
Waktu berjalan begitu cepat,hari demi hari, minggu demi minggu,bahkan bulan demi bulanpun berlalu,kini pernikahan Faris dan Tanika hampir menginjak usia satu tahun.
Hubungan merekapun begitu harmonis,sejauh ini mereka belum pernah bertengkar hebat,kecuali memperdebatkan hal kecil seperti masalah waktu belajar dan bekerja Faris yang sering kali sulit di atur nya,dan terkadang itu jadi percekcokan kecil diantara mereka,Faris yang ingin bekerja, tapi Tanika melarang karena alasan Faris yang jadi tidak fokus belajar, masalah itu tentu dapat mereka atasi,Faris selalu meyakinkan Tanika,ia bisa melakukan itu,meski Tanika terkadang marah karena tak jarang Faris jadi sakit, karena aktivitas nya yang padat.
Faris,dia bekerja disalah satu Restoran milik Ayah Rama,ia bekerja sebagai asisten koki disana,meski kerja nya hanya paruh waktu dari jam dua siang sampai sepuluh malam.Waktu kerjanya pun tidak seminggu full,Faris hanya bekerja dihari Rabu sampai Sabtu, sebenarnya awalnya Faris hanya menggantikan asisten koki yang pulang kampung,tapi karena kemahiran Faris dibidang memasak, ia akhirnya diterima bekerja disana.
Dan masalah kerahasiaan hubungan Faris dan Tanika, sejauh ini belum ada yang tahu kecuali Rama dan Banu, mereka adalah sahabat Faris yang pandai menjaga rahasia,juga begitu mendukung hubungan Faris dan Tanika.Bahkan Rama dan Banulah yang membantu Faris mendapatkan pekerjaan paruh waktu.Rama bahkan sampai membujuk ayahnya agar menerima Faris bekerja,Rama beralasan Faris adalah anak yatim yang ditinggal ibunya keluar negeri,juga ia harus tinggal sendiri,alasan itu membuat ayah Rama menerima Faris dengan baik di Restoran nya,terlebih ketika mengetahui bakat Faris dibidang memasak.
Satu hal lagi yang membuat Faris harus bekerja,sejak terakhir kali ibu Faris mengirim uang lebih,ibu Faris pun tak pernah mengirimi nya uang ,juga tak pernah memberikan kabar semisal, membalas email dari Faris, meskipun Faris sering kali mengirimkan email kepada ibunya.Dirasa ibu nya sudah tak peduli Faris pun berpikir untuk jadi mandiri,Faris merasa dengan dia bekerja dia bisa menjadi lebih bertanggung jawab, juga menjadi suami yang baik untuk Tanika.
Dan untuk Laras,kabar Laras entah bagaimana, gadis itu tak pernah muncul lagi dihadapan Faris ataupun teman temannya.Tentu saja, masih ada yang belum terungkap tentang apa yang ingin dikatakan gadis itu pada Faris.
Malam itu, seusai makan malam dan sholat isya, Faris bisa sedikit bersantai karena Restoran hari ini libur, atasannya bilang ada acara keluarga,jadi untuk hari ini Restoran tutup.Itu membuat Faris tak bekerja hari ini.
Faris sedang tiduran diatas ranjang,sembari membaca komik ditangannya.Untuk kamar,Faris dan Tanika kini memilih satu kamar, semenjak Tanika merobek kesepakatan itu.
Ceklek .. pintu kamar terbuka,Faris bangkit dari tidurnya,ia menaruh komik yang dia baca tadi.
Tanika masuk kedalam kamar,ia lalu membuka kerudung nya,membuka ikatan rambut nya,Tanika nampak mengambil handuk untuk pergi mandi,namun Faris menghentikan aksi istri nya dengan memeluk nya dari belakang.
"Sayang aku kangen .." bisik Faris dengan manja ditelinga Tanika,tak lupa dagunya yang ia sandarkan dibahu Tanika.
"Iya ,aku mandi dulu ya.. lengket ni abis masak." Tanika mengelus lembut tangan yang melingkar di pinggangnya.
Faris pun mengerti dan melepaskan kan pelukannya.Tanika mengecup lembut punggung tangan Faris.
"Tunggu ya sayang!?ga lama kok." jelas Tanika seusai mengecup punggung tangan Faris.
Faris mengangguk tanda mengerti,ia balas mengecup kening istrinya itu.
Faris pun kembali mengambil bukunya melanjutkan bacaan nya, sementara Tanika,ia berjalan ke kamar mandi untuk segera menguyur badannya ,yang dirasa Tanika sudah lengket.
Faris menatap Tanika saat istri nya itu keluar kamar mandi,hanya mengenakan handuk yang membalut dada sampai pahanya.Faris semakin merasa tak tahan untuk segera menerkam istrinya, yang begitu menggoda dimata Faris.Tatapan Faris terus mengikuti Tanika yang berjalan menuju lemari, untuk mengambil pakaian.
"Buat apa ambil baju hmm??" Tanya Faris tiba tiba,saat ia sudah berhasil memeluk istrinya itu dari belakang.
Faris terus menciumi leher juga pundak Tanika.
__ADS_1
"Ih geli sayang" keluh Tanika yang memang merasa geli ,dengan tindakan yang Faris lakukan.
"Tapi aku gak tuh." jawab Faris sebelum melanjutkan aksinya, menciumi leher Tanika.
"Sayang ..geli ih" Tanika sedikit mendorong wajah Faris yang terus menelusuri setiap inci leher Tanika.
"Aku udah gak tahan sayang." bisik Faris ditelinga Tanika, dengan sedikit desahan disetiap katanya.
Faris pun semakin ganas menciumi leher Tanika,Faris bahkan sedikit menggigit leher mulus itu, menciumi nya penuh nafsu ,bahkan sesekali Faris menelusuri setiap inci tubuh Tanika dengan tangannya, hingga membuat Tanika mendesah.
Faris semakin tak tahan mendengar desahan istrinya.Ia lalu menggendong Tanika ke atas ranjang untuk segera melanjutkan aksinya.
Faris menindih Tanika yang kini sudah terbaring tak berdaya diatas kasur,ia lalu mencium bibir istri nya itu.
Mereka pun untuk kesekian kalinya,menikmati hubungan badan mereka diatas ranjang.
Tanika kini hanya mengenakan pakaian dalam saja,sementara Faris menutupi sebagian badannya dengan selimut.
Faris menciumi leher Tanika setelah mereka selesai melakukan itu.
"Kenapa sayang masih mau?" Tanya Tanika,karena Faris masih terus saja menciumi leher nya.
Faris lalu menyembunyikan wajahnya dipunggung Tanika sesekali menciuminya.
"Sayang .." ucap Faris memeluk istrinya dari belakang.
"Apa sayang?" Tanika mengelus lembut kedua tangan suaminya,yang melingkar tepat diperutnya.
Faris menyenderkan dagu diatas bahu Tanika,ia lalu mengelus lembut perut Tanika yang telanjang.
"Kamu mau gak punya anak dari aku?" Tanya Faris lalu mencium leher Tanika.
"Ya mau lah sayang" Tanika membalikkan badannya,untuk bisa berhadapan dengan Faris dan menatapnya.
Faris menatap wajah istrinya itu,ia lalu memegang kedua pipinya.
"Kamu yakin?" Tanya Faris memastikan.
__ADS_1
Tanika mengangguk yakin.
"Tapi .." Faris terlihat sedih, ia menunduk kan wajahnya.
Tanika mengerti ia lalu mengenggam kedua tangan Faris yang berada dipipinya.
"Kita hanya belum dikasih aja,kamu yang sabar ya ..kita udah usaha kok supaya kita punya anak" Tanika menghibur Faris yang terlihat sedih.
Faris sering kali merasa kecewa,karena mereka belum juga dikaruniai anak, padahal mereka sudah menikah hampir satu tahun.
Mungkin, awal pernikahan mereka tak pernah memikirkan seorang bayi dikeluarga kecil mereka,tapi setelah beberapa bulan,mereka sama seperti pasangan suami istri lainnya, mereka menginginkan kehadiran buah hati dirumah tangga mereka,meski Faris tahu dia masih sekolah.
Mereka sudah berusaha dan berdoa untuk mendapatkan anak,tapi sampai saat ini mereka belum mendapatkan nya.
Tanika mencium sekilas bibir suaminya itu.
"Sayang .. kamu jangan sedih,ini bukan salah kamu,nanti kalau udah waktunya,kita juga pasti punya anak." jelas Tanika ,membuat Faris kembali menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Iya sayang ,pokonya aku bakal sayang dan jaga anak kita nanti,aku gak bakalan ninggalin dia, kaya orang tua aku ninggalin aku, pokonya aku bakal jaga anak kita dan sayangi dia seumur hidup aku" jelas Faris penuh keyakinan,lalu mencium punggung tangan Tanika.
"Iya sayang .. aku percaya sama kamu." Tanika menggenggam erat kedua tangan suaminya.
"Oh iya, kalau kita punya anak,kamu mau kasih dia nama apa?" Tanya Tanika.
"Aku pengen nama dia ada nama akunya." jelas Faris sembari tersenyum.
"Emmm ..kok gitu?" Tanya Tanika yang ingin tahu alasannya.
"Supaya kalau kamu panggil nama dia,kamu inget sama aku" jelas Faris sambil sedikit mencubit hidung Tanika.
"Ah kamu gombal" Tanika memoyongkan bibirnya,mengira Faris hanya sedang menggombali nya.
Faris langsung memeluk istrinya itu, membenamkan wajah Tanika tepat didadanya.
"Gak sayang,aku gak gombal,aku serius,aku gak mau kamu lupain aku, karena selama nya ,aku juga gak akan pernah lupain kamu" jelas Faris sebelum mengecup lembut pucuk rambut Tanika.
"Aku gak bakal lupain kamu,aku udah terlanjur sayang sama kamu" jawab Tanika yang balas memeluk Faris dengan erat.
__ADS_1
Faris kembali membelai rambut Tanika "aku juga sayang sama kamu" Faris kembali mencium pucuk rambut Tanika, setelah selesai mengucapkan kata cinta itu.