
Pagi ini,seusai Upacara Hari Senin, Lapangan terlihat mulai sepi, murid murid berhamburan keluar lapangan,menuju kelas masing-masing, begitu pula dengan para guru yang bersiap untuk mengajar hari ini.
Tanika masuk ke ruang kelas Faris,hari ini mata pelajaran pertama dikelas itu adalah Biologi,mata pelajaran yang memang Tanika ajarkan kepada muridnya.
Semua murid sontak diam, merapikan duduk mereka dan menghadap ke arah guru yang baru datang.
"Assalamualaikum, selamat pagi." Sapa Tanika didepan kelas.
"Waalaikumsalam,pagi juga Bu." Jawab serentak semua murid,Faris yang duduk paling depan , tepat didepan Tanika, tersenyum penuh arti, dihadapan istrinya itu,Tanika melirik Faris membalas senyuman itu.Tanika melanjutkan bicara nya,menatap semua murid.
"Okey ,Minggu lalu kita sampai mana?" Tanika menatap sekeliling, "Boleh liat catatan nya Ram?" Tanya Tanika mengulurkan tangan,meminta catatan Rama yang duduk disamping Faris.
"Ini Bu." Rama memberikan catatan nya,Tanika langsung membuka lembaran demi lembaran buku itu,saat menemukan catatan terakhir dibuku itu,Tanika mengangguk ngangguk mengerti.
Tanika memberikan kembali buku itu pada Rama.
"Makasih ram." Ucap Tanika,memberikan buku itu.
"Sama sama Bu." Rama mengambil buku itu, mengangguk hormat.
Tanika mundur sedikit mendekati white bor dibelakang nya,ia lalu mengambil spidol ditasnya,Tanika mulai menulis.
"BIOTEKNOLOGI MODERN" itu lah yang Tanika tulis di bor putih itu.
Tanika membalikkan badan,menghadap semua murid yang kini menatap nya dengan seksama.
"Okey, jadi Minggu lalu kita udah nulis tentang Bioteknologi modern,ibu bakal jelasin jenis jenis dari bioteknologi modern ini .." Tanika menutup mulut nya tiba tiba,semua murid merasa heran dengan Tanika yang menghentikan penjelasan,tak terkecuali Faris yang menatap Tanika cemas.
Tanika terlihat menahan mulutnya untuk tak berbicara,Tanika merasa mualnya dihari kemarin terjadi lagi,ia berusaha menahan agar tak muntah dikelas itu,Tanika bergegas menaruh spidolnya diatas meja.
"Maaf ya,ibu izin.." Tanika kembali menutup mulut,menahan perutnya yang tak enak " ..ke toilet sebentar,kalian baca dulu aja." Lanjut Tanika,lalu bergegas keluar kelas.
Faris merasa begitu cemas,ia terus menatap Tanika yang keluar kelas,tak sedikit murid yang bertanya kenapa dengan Tanika,bahkan kelas mulai riuh dengan pertanyaan juga argumen dari murid murid yang mengira ngira tentang Tanika.
"Bu Tanika kenapa ya?" Tanya Faris,menatap Rama disamping nya,
"Lah Lo yang suaminya gak tahu apa lagi gue." Jawab Rama pelan,sambil fokus membuka buku catatan nya.
Suara pelan itu masih bisa Faris dengar,tapi Faris tak peduli dengan jawaban Rama,ia berdiri berjalan untuk keluar.
"Ris Lo mau kemana?" Tanya Rama.
"Toilet." Jawab Faris singkat.
Banu yang duduk disamping jendela dekat pintu keluar, ikut bertanya kepada Faris.
"Lo kemana Ris?" Tanya Banu,sudah berdiri.
"Toilet,gue izin dulu ke toilet." Jawab Faris cepat,lalu keluar kelas.
"Toilet? Paling ngejar bini nya tuh." Gumam Banu,
"Hey udah,jangan ribut!! kita baca aja dulu materi Minggu lalu!!" Teriak Banu, membuat semua murid diam untuk mendengarkan penuturan Banu berikut nya.
__ADS_1
"Karena Bu Tanika keluar,kita baca aja dulu,ingat jangan ribut,Lo semua gak lupa kan waktu terakhir gue marah di kelas XI dulu!" Jelas Rama, membuat semua murid diam, mereka tak mungkin lupa, saat terakhir Banu marah di acara persiapan perpisahan murid Tahun lalu,saking marah karena semua anak ribut,Banu sampai memecahkan kaca kelas,semua murid pun diam saat itu,sampai sekarang semua murid kelas itu, selalu nurut pada Banu,sejak insiden mengerikan itu,mereka takut saat sosok Banu yang humoris berubah garang ketika marah.
"Lo semua ngerti kan?" Teriak Banu,yang terdengar jelas diruangan itu.
"Iya!!" Jawab kompak semua murid.
"Bagus!" Ucap Banu nyengir, mengacungkan dua jempol tangannya.
°°°
Sementara itu,Faris mengejar Tanika,Faris melihat Tanika masuk toilet wanita, terpaksa Farispun menghentikan langkah nya, menunggu Tanika di luar Toilet,tepatnya di bangku yang tersedia didepan Toilet pria dan wanita itu.
Faris duduk ,menunggu cemas,
Suasana saat itu, begitu sepi, tentu nya karena semua murid sedang belajar dikelas masing masing, termasuk semua guru,yang sedang jam mengajar pagi itu.Terlebih, toilet berada jauh dari ruangan tempat mengajar.
Faris terus melirik ke arah Toilet,ia nampak belum melihat sosok Tanika yang keluar dari sana.Selang beberapa menit,Tanika keluar dengan wajah pucat,
Faris yang melihat itu,sontak kaget, mendekati Tanika dan merangkul nya.
"Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa?" Tanya Faris, dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Gak,aku gak apa-apa kok." Jawab Tanika,ia kembali menahan mual diperut nya.
"Kamu yakin?" Tanya Faris memastikan.
Tanika hanya mampu mengangguk,ia sudah tak tahan untuk muntah lagi.
"Mmm.." Tanika menahan muntahnya lagi,ia bergegas lari ke sebuah washtaple yang tersedia disamping bangku, washtaple yang memang disediakan untuk cuci tangan itu,Tanika gunakan untuk membuang sesuatu di tenggorokan nya,Tanika merasa ada sesuatu yang mengganjal disana dan ingin segera memuntahkannya.
"Kamu yakin ,kamu gak apa-apa? Kamu sakit?" Tanya Faris cemas ,beralih mengelus tekuk leher Tanika.
Syurrr .. Tanika membuka keran air,mencuci mulutnya.
Tanika merasa lebih baik setelah mendapat pijitan dari Faris.
"Udah aku gak apa-apa kok, makasih ya." Jawab Tanika lemas.
"Wajah kamu pucet loh,kita duduk dulu,ayo!!" Ajak Faris,membantu Tanika untuk duduk.
Setelah Tanika duduk,Faris langsung berdiri.
"Kamu tunggu disini okey!!? Aku beliin minum buat kamu,kamu jangan kemana mana!?" Pinta Faris , berjalan mundur.Tanika tak menjawab,ia hanya tersenyum menatap Faris yang mundur sedikit ,lalu bergegas lari, Tanika tahu Faris pasti ke kantin membelikan nya minum.
Beberapa menit kemudian,
Faris datang, langsung duduk dan menyodorkan botol berisi teh hangat.
"Makasih." Tanika mengambil teh itu,lalu meminumnya.
"Gimana udah enakan?" Tanya Faris , berharap istrinya baik baik saja.
"Udah gak apa-apa,aku cuma mual aja,ini lebih baik kok." Jelas Tanika, memegang botol teh hangat pemberian Faris.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Aku khawatir tahu,kemarin juga kamu bilang gak apa-apa,tapi sekarang kamu muntah lagi," jelas Faris, mengingat apa yang terjadi kemarin.
"Kamu jangan khawatir,aku gak apa-apa." Jawab Tanika lemah,wajahnya masih terlihat pucat.
Faris semakin tak tega, melihat keadaan istrinya itu.
"Kamu gak boleh balik ke kelas,kamu istirahat diruang guru,pokonya jangan ngajar hari ini,atau kalau perlu kamu pulang aja!" Tegas Faris,kini wajah Faris nampak serius.
"Kenapa? Aku gak apa-apa,aku gak mau pulang." Jawab Tanika, dengan nada lemahnya.
"Okey kalau gak mau pulang,jangan ngajar!" Tegas Faris lagi.
Tanika menatap suaminya itu,ia mengenggam tangan kanan Faris, dengan lembut.
"Sayang,aku gak apa-apa." Jelas Tanika, mengelus lembut punggung tangan Faris.
Faris menoleh menatap Tanika ,matanya menatap lekat kedua bola mata Tanika.
"Kamu dengerin aku!" Faris, memegang kedua bahu Tanika. "Kamu gak bisa lihat diri kamu sendiri,kamu pucet,aku gak mau kamu kenapa napa, sekarang kamu ke ruang guru,terus istirahat,kamu nurut sama aku okey?" Jelas Faris,tak ingin istri nya sakit,karena memaksakan diri untuk mengajar.
Tanika tersenyum lesu, memegang tangan kanan Faris,yang berada diatas bahunya.
"Okey,aku istirahat." Jawab Tanika. "untuk materi kali ini ,nulis lagi aja ya,aku minta maaf gak bisa masuk kelas." Jelas Tanika kemudian.
"Gak apa-apa sayang, kesehatan kamu lebih penting." Jawab Faris,Faris menurunkan kedua tangannya.
"Kalau gitu,aku ke kelas,tas kamu biar aku anter ke ruang guru."
Cup ,
Faris dengan cepat mencium pipi Tanika.
"Istirahat ya!" Ucap Faris, setelah mencium Tanika.
"Faris.." pipi Tanika merona,karena perlakuan Faris itu. "Gimana kalau ada yang lihat?" Kesal Tanika, cemberut menatap Faris.
"Gak akan , semua orang lagi sibuk di kelas." Jawab Faris simple,ia lalu berdiri "ya udah,aku ke kelas,inget istirahat!?" Farispun berjalan meninggalkan Tanika, setelah sebelumnya memberi peringatan.
Tanika tersenyum, ia senang dengan perlakuan suaminya itu,tak bisa dipungkiri memang,meski Faris terkadang bandel,Faris adalah sosok yang perhatian.
Dugaan Tanika, ternyata memang benar,
Dari lantai dua sekolah itu,nampak sepasang mata menatap penuh amarah, terselip dihati perasaan sakit,saat melihat kedekatan Tanika dan Faris dari sepasang mata itu.Amarah karena tak pernah berani menyatakan perasaannya,juga sakit hati melihat kedekatan murid dan guru itu,meski dia tak pernah tahu apa hubungan Faris dan Tanika,tapi tetap, kecemburuan ia rasakan saat melihat kedekatan mereka berdua.
Pria berpakaian coklat PNS itu,meremas kertas ditangannya,merasa gagal dengan cinta yang ia nanti selama ini.
"Pak Ilham.." tiba tiba suara seorang wanita, menghentikan Ilham,pria yang menatap Tanika dan Faris sedari tadi itu, dari lamunan masa lalu, dan kenyataan pahit yang ia lihat saat ini.
Ilham menatap orang disamping nya, dengan tatapan yang tak dimengerti Bu Mira,Bu Mira orang yang memang memanggil Ilham.
"Ini pak salinan soalnya." Bu Mira, memberikan sebuah map berwarna coklat.
"Terima kasih." Jawab Ilham dingin,ia sedang tak mood detik itu.
__ADS_1
"Baik pak, saya permisi." Bu Mira yang mengerti,ia segera berpamitan.