alasan polisi mendatangi rumah Galang, kecurigaan polisi semakin besar,karena Galang tidak ada dirumah nya dan tak ada satupun dari pelayan atau satpam disana yang mengetahui kemana perginya Galang,Oleh karena itu, Polisi kini mendatangi kediaman ayah Galang.


"Benar pak, polisi sudah menunggu bapak dibawah, mereka meminta bantuan untuk kerjasama nya pak." Jelas sekertaris itu, sedikit menunduk,ia merasa takut atasannya itu sudah terlihat begitu marah, mendengar kabar anak nya yang terlibat kasus hingga melibatkan polisi.


Ia mendengus kesal.


"Kamu keluar!! Saya akan menemui mereka." Bentak ayah Galang.


"Baik pak." Jawab sekertaris itu,lalu beranjak keluar.


Ayah Galang turun dari ruang kerja nya, setelah beberapa menit,ia bersikap seperti biasa, sebagai orang yang terhormat dan berwibawa.


"Selamat pagi pak." Sapa ayah Galang.


Kedua polisi itupun berdiri,mereka menunjukkan sikap hormat mereka dan menjawab sapaan itu dengan tegas, lalu salah seorang dari mereka menjelaskan maksud kedatangannya.


"Mohon maaf pak mengganggu waktu nya,saya mohon bantuan bapa,kami sedang menyelidiki kasus perdagangan orang yang dilakukan anak bapak,"


Mata ayah Galang seketika terbelalak tak percaya, dengan apa yang didengarnya itu, pasalnya menurut dia, Galang adalah anak yang menurut padanya,bahkan meski perusahaan yang ia miliki tak ia berikan pada Galang,anak itu tak pernah protes sedikit pun.


"Apa? Tidak mungkin pak."


"Mohon maaf pak,tapi kami mendapat laporan dari orang yang telah berhasil menolong korban juga orang yang menjadi pembeli atas kasus ini,jadi maaf pak,apa saudara Galang ada dirumah ini?" Tanya salah seorang polisi itu.


Meski masih tak percaya,dua orang polisi dihadapan nya,mampu menjadi bukti akan kejahatan yang dilakukan Galang,dengan berat hati,ayah Galang pun bersedia membantu menyelesaikan kasus anaknya itu.


"Mohon maaf pak,tapi dia sudah lama tak pulang,tapi bapak jangan khawatir, saya akan membantu mencari anak itu,saya tidak akan memberi ampun,meski dia adalah anak saya." Tegas ayah Galang.


"Baik kalau begitu, terima kasih pak untuk kerjasama nya." Polisi itu mengulurkan tangan, diikuti salah seorang nya lagi.


Ayah Galang berjabatan tangan dengan kedua polisi itu,secara bergantian.Setelahnya kedua polisi itu pergi, berpamitan kepada ayah Galang.


"Maria!!.." Teriak ayah Galang , memanggil sekertaris nya.


Maria, sekertarisnya itu segera menghampiri atasannya.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Maria, menunduk sopan dihadapan ayah Galang.


"Kamu tolong suruh orang cari Galang!! Saya tidak percaya anak itu benar benar keterlaluan!!" Pinta Ayah Galang, dengan amarah yang memuncak.


"Bbaik ..pak." jawab Maria,


Ayah Galang berlalu meninggalkan Maria,dia kembali naik ke atas menuju ruang kerja nya.Ayah Galang masih tidak percaya,Galang menjadi kejam seperti itu,dulu Ilham dan sekarang Galang,ayah Galang merasa dia bersalah,ia rupanya, selama ini tak bisa mendidik kedua anaknya,


Didalam ruangan nya,ayah Galang hanya mampu memijit kepalanya,merasa begitu pusing atas tindakan anaknya.


°°°


Seusai mandi,Tanika melirik kotak makan yang sudah ia keluar kan tadi, penampilan Tanika juga sudah berubah,wanita itu mengenakan pakaian yang diberikan Faris,ia nampak begitu cantik dan elegan.


Tanika mengambil kotak makan itu, berpikir untuk memakannya bersama Faris saja,nanti saat sudah berada didalam mobil.


"Maaf lama." Ucapan Tanika, setelah masuk dan menutup pintu mobil itu.


Faris tersenyum,ia terlihat tak mempermasalahkan hal itu.


"Gak apa-apa kok,oh ya sandwich nya kamu suka?" Tanya Faris,mengira Tanika sudah memakan sandwich nya.


Tanika tersenyum,ia mengangkat kotak bekal kehadapan Faris.

__ADS_1


"Belum,aku mau makan sama kamu,bolehkan?" Tanya Tanika,masih dengan menyodorkan kotak bekal itu.


"Loh ,itu buat kamu,aku udah sarapan kok." Faris kemudian mengambil kotak bekal itu,membukanya,mengambil satu potong sandwich dan menyuapkan nya ke mulut Tanika,wanita itu tak melakukan penolakan,malah ia merasa terkesima dengan perlakuan lembut Faris ditambah senyum manis yang khas dimiliki Faris.


Tanika mengunyah perlahan, pandangannya masih tertuju pada Faris.


"Gimana enak kan?" Tanya Faris, menurunkan sandwich.


Tanika tersenyum,


"Mm .. iya enak,"


"Ya udah." Faris memberikan kotak bekal itu pada Tanika. "Kamu abisin dulu,baru kita berangkat,oh ya minumnya,aku beliin ya!" Faris hendak turun dari mobil,tapi tangan Tanika mencegahnya ia memegang pergelangan tangan Faris,agar dia tak jadi keluar mobil.


"Eh .. gak usah Ris, aku makan di rumah sakit aja,lagian aku pengen Rista bisa rasain sandwich buatan papa nya ini." Ucap Tanika,


sejenak ia tak sadar dengan apa yang dia ucap,Tanika terlalu senang dengan apa yang ia dapat,hingga ia berhasil mengucapkan kata yang mengartikan kejujuran tentang siapa Ayah dari anaknya.


Tanika tersadar,ia melonggarkan pegangan nya,lain halnya dengan Faris,kini dia terkejut mendengar apa yang baru Tanika katakan,Apa maksud Tanika? Papa? Apa dia baru bilang aku adalah papa Rista? Begitu lah yang terpikir oleh Faris.


Faris yang menyadari Tanika tak lagi memengang pergelangan tangannya,ia menoleh menatap wanita yang kini tengah menundukkan wajahnya, menyesalkan apa yang telah ia ucap.


"Maksud kamu? Apa Tan? Papa Rista?" Tanya Faris, pertanyaan yang terkesan tenang.


Tapi,mampu memporak porandakan hati Tanika, rasanya seperti ia harus jujur tapi tak sanggup,hati nya ingin jujur,tapi otaknya seakan menolak, mengingat kenyataan yang sudah mencap dirinya sebagai wanita yang tak pantas bagi Faris.


Tanika menutup mata perlahan, entahlah .. harus jujur atau bohong Tanika masih bingung,hingga sebuah genggaman lembut,menyentuh tangannya yang kini seakan membeku.


"Tan .." ucap Faris dengan lembut.


Tanika mengangkat wajahnya,bulir bening jatuh dari pelupuk mata Tanika,ia menatap Faris yang terlihat bingung.


"Maaf Faris,tapi .. apa yang sebaiknya aku katakan,kamu bilang cinta sama aku,tapi .. aku ragu bilang ini sama kamu .." jelas Tanika, dengan bibir yang mulai bergetar,Tanika takut Faris bersikeras bersama nya, apalagi setelah tahu Rista adalah anaknya.Tapi lagi,Tanika tahu dirinya bukan wanita yang pantas untuk Faris.


"Katakan Tan!! Apa kamu nyembunyiin sesuatu dari aku? Maksud kamu bilang papa Rista,itu aku kan? Apa aku papa kandung Rista?" Tanya Faris yang seakan sudah menembak apa yang tadi Tanika katakan.


Tanika mengerjapkan mata,rasanya air mata,sudah mulai meluncur lagi dipipinya.


Tanika menunduk,


Faris terbelalak,ia jelas kaget mendengar penuturan Tanika,Faris baru menyadari ia ternyata meninggal kan harta yang paling berharga,saat ia pergi ke luar negeri,seorang istri juga anak yang sangat ia cintai,


Faris menarik tubuh Tanika kedalam dekapannya,


"Aku yang harus nya minta maaf,aku harus nya gak ninggalin kamu saat itu," Faris mengelus lembut rambut Tanika. "Aku ingin kita mulai semua dari awal,aku bakal belajar jadi suami dan ayah yang baik untuk kalian." Jelas Faris.


Tanika tak menjawab,ia malah mengeratkan pelukannya pada Faris,


Faris perlahan mendorong tubuh Tanika,merasa wanita itu masih sesegukan menagis dipelukan nya.


Faris menatap lekat kedua mata Tanika,ia menghapus air mata Tanika,dengan kedua ibu jarinya.


"Kamu gak salah Tan,ini udah takdir dan takdir juga yang mempertemukan kita kembali,ini seperti sebuah isyarat Allah tak ingin kita terpisah,aku ingin kamu menjadi pendamping hidup ku Tan,kamu jangan nangis .. kita harus temui Rista,Rista harus tahu siapa ayahnya."


Tanika mengangguk,ia memeluk Faris sesaat.


"Terima kasih Ris." Lirih Tanika disela pelukan itu.


°°°


Sesampainya di Rumah Sakit,


Faris dan Tanika, segera menuju ruang perawatan Rista,Faris membuka pintu.


"Assalamualaikum." Ucap Faris bersamaan dengan Tanika,


"Waalaikumsalam." Jawaban lembut dari bibir Laras juga Rista yang tengah disuapi bubur oleh Laras.


Tanika segera mendekati Laras,wanita itu memeluk Laras dengan rasa penuh terima kasih.


"Ras,makasih kamu udah jaga Rista."


"Ya Bu sama sama, sebagai seorang murid, rasanya apa yang Laras lakuin gak sebanding dengan apa yang telah ibu lakuin buat Laras." Jawab Laras begitu tulus,


Tanika melepaskan pelukan itu, tersenyum lembut menatap Laras.

__ADS_1


"Thanks ya Ras,Lo udah nolong gue." Ucap Faris,menatap Laras.


"Ya sama sama kak,ya udah, karena kalian udah disini,aku harus pulang, soalnya aku ada urusan,gak apa-apa kan?"


Tanika tersenyum manis,


"Makasih Ras, sekarang biar aku sama Faris yang jaga Rista,kamu harus istirahat,maaf ibu udah ngerepotin kamu." Jelas Tanika, menggenggam tangan Laras.


"Ya Bu, Laras gak ngerasa direpotin Bu,Laras malah seneng bisa bantu ibu."


Laras lalu beralih,memegang bahu Rista,


"Ris,Kaka pulang ya, sekarang mama Rista udah dateng,jadi Rista sama mama okey!?" Jelas Laras pada gadis kecil itu.


Rista terlihat meraba raba bahunya,mencari tangan Laras,gadis kecil itu menemukan tangan yang ia cari,Rista mengelus lembut tangan itu.


"Kaka pergi? Kaka balik lagi?" Tanya Rista dengan nada imut yang polos,gadis kecil itu rupanya, sudah pandai berbicara diusianya yang baru menginjak empat tahunan.


"Ya sayang,nanti kak laras kesini lagi,"


Cup,Laras mengecup kening Rista.


Gadis itu meraba raba,mencari tubuh Laras,ia dapat merasakan bahu Laras dengan sigap ia mencoba memeluk wanita itu, nampak nya ia berhasil melingkar kan kedua tangan dileher Laras, suasana yang begitu haru.


"Makasih Kaka,jaga Rista,Rista bakal kangen Kaka,Kaka datang lagi ya!?" Pinta gadis kecil itu dalam pelukan Laras.


"Iya sayang, kalau gitu Kaka pulang ya .." Laras mendorong perlahan tubuh Rista,gadis itu masih memegang lengan Laras.


Rista tersenyum, perlahan Laras melepaskan pegangan tangan Rista,


Laras beralih menatap Faris dan Tanika,


"Saya pamit pulang Bu,kak Faris .. Assalamualaikum." Pamit Laras,ia lalu menoleh ke arah Rista yang hanya menatap lurus,jelas ia tak bisa melihat apa yang tengah terjadi. "Sayang kakak pulang ya Assalamualaikum."


Rista dapat mendengar suara itu,Rista menjawab salam itu dengan lembut.


"Walaikumsalam." Ucap nya begitu imut.


Kini, setelah Laras keluar, Tanika duduk disamping ranjang.


Merasa ada pergerakan diranjangnya,Rista mulai meraba raba dengan tangannya,mencari sosok yang membuat tempat itu seakan bergerak.


"Mama .. " panggil Rista,


Tangan yang memang sedang mencari sosok itu, segera Tanika genggam,ia mendekap lembut gadis kecilnya itu.


"Ya sayang ini mama." Jawab Tanika,ia menahan tangis yang akan keluar dari matanya.


"Mama Rista kangen,"


"Iya sayang,mama juga kangen kamu." Tanika menghujani Rista dengan kecupan di pucuk rambutnya, wanita itu mendekap erat tubuh Rista.


"Mama?"


"Iya sayang,"


"Mama,sama siapa? Mama sama papa kan?" Tanya Rista dengan nada sedih,penuh harap,gadis itu berharap ayah nya akan datang.


Dulu sewaktu dirumah nenek kakeknya,Rista selalu diberitahu,kalau ayahnya kerja jauh begitupun ibunya dan kakek ataupun neneknya,selalu mengatakan Rista akan bertemu dengan ayah dan ibunya suatu saat nanti,


Hari ini, Rista sangat berharap bisa bertemu kedua orang tuanya,meski tanpa melihat,tapi Rista ingin sekali bisa memeluk ayah dan ibunya, seperti yang selalu diceritakan Erlin teman Rista,saat dirumah nenek dan kakeknya,Erlin sering mengatakan ia selalu memeluk orang tuanya,hal itu sedikit nya, membuat Rista menginginkan hal yang sama seperti hal nya anak kecil seusainya.


Mendengar pertanyaan itu,tak kuasa Faris menahan kesedihannya,ia yang sedari tadi memperhatikan Rista yang begitu tegar akan sakit juga kebutaan nya,kepolosan juga senyum kecil dibibirnya,seolah membuat Faris semakin jatuh cinta pada buah hatinya itu.


Tanpa disuruh Faris duduk disamping Rista dan menggenggam erat tangan gadis kecil itu,Faris juga tak lupa mengecup lembut tangan mungil Rista.


"Iya sayang ini papa,papa disini."


Faris berulang kali mengecup tangan mungil itu.


Rista benar benar bahagia,bahkan ia melepaskan pelukan ibunya,ia meraba raba sosok yang telah mengaku sebagai ayahnya,Faris dengan sigap menarik gadis kecil itu kepelukannya.


"Papa.." ucap Rista,


"Iya sayang," tak henti Faris menghujani Rista dengan kecupan di pucuk rambutnya,memeluk erat gadis itu, mencurahkan segala rindu dan kasih sayang, bahkan tanpa permisi,air mata lolos dari pelukan mata Faris,ia merasa sedih,terharu juga bahagia dapat bertemu dengan gadis kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2