Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Adik Kelas)


__ADS_3

POV : Faris


Pagi ini aku sedang asik memainkan ponsel baruku, awalnya aku memang tak ingin punya ponsel karena takut mengganggu belajar ku,tapi Tanika bilang aku harus memiliki nya untuk bisa menghubungi nya atau teman teman ku,terlebih aku sekarang sering kali pulang sore,karena ada pelajaran tambahan,ada latihan pemantapan untuk ujian kelulusan,yang akan di adakan sekitar beberapa minggu lagi.Ya ,karena aku sekarang kelas 12,jelas begitu banyak ujian yang ku jalani.


Lalu Tanika khawatir aku pulang sendiri,dialah yang memberi ku ponsel ini,Tanika bilang itu gratis,tapi aku tetap membayar nya dan hari Minggu kemarin aku baru melunasinya.Dengan ponsel ini,Tanika bilang dia harus menghubungi nya ketika aku pulang telat, apalagi sekarang musim hujan, Tanika benar benar sangat khawatir padaku.


Tanika memang tidak menjadi guru dalam kelas tambahan,jadi dia biasa pulang lebih awal.


Dia bilang Pak Ilham memang menyuruh nya menjadi guru untuk pelajaran tambahan,tapi Tanika menolak,ia bilang tak bisa dengan alasan harus menemani ibunya, padahal sebenarnya,dia hanya ingin bisa fokus menjaga rumah dan melayaniku ..uhhh sungguh istri yang Sholehah istriku ini.


Ia selalu menyajikan makan malam sendiri,bahkan dia sering memberi ku bekal.


Seperti hari ini , seusai sholat Dzuhur berjamaah,semua anak kelas XII diberi Istirahat dua puluh menit sebelum pelajaran tambahan.


Aku membuka bekal ku dengan senyum manis ku, mengingat tadi Tanika memberikan ini di ruang guru, sungguh awalnya ku kira dia akan memarahiku,tapi ternyata dia memberikan bekal yang lupa ku bawa,dan tak lupa .. saat ku ingat kecupan dia dibibir ku, membuat ku malah senyum senyum sembari menatap bekal itu.


"Dorrrr ...." Tiba tiba seseorang memukul bahuku, membuat ku tersentak kaget bukan main,aku langsung menoleh ke arah orang yang sudah duduk disamping ku, dengan sedikit melototi nya.


"Gila bro .. temen kita ini udah jadi bucin sekarang!!" Ucap Banu melirik Rama yang duduk di sampingnya,ia juga menaik turun kan alisnya, membuat ku tersenyum malu.


Rama hanya terkekeh dan melihat ku.


"Apaan sih Lo ban?" Aku menutup kembali kotak bekal ku.


"Kenapa ditutup Ris?" Tanya Rama yang melihat ku,menutup kotak bekal itu.


"Gue gak enak makan sendiri, kalian berdua gak bawa bekal?" Jelasku sembari bertanya padanya.


"Ye elah Ris,Lo hina gue banget .. gue tuh belum punya istri ,mana ada yang bikinin bekel." jelas Banu membuat Rama dan aku terkekeh mendengar nya,yang juga cemberut saat mengatakan itu.


"Iya lah gue tahu,eh ban enak loh nikah itu."godaku melirik nya.


"Jahat Lo ris ngomong itu Mulu,liat aja!! gue bakal nikah setelah lulus ini,gue bakal liatin cewe cantik yang bakal jadi pendamping gue." Jelas Banu dengan percaya diri.


"Udah ah,Lo berdua ini bahas nikah Mulu, sekarang mending kita makan,nanti keburu masuk lagi,gue mau pesen dulu makanan,Lo mau apa ban?" Rama berdiri, seakan bosan dengan pembahasan yang kami bicarakan.


"Gue baso aja,sama teh lemon dingin." Banu menengadahkan wajahnya menatap Rama.Rama pun pergi setelah mendengar pesanan Banu.


Aku melirik Banu,dia terlihat aneh menatap fokus entah pada apa,aku yang penasaran mengikuti arah pandang Banu.


"Laras??" Aku kaget melihat sosok yang dipandang Banu,dia adalah Laras,ia terlihat berbeda, pasal nya saat kulihat pertama kali,dia terlihat mengenakan kerudung dan gayanya sopan memakai kacamata dan terlihat polos,tapi kali ini dia tidak memakai kerudung juga dengan rambut bergelombang yang digerai,dia juga seperti menggunakan riasan diwajahnya,bisa dibilang dia lebih cantik dari sebelumnya, mungkin dia memang bisa berubah.Toh,sudah sekitar setengah tahun kita tidak bertemu.


Laras terlihat sedang menikmati jus berwarna merah muda,mungkin jus jambu ku kira,dia menatap ke arah jendela disampingnya.


"Lo kenal ris?" Tanya Banu yang mendengar aku menyebut kan namanya.


"Kenal,dia Laras" jawabku.


Tiba tiba Rama duduk membawa dua mangkuk bakso dan menaruhnya di hadapan Banu.


Seperti nya Banu memang tak mengenali nya, padahal jelas jelas saat itu,Banu melihat Laras didepan matanya, mungkin memang, kalau tidak dilihat dengan seksama tidak akan ada yang tahu dia Laras.


Aku pun kembali membuka bekal ku untuk segera ku makan.


Banu terlihat memakan basonya,tapi ia lalu menghentikan makan nya.


"Laras ?? Jadi namanya Laras,Lo kenal dimana?" Tanya Banu ternyata dia masih penasaran.

__ADS_1


"Lo lupa,dia cewek yang dulu ngasih kue ke Faris." tiba tiba Rama yang menyimpan lemon tea dihadapan Banu, ikut bersuara menjawab kepenasaran Banu.


"Ya bener ris?" Tanya Banu memandangku yang sedang menyuapkan nasi ke mulutku, alhasil aku hanya bisa menjawab nya dengan anggukan.


"Gila ..cuman gue yang gak kenal?" Tanya nya sembari menunjuk diri sendiri.


"Tapi dia sekarang lebih cantik ya?" Ku dengar Rama berkomentar tentang Laras.


"Iya cantik, menurut Lo gimana Ris? Dia penggemar Lo kan?" Tanya Banu kembali melihat ku.


"Cantikan juga Bu Tanika." jawab ku yang memang hanya mengakui Bu Tanika lah yang paling cantik.


"Bucinnn .. salah gue nanya bucin." gerutu Banu, sebelum kembali memakan basonya.


Aku melirik sedikit padanya, sebelum meminum air mineral di dalam botol yang kubawa.


"Tapi gue lebih suka dia yang terlihat lugu,kesan nya dia baik, tapi sekarang kesan nya aneh." kembali ku dengar komentar Rama.


Aku setuju dengan komentar Rama,dia memang lebih terlihat cantik dulu,tapi sudahlah apa peduliku.


Seusai makan,kami berjalan menuju kelas,dan sepanjang jalan Banu terus saja meminta nomor Laras padaku, padahal jelas aku tak punya,dia terus saja ngeyel,dia beralasan Laraa adalah fansku mana mungkin aku tak punya, padahal jelas aku tak punya .. Dasar Banu ini.


Sekitar pukul 15.30, seusai sholat berjamaah ashar,kami anak kelas XII pulang,aku duduk di teras masjid sembari mengenakan kaos kaki ku,kali ini tinggal aku seorang diri,pasalnya semua teman teman ku sudah pulang duluan,termasuk Banu dan Rama,guru guru juga sudah pulang.


Tadi aku menyempatkan ngobrol dengan pak Yusuf,aku menanyakan beberapa pertanyaan tentang pernikahan padanya,aku memang sering menanyakan ini, bahkan Pak Yusuf sampai mengira aku akan menikah setelah lulus,untung saja dia tak curiga aku sudah menikah.


Ku lihat langit sore ini sudah mendung, juga ada kilat dan suara kecil petir.


Tik tik tik .. terdengar suara gemericik air hujan yang jatuh ke atas genting,aku menengadah kan tangan,ku rasa kan air hujan yang mulai berjatuhan sedikit demi sedikit dan perlahan mulai deras,aku terpaksa mengurungkan niat untuk memakai sepatu ku,aku kembali masuk kedalam masjid dan duduk disana menunggu hujan reda.


Love you sayang]


Ku kirim message itu pada Tanika,tak lama.


Ting .. Tanika membalas message ku.


[Tuh kan aku bilang apa?? Disuruh bawa payung juga,kamu bandel,kamu dimana sekarang?] Pesan Tanika membuat ku sedikit terkekeh, pasalnya Tanika memang sering kali bawel ,tapi aku benar benar menyukai sikap khawatirnya ini.


[Iya maaf sayang,aku pikir hujan nya gak akan segede ini,biasakan hujan nya juga kecil,aku dimesjid sayang, kamu tenang aja,aku gak ujan ujanan 😘]


Seusai mengetik akupun mengambil jaket ku diatas dan memakai nya.


Ting ..ku buka ponsel ku terlihat Tanika kembali membalas pesanku.


[Ya udah, sebentar lagi aku kesana, sekolah udah kosong kan?]


[Hujan sayang,nanti kamu kehujanan, tunggu reda aja]


[Aku pake mobil sayang ,bawa payung juga kok, kamu tunggu aja okey]


[Ya udah hati hati ya sayang 😘😘]


Tak ada balasan lagi dari Tanika ,aku memasukan ponsel ku ke dalam tas.


Aku berdiri,menatap keluar jendela mesjid.


"Huu .. hujan nya deras,gimana ini? .." keluh ku sedikit menghela nafas,ada kekhawatiran dihatiku, pasalnya Tanika akan menjemput ku,tapi kalau hujan gini, pandangan pasti akan sedikit kabur,atau mungkin macet dijalan.

__ADS_1


Aku memasukan kedua tanganku kedalam saku celana, kembali menghela nafas dan mencoba tenang.


Jedarr ..


"Astaghfirullah .." aku sedikit kaget saat ada suara petir tiba tiba.


Aku mengamati hujan diluar,sudah nampak agak reda, setelah petir terakhir yang kudengar.


Aku sedikit memicingkan mataku, mengamati seseorang yang nampak berjalan pincang,ditengah lapangan,aku mengamati lebih dalam, aku takut itu hanya halusinasi saja,sudah jelas tadi aku lihat,semua kelas sudah kosong,dan guru guru juga sudah pulang lalu siapa orang itu,tapi ...


Dia seperti siswi disini,dia juga memakai seragam sekolah ku, rambut nya nampak begitu basah.Aku berjalan untuk keluar.


Srekkk ..ku dorong pintu mesjid ke samping agar bisa terbuka,aku keluar dan berdiri diteras mesjid,masih mengamati wanita yang sedang berjalan terpincang-pincang itu.


Brukkk .. mata ku membulat sempurna,saat ku lihat wanita itu terjatuh,aku sontak mengeluarkan kedua tangan ku dari saku celana.


Aku belum menolong nya,karena aku masih belum yakin itu orang,aku berpikir sejenak .. Tapi .. sudahlah,aku berlari ke arah wanita itu,bahkan tak memperdulikan baju ku yang kini basah karena terkena guyuran air hujan.


Ku balikan badan nya yang tengkurap dengan cepat.


"Ya ampun .. Laras??" Aku kaget saat tahu wanita itu adalah laras,ku angkat saja tubuh Laras dan menidurkan nya di karpet masjid yang berada diluar.


Ku pukul pelan pipinya agar dia bangun.


"Ras .. Laras .. bangun ..!?" Tapi sayang usaha ku sia sia.Wajah Laras nampak sangat pucat,bahkan ada beberapa luka lebam dibibir dan pipi nya,aku tak mengerti kenapa dengan gadis ini,aku mengoyangkan tubuh nya agar terbangun ..


"Ras .. Laras .. " tetap saja sia sia,dia tidak bangun, wajah nya sangat pucat,aku takut dia kenapa kenapa atau yang lebih buruk dia akan meninggal.


Ku lihat baju seragam nya ..ya ampun !! kancing baju seragamnya sudah terbuka sebagian,bahkan sampai membuat ku bisa melihat belahan dadanya.Dengan sigap ku coba kancing kan baju seragamnya yang berantakan itu,tangan ku gemeteran karena memang teras dingin sekali,apalagi aku habis kehujanan tadi,ini benar benar menyulitkan ku untuk mengancingkan seragam nya.


Berhasil,aku berhasil mengancingkan satu kancing nya,namun saat aku akan mengancingkan kancing kedua ...


"Faris !!?" Suara seorang wanita mengagetkan ku,hingga membuat ku berbalik menatapnya.


Wanita itu terlihat sangat kaget,bahkan tatapan nya sangat sulit ku pahami,ia seakan menatap tak percaya padaku.


"Kamu tega!" Ucap wanita yang membawa payung itu,dia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ku, aku tak bisa diam saja,aku langsung berlari mengejar nya.


Untung saja aku berhasil menarik pergelangan tangan nya.


"Sayang kamu salah faham." jelasku pada wanita yang tak lain adalah istri ku,aku tahu Tanika pasti salah faham melihat ku tadi,dan penting bagiku untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Lepas!!" Tanika menghempaskan tanganku,ia kembali melangkah kan kakinya.


"Sayang kamu salah faham,dia kecelakaan,dia jatuh tadi,aku gak ngapa-ngapain dia,dia cuma adik kelas aku ,aku gak punya hubungan spesial sama dia , tolong kamu percaya sama aku." jelasku berteriak di antara guyuran hujan yang kurasakan makin deras.


Penjelasan itu berhasil membuat Tanika menghentikan langkahnya,ia lalu berjalan mendekati ku,ia menatap ku tajam,aku dapat melihat matanya yang memerah ,menahan air mata agar tak jatuh,tapi seperti nya dia gagal,aku dapat melihat jelas air mata kini jatuh dipipinya.


"Sayang kamu harus percaya sama aku, dia kecelakaan,aku cuma nolongin dia, kalau kamu masih gak percaya kamu boleh liat keadaan dia." ku hapus air mata itu,aku kembali menjelaskan padanya, bahwa apa yang dia lihat tak seperti apa yang dia pikirkan.


"Kamu gak bohong kan?" Tanya nya menahan isakan tangis.


"Aku gak bohong sayang,aku bersumpah." jawabku sembari menarik tubuhnya untuk ku peluk,aku tak peduli kan basah tubuh ku saat ini,yang ku peduli kan saat ini adalah cara meyakinkan,Tanika tentang apa yang telah terjadi.


Tanika melepaskan pelukan ku,ia menghapus air mata nya.


"Kalau gitu aku mau liat dia" pinta Tanika , melewati ku dan berjalan ke arah mesjid.

__ADS_1


__ADS_2