
Faris dengan wajah kecewa,kecewa,Karena jawaban Tanika selalu seperti itu.
Faris berjalan lunglai setelah selesai mencuci piring.Ia memutuskan duduk di meja belajar nya, membuka buku sainsnya dan tentu nya langsung mempelajari setiap halaman dibuku itu.Faris terus fokus membaca, sesekali menandai hal penting dibuku itu.
Ceklek .. pintu kamar Faris terbuka, nampak Bu Tanika membawa sebuah kertas juga buku buku ditangan nya.
Bu Tanika mengambil kursi dekat jendela,lalu duduk disamping Faris,yang masih fokus menandai hal penting dibuku itu.Bahkan Faris tak menghiraukan kedatangan Tanika.
Tanika menyodorkan kertas yang dia bawa.
"Ini kertas soal perlombaan tahun lalu yang dikasih Pak Kepala sekolah ke saya,kamu bisa pelajari ini,ibu juga udah jawab setiap pertanyaan nya,jadi kamu tinggal pelajari aja" Jelas Tanika, menyodorkan kertas itu.
Faris sejenak menatap Tanika,lalu mengambil kertas itu.
Faris melihat lihat kertas soal itu.
"Ya udah,ini yang bakal kita pelajari hari ini,biasanya soal ini ,yang suka keluar di olimpiade" Tanika membuka buku yang dibawanya, lalu menunjuk salah satu bab disana.
Faris menyimpan kertas ditangannya di depan buku yang baru dia baca.
Ia tiba-tiba menghadap kan wajah nya pada Tanika.
"Bu .." Faris menatap Tanika dengan lekat tepat dibola mata Tanika.
Tanika sedikit gelagapan,ditatap seperti itu oleh Faris,ia menaruh buku nya.
Balik menatap Faris,memberanikan diri agar tak terlihat gugup dihadapan muridnya itu.
"Apa? Kamu mau bicara sesuatu?" Tanya Tanika, mencoba tak gugup.
Faris menggenggam kedua tangan Tanika dengan erat, secara tiba-tiba.Tentu nya hal itu, membuat jantung Tanika berdebar dua kali lebih cepat.
"Ibu lihat mata saya Bu,ibu bisa lihat kan,gak ada sedikit pun candaan,dengan apa yang akan saya bicarakan saat ini" Jelas Faris tatapan nya semakin serius.
"Emang kamu mau ngomong apa sih?" Tanya Tanika agak terbata bata.
"Saya ..saya bakal jadi suami yang baik buat ibu, meskipun ibu larang saya memberikan nafkah lahir batin,tapi saya akan tetap melakukannya, sebagai kewajiban saya Bu" Faris dengan tegas menjelaskan niatan nya untuk menjadi suami yang baik.
Deg deg deg .. Jantung Tanika seakan ingin copot, sekarang detak nya semakin tak beraturan,bahkan kini Tanika mencoba memalingkan wajahnya agar tak melihat mata yang kini menatapnya serius.
"Bu Tolong Bu.. tatap saya" Diluar dugaan Tanika,Faris begitu berani menyentuh dagunya,memutar wajah Tanika yang nampak menghindari tatapan Faris,agar menatap Faris.
Mata keduanya pun saling bertemu kembali,Kini keduanya pun mencoba menahan detak jantung yang semakin tak beraturan, mereka memang mencoba tak menunjukkan nya,tapi hati mereka tentu lah tak bisa bohong.
Tangan Faris,masih setia memegang dagu Tanika yang wajahnya sedikit memerah, tapi Tanika menahan rasa malunya itu.
"Apa maksud anak ini,nafkah lahir??" batin Tanika, "apa jangan jangan .. nggak , nggak mungkin ..dia kan udah bilang nggak akan ngambil keuntungan" masih berbicara dalam hati,Tanika memejamkan mata lalu menggeleng kepalanya sedikit,Tanika malah memikirkan yang tidak-tidak,saat Faris bilang nafkah lahir batin.
Faris sedikit heran dengan tingkah Tanika.
__ADS_1
"Bu .. ibu kok geleng geleng? Saya belum ngomong loh Bu" Faris menurunkan tangan dari dagu Tanika.
Ia kini malah menyatukan telapak tangan nya🙏 , seperti Ingin memohon sesuatu.
Tanika yang merasa tangan Faris tak menyentuh nya lagi,Ia membuka kedua matanya.
"Saya mohon Bu, izinkan saya kerja,agar saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai suami Ibu" Faris memohon,masih dengan menyatukan kedua tangannya 🙏.
Tanika yang melihat itu, sedikit merasa iba.Toh,yang ingin dilakukan Faris adalah melakukan kewajiban nya sebagai seorang suami.
Tapi,hal itu tak berhasil membujuk Tanika untuk mengizinkan nya bekerja.
Tanika lalu berdiri.
"Maaf ris,saya gak izinin,kalau kamu kerja yang ada kamu gak akan fokus belajar,saya minta tolong,kamu fokus belajar aja !! Ini gak akan lama kok" Tegas Tanika, lalu melewati Faris yang nampak kecewa dihadapan nya,Tanika keluar dari kamar,tanpa peduli Faris yang memang sedari tadi terus membujuknya mengizinkan Faris bekerja.
Faris tertunduk sesaat,tapi dia langsung bangkit dari duduk nya, mengejar Tanika keluar kamar.
Ia melihat Tanika yang naik tangga menuju kamar nya.
"Okey Bu, kalau ibu gak izinin saya kerja,saya akan tetap kerja,saya janji Bu saya gak akan bikin kecewa,saya akan tetep belajar dan jadi suami yang baik" Tegas Faris berteriak, menatap punggung Tanika yang terhenti saat mendengar penjelasan Faris.
Faris masih menatap serius Tanika,yang setelah mendengar penjelasan Faris itu,dia segera naik menuju kamarnya,tanpa berpikir untuk menoleh pada Faris.
Pagi, saat sarapan.
Di meja makan,
Faris yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya,mendongkang wajah nya menatap Tanika dihadapan nya.
"Kalau gitu,apa saya bisa ikut ibu aja? Saya juga pengen liat kondisi kakek sekarang" Faris menaruh sendok,menghentikan aktivitas makannya.
Tanika yang sedang merapikan barang ditasnya,melirik Faris.
"Kamu yakin? Gak mau sekolah?" Tanya Tanika, kembali merapikan barang ditasnya.
"Iya Bu,saya yakin" Faris lalu berdiri "ibu bisa tunggu sebentar kan? saya mau ganti baju dulu" Faris yang memang mengenakan seragam,ia lalu berjalan menuju kamar nya, untuk mengganti pakaian.
Tanika menutup mata sesaat,ia menghela nafas nya.
"Okey deh kalau gitu" Gumam Tanika,lalu memakai tas dibahu kanannya.
Faris yang sudah berganti pakaian dengan baju santai,ia melihat Tanika sedang minum jus dimeja makan.
"Ayo Bu,aku udah selesai" Faris sedikit berteriak, karena posisi nya yang ada diruang tamu.
Tanika menghampiri nya.
"Ya udah yu .." Tanika lalu berjalan didepan Faris,Faris mengekor dibelakang Tanika menuju mobil.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit dan di ruang perawatan kakek Faris,Faris sangat senang bisa melihat kakek nya lagi,yang sudah beberapa hari tidak ia temui.
Faris cukup lama diruangan itu,dia memengang tangan kakek nya,dia juga bercerita kepada kakeknya,tentang banyak hal.
Kakeknya yang notabene stroke dan tak bisa bicara,dia hanya menatap dengan mata berbinar melihat cucu nya itu, kakek Faris nampak senang dengan kedatangan cucunya.Tak lupa,sang Kakek juga menjadi pendengar yang baik saat cucunya bercerita.
Sementara Tanika,dia lebih memilih menunggu diluar, karena tak ingin mengganggu waktu berkualitas cucu dan kakek itu.
Tanika lebih memilih memainkan ponselnya,duduk di luar ruangan sembari menunggu Faris.
Ceklek .. Faris nampak keluar dari ruangan, setelah sekitar satu jam Tanika menunggu.
"Loh ibu belum pulang?" Tanya Faris,heran melihat gurunya masih ada dirumah sakit.
Faris ikut duduk disamping Tanika.
Tanika memasukkan ponsel ke tasnya.
"Emang kamu bisa pulang tanpa ada saya?" Tanya Tanika, melihat Faris, yang kemudian menjawab pertanyaan Tanika dengan cengengesannya.
"Gimana kakek kamu? Kamu seneng kan sekarang kakek kamu bisa di rawat?" Tanya Tanika kemudian.
Faris tersenyum manis.
"Ya Bu,seneng banget, dia juga kayanya lebih terawat disini.Makasih ya Bu".
Tanika membalas senyuman itu.
"Ya sama sama,oh iya kalau pun kita cerai nanti,kakek kamu tetep saya rawat sampai sembuh kok,jadi kamu jangan khawatir" Jelas Tanika penuh keyakinan,sembari menepuk bahu Faris.
Faris yang mendengar itu, tersenyum sendu.
Tanika lalu berdiri.
"Ya udah ayo kita pulang" Ajak Tanika yang sudah berdiri disamping Faris.
Saat Tanika mulai melangkah kan kakinya,Faris tiba tiba menghentikan langkah Tanika yang baru melangkah beberapa langkah itu.
"Bu ..apa bisa kalau kita jangan cerai?" Tanya Faris serius.
Deg .. pertanyaan itu membuat Tanika menghentikan langkahnya,juga membuat perasaan nya tak karuan, bagai panah yang tepat sasaran, pertanyaan itu pun, begitu tepat menyentuh hati Tanika, seperti membangkitkan rasa yang memang tak mau kehilangan Faris.Ya .. mungkin NYAMAN adalah kata nya tepat untuk menggambarkan perasaan Tanika dan Faris saat mereka bersama.
Ya ..tentunya karena ego Tanika,ia memilih balik bertanya seakan tak mengerti apa yang Faris tanyakan.
"Maksud kamu?" Tanika membalikkan badannya,menatap Faris yang masih berdiri ditempat.
"Eh .. ngggak Bu,gak jadi" Faris menjawab agak gugup,merasa dia tak pantas mengatakan itu,ia mengurungkan pertanyaan itu untuk dilontarkan kembali.
"Oh .. ya udah,ayo pulang !!" Tanika lalu berjalan meninggalkan Faris yang nampak masih berdiri ditempat,karena merasa Bu Tanika memang tak mempunyai perasaan yang sama dengan nya,Faris merasa dia hanya berlebihan,dia terlalu berharap dia dan Tanika bisa benar benar bersama,meski status mereka sebagai guru dan murid.
__ADS_1
Faris menghela nafas kecewa,ia lalu mengikuti Tanika yang berjalan didepan nya.