
Minggu ketiga hari pernikahan Faris dan Tanika.
Hubungan mereka kini,tentu saja baik baik saja.Faris semakin fokus belajar,ia juga merasa senang karena kini kakek nya mulai membaik.
Sementara Tanika,dia selalu setia membantu Faris belajar,Tanika sangat yakin,Faris akan menjadi pemenang di olimpiade sains Nasional itu.
Hari ini adalah hari Minggu,Faris dan Tanika berkunjung ke rumah sakit menemui kakek Faris.
Disana mereka bercerita tentang pernikahan mereka.Ya,kakek Faris sudah mengetahui semua nya,termasuk tentang pernikahan Faris, perlombaan, juga perpisahan yang akan dilakukan Tanika dan Faris.
Kakek Faris,nampak tak setuju dengan perpisahan yang direncanakan Faris dan Tanika.
Malam itu,Tanika menemani kakek Faris sendiri diruang perawatan.Sementara Faris,dia membeli makanan,juga sebuah selimut hangat yang diinginkan kakek Faris.
Kakek Faris sudah mulai bisa menggerakkan tangan nya,dia berkomunikasi dengan menulis sesuatu dikertas,meski memang waktu menulis nya cukup lama, karena tangannya yang masih cukup kaku digerakkan.Tapi,dokter mengatakan itu kemajuan yang baik.
Kakek Faris hanya menulis apa yang dia inginkan saja, seperti tadi ia menulis kata selimut,yang berarti dia menginginkan selimut.
Kakek Faris melirik Tanika,ia masih berusaha menulis sesuatu dikertas itu.
Tanika menunggu dengan sabar, Kakek Faris yang sedang menulis.
Selang beberapa menit, kakek Faris berhasil menulis sesuatu,kakek Faris memberikan kertas itu dengan susah payah kepada Tanika.
Tanika mengambil kertas itu,membaca apa yang ditulis kakek.
Mata Tanika menunjuk kan perasaan kaget.Ia melirik kakek Faris.
Ia melihat kakek Faris tersenyum padanya.
Tanika balas tersenyum pada kakek Faris lalu menyimpan kertas itu di sakunya.
"Assalamualaikum" Faris membuka pintu,membawa dua buah kresek ditangannya.
"Waalaikumsalam" jawab Tanika.
Farispun duduk disamping Tanika,memberikan kresek berisi kan makanan padanya.
"Bu ini makanannya,aku beli martabak asin" Tanika tersenyum manis mengambil kresek itu.
Faris membalas senyuman manis Tanika.Lalu Faris mengalihkan pandangan ke arah kakek nya.
"Dan untuk kakek,aku udah bawa selimut yang hangat buat kakek"
Faris lalu dengan telaten,menganti selimut kakek.
Selesai menggantikan selimut kakek nya.Kakek Faris tersenyum menatap kedua cucu nya itu.
Faris juga tak lupa mengubah posisi kakeknya agar berbaring dengan nyaman di ranjang rumah sakit itu.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam.Setelah Faris duduk,Faris dan Tanika pun makan martabak yang dibawa Faris.
Tanika melihat Faris makan dengan lahap.
"Bu gimana enak kan martabak nya?" Tanya Faris lalu kembali mengunyah martabak ditangannya.
Tanika tersenyum manis,Tanika membersihan sisa makanan dibibir Faris yang memang nampak berantakan sekali,makan Faris itu, mungkin dia benar benar merasa lapar karena siang tadi,mereka memang belum sempat makan siang.
"Enak kok,kamu makannya jangan berantakan gini dong!! Kaya anak kecil" Tanika tersenyum manis melihat Faris yang belepotan dengan sedikit remahan martabak diujung bibir Faris,juga sedikit saus disana.
Tanpa Tanika sadar,ada sepasang mata yang memandang wajahnya saat ini.Ya,Faris, mata itu adalah milik Faris, sepasang mata coklat kehitaman yang memandang lekat padanya.
Tanika menaikan pandangan matanya,ke arah mata Faris,ia nampak kaget melihat pandangan Faris,yang seketika menghentikan makannya.Kini dua pasang mata itu,saling menatap penuh arti.Dan hanya hati mereka lah yang tahu ada getaran disana,juga jantung mereka yang berdegup kencang.
Tanika memalingkan wajahnya,dan menarik tangan nya dari wajah Faris, saat sadar dengan tingkah nya.
Tanika jadi nampak salah tingkah.
"Eee ..maaf ,abis kamu makan nya belepotan sih" Tanika berusaha mengalihkan perhatian.
Faris tersenyum melihat tingkah Tanika yang langsung menundukkan wajahnya.
"Gak apa-apa kok Bu,saya jadi tahu satu hal" Faris dengan tenang memakan lagi martabak nya.
"Maksud kamu apa?" Tanika mengeryitkan dahinya.
"Emmm nggak, nggak apa apa" Tapi, Faris memberikan ekspresi wajah yang jelas seperti menyembunyikan sesuatu.
Tanika mencubit pinggang Faris, setelah terlebih dahulu ia menyimpan martabak ditangannya.
"Aww ibu sakit,ibu suka banget sih nyiksa suami sendiri" Faris mengusap pinggang nya sendiri.
__ADS_1
"Biarin,kamu nya yang gak jujur sama saya" Tanika menyilangkan kedua tangan didepan dadanya,seolah sedang merajuk.
"Ibu jangan marah dong! nanti aku kasih tahu pas dirumah deh" Faris berusaha menenangkan Tanika.
Tanika menatap Faris, menurun kan kedua tangannya.
"Oke kalau gitu,janji ya?" Tanika masih menatap Faris.
"Janji" Faris masih setia dengan martabak nya.
Sekitar pukul 21.00 Tanika dan Faris pulang,karena kakek Farispun sudah tertidur lelap.
Dirumah, Tanika mengajak Faris duduk sofa.
"Ayo cepet kamu cerita!,kamu tahu apa tentang saya?Tanika masih mendesak Faris.
"Soal itu ya .. eee.. ibu lebih cantik kalau diliat dari Deket" Faris cengengesan , sebenarnya bukan itu yang ingin Faris katakan,tapi Faris tak mau mengatakannya.
Tanika langsung tersipu malu.
"Apaan sih kamu? Gak penting" Tanika berusaha menepis rasa malunya.
"Tu kan .. ibu lucu deh,kalau udah malu malu gitu" Faris tambah menggoda gurunya yang nampak malu itu.
Tanika lalu beranjak dari duduknya,ia tak ingin terlihat konyol dihadapan Faris.
Faris kaget juga ikut berdiri.
"Eh ibu mau kemana?" Tanya Faris saat Tanika mulai naik tangga.
"Tidur" jawab Tanika masih berjalan menaiki tangga.
Faris menahan tanyanya, dengan tersenyum.Faris tahu, gurunya itu memang tengah malu malu kucing.
Waktu berjalan begitu cepat.
Tibalah hari dimana Olimpiade dilaksanakan.Olimpiade dilaksanakan di Jakarta.Disebuah SMA ternama di Jakarta.
Tanika dan Faris pergi bersama Bu Mira dan Rama.Bu Mira sebagai wali kelas juga guru pembimbing Rama, sedang Faris tentu saja didampingi Tanika.
Mereka menaiki mobil milik Tanika menuju Jakarta.
Mereka bertiga duduk di kursi Kantin sekolah itu, sementara Bu Mira memesan makanan.
Bu Mira memesan empat porsi ketoprak,juga sebuah disert puding dan minuman nya memilih teh hangat saja.
Bu Mira kembali setelah memesan makanan.
"Oh ya Bu,gimana belajar nya Faris,ibu bisa menangani Faris kan?" Tanya Bu Mira pada Tanika yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Tanika menaruh ponsel nya di tas.
"Alhamdulillah,baik Bu.Doa kan saja semoga semua nya lancar" Jelas Tanika.
"Aamiin.oh iya kalian harus semangat ya!?" jawab Bu Mira,lalu menyemangati dua murid nya itu.
"Baik Bu" jawab serentak Faris dan Rama yang memang sedari tadi hanya diam, mungkin mereka memang merasa canggung jika harus berbicara seperti biasa.
Tak lama makanan pun datang.
"Ya udah makan dulu yu" Pinta Bu Mira.
Tak seperti Tanika yang langsung makan.Faris dan Rama malah saling tatap,karena sedikit canggung.
"kalian malah bengong? ayo makan,ini gratis buat kalian" jelas Bu Mira tersenyum manis.
"Gratis Bu?" Tanya Faris
"Iya" jawab Bu Mira.
"Terima kasih banyak Bu" ucap Rama,di ikuti Faris.
"Ya sama sama,ya udah makan dulu biar semangat" Bu Mira tersenyum ramah kepada dua muridnya nya itu.
Seusai makan.
"Bu Tanika, seperti nya kita bakal pisah setelah ini, soalnya kelas Rama ada dilantai atas,kelas nya digedung sebelah ,nanti ibu hubungi saya kalau Faris sudah selesai, semoga kita bisa selesai barengan,jadi bisa pulang bareng" jelas Bu Mira yang didengar kan seksama oleh ke tiga orang dimeja itu.
"Okey kalau gitu Bu" Tanika balas tersenyum pada Bu Mira.
Mereka pun berdiri keluar kantin.
__ADS_1
Tanika nampak berbincang dengan Bu Mira,berada beberapa meter dari arah Faris dan Rama,jadi Faris dan Rama kini bisa leluasa berbicara.
"Gila .. ram,gue gugup banget,mana gue cuma belajar satu bulan doang lagi" keluh Faris yang memang nampak gugup.
"Lo tenang aja,Lo pasti bisa" Rama menepuk bahu Faris meyakinkannya.
"Lo kan sering ikut lomba ram,Lo gak mungkin gugup,lah gue?" Faris masih merasa gugup, meski Rama mencoba menenangkan nya.
"Hehe .. gak gitu juga kali,Lo semangat ya!! Pasti bisa" Rama nyengir masih mencoba menenangkan Faris.
"Oke deh makasih" Faris mencoba tenang.
"Rama ayo!!" Bu Mira memanggil Rama dari tempat nya berdiri.
"Oke deh,gue samperin Bu Mira dulu,Lo semangat bro" Rama menepuk bahu Faris, sebelum berjalan menuju Bu Mira.
Faris menghela nafas.
"Huuuuu .. padahal jelas Rama nyemangatin aku,tapi masih aja aku gugup" Faris sedikit menundukkan wajahnya.
Tanika menghampiri Faris,ia merangkul Faris.
"Ayo !! lomba nya dimulai sekitar jam sembilan" jelas Tanika
"Bu.." Faris nampak menatap Tanika ragu
"Kamu kenapa?" Tanya Tanika khawatir,ia melepaskan rangkulan nya dari bahu Faris.
"Saya gak yakin Bu,apa mungkin saya bisa ya?" Faris nampak ragu.
Tanika tersenyum
"Udah kamu tenang aja,kita udah kerja keras, untuk hasil kita lihat nanti saja,kamu usaha dulu aja" Tanika tersenyum pada Faris.
Faris tersenyum manis,dan merasa lebih semangat setelah mendengar penuturan Tanika.
Faris yang notabene punya tinggi 5cm lebih tinggi dari Tanika,ia pun sedikit menundukkan wajahnya.Lalu tanpa diduga dia mencubit kecil pipi istri nya itu.
"Thanks my sweet heart" Faris mengoyangkan pipi Tanika,saat mencubitnya sedikit.
Tanika yang tadi sedang tersenyum,pipi nya langsung memerah.
"Ya udah ayo.. nanti kita telat" Tanika menarik tangan Faris.
Dari kejauhan,Rama yang baru saja menaiki tangga, mengeryitkan dahi karena merasa heran dengan keberanian Faris mencubit guru mereka,yang jika dikelas cukup tegas itu,bahkan sering kali menyentil dahi muridnya yang nakal.
"Rama ayo!!" Bu Mira yang berada dihadapan Rama, merasa heran melihat Rama yang malah mematung berdiri ditempat.
Rama menoleh pada Bu Mira.
"Eh iya Bu.." Rama mengikuti gurunya itu.
Perlombaan berlangsung selama sekitar 120 menit.
Tanika menunggu diluar, sekitar kurang lebih dua jam Tanika menunggu, perlombaan selesai,Faris dan murid lain keluar menghampiri guru pembimbing masing masing.
Faris mendekati Tanika ,yang sedang duduk memainkan ponselnya.
Tanika berdiri,saat Faris mendekati nya.
"Gimana soalnya? Ada kesulitan?" Tanya Tanika khawatir Faris mengalami kesulitan.
Faris tersenyum.
"Alhamdulillah Bu,sesuai yang ibu bilang,soalnya gak jauh beda sama soal yang dulu ibu kasih,cuma tadi ada sedikit kendala sama listrik nya,tadi padam sebentar" jelas Faris,yang memang tadi mati lampu sebentar, membuat para murid berhenti mengerjakan soal,yang memang dikerjakan di komputer.
"Alhamdulillah.." Tanika tak sadar ia langsung memeluk Faris, dia lupa dia sedang di sekolah,bahkan dalam olimpiade.
Para guru dan murid disekitar tempat itu,menatap heran dengan keakraban guru dan murid yang memang terlihat sangat dekat dan tak biasa.
"Bu ..ibu ini sekolah" Faris membisik kan itu ditelinga Tanika.
Tanika yang tadi sedang memeluk Faris,sambil menutup matanya,kini dia membuka matanya,lalu melepaskan pelukan ke tubuh Faris,juga ia melihat sekeliling yang sudah memandang mereka dengan tatapan heran.
"Eh iya .. duh saya kelepasan" Tanika bergumam dengan pelan.
Setelah Tanika melepaskan pelukan pada murid nya itu, pandangan orang sekitar pun berhenti menatap Tanika dan Faris,mungkin mereka berpikir itu hanya guru nya yang berlebihan.
"Ya udah Bu,kita ke kantin,nunggu Bu Mira sama Rama" Faris berkata dengan santai mengajak Tanika ke kantin, seperti tak menghiraukan Tanika yang cukup merah pipinya karena malu.
Tanika mengekor dibelakang Faris menuju kantin.
__ADS_1