Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Ikatan)


__ADS_3

Luar negeri,kata yang diungkapkan Galang pada kedua orang tua Tanika,tapi nyatanya bukan tempat itu yang mereka tuju.


Tanika Kusuma Pratama, Wanita itu dibawa ke sebuah Villa di daerah puncak gunung,Villa yang memang begitu besar,tapi tak ada penghuni disana.Tanika bahkan diikat dan disumpal mulutnya.


Braakkk ..


Galang melempar Tanika dikamar yang berdebu itu,Galang membuka ikatan yang menutupi mata juga mulut Tanika.


"Ahh .. " Tanika mencoba bernafas,mengatur nafasnya yang sempat tak hampir terhenti tadi,mata Tanika menatap tajam dua orang dihadapannya.


Orang itu tak lain Galang dan Siska yang sudah begitu arogan berdiri didepan Tanika.


"Kalian mau apa hah??!!" Tanya Tanika,meronta,karena tangan yang memang diikat kuat.


Siska tertawa jahat,


"Haha .. Lo emang pura pura b e g o atau emang b e g o beneran?! Lo disini karena kesalahan Lo sendiri,Lo bakal rasain rasa sakit yang belum pernah Lo rasain sebelumnya."


Byurrr ..


air es dalam ember itu,Galang siramkan ke tubuh Tanika yang terkulai lemas,Tanika seketika menggigil,ia merasa beku dan tak bisa berkata apa-apa.


Traakk ..Brukkk


ember itu dilempar sembarangan tempat.Galang dan Siska pun keluar dari kamar itu, dengan senyum kemenangan.


°°°


Selama hampir dua tahun,Tanika berada ditempat itu,Galang dan Siska memang tak membunuh nya,tapi menyakiti nya perlahan, memperlambat kematiannya, membuat Tanika merasakan sakit yang teramat sangat.


Hari itu,Tanika tengah merasa begitu kelaparan.


Trek.. pintu kunci terbuka,Tanika dengan mata sayu dan bibir pucat, berharap itu adalah Siska yang membawakan makanan atau pakaian untuk nya,karena memang selama ini,Siska adalah orang yang menyediakan makan juga pakaian untuk Tanika.Dia hanya memberikan makanan yang hampir basi juga pakaian yang sudah koyak, Wanita itu bahkan tak segan memukul atau menampar Tanika,jika ia memberontak atau melawan.


Siska membuka pintu itu, membuat dua mata penuh harap itu, menunjukkan binar bahagia,keadaan yang menyedihkan terlihat pada diri Tanika, pakaian yang lusuh,rambut yang hampir tak terurus,tubuh kotor juga wajah yang bagai mayat hidup.


"Ni .." Siska melempar sebungkus roti tawar, hampir kadaluarsa kehadapan Tanika.


Tanika dengan cepat mengesot,menyeret tubuhnya yang diikat tangannya,ia langsung mengambil roti itu dengan mulutnya.


Siska tertawa,ia begitu senang bisa mengubah Tanika yang berwibawa menjadi wanita paling menyedihkan bahkan bak orang gila.


Tanika langsung memakan roti itu dengan lahap,merasa sudah tak sanggup menahan lapar yang hampir ia lewati selama hampir dua hari.


"Lo tahu Tanika? Keadaan Lo sekarang?" Siska mendekat kan wajahnya dihadapan Tanika yang sedang makan."Lo udah kaya orang Gila." Siska mengatakan itu penuh penekanan.


"Cuihhh .." Tanika dengan amarahnya,meludahi wajah Siska,ia begitu marah atas segala penghinaan wanita b r e n g s e k itu.


Plakkk ..


Siska menampar Tanika,hingga ia terhunyung ke samping.Tanika masih menatap Siska dengan tajam,matanya yang memerah juga rambut yang menghalangi sebagian matanya.


"B r e n g s e k !!!" Siska mengelap air ludah yang mengenai wajahnya.


"Lo cewek gak tahu di untung!! Lo masih gue izinin hidup,tapi Lo masih berani lawan gue hah!!?" Siska mencengkram erat dagu Tanika.


Wanita itu meneteskan air mata nya,karena cengkraman yang begitu kuat dari tangan Siska ,juga kuku kuku merah itu yang menusuk dikulit pucat nya.


"Dengerin gue baik baik hah!!!? Lo gak akan pernah bisa bahagia, takdir Lo adalah mati perlahan ditangan gue!! Camkan itu!!".


Brakk ..


Siska menghempaskan wajah Tanika,hingga tubuh Tanika terjatuh diatas kayu kayu usang disana.


Siska keluar dan kembali mengunci pintu.


Didalam kamar itu,Tanika menangis ,air mata yang di tahan sejak tadi,karena tak ingin terlihat lemah dihadapan Siska,kini terjatuh juga,bahkan ia berderai bagai air terjun yang deras,tak tertahan,sakit dihatinya sungguh amat pilu.


"Hiks hiks .. hiks .. besar kah dosaku ?? Mungkin ini akhir hidup ku,mati mengenaskan,bahkan tanpa bisa melihat lagi orang yang ku cintai... Hiks hiks .. hiks ..tolong hamba ya Allah.." Tanika menengadahkan kepalanya,menatap langit langit kamar yang gelap itu.


Hanya cahaya rembulan,dibalik jendela itu yang menyinari kamar sempit dan pengap yang ditinggali Tanika, cahaya rembulan yang masuk melalui pentilasi udara.

__ADS_1


Sesekali cahaya itu menghilang ,karena para penjaga yang berlalu lalang,menjaga Villa itu agar Tanika tak keluar.


°°°


Faris tersentak kaget,ia terbangun karena mimpi yang buruk.


Dia melihat sekeliling,dia rupanya sedang berada dimeja kerjanya, dihadapannya tepat laptop yang masih menyala,juga data data yang belum selesai ia kerjakan.


Faris memijit pangkal hidungnya,ia melihat jam tangan yang tergeletak disamping laptop,waktu menunjukkan pukul 1.00 malam,Faris kembali memijat keningnya,ia merasa pusing ,tak mengerti kenapa mimpi yang ia lihat terasa begitu nyata.


Ia menghela nafas panjang,lalu menyenderkan tubuhnya di kursi itu,masih sesekali Faris memijit pangkal hidungnya,ia berpikir apa maksud mimpi itu.


"Apa maksud nya ini,sudah hampir lima tahun, harusnya aku lupa ..tapi ,kenapa malam ini aku memimpikan Tanika,kenapa aku melihat dia masuk jurang .. dan tangan ini.." Faris mengangkat telapak tangannya,juga menatap nya. "Kenapa aku tak berhasil menyelamatkan nya.." Faris kembali menarik nafas panjang. "Semoga ini bukan pertanda buruk .. semoga saja.." Faris mengepalkan tangannya, menghela nafas.


Ia lalu beranjak dari duduknya , beralih untuk pergi ke kasur dan melanjutkan tidurnya,namun ternyata ia tak bisa tidur dan terus memikirkan mimpi yang terasa begitu nyata baginya.


Mungkin ikatan hati Faris dan Tanika, membuat mereka bisa merasakan sakit satu sama lain,


Firasat Faris itu membuat nya ingin pergi ke Indonesia,tapi .. lagi lagi Faris mencoba menepis keinginan nya dengan alasan,Tanika pasti sudah bahagia.


°°°


Entah bagaimana caranya,pagi ini sekitar pukul 3.00 pagi, dengan susah payah Tanika membuka tali ikatan ditangannya,


Karena tadi Siska mendorong nya ke arah sebuah lemari juga kayu kayu,kaca lemari itu juga ikut pecah, pecahan dari kaca itu,Tanika gunakan untuk membuka tali ikatan,meski membutuhkan waktu lama,Tanika berhasil membukanya.


Dengan segera Tanika melihat situasi Villa itu,entah bodoh atau apa, para penjaga disana tak ada dibalik kaca itu,Tanika benar benar merasa ini adalah kesempatan.


Crakkk ..


Tanika memecah kan kaca jendela kamar itu,ia berusaha keluar perlahan,karena serpihan kaca yang tersisa di jendela itu,bisa saja melukainya.


"Siapa itu !!??"


Teriak salah seorang penjaga,yang mendekati arah kama Tanika.


Tanika terkejut,ia langsung berusaha lari ,turun dari Villa yang memang berada di atas gunung.


"Wanita itu kabur!!!" Masih terdengar jelas suara teriakan itu,meski Tanika sudah berlari cukup jauh.


Hingga .. Aaaa .. Tanika berteriak kencang,saat ia terpeleset di gunung itu.


Tubuh Tanika tergelincir ke bawah,dan..


Byurrr ...


Tubuh itu terhempas,terjatuh ke dalam air sungai dibawah kaki gunung itu.


Para penjaga disana terbelalak tak percaya, melihat Tanika yang sekilas terlihat seperti tenggelam.


merasa tak mungkin menolong,Mereka pun kembali ke Villa dan mengabari perihal kabur nya Tanika dan hanyut nya ia disungai.


°°°


Pagi hari,pukul 7.00.Singgapura.


Faris tengah berbincang dengan rekan bisnis kerja ayahnya di via telepon,rekan bisnis Faris kebetulan adalah orang Bandung, mereka berbincang perihal pertemuan mereka siang ini di Jakarta.


"Ya,baik pak ,saya bisa,pagi ini saya akan berangkat ke Jakarta,"


"..."


"Ya pak ,baik Resto Bintang pak,jam 11 siang ..baik pak."


Panggilanan itupun berakhir,Faris tengah berada dikamar ayahnya saat ini,dia mendekati ayahnya yang tengah terbaring,karena sakit demam.


"Pa,aku berangkat sekarang ya !!papa istirahat aja,biar aku yang urus semua," Jelas Faris ,menyentuh lembut bahu ayahnya.


Juan memegang tangan anaknya itu.


"Terima kasih Ris, bisnis papa ini sangat penting ris,kita harus dapat kerja sama dengan perusahaan kilang minyak itu." Jelas Juan, dengan lemah.

__ADS_1


"Baik pa,aku berangkat pa," Faris mencium tangan ayahnya.


Faris keluar dari kamar,tapi sebelumnya ia berpapasan dengan Sarah yang akan masuk kamar,membawa semangkuk bubur untuk Juan.


"Ris,kamu berangkat sekarang?" Tanya Sarah.


"Iya mi,tapi sebelum nya aku mau ke rumah mama dulu,aku berangkat ya mi?" Faris tersenyum.


"Ya udah,kamu hati hati ya,mami titip salam buat ayu." Ucap Sarah, dengan senyum manis dibibirnya.


Faris pun mengambil penerbangan pagi itu,tapi sebelumnya,ia menemui ibunya dan meminta izin untuk keberangkatan nya ke Indonesia.


°°°


Ditempat lain,seorang wanita tengah mengerjap ngerjapkan matanya, melihat sekitar,terasa asing bagi wanita itu, sebuah rumah yang hanya berdinding bilik,ia merasa kan pusing dikepalanya.


Tanika wanita itu,ia memegang kepalanya yang terasa sakit, berusaha bangun,saat seseorang tiba tiba masuk.


Wanita muda yang berusia sekitar dua puluhan,dia masuk membawa sesuatu diatas nampan,wajahnya nampak kaget saat melihat Tanika.


"Laaaras .." ucap Tanika saat melihat wanita itu.


Wanita itu segera mendekati Tanika,ia duduk disamping Tanika.


"Ibu udah sadar..?? Alhamdulillah .. ibu gak apa-apa kan?" Tanya wanita itu,yang memang adalah Laras.


"Kamu yang nyelamatin saya? Gimana saya ada disini? Shhh .." Tanika meringis, memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Tadi saya liat warga ngumpul disungai,pas saya liat .. ternyata itu ibu yang pingsan,jadi saya minta warga buat bawa ibu ke rumah saya." Jelas Laras, menjelaskan kronologi saat melihat Tanika.


Tanika langsung memeluk mantan muridnya itu.


"Terima kasih ras .. hiks .. hiks .. ibu senang sekali kamu tolong ibu...hiks hiks .." ucap Tanika,disela pelukan nya.


"Iya Bu sama sama,tapi Bu saya harus pergi bekerja Bu,apa ibu gak masalah kalau saya tinggal pergi Bu? saya janji saya bakal pulang, sebelum magrib Bu." Jelas Sarah, mendorong perlahan tubuh Tanika.


Tanika merasa bingung,seingat Tanika , tempat penyekepan itu,berada di atas sungai.Tanika merasa takut jika harus ditinggal sendiri dan orang orang itu , kembali menemukannya.


"Dimana kamu bekerja? Kalau ibu ikut bagaimana?" Tanya Tanika,harap harap cemas.


"Sebenarnya,cukup jauh Bu di Jakarta." Ucap Laras, sedikit ragu mengatakan nya,karena memang jauh dari tempat tinggal nya itu.


"Memang ini dimana?" Tanya Tanika,ia sendiri bingung dirinya sedang dimana sekarang.


"Ini Bogor Bu,ini rumah saya, sebenarnya saya tinggal dirumah majikan saya,tapi karena ada ibu,saya akan minta untuk bisa pulang,saya janji Bu, saya akan pulang sebelum magrib,lagi pula majikan saya orang yang baik Bu." Jelas Laras, menyakinkan Tanika,ia tak akan meninggalkan gurunya itu.


Tanika menghela nafas,menunduk sebentar,lalu mengangkat wajahnya, menatap penuh harap.


"Ibu ikut ,ibu gak masalah,ibu akan bantu kamu ditempat kerja kamu,ibu gak mau tinggal disini sendiri ras..." Mata Tanika menunjuk kan kesedihan,bulir bening mulai jatuh disana.


Hal itu membuat Laras,merasa iba, apalagi saat melihat kondisi Tanika saat ini.


Laras memeluk Tanika.


"Baik Bu,ibu boleh ikut." Laras mengelus lembut punggung Tanika.


"Terima kasih hiks ..hiks.." Tanika membalas erat pelukan Laras.


°°°


Sesampainya di Jakarta Faris langsung pergi ke sebuah hotel dan istirahat disana.


Sekitar pukul 10.00,Faris pergi jalan jalan keluar untuk melihat suasana kota Jakarta,ia menaiki mobil sport hitam miliknya.


Saat pemberhentian lampu merah,Faris yang sudah seharusnya menghentikan mobil,ia iseng melirik kanan kiri menunggu lampu berubah menjadi hijau dan kembali melajukan mobilnya.


Tapi, penglihatan Faris dikagetkan oleh sosok wanita didalam bus,yang berhenti disamping mobilnya,Faris membuka kacamata hitam nya,ia mencoba melihat dengan seksama siapa wanita didalam bus itu.


"Laras!??" Ucap Faris,heran melihat sosok Laras didalam bus,ia masih memastikan pandangan nya itu.


Tapi,mobil bus itu malah melaju, membuat Faris kehilangan kesempatan untuk melihat dengan jelas siapa wanita yang ia kira Laras itu.

__ADS_1


Faris menghela nafas,ia kembali memakai kacamata nya,


"Mungkin itu cuma halusinasi,bukan nya Laras udah hilang sejak lima tahun lalu,itu gak mungkin Laras." Pikir Faris,lalu melajukan mobilnya.


__ADS_2