Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Kejadian Buruk)


__ADS_3

Sudah tiga hari, begitulah kegiatan Ilham, melakukan berbagai pemeriksaan pada tubuhnya,bahkan yang terakhir ia melakukan tes MRI, guna memastikan tak ada tukang tengkorak yang retak atau geger otak pada Ilham.


Pagi itu,mentari pagi menerpa setiap dinding putih rumah sakit, cahaya nya menerawang memasuki setiap celah jendela kamar.


Ilham,pria yang sedang duduk dikursi roda,menatap jauh didalam gedung tinggi itu,matanya menatap lurus pemandangan diluar, menerawang entah kemana, pikiran nya jauh melayang, hangat mentari mulai menyentuh kulitnya, cahaya yang memang masuk melalui pentilasi itu,terasa hangat dikulitinya,tapi tidak sampai menuju hatinya,nyata nya hati nya masih beku.Sakit,tentu itulah yang ia rasakan.


Ceklek ,pintu kamar terbuka perlahan.


"Mas.. " panggil perlahan Sri, wanita yang beberapa hari lalu, ditugaskan Galang untuk menjaga Ilham.Ia mendekati Ilham , yang memang tak mendengar kedatangan Sri,entah tak mendengar atau tak mau mendengar.


"Mas,saya buatkan bubur ,mas makan ya?!" Tanya Sri dengan lembut, berhati-hati, pasalnya Ilham memang mudah marah akhir akhir ini.


"Gak!" Jawab Ilham ,datar.


"Mas harus makan, supaya mas cepet sembuh." Jelas Sri,masih dengan hati hati.


Ilham memutar kursi rodanya,hingga ia dapat menatap Sri dengan leluasa.


"Gue bilang! Ya enggak!!" Bentak Ilham,tepat dimuka wajah Sri, membuat Sri menutup mata takut,juga menundukkan wajah setelah nya.


Sri bungkam setelahnya,ia tak mau berkata kata lagi,ia tak ingin mendapatkan amarah Ilham untuk kesekian kalinya.


Ilham berlaku bersama kursi rodanya,ia menuju tempat tidur nya,


"Sri .." panggil Ilham, setelah dekat dengan ranjangnya.


"Iya mas,ada apa? Mas,mau naik kasur,biar saya bantu!?" Tanya Sri, setelah berlari kecil,menuju Ilham.


"Gak,gue pengen pir." Pinta Ilham,


"Tapi mas bubur nya?" Kembali Sri, menurunkan nada bicaranya,ia kembali merasakan ketakutan akan amarah Ilham.


"Lo taruh dinakas,gue pengen pir." Ketus Ilham,masih kekeh dengan keinginan nya.


"Baik mas." Tanpa mau basa basi lagi,Sri segera menaruh napan berisi bubur dan segelas air itu.ia beranjak pergi,keluar kamar.


Beberapa saat kemudian,Sri kembali membawa tiga buah pir juga sebuah pisau untuk mengupasnya.


"Mas saya cuci dulu pir nya ya?" Jelas Sri,lalu masuk ke kamar mandi dan mencuci tiga buah pir itu.


Sri mengambil pisau hendak mengupas pir itu,tapi Ilham segera mengambil pisau itu.


"Pergi Lo!! Gue paling gak suka orang ngupas pir gue,gue bisa sendiri.Lo Keluar sekarang!" Tegas Ilham,lalu mengambil satu pir dimangkuk itu.


Dengan gelagapan,


"Tapi.. mas?.." Ada keraguan dihati Sri, jikalau harus meninggalkan Ilham sendiri,kejiwaannya memang tidak stabil dan itu yang membuat nya khawatir.


"Keluar!!!" Teriak Ilham, sangat jelas membuat Sri tertunduk takut,ia mengerjap ngerjapkan matanya,takut Ilham akan berbuat jahat atau pisau itu .. Sri menggeleng atas pemikiran negatif nya.


"Kenapa Lo? Lo takut gue bunuh,kalau Lo takut, sekarang Lo keluar!!" Seakan membaca pikiran Sri,dengan santai Ilham mengatakan kata bunuh kepada Sri,sembari mengacungkan pisau ditangannya.


Sri semakin takut, bahkan mengigit bibir bawahnya,merasa ngeri sendiri dengan ucapan Ilham.


Sri menunduk lalu mengangguk mengerti.


"Ba.. ik mas." Jawab Sri gugup.


Sri segera keluar kamar,ia tak ingat dengan amanah Galang,yang tak membolehkan Ilham ditinggal sendiri,kecuali sedang tidur.

__ADS_1


Sri menutup pintu itu,menyentuh atas dadanya, merasa kan betapa takut dan juga detak jantung yang berdebar kencang,ia merasa Ilham sangat mengerikan apalagi dengan mata tajam dan nada bicara yang mengancam itu.


"Huuuuu ..apa aku ini akan mati kalau terus didalam?" Tanya Sri kepada dirinya sendiri,ia masih mengatur nafas,karena sikap Ilham,memang membuat pompaan diparu parunya bergerak tidak seperti biasa.


Sri mengingat amanah Galang ,tiba tiba.


Sri kaget sendiri ,kenapa dia bisa dengan mudah meninggalkan Ilham sendiri,tapi dia juga sangat takut jika harus kembali.


Segera ia merogoh ponsel disaku susternya,


"Hallo ..mas Galang." Sapa Sri,saat telpon telah tersambung.


"Ya,Sri ada apa? Ilham baik baik aja kan?" Tanya Galang,disembarang telpon.


"Eeeu .. Mas Ilham,.."


"Kenapa?" Bentak Galang, membuat Sri tersadar,ia telah gelagapan menjawab pertanyaan Galang.


"Mas Ilham,dia gak mau saya didalam kamar mas.Saya harus gimana mas?" Tanya Sri akhirnya,ia juga begitu lancar menanyakan itu.


"Lo masuk aja,jangan pedulikan dia,Lo tahu kan kejiwaan Ilham,Lo harus awasi dia 24 jam." Tegas Galang,lalu menutup telpon itu.


Tutttt ..


"Yah .. mas Galang,gak tahu apa Mas Ilham benar benar benar kaya psikopat," Sri melihat ponselnya yang sudah tak terhubung dengan Galang.


Dengan wajah pasrah,Sri membuka perlahan pintu kamar itu,ia melihat sekeliling kamar itu.Kosong!! Tak ada Ilham disana, Kamar mandi? Apa dia disana?


Sri segera masuk,lalu menggedor pintu kamar mandi.


Tok tok tok ...


Sri mulai cemas,ia menggedor dengan keras pintu itu.


Tok tok tok tok ...


"Mas .. Mas Ilham,mas Ilham lagi apa? Mas Ilham baik baik aja kan?" Sri masih berteriak dari balik pintu itu.


Merasa tak ada jawaban,ia memegang gagang pintu, mengoyangkan nya juga mendorong nya.Tapi,pintunya terkunci didalam,semakin membuat Sri panik.Ia menggedor juga terus mendorong pintu,sembari tangannya masih memegang gagang pintu dan mengoyangkan nya , dengan perasaan cemas bercampur panik.


"Mas .. mas ... Mas Ilham..." Tok tok tok ...


Sri yang panik , mengigit ujung jari nya, bingung harus apa,ia takut Ilham pingsan didalam.


"Lo kenapa Sri?" Tanya Galang ,yang baru saja masuk ke kamar itu,entah kapan Galang datang,nyatanya karena, terlalu panik,Sri tak menyadari kedatangan Galang.


Dengan gugup,


"Mas Ilham dia .." Sri menunjuk ke arah pintu kamar mandi dengan repleks,karena panik,Ilham yang memang terkunci didalam.


Braakkk .. Dengan lengannya Galang, dengan cepat mendobrak pintu yang terkunci itu, terlihat jelas rasa cemas , membuat nya nekad tanpa basa basi mendobrak pintu.


Kedua pasang mata di ambang pintu itu terbelalak sempurna,kaget dengan pandangan nya sendiri,mereka melihat sebuah kejadian terburuk dalam hidup mereka.


Ilham,pria muda itu sudah terkulai tak berdaya dikursi rodanya,bukan hanya itu,bau anyir darah juga menyeruak memasuki kedua hidung insan itu,darah sudah bercucuran dilantai ,bahkan hampir membanjiri lantai putih kamar mandi. Pergelangan tangan Ilham yang mengeluarkan darah itu,masih meneteskan darahnya.


Sebuah pisau yang Sri tahu adalah dipegang Ilham tadi sudah jatuh dilantai ,bahkan hampir tertutup oleh darah yang menetes.


Sejenak Galang terpaku,ia tak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu,kakinya terasa lemas,tapi ia tak bisa membiarkan adiknya seperti itu.

__ADS_1


Galang masuk kedalam mengoyangkan pipi Ilham,terus memanggil nama adiknya itu, berharap Ilham mendengar dan membuka matanya,tapi tentu saja sia sia,wajahnya yang sudah begitu pucat,menandakan Ilham memang tak akan mendengar.


"Dokter!!" Tanpa basa basi,Galang berlari keluar, berteriak memanggil Dokter, meninggalkan Sri yang masih terpaku dengan lemas dikakinya.


°°°


Setelah dokter masuk, segera mungkin dokter membantu mengangkat Ilham ke ranjang nya.


Dokter memeriksa Ilham ,mengecek denyut nadi,juga jantung Ilham,dokter nampak merubah mimik wajahnya yang semula tenang,kini terlihat sedih penuh penyesalan.


Dokter menutup mata sesaat, sebelum memulai perkataan nya.


"Pak Galang,mohon maaf tapi .. Pak Ilham sudah kehilangan nyawanya, nampaknya ia kehabisan darah." Dokter menunduk , menyesal.


"Lo bilang apa? Adik gue gak mungkin mati,Lo bercanda kan? Lo dokter Lo bisa nyembuhin dia!!" Sentak Galang,menarik kerah baju Dokter itu,dokter itu tak melawan,ia mencoba tenang menjelaskan kembali


"Maaf Pak,masalah kematian saya tidak bisa menyembuhkan nya." Jelas dokter, Galang pasrah menghela nafas , lalu mendorong Dokter itu.


Galang sadar kematian memang tak bisa dihindarkan.


"Lo boleh pergi,gue mau Lo tutupin kejadian buruk ini." Jelas Galang dengan nada dingin.


Dokter pun menunduk sesaat,lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Galang menatap Sri yang tertunduk,nampaknya Sri sangat merasa bersalah atas keteledoran nya.


"Kenapa Lo masih disini?! Lo gue pecat!! dan gue gak bakal bayar gaji Lo,Lo gak becus jaga Ilham, keluar Lo!!" Bentak Galang, bahkan bentakannya lebih keras dari bentakan Ilham tadi,


Sri tertunduk nampak bulir air mata jatuh dipipinya.


Iapun keluar dari kamar itu.


°°°


Kabar tentang meninggal nya Ilham , sungguh cepat menyebar,mungkin memang sangat sulit, menutupi kematian Ilham,yang notabene adalah anak pengusaha kilang minyak.


Pagi itupun sekitar pukul sepuluh,


Murid kelas XII yang memang sudah tak belajar lagi,mereka kebanyakan asik main di lapangan atau ruang komputer dan ruang musik.


Ya,yang mereka lakukan adalah bermain atau belajar untuk persiapan masuk universitas,jika kelak lulus nanti.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, mohon untuk semua murid dan guru,ada pengumuman penting,diharap semua berkumpul di lapangan." Suara pengumuman dari alat pengeras suara itu, dapat terdengar jelas, oleh semua nya.


Segera setelah pengumuman dari Pak Luki tadi,semua anggota sekolah yakni guru dan semua siswa siswi, mereka berkumpul dengan teratur dilapangan yang luas itu.


Semua siswa siswi penasaran, pengumuman penting apa yang ingin disampaikan.


Faris yang berdiri di jajaran baris ke tiga,mata nya tertuju pada Tanika, Wanita yang memang sedang berdiri dibelakang Pak Luki, berjejer bersama staf pengajar yang lain.Tanika tampak begitu sedih,matanya yang merah,ia sembunyikan dengan menunduk,tapi dapat Faris lihat, Tanika memang tidak baik baik saja.


Faris mulai membayangkan hal negatif,jika saja pengumuman ini adalah hubungannya dengan Pak Ilham, kepala sekolah nya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, sebelum nya saya minta maaf,sudah membuat semua nya menghentikan tugas belajar mengajar kalian.Tapi,berita ini sangat penting,ini mengenai pak Ilham ..." Pak Luki,nampak berpidato, dihadapan semuanya.


Deg ..


Perasaan khawatir juga takut menyelimuti hati Faris,ia mulai menduga juga berprasangka.


"Pak Ilham, telah meninggal dunia sekitar satu jam yang lalu,pihak rumah sakit bilang ,beliau kelelahan dan kekurangan nutrisi."

__ADS_1


Bagai anah panah tepat sasaran, begitulah pemikirannya Faris,begitu sejalur dengan pengumuman yang ia dengar,meski dalam pikiran nya,Ilham bukan meninggal karena lelah melainkan bunuh diri.


__ADS_2