
Pulang sekolah, di depan minimarket dekat sekolah.
Tid tid .. suara klakson dari mobil sedan mewah hitam milik Tanika, menyadarkan Faris dari lamunan nya.
Ia lalu mendekati mobil itu dan masuk ke dalam mobil.
"Ris .." ucap Tanika masih fokus dengan kemudinya.
"Hmm" Faris nampak malas menjawab Tanika,ia fokus melihat ke depan.
"Kita hari ini makan diluar,mau gak?" Tanya Tanika antusias.
Tanika memang menginginkan waktu berkualitas bersama dengan Faris saat ini.
"Gak usah Bu,saya gak enak badan,mau pulang aja" jawab Faris dengan nada datar,bahkan tidak melihat Tanika sedikit pun.
Tanika menggeryitkan dahinya,ia merasa aneh dengan sikap Faris yang tak biasa.Tentu saja,biasanya Faris ceria, dia selalu berusaha mencari topik pembicaraan ketika di mobil.
Tanika tak berusaha bertanya,karena Tanika tahu mungkin suasana hati Faris sedang tidak baik saat ini.
"Oh okey kalau gitu"
Tanika melajukan mobilnya menuju rumah.
Saat sudah sampai,Faris berjalan begitu saja ke kamar nya,bahkan tanpa melirik Tanika.
Tanika masih merasa heran,tapi mencoba sedikit faham muridnya itu sedang punya masalah mungkin.
Tanika lalu naik ke kamar nya, membersihkan diri juga melaksanakan sholat Dzuhur.
Ternyata Faris pun melakukan hal yang sama.
Seusai mandi,berbeda dengan Tanika yang langsung ke meja makan untuk makan siang,Faris lebih memilih untuk pergi ke halaman belakang rumah itu.Dia duduk di teras belakang rumah, menatap lurus ke depan.
"Hahhhh .." Faris menghela nafas.
"bahkan aku tak pernah memberikan apapun, padahal aku suaminya, sedang kan laki laki lain, dia bisa memberikannya parsel buah itu, meskipun hanya parsel buah tapi .. tetap saja aku merasa tak berguna,bahkan untuk jajan saja,aku minta padanya. Dan lagi gajian ku,kenapa malah dipersulit hanya karena aku tak masuk sehari" gerutu Faris.
Faris mengeluhkan diri nya sendiri yang tak bisa menjadi suami yang baik.Selama sekitar satu minggu, Faris bekerja paruh waktu,dan hal itu lah yang membuat nya sakit kemarin.Tapi sayang,gaji Faris selama bekerja satu minggu itu tak diberikan bos nya dengan alasan,Faris kabur, karena tak diizinkan pulang.
Faris pulang lebih awal saat itu dari tempat kerja nya disebuah restoran kecil yang jaraknya sekitar dua kilometer dari sekolah,ya ... selama satu minggu itu juga, dia tak dijemput Tanika,karena yang Tanika tahu Faris bukannya bekerja tapi belajar.
Saat pulang lebih awal itu,Faris kehujanan.Faris juga sengaja tak menjajankan uang nya di kantin,ia lebih memilih mendapatkan makanan dari teman kerja nya, yang memang baik di restoran itu.Uang jajannya itu ia gunakan untuk ongkos pulang pergi dari tempat kerjanya.
Tapi, berbeda dengan teman teman Faris direstoran,Bos Faris direstoran itu,tak segan memberi pelajaran pada pekerjanya yang melakukan kesalahan,bahkan saat hari Faris minta izin,Faris sebenarnya tak di izinkan pulang,tapi Faris kabur dibantu teman teman nya.
__ADS_1
Dan kemarin saat Faris berjalan menuju sekolah dari minimarket,Faris bertemu dengan salah satu temannya yang bernama Adam,dia teman Faris yang baik meski usianya memang lebih tua dari Faris,bahkan dia lebih cocok jadi ayah Faris.
Adam mengatakan pada Faris,kalau bos nya tak akan memberikan gaji pada Faris sebagai hukuman karena dia kabur.Sebenarnya bukan tanpa alasan Faris kabur,tapi dia sudah merasa tak enak badan,Faris sudah tak sanggup melakukan pekerjaan nya lagi.Apalagi ,resto itu sangat sibuk karena memang restoran yang baru dibuka,maka nya juga,Faris mendapatkan pekerjaan paruh waktu di tempat itu, restoran yang memang kekurangan pegawai.
Untung Adam memberikan sedikit kelegaan di hati Faris,dia mengatakan Kalau dia akan membantu Faris, dengan membujuk bosnya,agar memberikan gaji Faris.
Meski memang belum pasti gajinya akan diberikan,tapi Faris begitu berterima kasih kepada temannya itu.
Faris menghela nafas nya,dia menunduk kan wajahnya, memengang kedua lututnya.
Ia cukup lama dengan posisi itu, sampai sebuah suara, membuat Faris menoleh padanya.
"Faris .." Tanika memanggil Faris yang sedang menunduk kan wajahnya,duduk di ujung teras,sembari memegang kedua lututnya.
Faris menoleh,lalu menurunkan tangan dari lututnya.
"Bu Tanika" Faris lalu kembali memandang ke arah depan.
Tanika duduk disebelah Faris.
"Hei,kamu kenapa? Gak kaya biasanya kamu seperti ini,kamu ada masalah atau jangan-jangan kamu putus cinta lagi?" Tanya Tanika menerka nerka.
"Cemburu bukan putus cinta" jawab Faris.Faris kesal karena guru nya malah mengira dia sedang putus cinta,putus cinta bagaimana ?? Sedangkan wanita yang Faris cinta memang akan mengakhiri hubungan mereka.Kalau dibilang putus cinta,itu lebih seperti kesepakatan, bukan putus cinta.
"Oh .. cemburu,kirain putus cinta, biasa anak muda cemberut kaya kamu itu putus cinta." Jelas Tanika menebak sekenanya.
Tanika sedikit tertegun, maksud Faris apa? Apa maksud Faris pernikahan yang Faris lakukan dengan nya.
"Oh ya..kamu jangan cemburu gitu, mungkin kamu cuma salah faham" Tanika mencoba menenangkan Faris yang terlihat terluka saat itu,dia menepuk bahu Faris.
"Bu .. apa ibu bisa untuk menghentikan kesepakatan itu? Jangan buat pernikahan ini berakhir" Akhirnya,Faris melontarkan keinginan hatinya selama ini.
Tanika menghentikan elusan tangan dibahu Faris,ia berusaha menghindari pertanyaan Faris tadi,ia lalu berdiri.
"Makan siang udah siap,kamu makan dulu" Tanika melangkah kan kaki nya.
Tanika tak bisa menjawab pertanyaan Faris, sebenarnya, Tanika tak tahu harus jawab apa? Dia bimbang akan pernikahan ini.Tentu saja,awalnya Tanika sudah memutuskan untuk bercerai setelah olimpiade berakhir,Tanika tak ingin menikahi muridnya sendiri,ia tak akan sanggup jika harus membiayai muridnya.Itu karena,Faris memang belum bekerja,Faris adalah pria yang diluar ekspektasi Tanika,Tanika menginginkan seorang pria yang sudah mapan dan tentunya menafkahi lahir batin dengan baik.
Tapi, setelah sekitar dua minggu bersama Faris,hati Tanika mulai tersentuh,ia mulai memiliki rasa pada pemuda itu.
Maka dari itu,Tanika lebih memilih menghindar dari pada harus menjawab pertanyaan yang Tanika sendiri tak punya jawaban nya.
"Saya mohon !! Saya mohon ibu jangan akhiri pernikahan ini.Saya berjanji akan menjadi suami yang baik menafkahi ibu lahir dan batin" Faris tiba tiba memeluk Tanika dari belakang,ia mengucap kalimat itu tepat ditelinga kanan Tanika,ia menaruh dagunya dibahu Tanika.
Tanika menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Meski pun sekarang saya masih anak SMA,tapi apa yang saya katakan saat ini, serius Bu" Faris semakin mengeratkan pelukannya nya.
Tanika kembali merasakan jantung yang seakan ingin copot,juga perasaan tak karuan dalam hatinya.Nafasnya mulai terengah-engah saat Faris mulai menciumi leher Tanika dibalik kerudung.
Faris mengelus lengan Tanika sampai bahu, lalu memutar tubuh Tanika agar menghadap ke arahnya.
Kini mata Faris menatap jelas, wajah cantik gurunya itu.
Faris memegang kedua rahang Tanika,ia menatap Tanika dengan tatapan penuh keyakinan.
"Ibu percaya sama saya,saya bakal bahagia kan ibu,saya akan berusaha Bu" Tanika menatap kedua bola mata hitam kecoklatan itu.
Tanika masih tak berkata apapun,tentunya,karena dia tak punya jawaban.
Faris menarik lembut wajah Tanika,ia lah mencium lembut bibir Tanika.
"Mmm ..mmmhhh ..mmmhhh" Faris terus mencium Tanika,gerakan nya kini semakin ganas diiringi dengan elusan dikedua pipinya Tanika
"Mmmhhh ..mmhhh" Faris melepaskan perlahan ciuman itu,ia mengatur nafasnya, menatap Tanika yang juga mencoba mengatur nafas, karena sempat kesulitan bernapas akibat ulah Faris padanya.
Faris lalu memeluk Tanika dengan lembut.
"Saya janji Bu,saya akan bertanggung jawab sampai akhir, dengan apa yang telah saya lakukan selama ini" Jelas Faris,karena Faris berpikir tindakan Faris yang hanya mencium Tanika itu, tindakan yang harus ia pertanggungjawaban kan,ia tak ingin meninggalkan wanita yang pernah ia cium.
Tanika hanya diam,bahkan tak membalas pelukan Faris, Tanika justru malah mendorong Faris perlahan.
"Saya akan pikirkan masalah itu" Tanika berbicara setelah berhasil lepas dari pelukan Faris.
"Sekarang kamu makan siang dulu,kamu harus minum obat lagi, kesehatan kamu belum pulih seutuhnya" Tanika lalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Faris menatap Tanika.Tentu saja Faris masih berharap Tanika akan mengakhiri kesepakatan itu.
Saat belajar.Tanika duduk disamping Faris yang sedang mengerjakan soal dibuku nya.Mereka juga tak membahas permasalahan tadi siang,kini mereka belajar seperti biasanya.
"Oh iya ris.. soal cemburu itu,kamu cemburu sama siapa sih?" Tanya Tanika sembari membaca buku ditangan nya.
Faris mendongkang wajahnya melihat Tanika.
Dia menghela nafas perlahan.
"Penyihir" jawab Faris menyamakan Pak Ilham sebagai penyihir,karena sama sama memberikan buah apel seperti penyihir.Bedanya,dalam Putri salju penyihir hanya memberi satu apel beracun yang membunuh putri salju.Sedang kan,Pak Ilham memberi parsel buah buahan yang menumbuhkan rasa cemburu.
Faris kembali mengerjakan soal dibuku nya.
Sementara Tanika mengeryitkan dahinya,tak mengerti.
__ADS_1
"Penyihir??" Pikir Tanika, bingung.