Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Mengingat mu)


__ADS_3

POV : Tanika


"Ris .." ucapku pada Faris yang kini sedang berbaring disamping ku.Kami berdua sama-sama,sedang memandang langit langit kamar,malam ini.


"Iya .. apa Bu?" Tanya Faris, kemudian memandang ku.


"Tadi itu ..." Aku menghentikan kalimat ku,karena bingung juga harus bagaimana mengatakan nya.


Faris terlihat diam memandang ku.


Aku memiringkan badanku agar memandang nya.


"Ris .." Aku entah kenapa, tiba tiba memeluk nya,aku mendekat kan tubuh ku dengan tubuhnya,Aku benar benar merasa kan hangat nya tubuh Faris,entah mengapa aku merasa begitu nyaman dalam posisi ini.Aku merasa bahagia bisa dekat dengan Faris seperti ini.Aku bahkan lupa status ku sebagai guru Faris,aku sekarang menganggap nya sebagai seorang suami ku,Ya .. pria dewasa yang ku harap bisa menjagaku.


Ciuman Faris dikeningku tadi membuat ku merasakan kasih sayang dari Faris,aku merasa Faris menyatakan kasih sayang nya dengan ciuman itu.


Aku memeluk nya dengan erat menaruh kepala ku disamping bahunya.


Faris mengangkat tangannya,dia balas memeluk ku dengan lebih erat.


"Aku kangen kamu ris .." ucapku tiba tiba, perasaan ku saat ini tak ingin kehilangan sosok laki laki dihadapan ku,yang saat ini sedang memelukku dengan erat.


Dia mencium pucuk rambutku, mengelusnya dengan lembut.


"Aku juga kangen sama ibu"ucapnya kemudian, kembali mencium pucuk rambutku.


Aku tersenyum,


Malam itupun,kami lewati dengan tidur saling berpelukan.


Subuh hari.


Aku membuka mataku perlahan,aku dapati Faris sudah tak ada di ranjang ku,Akupun bangkit,membuka selimut yang menyelimuti tubuh ku.


Aku mencari Faris dikamar mandi dikamarku,tapi tak ada.


Aku bergegas turun dari tangga.


Aku melihat Faris keluar dari kamar nya, sedang merapikan kopiah dikepalanya.


Aku menghela nafas, karena dia ternyata masih ada dirumah ini,ku pikir dia kabur setelah berani mencium ku kemarin.


Dia melihat ku turun dari tangga.


"Eh ..ibu, maaf ya Bu saya gak bangunin ibu, soalnya ibu tidurnya pules banget.Ya udah Bu ..saya berangkat ke mesjid dulu ya Bu" Faris menatapku dengan senyum manisnya.Yang entahlah .. senyum itu membuat ku seperti mencair aku pun membalas senyuman nya.


"Assalamualaikum" Faris masih senyum padaku,lalu membuka pintu dan keluar rumah.


"Waalaikumsalam" jawabku,menatap kepergian nya.


Ya ampun Faris, kenapa aku seakan terpesona sama kamu.Senyum kamu itu, seperti tegangan listrik yang menyambar ke hatiku.


Hatiku seakan bergetar, saat kamu senyum seperti itu.


Aku tersenyum,menepuk dahiku ,lalu kembali ke kamar untuk membersihkan diri dikamar mandi, Setelah nya aku sholat subuh.Lalu seperti biasa,aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Kali ini aku membuat bubur ayam spesial untuk Faris,aku kira dia butuh ini,karena dia kemarin sakit, pencernaan nya pasti butuh yang mudah dicerna.


Ku taruh bubur itu tepat depan kursi Faris.Tepat saat itu,Faris masuk rumah dengan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawabku tersenyum padanya.


Dia balas tersenyum padaku,lalu masuk ke kamar nya.


Saat keluar kamar,Faris sudah mengganti pakaian dengan seragam lengkap dan juga tas di bahu kanannya.


Dia lalu duduk dikursi meja makan,aku pun duduk disampingnya kali ini,entahlah aku tak mau duduk dihadapannya,aku tak ingin jauh darinya.


"Ayo makan !" Pintaku tersenyum padanya.


"Mmm .. ibu kenapa duduk disini?" Tanya nya tersenyum genit padaku.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyaku dengan menahan malu.


"Nggak ..tapi saya suka ibu kaya gini" Faris merangkul bahuku,dia mendekat kan tubuhnya agar menempel ditubuhnya.


"Faris ..!!" Aku meronta melepaskan pelukan itu.


Faris memonyong kan mulutnya.


"Huu ibu, kenapa malu malu gitu coba" Aku merasa kan malu yang sanggup membuat pipi merah merona seperti nya.Aku menundukkan wajah ku pura pura mengaduk ngaduk bubur dimangkuk ku.


"Sudahlah kamu makan aja" Akupun menyuapkan bubur ke mulutku, mencoba menghilangkan rasa malu karena tingkah ku.


Faris tersenyum memandang ku,iapun ikut makan seperti ku.


Selesai makan, seperti biasa aku mengantar Faris sampai minimarket.


Saat akan turun, seperti biasa Faris menyodorkan kan tangan, layaknya murid yang meminta Salim kepada gurunya.


Dan seperti biasa juga aku mencium tangannya,tapi kali ini diluar dugaan,Faris menarik tangan ku,saat aku akan menarik tangan kembali.


Dia dengan berani menyentuh wajahku di memegang tekuk leherku. Dia lalu mencium sekilas bibir ku. Aku hanya mampu terbelalak dan mataku menatap nya tak percaya,aku kembali merasakan genjolak perasaan dihatinya, jantung ku berdegup kencang.


Bahkan aku tak sadar,Faris sudah melepas kan pegangannya dileher juga tanganku.


"Ya udah saya berangkat, Assalamualaikum istriku" Aku tersadar saat Faris mengatakan istriku.


Ku lihat Faris keluar dari mobil,dengan senyum yang masih setia dibibir nya.


Aku memengang bibir ku.


"Apa yang dia lakukan tadi?" Aku menutup mataku ,menghela nafas.


Tenang Tanika .. tenang !! Aku mencoba menenangkan diri sendiri agar jantung ku tak meronta tak karuan.


Setelah cukup tenang aku malajukan mobil ku,menuju sekolah.


Seusai memarkir kan mobil, diparkiran sekolah,aku keluar dengan buku dan berkas di tanganku.


Kecuali anak laki laki, mereka memang tahu aku tak pernah mau berjabat tangan dengan anak laki laki, yang notabene memang bukan mahram ku.


Aku berjalan menuju tangga,tepat nya ditanam sekolah,aku bertemu Rara dan Putri,anak kelas X , mereka juga muridku.


"Assalamualaikum" sapa mereka berdua,mereka juga mencium tanganku.


"Waalaikumsalam" aku tersenyum pada mereka.


"Oh iya,hari ini pelajaran pertama ibukan?" Tanyaku pada mereka.


"Iya Bu" jawab Putri tersenyum sopan padaku.


"Ya udah ikut ibu ke kantor sekarang!!" Pinta ku dengan nada tegas dan datarku.


"Baik Bu" Putri dan Rarapun ikut naik tangga dengan ku menuju ruang guru yang memang berada dilantai kedua.


Suatu kebetulan,aku melihat Faris dan teman teman nya sedang duduk berbincang didepan kelas, mereka sedang duduk santai mengobrol didepan kelas mereka.


Aku berusaha tenang,agar saat aku melihat Faris,jantung ku bisa normal.


Aku masih berjalan tegas seperti biasanya.


Ku lihat Banu menepuk bahu teman temannya.Agar mereka bisa berdiri lalu memberi hormat padaku yang tengah berjalan menuju mereka.


Benar saja,mereka pun berdiri setelah Banu memberikan sebuah isyarat.


Aku melihat Faris dan Rama menoleh padaku.


Mereka tersenyum dan berdiri lalu mengucap salam bersamaan.


"Assalamualaikum Bu"


"Waalaikumsalam" aku tersenyum pada mereka,namum senyumku terhenti saat melihat senyum Faris yang ..ya ampun .. harus ya dia senyum? dengan bibir itu tadi dia .. dia mencium ku.


Aku berjalan melewati mereka lalu setelah agak jauh,aku menyentuh bibir ku, mengingat kejadian saat aku ciuman dengan Faris.

__ADS_1


Ah aku jadi tidak fokus,aku masih mengingat kejadian itu.


Aku pun duduk di meja kerjaku,aku mengambil buku biologi SMA kelas X dilaci.


Aku membuka nya.


"Minggu kemarin terakhir nulis sampai mana?" Tanya ku sembari membuka halaman demi halaman buku itu.


"Sampai Klasifikasi Animalia bu" jelas Rara padaku.


Aku membuka bab itu dibuku yang sedang ku pegang.


"Oh okey kalau gitu, sampai mana? udah beres semua?" Tanyaku lagi,membuka lembaran lembaran dibuku itu.


"Udah Bu,ibu kan bilang Minggu ini bakal latihan soal"


Aku melirik Rara yang mengatakan itu, tiba tiba Putri temannya menyenggol lengan Rara,dia seakan tak setuju mengingat kan ku,yang memang lupa kalau hari ini,aku akan memberi latihan soal.


"Oh iya .." aku membuka soal dibuku ku.


"Ya udah, kalian bawa buku dari perpus,terus tulis soal yang ini,yang esay sampai nomor sepuluh aja,udah itu aja,jawabnya yang rinci ya" aku menunjukan halaman soal itu,lalu memberikan nya pada mereka.


Tiba tiba suara yang tak asing mengalihkan pendengaran ku.


"Bu yang belum latihan soalnya bisa nyusul siang ini gak Bu?" Suara yang memang aku kenal,itu suara Faris.


Mataku langsung melirik suara yang berada didepan ku.Rara dan Putri yang sudah pergi dari ruang guru membuat ku dapat dengan leluasa melihat Faris yang berdiri disamping meja kerja Bu Mira.


Aku melihat dia bahkan seperti tak berkedip,entah kenapa dengan setelan seragam itu Faris,dia terlihat tampan ,aku baru sadar dia memiliki kulit wajah yang begitu mulus,senyum nya kini mengembang di bibirnya, membuat ku semakin terpesona,aku tersenyum,lalu menepuk dahiku, merasa konyol dengan tindakanku.Aku tak mendengar kan apa yang dikatakan Faris,yang ku tahu hanya .. aku sedang mengagumi nya saat itu.


Aku menyadarkan pikiran ku,aku menatap buku di mejaku,lalu menulis kan nilai murid muridku dibuku itu.Tapi,sekali lagi aku tidak fokus,aku malah terus senyum senyum senyum, mengingat senyum manis Faris yang sudah memikat ku.


"Bu Tanika" seseorang yang memanggil ku, menyadarkan ku dari lamunan itu,aku menoleh ke arah orang itu.


"Pak Ilham?" Aku kaget saat melihat ternyata yang memanggil ku adalah Pak Ilham.Aku langsung berdiri.


"Maaf,ada apa ya pak?" Tanyaku sopan padanya.


"Buahnya kamu suka kan?" Tanya Pak Ilham yang membuat ku langsung ingat dengan parsel buah tempo hari.


"Oh itu dari bapak?" Tanyaku lalu teringat Faris yang mengerjai ku saat aku makan buah apel bersama nya.Aku pun tersenyum sendiri.


Ternyata Pak Ilham melihat itu.


Dia menatapku.


"Iya,Seperti nya kamu suka, syukur kalau gitu" Pak Ilham tersenyum kecil lalu pergi dari hadapan ku.


"Eh ..Pak" aku sadar dari lamunanku, lalu memanggil nya,dia menghentikan langkahnya,tanpa menoleh.


"Terima kasih" ucapku agak berteriak takutnya dia tak dengar.


"Hemmm" jawabnya tanpa menoleh padaku.


Ya begitulah,Pak Ilham sosok kepala sekolah yang dingin,awalnya aku pikir, dia tak kan bisa berbuat baik tapi ternyata aku salah.


Aku menghela nafas,


Lalu kembali duduk.


"Bu .." suara itu? Faris ? Aku menoleh melihat diri Faris yang sedang berdiri di hadapan ku.


"Ya apa?" Tanyaku berusaha bersikap biasa.


"Jadi Pak Ilham yang ngasih parsel itu?" Tanyanya tiba tiba.Ternyata Faris mendengar semuanya,aku pikir Faris sudah pergi tadi tapi ternyata tidak.


"He'em" jawabku lalu melanjutkan tugas ku menulis nilai dibuku ku


"Oh .. kalau gitu saya pamit Bu.Assalmualaikum" Pamit Faris,suara Faris terdengar lesu dan lemah aku melihat dia berjalan ke luar ruangan.


Entah kenapa aku merasa bersalah mengatakan hal tadi.Kenapa ya dengan dia?


Aku menghela nafas lalu kembali melanjutkan tugasku.

__ADS_1


__ADS_2