
Sudah satu bulan sejak perpisahan itu,
Tanikapun memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai staff mengajar,ia sudah menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya,meski awalnya ayah dan ibu merasa tak percaya,tapi pada akhirnya ayah dan ibu mau menerima keputusan Tanika.Sejak saat itupun, Tanika meninggal kan rumahnya bersama Faris,ia meminta Bu Hemi tetap menjaga rumah itu,bahkan tinggal disana.
Tanika sendiri tak ingin ada disana,ia terlalu sakit,jika harus melihat semua sudut rumah yang penuh kenangan.
Tanika berniat fokus menjaga dan merawat kandungan nya, tentunya dibantu ibu dan ayahnya.
Sementara Faris,
Sore ini,ia tengah duduk disalah satu Cafe bersama ibunya.
Ayu,ibu Faris berniat mempertemukan Faris dengan seseorang, Seseorang yang dikata Ayu mampu membuat nya lupa akan masa lalu dan menata masa depannya.
Setelah sekitar sepuluh menit menunggu,
Sesosok wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang masih cantik berbalut dress biru muda selutut,mendekati mereka,ia mengandeng seorang pria seumuran ibu Faris, dengan begitu mesra,sikap si pria begitu cuek,seakan tak peduli dengan tangan yang mengandeng nya mesra.
Pria itu baru mengukir senyum,saat sudah berada dihadapan Faris dan ibunya.
"Udah lama nunggu nya?" Tanya pria setelan jas rapi,khas kantoran.
"Baru sekitar beberapa menit mas,ayo duduk dulu!" Ayu tersenyum manis pada pria itu dan wanita disamping nya.
Kedua orang itu pun ,duduk berhadapan dengan Faris dan Ayu.Faris masih bingung apa yang dimaksud menata masa depan,apa ibunya akan memberikan pekerjaan melalui orang ini? Atau apa? Faris hanya tersenyum simpul,menatap kedua orang dihadapannya.
Pria dihadapan Faris,begitu berbinar melihat Faris,rona bahagia terlihat jelas diwajahnya.
"Jadi,kamu Faris?" Tanya pria itu.
"Iya om." Jawab Faris,sopan.
"Iya mas ,ini Faris,dia udah besar sekarang, seperti yang mas bilang, aku setuju Faris sekolah di Singapura dan tinggal sama mas juga Sarah,lagi pula mas adalah papa nya,saya yakin Sarah juga sayang sama Faris." Jelas Ayu, matanya sedikit berkaca kaca,saat mengatakan itu, pasalnya ia juga tak ingin jauh dari anak semata wayangnya.Tapi juga,Ayu ingin yang terbaik untuk anaknya.
"Mba tenang aja,aku bakal sayangi Faris kaya anak aku sendiri,lagi pula aku seneng kalau Faris mau ikut sama kita." Jawab Sarah, dengan senyum bahagia.
Faris, mengerutkan kening,Apa maksudnya? Papa? Sekolah di Singapura? Faris tak mengerti tentang semua itu,ibunya memang belum menceritakan apapun.Ia menatap bergantian ibu dan kedua orang dihadapannya.
__ADS_1
"Tunggu!! Maksud nya apa? Om ini ..papa aku atau apa?" Tanya Faris,begitu bingung dengan situasi yang saat itu terjadi.
Ayu mengelus lembut bahu Faris.
"Iya ris,mas Juan ini,papa kamu,mama belum cerita apa apa sama kamu,tapi itulah kenyataannya, setelah hampir tujuh belas tahun,mama gak ketemu mas Juan, beberapa bulan yang lalu mama bertemu sarah,sarahlah yang membantu mama,saat mama pulang ke Indonesia dan mungkin inilah takdir,Sarah ternyata adalah istri papa kami sekarang." Akhir penjelasan itu,seakan sedikit menusuk hati Ayu,ia menurunkan nada bicaranya,saat mengatakan -istri papa kamu sekarang-.
Faris bisa melihat,rasa sakit dimata Ibunya,ia tak terima,Faris dengan lantang berdiri, sedikit memukul meja itu.
"Maaf om,tapi apa maksud nya semua ini? Ibu saya tidak pernah menceritakan tentang ayah saya,tapi sekarang setelah tujuh belas tahun anda datang dan mengaku ngaku sebagai ayah saya,maaf om.. tapi saya tidak menyukai lelucon ini!!" Tegas Faris hendak meninggalkan tempat itu.
Tapi,ibu Faris dengan segera mencekal tangan Faris,menahan nya agar kembali duduk.
"Faris .. tolong jangan pergi! Dengar kan dulu penjelasan mama!" Mata Ayu,memohon menatap lekat kedua mata Faris.
Faris melirik sesaat dua orang dihadapannya,ia menarik nafas,tak tega jika ia mengabaikan keinginan ibunya itu,Faris pun kembali duduk.
"Ris..." Ibu Faris mengelus lembut tangan anaknya. "Mama tahu,ini pasti berat buat kamu, apalagi setelah apa yang terjadi sama kamu dan Tanika.Maafin mama,gak pernah cerita soal papa kamu,karena memang pernikahan kami tanpa pernah direstui kedua orang tua Mas Juan,juga dulu, mama dan papa kamu sempat kecelakaan saat kamu berusia 10 bulan,mama dulu selamat,tapi papa kamu masuk ke jurang bersama mobil yang kami kendarai,mama kira papa kamu meninggal,karena itulah yang dikatakan ibunya mas Juan,tapi ternyata ..." Tiba tiba Ayu, menghentikan ceritanya,bulir bening jatuh dipipinya,ayu tak kuasa jika harus mengingat kebohongan mantan ibu mertua nya itu.
Juan,ayah Faris mengenggam tangan Ayu,lalu mengelus punggung tangan Faris.
Penjelasan Juan, membuat wanita disamping nya menitihkan air mata, yang segera dengan cepat ia hapus, untuk menutupi kesedihan nya itu.
Faris melihat ibunya dengan tatapan iba,pasalnya sang ibu hanya menunduk tanpa berkata apa-apa, mungkin ia sudah begitu sakit mengingat masa lalunya.
Juan bergegas berlutut disamping ayu, membuat Sarah semakin sedih, memalingkan wajahnya juga menghapus air mata yang mengalir dari matanya.
"Yu .. aku mohon!! Kembalilah padaku. ..kita bisa menikah lagi dan tinggal bersama dengan Faris..aku masih mencintaimu yu!!" Pria berusia tiga puluhan itu,menatap lekat mantan istrinya,juga mengenggam erat tangan Ayu.
Ayu menarik tangan yang Juan genggam.Ia menghapus air matanya,dengan telapak tangan.
"Maaf mas,aku gak bisa,aku udah ngerasa cukup,aku bahagia jika kamu mau menerima Faris,aku mau Faris bisa kenal ayahnya,aku mau Faris bisa sekolah dan sukses." Jelas Ayu,beralih mengelus bahu Faris.Ia tersenyum tulus menatap anak semata wayangnya itu.
"Mas ..mungkin,Faris masih syok bertemu dengan kamu,tapi aku akan coba bujuk Faris untuk sekolah di Singapura tinggal bersama kalian." Ayu menatap bergantian Sarah dan Juan.
"Kalau begitu,aku sama Faris pulang mas ,Sarah ..terima kasih atas kebaikan kalian." Ayu berdiri lalu menggenggam tangan Faris menuntunnya pergi, meninggalkan Sarah yang tersenyum sendu,juga Juan yang masih berlutut disana.
°°°
__ADS_1
Malam itu,diatas kasur nya,Faris tengah berkutat dengan pena dan kertas ditangannya,juga sebuah buku untuk menyangga kertas,saat ia menulis.
"Ris.." Ayu menghampiri Faris dan duduk disampingnya ranjang.
Faris menoleh tersenyum simpul menatap ibunya.
"Gimana keputusan kamu? Kamu mau kan ikut papa kamu? Meski memang ini terdengar mendadak,tapi apa yang mama dan papa kamu bilang adalah kenyataan ris."
Faris menghela nafas panjang.
"Faris masih memikirkan nya ma,lagi pula mama benar,Faris syok dengan semua ini."
"Okey malam faham kok,mama pasti dukung apapun keputusan kamu." Ayu tersenyum.
"Ma,soal lengan mama .." Faris melihat tangan ibunya yang memang sudah tak diperban lagi.
"Mama baik baik aja ris, Alhamdulillah saat itu ada Tanika yang menolong mama." Ibu Faris tersenyum sendu,ia ingat betapa baiknya mantan menantunya itu.Jujur Ayupun merasa kecewa mereka harus berpisah seperti ini.
Faris hanya menanggapi dengan senyum yang dibuat buat,tak bisa dipungkiri memang,Farispun memang masih terluka mengingat kejadian saat itu,Saat Tanika mengusir nya,bahkan tanpa belas kasihan.
°°°
Satu Minggu,dilalui Faris untuk berpikir.
Pagi itu,Faris pergi ke pemakaman,ia masih tak bisa menentukan pilihan untuk pergi atau tidak dari tanah kelahirannya itu.
Ia pergi ke makam sang kakek, bercerita diatas gundukan tanah itu,memegang nisan kakek dan menceritakan semua yang terjadi padanya akhir akhir ini,bukan berpikir kakeknya bisa menolong atau memberi solusi,Faris hanya merasa ketika ia bercerita di atas makam kakek nya itu,dia merasa tenang,karena disaat hiduppun,sang kakek adalah sosok yang sering mendengar keluh kesah nya.
Pukul 9.00 pagi,Faris pulang dari makam itu,
Langkah Faris terhenti,saat melihat seorang wanita yang tak asing baginya,sedang duduk disalah satu kursi di pemakaman umum itu.
Sosok yang tak lain adalah mantan istrinya Tanika,yang lebih membuat nya kaget,ia sedang duduk bersama seorang pria berjas hitam, sangat nampak jelas pria itu adalah orang kaya, dilihat dari stelan pakaiannya.
Faris menghela nafas panjang,sesak terasa didadanya, kenyataan yang ia lihat itu,seakan menjadi bukti alasan Tanika membenci juga menginginkannya pergi.
Ia berjalan menjauhi pemakaman itu,hatinya yang seakan diremukkan,ia bawa hati itu menjauh dari sumber yang membuat hati itu retak .. Ya menjauh .. menjauh ..sejauh jauhnya,Ia tak ingin kembali,rasa sakit terlanjur tergores dihatinya.Kini Faris tahu ,dia tak pernah pantas untuk Tanika.
__ADS_1