
"Faris?" Tanya seorang dibalik telpon itu.Ya,orang itu tak lain adalah Laras.
Wanita yang sengaja Faris hubungi melalui ponsel Tanika.
"Ya gue Faris,Lo punya nomor Rama? atau mungkin Lo tahu Rama dimana?" Tanya Faris,tak ingin basa basi seperti hal menanyakan kabar atau hal lainnya.
"Kok kamu bisa pegang ponsel Bu Tanika? Bu Tanika dimana,aku ke rumah sakit kok gak ada?" Laras malah balik bertanya,
Faris serasa mendapat sedikit solusi perihal Rista,
"Lo di rumah sakit, maksudnya Lo mau jenguk Rista kan?" Tanya Faris lagi, memastikan keberadaan Laras sekarang.
"Iya."
"Kalau gitu,gue minta tolong jaga Rista,gue lagi sama Tanika,Lo jangan khawatir,dia aman sama gue." Jelas Faris,menjawab kekhawatiran Laras dibalik telpon itu.
"Okey, syukur kalau gitu,oh ya .. ada apa kamu minta nomor Rama?" Laras mulai penasaran dengan maksud Faris, meminta nomor Rama.
"Gue ada urusan Lo bisa kan langsung kasih nomor nya?!"
"Kamu langsung ke Restoran aja,dia pasti masih disana." Jelas Laras.
Seakan tak mau menunda lagi,Farispun menutup panggilanan itu setelah mengucapkan terima kasih pada Laras.
Pukul 20.00 malam,Rama tengah berbincang bersama Banu di Restoran miliknya,ia menikmati secangkir kopi favorit nya bersama Banu,mereka bercerita juga banyak hal lain yang mereka bicarakan.
Tiba tiba dengan sedikit ngos ngosan,
Faris berlari mendekati kedua sahabatnya itu,ia langsung menaruh kedua tangannya di atas meja,bahkan membuat Banu dan Rama sedikit terperanjat kaget, melihat Faris.
"Wah .. Gila lo setan atau jelangkung lo,datang gak di undang,jangan jangan pulang juga gak mau dianter Lo!!" Teriak Banu kaget,Banu yang berada disisi kanan Faris,ia memegang dadanya,ia kaget dengan Faris yang tiba-tiba datang.
Sementara Rama,dia memang kaget,tapi sifat Coolnya ya begitulah ... Masih bertahan meski dia keget.
"Sorry Ban,tapi gue bener bener penasaran,gue juga gak punya banyak waktu." Jelas Faris,yang masih berdiri.
Dikarenakan Restoran itu memiliki desain Sofa yang setengah melingkar,Rama pun menggeser duduk,agar Faris duduk disampingnya.
"Lo kenapa sih? Duduk dulu,baru Lo ngomong!" Pinta Rama.
Faris segera ikut duduk,dia duduk disamping Rama,bahkan pria itu meminum kopi dihadapannya,meminumnya hingga habis,jelas kopi itu milik Rama,Rama hanya menautkan alis,merasa heran, sementara Banu dia langsung berkomentar.
"Lo kesambet Ris? Emang jadi jelangkung segitu hausnya ya?" Tanya Banu, pertanyaan nya itu selalu saja konyol,bahkan keluar dari koridor perbicangan.
"Sembarang lo!! Gue gak ke sambet,gue ngebut dari hotel kesini." Jelas Faris, kembali mencoba duduk santai.
Rama mulai penasaran, kenapa dengan Faris,bahkan pria itu tak mengabari jika akan pulang ke Indonesia.
__ADS_1
"Lo kenapa Ris? Tumben gak ngomong mau balik?" Tanya Rama kemudian.
"Lo hutang penjelasan sama gue Ram!" Tunjuk Faris pada Rama.
Hal itu jelas membuat Rama, kembali menautkan alis,ia tak mengerti maksud sahabat nya itu.
"Maksud Lo?"
"Lo nyelamatin Tanika dari apa?" Faris langsung to the point, mempertanyakan inti masalah nya.
Rama masih menautkan alis.Tapi, akhirnya Rama mengerti kemana arah pembicaraan Faris itu,Rama menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Faris, rasanya butuh banyak oksigen baginya untuk menceritakan semua yang telah terjadi.
"Oh soal itu,kayanya Lo udah tahu ya, mungkin saat ini gak penting,Lo udah ketemu Bu Tanika atau belum.Tapi, seperti nya gue harus cerita sesuatu sama Lo, soal Bu Tanika." Rama menaruh kedua tangannya di atas meja,ia menatap Faris dengan sungguh sungguh,seakan Faris tak boleh melewatkan sedikit pun apa yang akan dia cerita kan sekarang. "Jadi,dulu itu gue ajak Laras jalan jalan ke Bandung dan suatu kebetulan gue ajak dia ke salah satu Club malam,gue awalnya cuma mau ngenalin Laras sama calon tunangan gue.Tapi,pas kita udah masuk Club itu,Laras liat Bu Tanika diseret dua bodyguard diClub itu, awalnya gue gak percaya,bahkan gue cuek aja,lagian gue harus ketemu seseorang disana.Terus,pas kita udah keluar Club,Laras maksa gue buat cari tahu,ya udah.. setelah nya gue cari tahu dan ternyata,benar itu Bu Tanika,gue akhirnya mutusin buat beli dia disana,Lo tahu? Bos disana gak mau awalnya, untung nya gua bayar mahal,jadi mereka mau jual Bu Tanika ke gue, untuk masalah Bu Tanika,Lo gak usah khawatir dia tinggal dirumah Laras sekarang." Jelas Rama, menceritakan semuanya.
Faris cukup kaget,meski sudah tahu dari Tanika,tapi ini benar benar membuat nya syok, rupanya apa yang dikatakan Tanika benar,dia pernah dijual oleh Galang.
"Lo tahu? Tanika dalam masalah sekarang, orang yang jual dia udah nemuin dia lagi,Lo harus bantu gue cari bukti tentang orang yang udah jual Tanika!!" Jelas Faris, mengutarakan kekhawatiran nya,ia juga menatap serius Rama.
Banu yang sedari tadi menyimak,ia hanya mengerjap ngerjapkan matanya,ia tak mengerti maksud kedua sahabatnya.
"Tunggu tunggu!!" Rama mengangkat tangan nya. "Maksud Lo berdua Bu Tanika dijual ke Club malam gitu? Kok bisa?" Tanya Banu, mengeryitkan dahi.
"Iya Ban, maksud gue nemuin Lo disini,juga karena itu.Kaka Lo kan kepala polisi,gue mau minta bantuan Lo buat nyelidikin masalah ini." Jelas Rama,kini menatap Banu.
"Kenapa Lo gak bilang dari awal sih!? Gue jadi kaya kambing conge, dengerin Lo berdua ngomong." Keluh Banu,merasa jadi orang yang paling tidak up to date.
"Ya sorry,Lo gue telpon,gue email,gue chat gak dibales,padahal udah dari dua bulan gue nungguin balasan dari Lo,baru hari ini gue bisa ketemu sama Lo." Jelas Rama, sedikit kesal pasalnya bukan dia yang salah.
"Hehe .. ponsel gue disita bini kan,jadi gak tahu Lo hubungin gue."
Rama mendegus.
"Dasar Susis Lo!!" Ketus Rama.
Faris mengeryitkan dahi,ia baru menyadari satu hal,Banu sudah menikah? Faris jadi penasaran siapa sosok wanita yang menjadi pendamping Banu.
"Lo udah nikah Ban? Sama siapa? Jangan bilang sama Bu Sisil!?" Faris melirik Rama sesaat. " Dia gak masih halu kan Ram?"
Rama hanya terkekeh mendengar pertanyaan Faris,ia enggan menjawab,hingga Banu lah yang menjawab.
"Wah Lo ..hina gue Lo Ris.. gue emang nikah sama Sisil kok,Lo gak percaya,Lo boleh liat dia ke rumah gue,dia ada,lagi gendong Banu junior." Jelas Banu, menjelaskan kebenaran pernikahannya.
Faris terlihat terkejut,
"Lo serius? Lo udah nikah? Sama Bu Sisil dan punya anak dari dia juga?" Pertanyaan itu meluncur cepat dari mulut Faris,ia masih tak percaya akan kenyataan Banu menikah dengan gurunya itu.
Banu hanya tersenyum simpul, mengangguk pasti,tak lupa alis yang ia naikkan,pertanda ia begitu bangga menyatakan semua itu.
__ADS_1
Rama merasa perbincangan mereka,membelok dari apa yang sedang mereka bahas,iapun kembali mengeluarkan suara nya.
"Udah udah, masalah itu nanti aja Lo cerita nya Ban, sekarang kita harus selidiki masalah Bu Tanika yang di jual." Jelas Rama , menengahi.
Faris menghela nafas panjang,
"Lo bener Ram,gue butuh bantuan kalian berdua." Ucap Faris,serius menatap kedua temannya.
°°°
Setelah pertemuan itu,Faris pun kembali ke hotel tempat Tanika berada, Sementara Rama ia pergi ke Rumah Sakit untuk menemani Laras,dan Banu tentu nya dia pulang ke rumah,
Besok adalah hari dimana Rama dan Banu akan menyidiki kasus Tanika,dengan bantuan Kaka Banu.
Ceklek ..
Faris membuka pintu hotel itu,Faris melihat jam dipergelangan tangannya,waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
Ternyata cukup lama juga mereka berbincang di Restoran itu,Faris melihat Tanika,sudah tertidur pulas,dengan posisi tidur miring,bahkan wanita itu tidak memposisikan tidurnya dengan benar,ia nampak tertidur dipinggir ranjang,bahkan sepatu hak tinggi milik nya,masih ia kenakan,
Faris perlahan mendekati Tanika,ia melepas sepatu hak tinggi berwarna biru itu,Faris membuka perlahan,ia merapikan sepatu itu disamping ranjang.
Mata Faris tertuju pada sosok wanita yang kini sedang terbaring,tidur begitu pulas,Faris memberanikan diri,mengusap lembut rambut Tanika,wanita itu terlihat begitu lelah,kedua tangannya ia gunakan sebagai bantal tidur,ia bahkan tak menyadari jemari Faris yang lembut menelusuri helai rambutnya.
"Tan,apa kamu begitu menderita saat aku pergi?" Gumam Faris,ia seolah sedang bertanya pada Tanika yang sedang tidur.Masih mengusap lembut rambut Tanika,Faris melanjutkan pertanyaan nya. "Apa kamu sungguh cinta sama aku Tan? Lalu kenapa dulu kamu usir aku? Apa aku perlu mendapat semua jawaban itu? Jika hanya dengan mencintai mu,aku sudah merasa yakin,kamu juga mencintai ku, seharusnya aku memang tak pernah meninggalkan mu,dulu aku terlalu egois,tak ingin bertanya,apa alasan dibalik perpisahan kita,aku janji.." Faris menghentikan elusan dirambut Tanika,kini Farispun berlutut menghadap wajah Tanika,ia mengelus lembut pipi wanita itu. "Aku akan selalu ada buat kamu."
Cup,
Faris mengecup kening Tanika,sebelum ia beranjak keluar dari kamar.
°°°
Cahaya matahari menyinari kamar itu,meski terhalang jendela,namun cahaya yang menghangatkan itu,mampu menerobos bening nya jendela kaca, memperlihatkan indahnya hamparan pasir juga lautan luas,
Tanika,wanita itu membuka mata perlahan,merasa cahaya memasuki ruang penglihatannya,iapun bangun perlahan, memposisikan dirinya agar duduk di ranjang itu,ia menyadari satu hal,posisi tidur nya sudah benar,bahkan sebuah selimut menutupi tubuhnya, nampaknya semalam Farislah yang membetulkan posisi tidur nya,
Penglihatan tertuju pada seorang pria yang tengah berdiri disamping ranjangnya,pria itu menghadap jendela, melihat pemandangan pantai yang indah.
"Faris .." panggil Tanika,pada sosok yang diyakini nya adalah Faris.
Benar,pria itu adalah Faris,ia membalikan badan,lalu tersenyum, kedua tangan nya masih setia berada disaku celananya.
"Kamu udah bangun? kebetulan aku bawa makan buat kamu,apa kamu mau mandi dulu?" Faris menarik satu tangan dari sakunya,ia melihat jam tangan yang melingkar disana. "Aku akan keluar sebentar." Ucap Faris, setelah melihat jam tangannya.
Tanika tak menjawab,ia malah memandangi punggung Faris,pria itu membuka pintu lalu keluar,Tanika memperhatikan sekitar,ia melihat di sofa ada dua buah paper bag,
Ia berjalan melihat apa isi dari paper bag itu,Tanika membukanya, ternyata sebuah stelan baju wanita,sebuah long dress cantik berwarna coklat muda,juga ada sebuah kotak bekal berisi sandwich.
__ADS_1
Tanika tersenyum simpul,Faris benar benar perhatian padanya,sejenak Tanika kembali terpesona pada pria itu,ia terus tersenyum memandangi dress cantik yang diyakini Tanika pemberian dari Faris.
Faris, pria itu benar benar perhatian,bahkan dia nampak begitu dewasa sekarang,anak remaja yang dulu begitu manja kini seakan berubah menjadi pria yang penuh wibawa dan berkarisma.