Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Hadiah Kecil)


__ADS_3

POV : Faris


"Total harga nya jadi 1.500.000 mas" jelas seorang kasir di toko mas itu.


Akupun memberikan sejumlah uang seratus ribuan dihadapan nya,ia menghitung uang itu.


"Udah pas mas,terima kasih mas,datang kembali" ucap petugas kasir,sembari tersenyum padaku.


Hari ini,aku membelikan sebuah liontin emas untuk Bu Tanika.Ya, setelah Rama bilang mamah neransfer uang lebih ke rekening ku,aku membeli liontin ini untuk Bu Tanika,meski hanya sebuah liontin biasa,tapi aku harap Bu Tanika suka.


Uang yang mamah transfer cukup besar sekitar 7jutaan ,aku jadi bisa bayar uang sewa apartemen dan juga memberikan Bu Tanika hadiah,sisa uangnya aku berencana untuk memberikan nya pada Bu Tanika.


Siang itu, pulang sekolah aku minta tak dijemput dan membeli liontin ini.


Aku pulang dari toko mas sekitar jam tiga sorean.


"Assalamualaikum" aku masuk rumah,tapi tak melihat Bu Tanika disana,hanya ada Bu Hemi yang sedang bersiap untuk pulang.


"Waalaikumsalam,Eh den Faris,baru pulang den?" Tanya Bu Hemi yang melihat ku masuk rumah.


"Iya Bi,Bu Tanika dimana ya?" Tanyaku penasaran Tanika dimana


"Oh nyonya lagi di belakang,lagi angkat jemuran,awalnya saya bilang biar saya yang angkat,tapi nyonya bilang gak apa-apa biar dia aja" jelas Bu Hemi.


"Oh gitu,bibi mau pulang?" Tanyaku yang melihat nya memang sudah memakai tasnya.


"Iya den, saya mau pulang" dia tersenyum, sembari sedikit menundukkan kepalanya.


"Ya udah ,ini ada sedikit rejeki buat bibi,buat jajan anak anak dirumah" aku menyelipkan sejumlah uang ditangan kanan Bu Hemi.


"Ya Allah den,gak usah" ia nampak ingin mengembalikan uang itu,tapi aku menolaknya.


"Udah Bi,gak apa-apa buat jajan anak, Alhamdulillah saya lagi ada rejeki" jelas ku menolak uang itu dikembalikan padaku.


"Alhamdulillah den, terima kasih banyak, semoga den Faris sama nyonya sehat selalu, terus rumah tangga nya, sakinah mawadah warohmah aamiin" Bu Hemi nampak berterima kasih sembari memanjatkan doa,Ya ..Bu Hemi adalah salah satu orang yang memang sudah tahu hubungan aku dan Bu Tanika,awalnya dia tak tahu,tapi karena kami pernah kepergok berduaan,kamipun terpaksa menceritakan hubungan kami.Untungnya,Bu Hemi bukanlah orang yang suka gosip dan membeberkan rahasia orang ,dia bisa menjaga rahasia kami dengan baik,bahkan suaminya yang notabene adalah satpam dirumah kamipun,tak pernah ia beritahu tentang hubungan kami.


"Aamiin .. terima kasih Bi" aku balik berterima kasih padanya atas doa yang dia panjatkan tadi.


"Ya udah den,kalau gitu,saya pulang den, Assalamualaikum" Bu Hemi pun berpamitan dan berjalan menuju pintu, setelah sebelumnya sedikit membungkuk kan badannya,tanda dia mengormati ku.


"Waalaikumsalam" jawabku sembari tersenyum padanya.


Aku pun buru-buru pergi ke halaman belakang, untuk melihat Bu Tanika disana,tapi kami malah berpapasan dipintu menuju halaman belakang.


"Eh ibu.. " sapa ku sambil cengengesan.


"Kamu kenapa?" Tanya Bu Tanika melewati ku sembari membawa keranjang berisi pakaian.


"Biar aku yang bawa Bu" aku mengambil keranjang itu,Bu Tanika tak menolak,ia memberikan keranjang itu.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Bu Tanika,sembari memberikan keranjang itu.


"Belum" jawabku sembari tersenyum.


"Ya udah,kamu bawa keranjang ke kamar saya,simpan deket lemari aja,saya mau angetin ikan nya dulu" Bu Tanika berjalan melewati ku menuju dapur yang berada disamping tempat kami berdiri.

__ADS_1


"Baik Bu" akupun berjalan menaiki tangga,menuju kamar Bu Tanika,aku menyimpan keranjang itu sesuai perintah Bu Tanika.


Aku kembali turun menuju dapur,Bu Tanika sedang menghangatkan ikan, seperti yang dia bilang tadi,tanpa basa basi,aku memeluk Bu Tanika dari belakang.


"Faris .. kamu ngapain sih??" Ia nampak memberontak ,tapi aku tak menghiraukan itu,aku masih memeluk nya bahkan semakin erat.


"Ibu kangen" ucapku manja sembari menaruh daguku dibahunya.


"Iya kangen sih kangen .. tapi kamu bau tau,mandi dulu sana,udah sholat belum?" Tanya Bu Tanika ,membuat ku melepaskan pelukan ku padanya.Aku mencium aroma tubuhku.


"Ah nggak kok,gak bau" jawab ku setelah mencium aroma tubuhku.


"Itu menurut kamu,udah .. mending kamu mandi dulu gih!! Ganti baju, sholat,terus kesini lagi" Bu Tanika terlihat kesal,ia masih membalikkan ikan yang ada diwajan itu.


"Okey deh,nanti aku kesini lagi buat peluk ibu" bisikku ditelinga Bu Tanika.


"Hmm" jawab Bu Tanika


Akupun melangkah kan kaki menuju kamar,aku mandi, mengganti baju juga melaksanakan sholat.


Setelah selesai,aku duduk dikursi meja makan.


Bu Tanika nampak sedang duduk dihadapan ku,sembari menikmati secangkir minuman ditangannya.Di hadapan ku sudah tersaji nasi dan lauk pauk.Aku menatap Bu Tanika.


"Ibu udah makan?" Tanyaku sebelum memakan makanan dihadapan ku.


"Udah tadi,kamu makan aja" jawab Bu Tanika menaruh cangkir diatas meja.


Selesai makan dan mencuci piring nya,aku mendekati Bu Tanika, mengambil kursi dan duduk disampingnya.


"Apa?" Bu Tanika menoleh padaku.


"Bu ngadep saya deh,terus ibu tutup mata ibu?!" Pinta ku pada Bu Tanika,dia langsung menurut saja,ia menghadap ke arahku,lalu menutup matanya.


Aku mengambil liontin disaku celana ku,mengangkatnya tepat dihadapan Bu Tanika.


"Sekarang,ibu muka mata ibu"


Bu Tanika perlahan membuka matanya,ia terlihat kaget melihat barang didepan matanya itu.


"Ini apa ris?" Tanya Bu Tanika bingung.


"Ini liontin Bu,buat ibu" jawabku,masih melayangkan liontin didepan matanya.


"Kamu .. dapat uang dari mana?" Tanya Bu Tanika terlihat tak percaya dengan apa yang kuberikan ini.


Aku pun menurunkan liontin itu,untuk aku sejenak menjelaskan tentang bagaimana aku mendapatkan liontin ini.


"Saya beli Bu, saya dapet uang dari mamah, mamah ngasih uang lebih,mungkin untuk tahlilan kakek,juga tadi,saya ketemu teman kerja saya,dia ngasih uang gajian saya,jadi saya bisa membeli kan ibu liontin ini" Jelas ku yang akhirnya membongkar perihal kerja ku beberapa waktu lalu.


Ya,tadi saat aku pulang kebetulan Pak Adam menjegatku digerbang sekolah,dia memberikan uang gajianku,yang meski cuma dua ratus ribu,tapi aku sangat bersyukur,dia bilang dia berhasil membujuk bos kami yang memang terkenal sadis itu.


"Kerja? Kapan kamu kerja?" Bu Tanika terlihat begitu kaget dan marah tahu aku bekerja.


"Ya,maaf ya Bu ,saya bohong sama ibu,waktu itu.. waktu saya bilang saya kerja kelompok, sebenarnya saya kerja Bu" jelasku menyesal tak memberi tahu dari awal.

__ADS_1


"Kamu rela sakit dan kehujanan cuma buat kerja?!" Bu Tanika menggerak gerakkan tangan kanannya seperti ingin mencari kebenaran dari setiap upacan ku.


"Ya Bu,saya kan udah janji bakal jadi suami yang baik Bu,saya rela harus sakit demi bisa nafkahin ibu" jelasku penuh keyakinan dan tak merasa bersalah akan apa yang telah aku lakukan.


Bu Tanika memegang kepala nya.


"Astaghfirullah .. Faris .." Bu Tanika lalu menatap ku, tiba tiba ia memeluk.


"Kamu berusaha terlalu keras,kamu masih remaja dan gak seharusnya menanggung beban berat kaya gini" jelas Bu Tanika sambil memeluk ku


Aku balas memeluk nya dengan lembut.


"Gak ada yang berat bagi seorang pria Bu" aku melepaskan kan pelukan ku,aku mendorong pelan tubuh Bu Tanika,ku letakkan kedua tangan ku dipipinya.


"Ibu dengerin saya,ini bukan beban buat saya,ini udah jadi tanggung jawab saya" setelah mengucapkan itu aku mengecup dahi Bu Tanika,lalu memeluk nya dengan lembut.


"Ibu jangan pernah berpikir ibu adalah beban saya,saya udah seharusnya menafkahi ibu lahir dan batin,saya sayang sama ibu" jelas ku masih memeluknya.Kurasakan tangan Bu Tanika melingkar di tubuhku.


"Makasih Faris" ucapnya sembari memelukku,


Ia perlahan melepaskan kan pelukannya.


Aku menatapnya dengan senyum ku


"Ibu pake ya liontin nya" aku mengangkat kembali liontin itu.


Bu Tanika menggangguk setuju dan tersenyum padaku.


Akupun memakaikan liontin itu,aku berdiri dan mengaitkan kalung itu dileher Bu Tanika.


"Ibu suka?" Tanyaku dari belakang tubuhnya.


Bu Tanika melihat lihat liontin berbentuk hati dikalungkan itu.


"Suka" ia lalu menoleh ke arah ku.


Aku melingkarkan satu tanganku, memeluknya dari belakang, sementara tanganku satunya lagi,menggenggam erat tangan kanan Bu Tanika,ku cium punggung tangan nya itu


Aku menaruh daguku dibahunya,ku rasakan hangat tubuh nya,juga aroma yang wangi dari kulit yang kini menempel didaguku.


"Alhamdulillah ibu suka,itu adalah hadiah kecil dari saya buat ibu,ibu udah banyak bantu saya, sebenarnya hadiah itu gak cukup dibandingkan apa yang telah ibu lakukan buat saya" Aku kembali mencium punggung tangan Bu Tanika.


Bu Tanika tak pernah menolak saat aku bersikap manis padanya, seperti memeluk bahkan mencium nya.


Ia lalu memegang tangan ku,menarik ku agar duduk lagi samping nya,aku menuruti keinginan nya itu.


"Makasih ris,saya gak ngerasa ngelakuin banyak hal,saya sudah sepantasnya membantu kamu" dia menggenggam erat kedua tanganku.


Aku kembali memeluk tubuhnya.


"Aku harap ini bakal berlangsung selama nya,aku harap kita gak akan pernah terpisah" ucapku saat memeluknya. Bu Tanika seperti nya ragu membalas pelukanku,hingga selang beberapa detik ia membalas pelukan ku dengan lembut.


Aku benar benar merasa kan kehangatan tubuhnya,aku merasa kan kasih sayang dalam pelukan nya.Aku benar benar berharap apa yang kurasakan ini benar,aku harap Bu Tanika juga membalas cinta ku, aku tak butuh kata kata, karena dia memang tak pernah mengatakan nya.Tapi, setiap pelukan hangat yang dia berikan membuat ku tahu, juga setiap tatapan mata nya,aku tahu dia menyayangiku.


Aku harap aku tak akan berpisah dengan nya, meski harus berpisah aku harap suatu saat kita akan kembali bersama lagi.

__ADS_1


__ADS_2