Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Benarkah?)


__ADS_3

"Sudahlah Tan,semua bukan kesalahanmu." Galang mencoba menenangkan wanita yang duduk disampingnya itu.


Tanika menghela nafas panjang, terdengar seperti beban berat yang memang ia tahan sendiri.


"Terima kasih mas,karena Mas Galang gak nyalahin aku atas kepergian Ilham,meski memang apa yang ditulis disurat itu benar." Tatapan Tanika ,mengarah ke satu arah ,entah kemana itu,tatapan yang seakan menghindar dari kesedihan.


Galang berpura pura tersenyum,senyum yang sebenarnya mengisyaratkan kemenangan akan kelicikan nya.


"Gak Tan,semua memang bukan salahmu,itu sudah takdir,selain itu, untuk karma yang kamu bilang,itu hanya sebuah kebetulan." Sudut bibir Galang yang tersenyum sinis, menandakan begitu senangnya dia dengan rencana yang telah berhasil ia lakukan.


Tanika tidak melihat itu,justru ia merasa lega ada orang yang peduli dan berusaha menenangkan nya.Tanika mencoba tersenyum, menoleh melihat Galang.


"Terima kasih sekali lagi mas,maafkan aku."


Galang menarik satu sudut bibirnya.


"Tidak apa Tan,kamu gak salah."


Tanika berdiri dan mengambil tas jinjing hitamnya,


"Kalau begitu,aku pulang mas.Terima kasih sudah mendengar kan ceritaku."


Tanika tersenyum, sebelum beranjak pergi, meninggalkan Galang.


Galang tersenyum sinis, setelah kepergian Tanika,ia menyeringai,begitu senang bisa mengelabui Tanika,ia mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


"Lakukan perlahan,pasti kan dia hancur perlahan!"


Galang kembali memasukkan ponsel ke saku celana, setelah dia berdiri.


"Ini semua belum berakhir Tanika Kusuma Pratama,deritamu tidak akan berakhir disini.Lo berani hancurkan hati adik gue ,itu berarti Lo membuat kehancuran buat diri Lo sendiri."


°°°


"Benarkah?" Tanya Juan dibalik telpon itu.


"Iya pa,aku setuju,tapi aku ingin mama ikut." Jelas Faris,yang akhirnya setuju ikut Juan ke Singapura.


Alasan Faris setuju adalah sudah jelas,karena dia sudah merasa tak pantas dan menjauh adalah jalan yang ia pilih.Faris mengira dengan menjauh rasa itu akan hilang dan tentu akan membuat Tanika lebih bahagia.Sulit memang,tapi tak ada pilihan,jika dia tetap disini,maka melupakan Tanika akan lebih sulit baginya.


Dibalik telpon itu,Juan begitu senang,ia tentu tak akan menolak akan permintaan anaknya itu.


"Ya nak,tentu kamu dan mama mu akan ikut papa ke Singapura,kalau begitu besok papa akan urus semuanya dan lusa kita berangkat."


"Baik pa."


Tutttt .. panggilanan pun diakhiri.


Faris menatap layar ponsel yang masih menyala itu, sungguh konyol wallpaper ponsel itu adalah foto nya bersama Tanika.


Faris menghela nafas, dengan cepat ia menghapus semua foto kebersamaan nya dengan Tanika.


"Aku akan mencoba melupakan mu Tanika." Gumam Faris,sembari menaruh ponselnya.


°°°

__ADS_1


"Siapa yang akan pergi ma?" Tanya Tanika kepada sang ibu yang duduk disampingnya.


Pagi ini Faris datang ke rumah Tanika berpamitan pada ibu dan ayah Tanika,ia mengatakan tak ingin menemui Tanika,dia hanya menitip sebuah surat untuk Tanika yang ia berikan pada mantan ibu mertua nya itu.


"Faris akan pergi Tan,ibu tidak mengerti,tapi dia tak ingin ketemu kamu,dia datang pagi tadi saat kamu pergi ke pasar." Jelas Ibu Tanika,menatap sedih.


"Pergi kemana Bu?" Tanya Tanika cemas.Tentu saja, Tanika tak ingin Faris pergi jauh,meski memang dialah yang mengusir Faris,tapi hati Tanika tak mengusir Faris dalam hatinya.


Ibu Tanika sedikit menunduk,dia tahu anaknya begitu mencintai Faris,ia turut sedih dengan Kepergian Faris,ibu Tanika juga takut Tanika tak menerima Kepergian mantan suaminya.


"Nak .." Ibu Tanika mengelus lembut punggung tangan Tanika. "Ibu mengerti,Faris dia pergi untuk sekolah di luar negeri,dia tidak bilang apa-apa lagi,dia hanya menitip kan surat ini untuk mu." Ibu Tanika menyodorkan sepucuk surat,yang langsung diambil Tanika.


Tanika tak langsung membuka surat itu,ia menatap sejenak sang ibu.Ibunya malah berdiri,seakan dia mengerti sang anak butuh sebuah privasi.


"Ibu akan buat makan siang,ibu harap kamu bisa sabar, mungkin ini sudah seharusnya terjadi." Satu tangan sang ibu mengelus lembut bahu Tanika.


Ibu Tanika keluar kamar itu,ia sedikit menitihkan air matanya,yang dengan cepat ia hapus.


Tanika tertegun sesaat, sebelum akhirnya membuka surat itu perlahan dan membaca nya.



Clak,


Air mata meluncur dipipi Tanika,Tanika merasa sesak yang mendalam, saat membaca kata demi kata yang jelas menusuk hati bagian terdalam.


"Faris.." lirih Tanika,memeluk kertas itu.


"Sanggup kah aku melalui ini,sakit sekali ris, kebodohan apa yang aku lakukan? Aku yang mengusirnya,tapi aku tak rela kehilangan mu." Batin Tanika,tak rela dengan semua yang terjadi,bahkan kini Faris pergi menjauh sejauh jauhnya.Entahlah .. mungkin benar dia tidak akan bertemu Faris lagi.


°°°


"Ris ..!!" Teriak orang itu, membuat ke empat orang itu berbalik.


Dua orang anak remaja berlari mendekati Faris.Ia adalah Rama dan Banu.


"Ris,Lo bener bener mau pergi Ris?" Tanya Banu dengan nafas terengah-engah,karena habis berlari tadi.


"Iya ban,gue pergi,Rama benar,gue harus coba bahagia dan lupain Tanika." Senyum yang dipaksakan Faris terlukis diwajah tampannya itu.


Rama menepuk bahu Faris.


"Lo pasti bisa Ris!! Gue yakin,Lo gak akan nyerah karena cinta." Rama meyakinkan temannya itu.


Faris membalas dengan senyuman.


"Thanks Ram,gue juga minta maaf karena gak bilang saat gue mau pergi."


Banu meninju perut Faris, membuat Faris sedikit meringis,tapi ia terkekeh mendapat perlakuan dari temannya itu.


"******* Lo!! Lo emang temen yang gak peka,kalau kita kangen gimana? Lo emang gak mau liat akad gue sama Bu Sisil?!" Banu nyerocos begitu saja,seakan tak terima sahabat baiknya itu pergi.


Faris dan Rama terkekeh.


"Gue bakal selalu kirim email sama kalian,dan Lo ban .. Lo tinggal kasih undangan buat gue, kalau Lo emang bener bener bisa dapetin Bu Sisil." Jawab Faris yang menimpali pertanyaan konyol Banu.

__ADS_1


"Udahlah !! manusia halu ini,jangan Lo dengerin dia udah jadi bucin sekarang." Rama menepuk bahu Banu, membuat Banu menatap tak suka. "Ya udah Lo harus berangkat kan?" Tanya Rama, mengalihkan pembicaraan.


"Ya Ram Ban,gue harus berangkat,Lo berdua yang akur disini,gue bakal ngerasa kehilangan kalian disana,Lo berdua adalah teman terbaik gue."


Rama dan Banu tersenyum simpul,Faris berbalik dan melambaikan tangannya.


"Gue berangkat, Assalamualaikum." Ucap Faris sembari berjalan menjauhi mereka,diikuti ke tiga orang yang juga tersenyum kepada dua anak remaja itu.


"Waalaikumsalam." Jawab bersamaan Banu dan Rama.


°°°


Satu setengah tahun setelah perpisahan :


Kehidupan Tanika menjadi semakin sulit dan rumit,ayahnya dipecat dari perusahaan.Membuat ayahnya terpaksa bekerja,hanya dengan membantu istrinya datang di toko kelontong milik mereka,bahkan Tanika terpaksa melahirkan bayinya dengan uang hasil menjual rumah nya yang dulu.


Belum lagi, Rista bayi Tanika,mengalami kebutaan sejak lahir,karena kelahiran nya yang prematur, membuat Tanika berupaya segala cara untuk menyembuhkan Rista,tapi hasilnya nihil, kebutaan itu nyatanya tak bisa diobati.


Tanika menghabiskan banyak uang untuk mengobati Rista,hingga ia tak punya lagi harta untuk dijual.


Tanika sudah pasrah dengan semua ini,hingga saat kini,Rista yang tak bisa melihat hanya bisa Tanika tuntun untuk tetap bertahan hidup dalam gelapnya penglihatan.


Hari itu,Rista kecil mengalami panas,demam yang tinggi.Tanika sangat bingung harus apa.Ia sudah banyak kehilangan harta bahkan masih memiliki cicilan uang di Bank.


Keadaan Tanika saat ini,memang tidak lain tidak bukan,karena ulah Galang yang memang ingin menghancurkan Tanika perlahan ,mulanya dia memecat ayah Tanika diperusahaan yang kebetulan adalah perusahaan milik ayahnya Galang.


Bagai sebuah keuntungan.Keadaan Rista yang buta,seolah dimanfaatkan Galang untuk menghancurkan kehidupan Tanika.


Dan rencana Galang,belum berakhir sampai disitu,sejak satu setengah tahun,dia selalu mengawasi Tanika.Hari ini adalah hari yang tepat bagi Galang, dengan sengaja pria itu datang ke rumah sakit tempat Rista dirawat,ia sengaja datang kesana untuk menawarkan kesempatan pada Tanika.


"Tan .." Galang menghampiri Tanika yang tertunduk dikursi depan ruang perawatan itu.


Tanika mendongkang wajahnya, melihat sosok Kaka dari sahabat nya.


"Mas Galang?" Tanika melihat Galang yang ikut duduk disampingnya.


"Aku lihat kamu begitu sedih Tan,apa ada masalah?" Tanya Galang melirik Tanika.


Tanika kembali menunduk,


"Ya mas,karma itu benar benar terjadi,semua nya terasa begitu sulit sekarang,anakku dirawat dirumah sakit ini dan aku tidak punya biaya untuk meneruskan perawatan nya." Kesedihan nampak jelas diwajah Tanika yang menunduk.


"Bukankah aku sudah bilang semua adalah takdir,mungkin pertemuan kita juga adalah takdir,"


Tanika menatap pria yang menatap lurus ke depan itu,ia tak mengerti akhir dari penuturan pria itu.


Galang kembali melanjutkan penuturan nya.


"Aku akan membantu biaya perawatan anakmu itu." Lanjut Galang kemudian,yang kini menatap Tanika,dengan wajah pura pura tulus.


"Benar kah mas?" Tanika begitu senang,tapi ada sedikit kecemasan dihatinya,ia merasa tak mungkin Galang membantu nya tanpa sebuah imbalan.


"Ya,tapi aku punya syarat .." Kini Galang begitu serius dengan ucapannya.


Tanika menautkan alisnya.

__ADS_1


"Syarat??.."


__ADS_2