
POV : Tanika
Hari sudah siang, sekitar pukul 13.00,aku bergegas merapikan buku,juga memasukan laptop ke dalam tas.
Aku menghela nafas lega.Ya,lega karena hanya tinggal dua hari lagi,Faris akan segera keluar rumah sakit, dia boleh pulang kata dokter, sekitar dua minggu,Faris di rumah sakit itu.
Aku selalu bergantian menjaga Faris dengan mama mertua ku,bahkan kemarin ibu dan ayah ikut menjenguk Faris,aku merasa senang, akhirnya Faris bisa pulang.
"Assalamualaikum."
Aku menoleh kebelakang,aku melihat Rama,Banu, Anatasya juga Sita disana.
"Bu kami mau jenguk Faris," jelas Rama,yang berada paling depan.
"Oh .. boleh, kebetulan ibu juga mau kesana." Jawabku, beralasan, mungkin Rama dan Banu sengaja datang padaku, untuk meminta izin.
"Kalau gitu,kita bareng ya Bu!" Pinta Rama.
"Ya Bu,kita bawa motor kok, tapi.." Banu melirik Anatasya dan Sita."dua cewe ini,ikut ibu bolehkan?" Banu menunjuk Anastasya dan Sita.
Aku tersenyum simpul.
"Ya,boleh." Aku berjalan duluan diekori empat muridku itu.
Aku naik mobil dengan Sita dan Anastasya, sementara Rama dan Banu, mereka naik motor.
Mobil terasa sepi,karena tak ada yang bicara, mungkin,kedua muridku ini malu untuk memulai bicara atau mengajak ngobrol, akhirnya kuputuskan untuk bertanya lebih dulu, melihat sebuah parsel juga bawaan yang begitu banyak aku penasaran,dan bertanya pada Anastasya yang disamping ku.
"Sya,itu bawaan nya banyak banget,dari siapa aja?" Aku melirik nya,lalu kembali fokus menyetir.
"Itu dari kita kita,tapi sebagian dari adik kelas."
"Adik kelas?" Ku tautkan alisku, sedikit bingung mendengar nya.
"Ya Bu,itu dari fans the Hitz, awalnya mereka juga ingin ikut,tapi Rama bilang gak boleh terlalu banyak yang datang,jadi mereka nitip deh."
"Oh gitu ya." Singkat ku,merasa puas dengan jawaban Anatasya yang begitu rinci.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan didalam mobil,aku kembali fokus dengan jalanan dihadapan ku.
Singkat nya,kami sampai dirumah sakit, segera ku parkirkan mobil,diikuti Rama dan Banu yang juga memarkir kan motor mereka.Akupun mengajak keempat murid ku, untuk ke ruangan perawatan Faris,aneh memang,tak ada yang curiga padaku,kenapa aku bisa tahu ruangan Faris,mereka adem adem saja mengekor dibelakang ku.
Ceklek ,,
Aku membuka pintu,lalu mengucapkan salam, diikuti keempat muridku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Faris yang sedang duduk membaca buku,ia menaruh bukunya, membalas salam dari kami.
Faris terlihat tersenyum bahagia melihat teman temannya yang datang.Rama dan Banu langsung berhambur memeluk sahabatnya itu,mereka seperti nya begitu ingin melepas rindu.
"Woy,Lo gak liat kita apa,kita dikacangin ni." Terlihat Sita yang mendekati ketiga pria muda itu,merasa kesal, mungkin karena tingkah ketiganya.
Aku menaruh parsel yang memang kubawa tadi diatas nakas.
"Lo ya , ganggu suasana." Banu orang pertama yang melepaskan pelukan.
Aku hanya tersenyum melihat kelakuan murid murid ku itu,aku memutuskan untuk keluar saja,tak ingin menganggangu waktu pertemuan mereka berlima.
"Ya udah,ibu keluar ya!" Pamit ku tersenyum kepada mereka.
"Loh Bu,kok keluar?" Tanya Banu.
"Masa ibu,ikut obrolan ABG," aku sedikit membuat candaan, membuat Banu cengengesan.
"Hehe iya ya .. ya udah ibu boleh keluar,nanti kita kabarin kalau mau pulang." Jawab Banu.
"Ya udah,ibu keluar ya !" Pamitku lagi, lalu melenggang keluar ruangan itu.
Setelah diluar,aku mendengar tawa dari murid-murid ku itu, seperti nya itu adalah ulah Banu,muridku satu itu memang selalu bisa membuat tertawa teman temannya.
__ADS_1
Aku tersenyum lega,Faris beruntung punya sahabat sahabat yang baik disisinya.
Drtttt drtttt..
Suara getaran ponsel disaku bajuku, menghentikan langkahku, untuk pergi ke arah kantin rumah sakit.
"Hallo, Assalamualaikum." Sapaku, setelah mengangkat telpon masuk itu.
"Ini baru awal Tanika Kusuma Pratama,Lo bakal tahu karma berikut nya,jam tiga sore,Lo harus datang ke rumah ibu mertua Lo,kalau gak ,Lo bakal liat dia jadi jasad tak bernyawa."
Tutttt ...
Astaghfirullah .. apa maksud telpon ini,ku lihat ponselku, memastikan telpon itu masih terhubung,tapi sayang,telpon memang sudah terputus.Ingin ku hubungi lagi,tapi tak ada nomor nya.Ya,itu nomor yang tak dikenal,dia memprivat nomor nya.
Siapa orang ini?? Ku kerutkan dahi, tentu saja telpon itu membuat ku semakin cemas,apa maksud nya karma? Mama? .. aku masih mencerna setiap kalimat yang dia ucapkan tadi,suara tadi,itu jelas suara wanita,tapi siapa wanita itu?
Ku lihat jam dipergelangan tangan ku,jam 14.15, sekitar empat puluh lima menit lagi,aku harus bergegas pergi ke rumah mama,dia bilang apa tadi? Jasad tak bernyawa? Itu artinya mama? Tidak!! Tidak mungkin,aku harus segera kesana.
Aku berlari keluar, segera masuk mobil dan melajukan nya,menuju rumah mama.
Drtttt drtttt .. kembali ponsel ku berdering,ku hentikan mobil dan mengangkat telpon itu.
"Hallo, Assalamualaikum."
"Hallo, waalaikumsalam mba,ini benar dengan mba Tanika?" Terdengar suara pria yang begitu tegas diseberang sana.
"Ya betul Pak."
"Mohon maaf mba ,menganggu waktunya,kami dari pihak kepolisian,ingin memberi tahu perihal kronologi kecelakaan suami mba,apa mba bisa datang ke kantor polisi sekarang?" Tanya pria yang ternyata adalah seorang polisi.
Aku tak langsung menjawab,ku lihat jam tangan ku terlebih dahulu,pukul 14.20,masih ada waktu.
"Baik pak,saya segera kesana."
"Baik mba, terima kasih waktunya."
Tutttttt .. telpon pun berakhir,aku kembali menaruh ponsel di saku baju PNS ku, kembali juga ku lajukan mobil, berbalik arah untuk menuju kantor kepolisian.
Sampai kantor kepolisian,aku hanya membutuhkan waktu lima menit,karena aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 14.35.Segera dengan cepat,aku berlari masuk ke dalam kantor polisi itu.
"Waalaikumsalam,maaf ada perlu apa ya mba?" Tanya polisi dihadapan ku.
"Saya Tanika,saya tadi ditelpon,katanya polisi sudah tahu kronologi kecelakaan suami saya."
"Oh,mba Tanika ya .. mba istri dari Faris yang kecelakaan dua Minggu lalu?" Tanya nya, seperti memastikan.
"Ya pak,saya istrinya."
"Mohon maaf mba,kasus nya sangat lama kami selidiki, pasalnya mobil itu tidak memiliki plat mobil,juga CCTV yang kami periksa juga tak menyala,jadi begini mba,soal kecelakaan itu,kami berhasil menangkap pelaku,pelaku mengaku itu murni kecelakaan,dia bilang dia salah injak pedal,harusnya dia injak rem tapi dia malah injak pedal gas,dia juga sempat kami tahan,tapi seseorang memberikan jaminan,jadi dia sudah keluar tadi pagi, sebagai ganti pelaku juga memberikan ganti rugi, berupa uang, untuk perawatan suami mba, ini .." polisi pria itu, memberikan amplop yang seperti nya isinya adalah uang.
Aku tak langsung terima, Jujur,aku tak terima dia bisa bebas begitu saja, dengan jaminan.Padahal Faris dua Minggu terakhir ini,harus menderita di ranjang rumah sakit.
"Maaf pak,tapi ini terkesan gak adil, bagaimana mungkin dia bisa bebas begitu saja,apa semuanya bisa diselesaikan dengan uang ini?" Tanyaku kesal.
"Mohon maaf mba,tapi kami juga memberikan keringanan, sebab,pelaku juga seorang wanita muda yang tengah hamil,dia memberi jaminan sesuai hukum dan ini.. dia juga bertanggung jawab atas kesalahannya,bukankah yang terpenting suami mba selamat kan?" Jelas polisi panjang lebar, membuat ku terdiam seribu bahasa, mendengar bahwa pelaku adalah seorang wanita dan sedang mengandung, membuat ku mengingat diri sendiri, rasanya tak mungkin aku membiarkan Wanita itu dipenjara dalam kondisi mengandung,aku membayangkan jika itu adalah diri ku sendiri,aku pasti tak akan sanggup, mengingat aku juga sedang mengandung saat ini.
"Mba .." suara polisi itu,membangunkan ku dari lamunan.
"Saya turut sedih mba atas kecelakaan suami mba,saya doakan dia cepat pulih,mba terima uang ini ya .. sebagai ganti rugi." Jelas polisi itu.
Aku melihat uang diamplop coklat itu, perlahan aku mengambil uang itu.
"Baik pak,saya terima, sampai kan terima kasih saya pada pelaku itu." Ucapku,lalu berdiri.
Polisi hanya tersenyum padaku.
"Kalau begitu saya permisi pak, Assalamualaikum." Pamitku, terdengar polisi itu, membalas salam ku.
Aku lalu pergi keluar,duduk dimobil ku dengan sedikit lamunan.
Apa adil yang kulakukan ini, dengan uang ini,apa masalah memang bisa diselesaikan semudah itu,adilkah untuk Faris? Apa aku menjual keadilan demi uang? Ah .. tidak,aku hanya menyelamatkan seorang bayi dalam kandungan,agar dia tak harus merasakan dingin teras penjara.
__ADS_1
Aku menghela nafas,tiba tiba aku ingat sesuatu,ku lihat jam dipergelangan tangan.
Pukul 14.40 , Astaghfirullah ..aku harus segera ke rumah mama,aku takut ancaman wanita misterius itu benar.
Kulajukan dengan cepat mobil itu menuju rumah mama,aku tak menghiraukan jalanan,aku menyalip beberapa mobil, seperti pengendara ugal ugalan, jujur aku tak peduli tentang hal itu,yang kupikirkan saat ini adalah mama.
Sampai rumah mama,aku turun, melihat sekilas jam tangan ku.Pukul 14.50, rasanya aku belum terlambat.Tapi,suasana rumah begitu sepi,dimana mama? Apa mungkin didalam? Ku langkahkan kaki ku menuju halaman rumah,lalu menuju pintu rumah.
Tok tok ..
Ku ketuk pintu itu, lalu mengucapkan salam.
"Assalamualaikum,ma .."
Tak ada jawaban,
Tok tok ..masih ku ketuk pintu itu.
"Assalamualaikum ma .." karena,tak kunjung ada jawaban ku pengang gagang pintu itu,mencoba membuka pintu,Loh .. tidak dikunci ku buka perlahan pintu itu.
Prok .. prok ..prok .. terlihat seorang wanita berpakaian tak seronok, bertepuk tangan berdiri dari duduknya.
"Lo tepat waktu .." dia tampak melihat jam tangan,yang melingkar dipergelangan tangannya. "Bahkan kurang tujuh menit,bagus!!"
"Kamu siapa? Dimana mama?" Tanyaku penasaran,tentu saja aku juga heran bagaimana dia bisa masuk rumah mama begitu saja.
"Kenalin Siska Triutama,gue udah bawa ibu mertua Lo itu ke tempat yang paling aman." Jelas wanita itu, dengan senyum menyeringai.
"Maksud kamu? Jangan jangan kamu yang telpon aku tadi?! Dimana mama?" Tanyaku , sedikit berteriak padanya.
"Lo emang pantes jadi guru, karena otak Lo emang bener bener encer,tapi gue harap otak Lo juga bisa milih."
"Maksud kamu?"
"Lo liat aja sendiri..!" Siska menunjukkan sebuah tablet dihadapan ku.
Ia memutar sebuah video,aku dapat melihat jelas didalam video itu, mama sedang dibekam mulut nya,ia terlihat meronta-ronta,mataku terbelalak tak percaya melihat itu,bukan itu saja, seseorang berpakaian serba hitam ,tiba tiba menunjukan sebuah pisau yang pasti tajam menurut ku.
Dia menggerakkan pisau itu ke arah leher mama ,tapi dia tak menggores kan pisau itu dileher mama,orang itu hanya memainkan pisau nya disana.Pisau itu turun dilengan mama.
Srettt .. mata ku membulat sempurna,mulutku juga ku tutup dengan sebelah tangan tak percaya,pria itu mengiris kulit lengan mama,mama terlihat ingin menjerit tapi terhalang kain yang menyumbat mulutnya,ia menitihkan air mata yang dapat kulihat dengan jelas.
Braakkk .. ku tepis tablet itu dengan cepat, membuat tablet itu terjatuh ke lantai dan mati seketika.
Amarah kini mulai memuncak dihatiku,berani sekali Wanita ini.
"Apa yang kamu lakuin sama mama hah?" Tanyaku dengan berapi api,ingin sekali ku tampar Wanita ini, wanita yang begitu berani menyiksa mama.
"Lo .." dia menatap tajam mataku.
Plakkkk .. sungguh diluar dugaan,wanita itu menampar ku begitu keras, menyisakan perih teramat sangat dipipiku, ku pengang pipiku, menatapnya tak kalah tajam.
"Berani berani nya Lo lempar tablet gue,Lo harus bayar semua ini,Lo harus tahu satu hal,gue datang kesini buat wujudin karma dari Ilham buat Lo,tamparan itu gak seberapa,Lo bakal liat orang yang Lo sayangi hancur,biar Lo tahu rasanya kehilangan,Lo hanya punya dua pilihan,Lo harus milih ceraikan Faris atau ibu Lo mati dengan pisau itu." Jelas wanita itu,membuat mataku semakin memanas,sakit juga amarah yang semakin memuncak.
Ku angkat tangan ku..
Plakkk ...aku balas menampar Wanita bernama Siska itu, terlihat dia memegang pipinya.
"Aku gak bakal cerai dengan Faris." Tegasku dengan penekanan disetiap kata.
Wanita itu tersenyum sinis, dengan cepat dia mencengkram daguku.
"Heh .. Lo cuma punya dua pilihan,jadi Lo harus bisa tentuin pilihan,Faris atau ibu mertua Lo? Kalau Lo pilih ibu mertua Lo,Lo harus kasih bukti perceraian Lo sama Faris dalam dua hari,karena dua hari lagi gue bakal datang kesini,buat liat pilihan Lo,kalau Lo pilih Faris,udah jelas nyawa ibu mertua Lo akan lenyap dan gue dengan senang hati bakal antar mayatnya ke rumah Lo."
Ku titihkan air mata mendengar permintaan wanita itu,dia dengan cepat melepaskan cengkraman nya, menghempaskan wajahku begitu saja.
Tak .. tak tak .. ku dengar langkah kakinya ,ia nampak nya keluar rumah.
Aku masih tertegun mengingat permintaan wanita itu,aku menatap kosong lantai berwarna putih itu,lemas tiba tiba menelusuri semua sendi dikaki ku ..
Brukkk .. aku terkulai jatuh terduduk ..
__ADS_1
Apa maksud nya ini ? Pilihan macam apa itu? .. mama? Faris? Apa yang harus aku lakukan .. perlahan tapi pasti bulir bening berjatuhan ke atas lantai,aku tertunduk merasakan sakit yang teramat dalam,pilihan yang amat sulit, siapakah wanita itu? Kenapa dia meminta ku cerai dengan Faris .. tidak mungkin .. bagaimana aku bisa bercerai dengan Faris ..ku pengang perutku yang masih rata itu .. Faris .. bagaimana aku mengatakan ini padamu .. janin ini .. harus kah kehilangan mu .. ??
Clak clak .. rasanya air mata tak sanggup lagi ku tahan .. apa yang harus aku lakukan ...??