
Pagi itu,di ruang guru, seorang pria berusia sekitar 40 tahunan,berjalan masuk yang, kedatangan nya langsung disambut hormat oleh Pak Yusuf yang kebetulan sedang berdiri,hendak keluar ruangan.
Pak Yusuf , sedikit menunduk mengucapkan salam.
"Assalamualaikum Pak,tumben bapak kesini ada perlu apa pak?" Tanya Pak Yusuf sopan, kepada pria dihadapannya.
Pria itu tersenyum,
"Saya mau adakan rapat tiga puluh menit lagi,tolong segera kumpulan semua staff pengajar!?" Pinta pria itu,lalu berlalu melewati Pak Yusuf.
"Baik Pak." Jawab Pak Yusuf, dengan sopan, sedikit menunduk kan wajahnya.
°°°
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu." Ucap Pak Luki,pria yang tadi meminta rapat pada Pak Yusuf.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."
Semua staff pengajar,yang berjejer rapi duduk disisi kiri kanan Pa Luki, menjawab serentak salam itu.
"Sebelum nya,saya minta maaf,menganggu aktivitas belajar mengajar kalian semua,tapi saya harus menyampaikan kan berita penting." Pak Luki ,nampak begitu serius mengawali, pengumuman nya.
"Pertama,saya akan menggantikan Pak Ilham untuk sementara waktu sebagai atasan kalian." Jelas Pak Luki, membuat beberapa staff mengeryitkan dahi, bertanya apa alasan Pak Luki mengganti Pak Ilham.
Apalagi Tanika, perasaan nya yang sempat tenang malam kemarin,kini seakan kembali digoncang ketakutan,membuatnya bertanya apa alasan Pak Ilham tak datang ke sekolah dan diganti oleh Pak Luki.
"Alasan saya mengganti Pak Ilham sementara,karena keponakan saya itu,mengalami kecelakaan malam tadi,jadi saya yang akan menganti sementara." Jelas Pak Luki,menjawab semua kepenasaran para Staf ,juga membuat beberapa staf menatap sisi kiri kanan rekannya, mengucapkan "Inalillahi." Merasa berbela sungkawa atas kecelakaan yang menimpa atasannya itu.
"Kecelakaan apa Pak?" Tanika dengan berani menanyakan itu, sungguh kepenasaran nya memang tak bisa ia tahan,juga rasa takut akan prasangka nya.Ya, Tanika hanya curiga,Pak Luki,mengganti kalimat "mencoba bunuh diri" dengan kata "kecelakaan".
"Kecelakaan mobil,dia menabrak sebuah truk dihadapan nya,polisi masih menyelidiki latar belakang kecelakaan itu." Tegas Pak Luki,kompak membuat beberapa staf mengucap istighfar,tak percaya juga terkejut akan kecelakaan yang menimpa Ilham, kecelakaan yang bisa dibilang cukup mengerikan.
Tanika membulat kan mata dengan sempurna,Kaget? Tentu saja,itu yang dirasakan Tanika,Angan nya melayang, mengingat kejadian semalam, membuat nya mencari apa yang menjadi penyebab Ilham menabrak Truk,apa mungkin itu karena penolakan nya. Lidahnya kelu, untuk kembali bertanya,meski masih banyak misteri yang belum terpecahkan, seperti dimana Ilham dirawat atau bagaimana keadaannya sekarang.
"Bagaimana keadaan Pak Ilham sekarang Pak?" Tanya Bu Mira,seakan mewakili Tanika yang ingin bertanya.
"Dia sedang kritis sekarang,dokter bilang dia membutuhkan banyak suplai darah,dia masih dalam perawatan dokter sekarang,saya minta doa kalian untuk kesembuhan Ilham." Jelas Pa Luki,yang diaamiini Staf diruangan itu.
"Mungkin itu saja, pengumuman dari saya, sekarang kembali saja untuk mengajar,masalah Ilham,jika sudah stabil,saya akan mengabarinya." Pak Luki berdiri mengakhiri rapat itu,lalu mengucapkan salam dan dibalas ucapan salam pula oleh semua Staf.
__ADS_1
Semua Staf pengajar pun berdiri dari kursinya masing masing, berhamburan keluar untuk kembali mengajar.
Berbeda dengan Tanika yang masih duduk terdiam dikursinya,merasa semua yang terjadi pada Ilham adalah karena nya,meski memang belum tentu, tapi semua seakan menjurus pada tindakan nya menampar Ilham,tentunya tamparan itu bisa membuat Ilham terluka,tak terkendali dan menabrak truk itu, begitu lah sekiranya pemikiran Tanika
Ia beranjak dari kursi setelah menyadari ruang guru teras menjadi sepi.Tanika bukan merasa takut sendirian disana,ia hanya ingin segera berlari turun menuju halaman belakang sekolah, untuk menenangkan hatinya.
Tidak,tidak hari ini, Tanika tidak akan mengajar,tak mungkin bisa, dengan hatinya yang sedang kalut saat ini.
Rasanya Tanika tak bisa berbuat apa-apa,semua sudah terjadi,ia merasa bersalah,tentu saja.Tapi,Ilham memang sudah keterlaluan baginya,lalu kecelakaan itu? Apa benar semua karena dia? Apa Tanika jahat mematahkan hati seseorang,bahkan orang itu adalah sahabat nya sendiri.
°°°
"Ayo buruan buruan!!?" Pinta Sita, mendorong Anatasya yang ada depannya.
"Ya, bentar bentar kenapa sih? Bukunya banyak nih." Keluh Anastasya,yang memang sedang membawa buku buku ditangannya.
"Iya buruan,gue juga bawa ni,gue takut Pak Yusuf lihat kita nguping,nanti dimarahin lagi." Sita masih berusaha mendorong Anatasya agar lebih cepat menaiki tangga,menuju lantai tiga, sesekali matanya melihat ke lantai dua, berharap Pak Yusuf,belum berjalan untuk naik ke kelasnya.
"Ayo ayo .. " Sita masih berjalan cepat,kini dia berada dihadapan Anastasya,tak sabar ingin segera ke kelas,agar gurunya tak melihat dia masih diluar,lalu curiga akan tindakan nya tadi,yang menguping diruang guru.
Sesampainya dikelas.
"Iya,gue takut ni." Jawab Sita,memberikan sebagian buku pada Banu.
"Takut kenapa? Lo nyolong tempe mendoan di kantin Bu Ayu?" Tanya Banu,seakan pertanyaan nya itu seperti lelucon saja.
"Kampret Lo !! Bukan,tadi gue nguping diruang guru,gue takut ketahuan,jadi gue jalan cepet deh kesini." Jelas Sita, sedikit berbisik.
"Lo nguping?" Tanya Faris,yang kini sudah ada disamping Anastasya, mengambil beberapa buku dimeja itu.
"Ye Lo Nyamber,itu pertanyaan gue kali.." kesal Banu, mengangkat buku ditangannya.
"Iya gue nguping,gue tadi denger katanya Pak Ilham kecelakaan,terus sekarang, diganti dulu sama Pak Luki, kepala sekolah yang lama." Jelas Sita,panjang lebar, menceritakan apa yang ia dengar di Ruang Guru.
Mata Faris sontak, terbelalak tak percaya, Kecelakaan? Bagaimana dan kenapa? Itulah yang Faris pikirkan, kecelakaan seperti apa yang Pak Ilham alami ,apa sebuah kenekatan yang Tanika katakan, begitu lah yang terpikir dibenak Faris.
"Kecelakaan apa?" Tanya Faris, berharap mendapat kejelasan.
"Gue gak tahu sih,kurang jelas gue denger nya,gue keburu kabur, soalnya Pak Gugun noleh ke jendela,gue takut ketahuan ,jadi gue jalan balik aja ke kelas, kebetulan Ana juga udah ambil bukunya,jadinya gue balik deh." Jelas Sita, panjang lebar,merasa informasi yang ia terima kurang komplit,ia juga sedikit mengerucutkan bibirnya,kesal tak jadi mendapat informasi terbaru.
__ADS_1
Anatasya, terlihat menghela nafas.
"Kasihan ya Pak Ilham, semoga dia cepat sembuh."
"Aamiin." Jawab Banu.
"Iya kasihan, apalagi Bu Tanika,gue liat dia sedih banget,kayanya Bu Tanika gak nyangka pujaan hatinya kecelakaan." Jelas Sita,yang memang tak tahu apa apa,dia hanya menyangka saja,saat tadi melihat Tanika.
Mendengar nama Tanika,Faris yang sedari tadi, memikirkan Ilham, terbuyarkan lamunannya ,beralih mengingat Tanika,yang pasti sedang memiliki prasangka yang sama dengan nya.
Faris bergegas menyimpan bukunya,berjalan keluar,tak memperdulikan Banu, Anastasya,juga Sita yang berteriak bertanya kemana dia mau pergi.Faris seakan menutup telinga nya dari pertanyaan pertanyaan itu,yang ada dipikiran Faris,hanya Tanika, bagaimana keadaan nya dan apa dia masih bisa bersikap tenang atau tidak, setelah mendengar kabar kecelakaan Ilham.
°°°
Taman Belakang Sekolah, Tanika tertunduk sedih,dalam hatinya,terus bergumam, semua adalah salah ku, kecelakaan Ilham adalah karena aku yang telah menyakiti nya, begitulah kurang lebih gumam hati Tanika,ia sedikit meremas kedua tangannya, untuk sekedar menenangkan diri.
"Bukan salah kamu." Suara lembut, seorang pria, begitu menghangatkan dihati Tanika.Ia menengah ke arah pria disamping nya,Faris pria itu.
Tanika sesegera mungkin,memeluk suami tercinta nya itu,ia benamkan wajahnya diperut sang suami,yang memang sedang berdiri disamping nya.
"Faris.." lirih Tanika,memeluk Faris,ia tak peduli dimana dia sekarang berada,yang dia tahu,dia butuh ketenangan sekarang dan ketenangan itu,hanya bisa didapat dalam pelukan suaminya.
Faris dengan lembut,memegang pelipis Tanika, lalu mencium lembut kepala Tanika.
Cup,
"Bukan salah kamu sayang." Faris dengan lembut, menenangkan Tanika, setelah sebelumnya mengecup lembut pucuk rambutnya.
Kini Faris pun memeluk erat istrinya itu,memberikan kehangatan bak selimut pemenangan kala dingin malam,Tanika benar benar mendapatkan kehangatan akan pelukan Faris.
"Makasih Ris,kamu selalu ada buat aku." Ucap Tanika,disela pelukan mereka.
Faris mendorong Tanika,dengan lembut,membenarkan posisi mereka,Faris ikut duduk disamping Tanika,ia memegang kedua rahang Tanika,lalu menghapus air mata Tanika, dengan telunjuknya.
"Udah kamu jangan nangis, semuanya udah terjadi dan itu bukan salah kamu." Faris tersenyum,menatap Tanika,penuh keyakinan, berharap Tanika tenang dan tak menyalahkan diri sendiri.
"Tapi Ris .. aku takut .." belum selesai Tanika, mengeluarkan isi hatinya,Faris dengan cepat,membungkam mulut Tanika,dengan jari telunjuknya,yang kini beralih tempat,tepat didepan bibir Tanika,hingga membuat nya rapat,tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sttt .. ini bukan salah kamu sayang,bukan,kamu jangan takut,aku ada disini,kamu ingat kan? Aku udah bilang,aku akan selalu ada buat kamu." Faris menarik lembut kepala Tanika, membenamkan nya didadanya,lalu memeluk lembut istrinya itu, tentu tak ada penolakan dari Tanika,ia dengan senang hati,membalas pelukan suaminya.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Tanika,atas apa yang Faris katakan barusan,ia malah semakin mengeratkan pelukannya,Faris mengelus lembut rambut Tanika yang terhalang jilbab,dengan sesekali mencium pucuk rambutnya, berharap dengan kasih sayang nya ,Tanika bisa tenang.