
Tanika berjalan cepat menuju masjid,membuka cepat plat shoes nya,Tanika mendekati wanita bernama Laras itu, setelah menyimpan terlebih dahulu payung yang dia bawa.
Dan Faris, dia mengikuti Tanika lalu duduk disamping Tanika.
"Dia kenapa?" Tanya Tanika khawatir,saat melihat kondisi Laras.
"Dia tadi jatuh dilapangan,dia udah seperti ini,pas aku bawa kesini." jelas Faris, dengan pandangan tak mengerti, apa yang terjadi pada Laras.
Tanika mengancingkan baju Laras,yang belum selesai Faris kancing kan tadi.
"Kita bawa dia pulang? Kamu bisa gendong dia kan?" Tanya Tanika, membuat Faris sedikit menggeryitkan dahinya,merasa ini tak harus dilakukan,tapi juga Faris tak tahu harus melakukan apa.
"Bisa kan ? Kita harus nolong dia. " Tanya Tanika, menghentikan lamunan Faris.
Faris mengangguk tanda ia mengerti dengan perintah Tanika.
Faris menggendong Laras menuju mobil.Hujan belum juga reda malah semakin deras lagi.
Tanika mengikuti Faris dibelakang,rasa cemburu juga curiga Tanika kini sudah hilang,saat melihat kondisi Laras yang memprihatinkan.
Faris menutup pintu belakang mobil,saat berhasil menidurkan Laras di jok belakang mobil.
Faris dan Tanika menaiki mobil, mereka duduk dijok depan.
Faris terlihat menggigil kedinginan,Tanika yang melihat itu, langsung membuka mantel yang ia kenakan.
"Buka baju kamu!!" Pinta Tanika,saat membuka mantel nya.
Faris bingung "kamu mau apa sayang?" Tanya Faris tak mengerti.
"Kamu kedinginan,pake ini!" Pinta Tanika,sembari memberikan mantel pada Faris.
Faris mengerti lalu membuka baju seragamnya,ia mengenakan mantel yang berikan Tanika.
Tanika melajukan mobil itu menuju rumah nya,tak ada percakapan didalam mobil hanya terdengar suara hujan yang begitu deras sore itu.
"Sayang .." Panggil Faris pada Tanika yang memang hanya diam saja disepanjang perjalanan.
Kini Faris sudah menggedong Laras ke kamar tamu,dan Tanika juga sudah menganti pakaian Laras,kini Tanika sedang menyelimuti gadis itu.
"Sayang aku boleh masuk ..?!" Panggil Faris lagi yang sedari tadi, berada di ambang pintu,membuka sedikit pintu itu.
"Ya boleh." Jawab Tanika, yang kini sudah berdiri ,untuk mengambil kayu putih didalam laci.
"Udah mandi?" Tanya Tanika pada Faris yang sudah berdiri didalam kamar.
"Udah." jawab Faris menatap istrinya,yang sedang mencari kayu putih.
Tanika berhasil menemukan kayu putih itu,ia kembali duduk.
"Udah makan?" Tanya Tanika lagi,Faris masih berdiri ,disamping Tanika yang duduk di atas ranjang
__ADS_1
"Hehe belum sayang." jawab Faris cengengesan.
"Ya udah aku masak dulu, kamu tunggu dimeja makan aja!" Jelas Tanika yang fokus membaluri kayu putih dileher Laras.
"Ya udah aku tunggu dimeja makan."
Faris keluar dari kamar itu,duduk di kursi meja makan,lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya.
Tak lama Tanika datang,ia langsung menyalakan kompor,dan menuang kan minyak kelapa diatas wajan.
Faris terus melihat aktivitas istrinya ,yang tengah memasak nasi goreng itu.Ia masih bingung kenapa istrinya tak menampakkan senyum dibibir nya,apa mungkin dia masih marah, begitu lah pikir Faris dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian,Tanika membawa dua piring nasi goreng, menyimpan nya dihadapan Faris juga dirinya.Tanika mengambil kan sendok untuk Faris dan dirinya,tanpa sepatah kata pun, Tanika langsung menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Faris merasa heran,ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Sayang kamu marah?" Tanya Faris penasaran.
Tanika melirik Faris dengan santai.
"Nggak." jawab Tanika singkat, kembali memakan nasi goreng nya.
"Terus kok gak senyum sama aku, dari tadi kamu cemberut aja??" Tanya Faris heran,merasa dirinya diabaikan,bagi Faris senyum Tanika bagai penyemangat baginya,rasanya jika dia kehilangan senyum wanita yang ia cintai itu, terasa ada yang hilang dari diriya.
"Aku lagi PMS,jadi agak sensitif,kamu tolong ngerti ya?! aku gak marah cuma agak kesel aja sama sikap kamu tadi,aku pikir dia selingkuhan kamu." jawab Tanika sedikit malas menjelaskan,pasalnya sakit diperut akibat head, membuat nya malas menjelaskan sesuatu yang membuat nya ingin meledak alias marah.
"Ya Allah .. sayang,dia bukan selingkuhan aku,aku cuma nolong dia." jelas Farsi penuh penekan.
"Iya aku percaya,udah jangan dibahas aku males bahas ini,udah jelas kok,aku cuma butuh pengertian kamu aja,aku lagi kurang mood ,jadi jangan bikin aku marah!!" jelas Tanika, yang memang percaya perkataan Faris,ia hanya sedang merasakan tidak mood saja.
"Ya sayang ,aku gak akan bikin kamu marah, sekarang kita makan lagi ya?!" Faris sedikit mengacak rambut Tanika.
Tanika tersenyum manis pada suaminya itu.Tanika merasa suaminya cukup mengerti dengan keadaan nya saat ini.
Seusai makan malam,Tanika dan Faris mencuci piring bersama.
"Sayang .. Laras gak meninggalkan?" Tanya Faris tiba tiba disela mengelap piringnya.
"Wuss ..kamu ngomong apa sih sayang? Dia gak meninggal kok,kenapa kamu malah mikir dia meninggal?" Tanya Tanika yang tak percaya Faris mengatakan itu.
"Ya maaf,aku kira dia meninggal,soalnya banyak luka gitu." jelas Faris polos,karena memang mengira Laras meninggal.
"Gak,dia gak meninggal ,dia cuma pingsan aja,kamu jangan ngomong aneh aneh,besok juga dia siuman,udah ah ..kamu beresin lapnya,aku mau ke kamar." jelas Tanika, lalu mengelap tangannya yang basah, seusai mencuci piring.
"Pengen cium dulu" pinta Faris manja,sembari mendekatkan pipi ke arah Tanika.
Cup .. Tanika mencium pipi suaminya itu.
"Dasar genit!?" Tanika sedikit terkekeh melihat kelakuan suaminya yang selalu manja itu,Ia lalu membuka celemek nya.
"Biarin.. genit sama istri sendiri" Faris membela dirinya.
__ADS_1
Tanika berjalan menaiki tangga.
Namun baru saja Tanika menaiki tangga ke empat, langkahnya terhenti,karena Panggilan Faris.
"Sayang .. aku bawa air minum ke atas ya .." teriak Faris dari dapur.
Tanika kurang mendengar apa yang Faris katakan ia malah balik berteriak.
"Apa sayang aku gak denger?" Tanya Tanika kembali menuruni tangga.
Faris berjalan menghampiri Tanika, membawa dua gelas air putih diatas nampan.
"Aku bawa .." kalimat Faris terhenti,matanya tertuju pada sosok yang berdiri didepan pintu kamar tamu.
Tanika merasa heran kenapa Faris tak melanjutkan kan kalimat nya.
"Sayang kenapa?" Tanika menoleh ke arah pandangan Faris.
"Laras!!?" Tanika ikut kaget,saat melihat Laras sudah berdiri di depan pintu kamar tamu,mata Tanika membulat sempurna, begitu juga Faris.
Kini mereka berdua tak tahu harus mengatakan apa,ada banyak penjelasan yang harus mereka jelaskan pada Laras,bahkan lebih tepatnya alasan atas apa yang telah Laras lihat.
Tanika dan Faris sama sama mematung bingung harus melakukan apa.Laras melangkah kan kakinya dengan terpincang-pincang,ia mendekati pasangan suami istri yang masih menatap bingung padanya.
"Bu Tanika?? Kak Faris?? Kok kalian ada disini? Aku dimana?" Tanya Laras membuyarkan pemikiran Faris dan Tanika yang tengah mencari alasan.
"Itu kamu .. tadi kecelakaan jatuh di lapangan,kamu pingsan terus Faris yang nolong kamu." jelas Tanika agak gugup lalu menunjuk Faris yang berdiri disamping nya.
"Ini rumah kak Faris?" Tanya Laras lagi
"Rumah Bu Tanika","Rumah Faris" jawab Faris dan Tanika bersamaan, membuat Tanika melirik Faris dan menendang perlahan kaki Faris,Faris sedikit meringis.
Laras yang melihat kejanggalan,ia pun kembali bertanya untuk memastikan.
"Jadi sebenarnya ini rumah siapa?" Tanya Laras lagi.
"Rumah Faris" jawab Tanika.
"Kalau ini rumah kak Faris, kenapa ibu disini? Ibu punya hubungan apa sama Faris?" Tanya Laras lagi yang nampak nya makin penasaran.
"Eee .. itu .. karena .. saya .." Tanika mulai kebingungan mencari alasan.
"Bu Tanika sodara gue" jawab Faris cepat,sembari merangkul Tanika,Tanika sedikit mengeryitkan dahi,menatap bingung suaminya,boleh diakui alasan suaminya cukup bagus,tapi seperti nya mereka harus mencari alasan lagi,karena dapat dilihat Laras akan kembali mangajukan pertanyaan,Laras merasa ada yang aneh dengan sikap Faris dan Tanika.
"Sodara? Bu Tanika kakak atau bibi Faris?" Tanya Laras lagi , sedikit menyelidiki senyum aneh Faris dan Tanika.
Tanika langsung merangkul Laras mencoba menghentikan introgasi muridnya itu.
"Laras sekarang kamu mending istirahat,kamu mau ibu buatin makan? Soal hubungan saya sama Faris besok saya jelasin,kamu harus makan dan istirahat dulu." jelas Tanika sedikit mendorong Laras untuk kembali ke kamar.
Cara itu, berhasil dilakukan Tanika,Laras menurut dan mau kembali berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau makan bubur? Ibu buatin ya?!" Tanya Tanika dengan nada lembut dan itu tak biasa ditelinga Laras.Laras hanya mengangguk,ia mengerti gurunya itu mencoba peduli padanya,dan Laras pikir itu tak salah.
"Ya udah ibu bikin dulu,kamu tunggu sebentar" Tanika tersenyum lalu beranjak keluar kamar.