
Drtttt drtttt .. ponsel Tanika bergetar,tanda panggilan masuk.
Tanika masih bersimpuh duduk,tak berdaya,ia masih menetes kan bulir bening, sesekali ia susut dengan telapak tangannya.
Drrrtttt Drrrtttt .. ponsel masih terus bergetar,Tanika masih mengabaikannya.Rasanya,Tanika tak peduli tentang apapun,ia hanya perduli dengan Faris juga ibu mertua nya.
Apa ini semua? Beginilah akhirnya? Kisah yang selama hampir satu tahun ia bina,harus kah berakhir dengan perceraian? Ya, perceraian,kata paling menyakitkan,paling menyayat hati dan jiwanya.Bagaimana mungkin,ia bercerai dengan Faris, sementara kini telah bersemayam buah cinta mereka dalam rahim Tanika.Sungguh berat pilihan yang harus Tanika pilih,bagai maju kena mundur kena,pilihan manapun yang ia pilih,tak akan pernah menguntungkan baginya.
Drrrtttt Drrrtttt ..Tanika mengusap air matanya,meraih ponsel disaku bajunya,ia mencoba tenang menjawab telpon itu.
"Hallo, Assalamualaikum." Sapa Tanika,menahan tangisnya.
"Waalaikumsalam,Bu.Saya sama temen temen mau pulang,ibu dimana?" Tanya Rama,orang diseberang telpon itu.
Tanika tak menjawab,rasa sakit yang menjalar dihatinya,seakan mengunci mulutnya untuk berucap,sakit .. ya hanya itu yang ia rasa, mendengar Rama yang berbicara, membuat nya teringat Faris.Tanika menutup mulutnya,menahan getir hati yang terluka,juga tangis yang akan pecah,jika dia tak menahannya.
"Bu ..Bu Tanika disanakan?"
"Hmm." Tanika menjawab dengan deheman,matanya tak bisa di ajak kompromi,derai bulir bening terus menerus menelusuri,turun dipipinya.
"Boleh kan kami pulang? Faris,dia tidur Bu, kayanya dia ngantuk,mungkin efek obat ya Bu?" Rama masih terdengar meminta izin pulang.
Tanika susah payah menahan tangisnya,ia menjawab dengan setengah menelan salivanya.
"Ya.. kalian boleh pulang,ibu kesana .. sebentar lagi."
"Ya udah,maaf ya Bu, gak bisa lama,saya mau cek restoran soalnya,saya tutup ya Bu, Assalamualaikum."
Tutttt ..
"Waalaikumsalam." Tanika menurunkan perlahan ponsel yang menempel di telinganya.
"Hiks ..hiks.. hiks .." pecah sudah bulir bening yang mengembang dipelukan mata Tanika,kini dia menagis tersedu sedu, "Fariss ..." Lirihnya, memegang erat ponsel,seakan mencurahkan rasa sakit pada ponsel itu.
°°°
Tanika melajukan mobil,menuju rumah sakit,ia segera masuk ke dalam rumah sakit,
Ceklek,
Tanika membuka pintu kamar rawat Faris,benar yang dikatakan Rama,Faris sudah tertidur pulas disana.
Tanika duduk disamping Faris yang tidur begitu nyenyak,Tanika kira.
Pria itu,nampak tenang dengan tidurnya, seulas senyum getir terlihat diwajah Tanika,senyum yang menandakan begitu sakit nya dia saat ini.
Faris,pria yang paling dia cintai,haruskah ia meminta cerai dan berpisah dengan nya?
Clak .. kembali,air mata itu jatuh dengan sempurna dari sudut mata Tanika,ia lalu menghapusnya.
Tanika mengelus lembut rambut Faris,lalu turun mengelus pipinya.
"Sayang, kamu cepet sembuh ya,kita pulang.. " Tanika menghentikan kalimat nya,saat kembali sesak itu menyeruak didada. "Ada kejutan buat kamu,sayang .. aku hamil,kita bakal punya Dede bayi sekarang...kamu seneng kan?"
Clak .. air matanya kembali menetes,tak sanggup ia menahan itu,masih dengan tangan yang mengelus lembut pipi suaminya,Tanika kembali berbicara,seolah Faris sedang mendengarkan nya saat ini.
"Kamu mau kasih nama apa sayang?..buat anak kita?" Tanika beralih memengang tangan Faris,lalu mencium nya begitu lama, diiringi air mata yang jatuh mengenai tangan itu.
"Faris .. sayang, jangan tinggalin aku ya,kita besarin anak kita bareng bareng.. hiks hiks ...Sayang .. "
Beberapa saat kemudian,
__ADS_1
Faris mengerjapkan matanya perlahan,mencoba membuka matanya,terasa jelas bagi Faris,tangan Tanika yang mengenggam erat tangan nya,Faris melihat Tanika.
"Sayang .." lirih Faris, melihat istrinya yang tengah menagis tersedu sedu.Faris mencoba duduk,Tanika yang melihat itu, langsung membantu Faris untuk duduk.
Faris masih menatap istrinya,matanya sembab dengan hidung yang juga memerah,khas orang yang menagis.Faris mengelus lembut pipi Tanika, menghapus bulir bening yang jatuh disana.
"Sayang .. kamu kenapa? Kok nangis,aku udah sembuh kok,jangan nangis.."
Tanika yang mendengar penuturan Faris yang begitu lembut,ia segera menghambur memeluk erat suaminya itu.Takut,ya ..Tanika sangat takut kehilangan ayah dari janin yang dikandungnya itu.Tanika menangis tersedu sedu dipelukan Faris.
Faris,jelas tak mengerti alasan istri nya menangis,ia hanya mampu membalas pelukan Tanika, mengelus lembut punggungnya,juga sesekali ia cium pucuk rambutnya.
"Sayang,kamu jangan nangis!! Aku udah sembuh, besok aku pulang kan..udah shhhttt .. jangan nangis ya!"
"Aku sayang kamu Ris." Lirih Tanika,dalam dekapan Faris.
Cup,
Faris mencium pucuk rambut Tanika.
"Iya sayang .. aku juga sayang sama kamu."
Faris memeluk penuh kasih sayang yang begitu tulus,pelukan yang benar benar menghangatkan Tanika, pelukan yang membuat Tanika berharap.. Jangan pernah lepaskan pelukan ini .. jangan pernah ..
°°°
Keesokan harinya,mobil Avanza milik ayah Tanika sudah siap terparkir didepan rumah sakit,siap menjemput Faris juga Tanika yang akan pulang ke rumah hari ini,karena Farispun sudah tak harus diperban lagi, kondisinya sudah pulih saat ini.
Disepanjang perjalanan pulang,tak ada perbincangan antara Tanika dan Faris,hanya terdengar suara ayah juga ibu yang bertanya kondisi Faris,namun setelah itupun tak ada lagi percakapan.
Sampai rumah,ayah dan ibu Tanika, langsung berpamitan.
Sore pun berganti malam,malam yang begitu indah,karena bertabur bintang,tanpa ada awan kelabu yang menutupi keindahan nya.
Ceklek,
"Sayang .." Faris menaruh telapak tangannya dibahu Tanika dengan lembut.
Tanika yang menyadari kehadiran Faris, dengan cepat menghapus air mata nya,
Faris sedikit heran, melihat air mata yang memang sedari tadi mengalir dari mata Tanika.
"Sayang kamu nangis?" Faris menarik halus dagu Tanika.
Kini kedua pasang mata itu saling menatap, begitu dalam Tanika menatap suaminya itu, terpancar jelas rasa sakit dimata Tanika.Tatapan kerinduan yang seakan menuai kalimat jangan pernah pergi tapi kita tak akan bisa bersama lagi.
Clak ,bulir bening itu kembali meluncur dipipi mulus Tanika, dengan sigap Faris menghapus nya,seakan ia ingin menghapus semua rasa sakit itu.Ya,rasa sakit Tanika.
Tanika mendekap tubuh Faris,seolah ia tak mau pria dihadapannya itu pergi meninggalkan nya.
"Hiks hiks .. Faris.. jangan pernah tinggalin aku .." lirih Tanika dalam pelukan Faris.
Faris sontak saja langsung membalas pelukan itu,mencium pucuk rambut istrinya, yang saat ini tak terhalang apapun.
"Kenapa kamu ngomong gitu sayang.." elusan lembut tangan Faris, menelusuri rambut Tanika. "Aku gak bakal ninggalin kamu.. lihat aku sayang.." Faris mendorong tubuh Tanika,agar mereka bisa saling bertatap mata. "Aku disini,aku gak akan pergi,aku bakal selalu ada buat kamu." Faris menatap lekat,kedua mata yang kini kembali meneteskan bulir bening.
Tanika kembali memeluk Faris,begitu erat,tak ingin suasana itu hilang dihidup nya.
"Aku sayang kamu Faris."
Faris memeluk Tanika, berulang kali dia mencium pucuk rambut Tanika, meyakinkan Tanika,dia tak akan pernah pergi dan akan selalu ada untuk istrinya itu.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu,kamu jangan nangis lagi,aku gak pergi,aku disini."
Cup,
Faris memeluk erat istrinya itu,suasana yang begitu indah, kesempatan yang mungkin memang tak akan pernah terulang jika esok hari terjadi.
°°°
Pagi yang begitu indah,tapi entahlah .. mentari pagi nyatanya tak begitu berkompromi dengan hati Tanika,hati nya nyatanya tak merasakan hangat ataupun cahaya mentari pagi itu.
Sedari bangun pagi,Tanika tak berbicara sepatah katapun,bahkan Faris begitu merasa heran,hingga detik itu.
Tanika yang sedang memandang kosong keluar jendela,entah apa yang dilihatnya,mungkin sebuah masa depan tanpa Faris atau sebuah kata dan kalimat perpisahan.
Tanika merasakan dua tangan mendekapnya dari belakang,tangan yang memang Tanika tahu adalah tangan Faris, kehangatan itu, selalu dapat Tanika rasakan,kasih sayang Faris selalu tercurah dalam setiap tindakannya pada Tanika.
Pelukan yang biasa nya membuat nya tertawa,tapi kini pelukan itu seakan tusukan ribuan jarum dihatinya, kenyataan jika pelukan itu akan hilang adalah rasa sakit yang tak bisa dipungkiri.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit hmm?" Tanya Faris, begitu lembut,hingga kembali membuat Tanika menitihkan air mata.Kelembutan itu? Akan hilang dari pendengaran Tanika.
Tanika menghela nafas,helaan yang begitu berat,sulit rasanya untuk berucap, kalimat yang akan Tanika ucapkan adalah kalimat yang memang akan menusuk hati keduanya, menghancurkan nya berkeping keping.Ia berulang kali menelan saliva yang serasa membuat tenggorokan nya semakin berat mengeluarkan kalimat itu.
"Aku mau kita cerai!" Akhirnya, kalimat yang sangat menyakitkan hati Tanika, kalimat itu terlontar begitu sempurna,bahkan dengan begitu tegas.
Membuat Faris,perlahan melepaskan pelukan nya.
Faris merasa sekujur tubuhnya bergetar,tak percaya,jelas adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Faris,ia berjalan mundur, perlahan lalu berhenti,menyangkal permintaan Tanika.
"Apa maksud kamu? Kamu bercanda kan?" Tanya Faris, begitu gemetar seakan dia memiliki kesalahan yang membuat Tanika ingin berpisah dengan nya.
Tanika menghapus air mata nya ,cepat, tanpa Faris sadari.Ia memutar badannya, melihat kedua mata Faris, menguatkan diri,agar air mata itu tak jatuh.
"Aku gak bercanda ris,aku mau kita cerai,talak aku sekarang ris!!" Tegas Tanika,menahan sakit dihati, dengan cepat membungkam mulut,agar tak terdengar gemeter dibibirnya,yang memang dengan susah payah mengatakan kalimat paling mengerikan dihidup nya.
"Tapi kenapa?"
Tanika menutup mata sesaat, membuat bulir bening dipelupuk matanya terjatuh.
"Karena aku gak cinta sama kamu Ris,aku benci sama kamu Ris!! kamu tahu? Kamu itu gak pernah cocok buat aku,kamu itu kekanak Kanakan,kamu bandel,kamu egois,kamu manja.Asal kamu tahu ris!! Aku nikahi kamu hanya sebatas kasihan,gak lebih,aku kasihan karena kamu miskin,kamu gak punya orang tua,kakek kamu juga meninggal,hanya itu ris! gak lebih!! aku rasa.. ini saat nya kita pisah,karena aku muak dengan ini ris,aku cape ..liat kamu yang seperti itu, selalu egois kekanak Kanakan,aku benci ris,aku mau kita cerai ris,tinggalin aku,pergi ris ..!!"
Tanika terkulai ,terduduk lesu, setelah susah payah menjelekkan jelekkan Faris, berharap dengan itu Faris mau menceraikannya,meski hatinya bertolak belakang dengan semua kalimat dan kata katanya itu.Tanika mengenggam erat, ponsel yang sengaja ia pegang, untuk merekam setiap kata juga lontaran kalimat cerai dari Faris.
"Hiks ..hiks .." Tanika tak bisa menahan lagi,kini dia menagis tersedu sedu.
Sedang Faris,dia begitu terpukul dengan lontaran kalimat Tanika, kejelasan yang memang tak pernah Faris duga sebelumnya.Kejelasan,yang menjelaskan semuanya.
"Air mata itu? Apa sebegitu terluka kah Tanika,akan kehadiranku disini.." lirih hati Faris,dia masih mematung dihadapan Tanika.
Faris ikut berlutut, memegang kedua bahu yang memang bergetar menahan tangis yang tersedu sedu.
Faris memengang bahu dengan erat.
"Tatap aku,katakan kalau kamu gak cinta sama aku Tan?!" Pinta Faris, memastikan kebenaran ucapan Tanika.
Tanika menghempaskan tangan itu dengan kasar,ia menatap lekat tepat dikedua bola mata Faris.
"Gak!!... aku gak pernah cinta kamu,aku benci Ris!!" Tanika berteriak seolah ingin Faris yakin. "Sekarang talak aku ris!! Apa kamu bener bener puas liat aku menderita ris hah?! ku ingin kita pisah ris,aku mohon!! Hiks ..hiks.." Deraian air mata,semakin menjadi,jatuh tanpa henti,Tanika kembali menunduk,menahan getir hati nya.
Deg,.. seakan beribu pisau menusuk hatinya,bumi seakan goyah,jantung seakan terhenti,nafas yang kini tak tersendat,hati yang tergoncang,cinta yang seakan tembikar yang pecah jatuh berhamburan, hancur .. begitu lah hati Faris,rasa yang menyatakan cinta nya bertepuk sebelah tangan,semua adalah palsu,semua kasih sayangnya,ternyata tak pernah terbalas ,hanya semu dan tipuan .. Nyatanya Tanika adalah orang yang ia hancurkan karena kehadiran nya,Kenapa ?? Baru saat ini dia berkata,disaat cinta tumbuh begitu dalam,hingga relung hati terdalam,hati Faris kini hancur, mengetahui cinta nya begitu menderita selama kehadirannya.
Faris mundur selangkah demi selangkah,hati yang begitu berat mengucapkan kalimat terlarang,kini ia bersusah payah mengucapkan kalimat itu,tak ingin cinta nya semakin terluka ia memilih mundur dan pergi.
__ADS_1
"Baik,kalau itu mau kamu,maaf aku memberi luka begitu banyak dihatimu,mulai detik ini,aku akan pergi dan hari ini juga,aku ceraikan kamu Tanika." Faris segera berbalik ,tak ingin air mata itu jatuh, dihadapan orang yang ia anggap telah hancur berantakan karena kehadiran nya.