Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Kilas Balik Terakhir


__ADS_3

"Laras .." panggil Tanika,saat mereka sampai di Gerbang rumah majikan Laras.


Laras tengah membuka gerbang rumah itu,ia menoleh sekilas,lalu kembali melanjutkan aktivitas membuka gerbang itu.


"Ya bu .."


Dengan sedikit ragu,Tanika sedikit menunduk.


"Kamu yakin,majikan kamu gak marah kalau saya ikut masuk?" Tanya Tanika, mengangkat wajah, melihat Laras.


Laras yang baru selesai membuka gerbang,ia pun menoleh menatap gurunya, meyakinkan Tanika itu tidak akan jadi masalah.


"Ibu tenang aja,majikan saya baik kok,ibu bahkan kenal sama orang nya,dia gak akan keberatan ibu masuk."


Laras pun kembali membalikkan badan, hendak membuka gerbang.


Sementara Tanika,ia malah mengeryitkan dahi,masih bingung, maksud Laras dan sedikit menerka nerka siapa orang yang dimaksud Laras.


Tiba tiba ..


"Mmm.." Tanika meronta, Seseorang yang entah siapa membekam mulut nya dengan kain.


Sontak Laras membalikkan badan cepat, kaget melihat Tanika,Laras pun hendak menolong Tanika,Tapi ..


"Ibu .. " Laras hendak mengejar orang yang menyeret Tanika,Tanika sendiri sudah pingsan,karena pengaruh obat bius dalam kain itu.


Tapi, ..


Bugh ..


Laras merasakan pukulan dibelakang tekuk lehernya, seketika Laras pun pingsan didepan Gerbang itu,bahkan belum sempat ia mengejar gurunya itu.


°°°


"Apa?? bagaimana dia sekarang?" Tanya Galang, kepada seseorang dibalik telpon itu.


"Tenang bos,dia sudah pingsan,dia tidak akan melawan lagi sekarang." Jelas orang dibalik telpon itu.


"Okey kalau gitu gue sekarang kesana,Lo bawa ke tempat biasa."


"Baik bos."


Tutttttt .. panggilanan pun diakhiri,


Galang berjalan sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.Ia kembali menuju tempat duduk nya.

__ADS_1


Siang itu Galang memang sedang mengadakan pertemuan dengan rekan kerja nya asal Singapura,dia sebenarnya hanya mewakili ayahnya yang memang sedang pergi ke kampung halamannya di Bandung,sang ayah tak bisa menghadiri pertemuan bisnis itu dikarenakan adik ayah Galang meninggal dunia.


"Maaf Pak Faris,tadi ada gangguan sebentar." Ucap Galang yang langsung duduk dihadapan Faris.


Ya,rekan kerja yang dimaksud Galang adalah Faris anak dari Juan pemilik perusahaan JN Group,salah satu perusahaan kilang minyak terbesar di Singapura.


Faris tersenyum manis, merasa tak mempermasalahkan itu.Jika saja, Faris tahu pria dihadapannya adalah pria yang dahulu duduk bersama Tanika,atau mengetahui dia adalah sosok suami Tanika saat ini, mungkin Faris tidak akan pernah mau duduk atau berhadapan dengan nya.Sayangnya,Faris memang tidak pernah tahu siapa sebenarnya pria bernama Galang itu.


"Tidak masalah Pak Galang,bapak jangan terlalu formal kepada saya, lagi pula saya lebih muda dari bapak,dan lagi .. saya mengerti kondisi bapak sekarang." Faris mengira yang menelpon Galang adalah keluarga Galang,Faris memaklumi jika pertemuan mereka tak akan tenang,karena memang keluarga Galang sedang berduka.


Galang tersenyum puas,ia sangat senang bocah itu,tak tahu apapun atas segala kejahatan nya selama ini.


"Baik kalau begitu Faris,sayangnya saya harus segera menuju Bandung sekarang,saya kira anda sudah mengerti tentang kerja sama ini, untuk lebih lanjut biar ayah saya yang akan menjelaskan dipertemuan berikut nya." Galang mengulurkan tangan setelah menjelaskan itu.


Faris menjabat tangan itu,juga tersenyum manis kepadanya.


"Terima kasih pak." Ucap Faris.


Galang pun berdiri, berpamitan untuk segera pergi.


"Baik Faris,saya pergi, terima kasih juga atas kerja samanya." Galang merapikan jasnya,ia pun beranjak pergi, setelah mendapat senyum dari Faris.


Faris kembali menyeruput kopi dihadapannya,ia sedikit melamun,entah kenapa ia kembali ingat dengan wanita didalam bus itu.Faris menaruh cangkir itu,lalu menatap jalan dari kaca jendela Caffe itu.


Faris menghela nafas sesaat.


"Ah .. apa peduliku,tapi .. ada wanita lain disamping wanita itu..kenapa aku merasa tak asing dengan wanita itu ..??" Pikiran Faris, kembali menerka,mengingat ingat kembali wanita yang ia lihat di bus,tapi nyatanya Faris tak ingin mengambil pusing masalah itu,iapun berdiri mengambil jas disamping kursi.


Beranjak pergi, setelah membayar bill dan pergi dari Caffe itu.


°°°


"Laras ...!!" Teriak Rama yang langsung turun dari mobilnya.


Rama baru saja pulang dari Restoran nya siang itu,ia seketika kaget saat melihat Laras sudah tergeletak didepan Gerbang.


Dengan cepat Galang mengendong wanita berusia dua puluhan itu ke dalam rumah,ia langsung menidurkan Laras dikamarnya.Rama menaruh kayu putih tepat dihidung Laras, berharap dia akan sadar setelah nya.


Laras mengerjap ngerjapkan matanya,saat berhasil membukanya perlahan,Laras menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya,ia melihat Rama sudah berada disampingnya,duduk dengan wajah cemas.


Merasa Laras sudah membuka mata,Rama menaruh kayu putih itu dan kembali menutup nya.


"Ras ... Lo udah sadar?" Tanya Ram cemas.


Laras mencoba duduk,sembari memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing,Ramapun membantu nya duduk.

__ADS_1


Tak disangka Laras,saat ia sudah duduk,Rama yang terlihat begitu cemas tadi, segera memeluk nya dengan erat,itu benar benar membuat Laras kaget.


Memang selama hampir dua tahun dia bekerja di rumah itu,Rama sangat baik padanya,tapi kali ini,pria itu sungguh aneh,terkesan lebih berbeda dimata Laras.


"Ram .." Laras dalam pelukan Rama.


"Ram,aku gak apa-apa,bisa kamu lepasin pelukannya?" Tanya Laras, sedikit ragu juga tentu saja merasa malu.


Rama melepaskan pelukan itu dengan cepat, merapikan pakaian nya yang sedikit kusut, terlihat jelas Rama salah tingkah.Tapi,karena tak ingin memperkeruh suasana,Laras tak ingin membahas itu,ia hanya diam hingga Rama lah yang memulai percakapan.


"Ee .. sorry ras ,gue repleks barusan,oh iya Lo kenapa bisa pingsan di Gerbang,Lo sakit?" Wajah cemas Rama kembali lagi,dia malah langsung memegang dahi Laras.


Laras benar benar dibuat malu oleh nya,wajahnya merona merah karena perlakuan Rama,Laras segera memalingkan wajah.


"Aku gak apa-apa Ram,cuma tadi Bu Tanika dia di culik seseorang." Jelas Laras, menatap panik Rama dihadapan nya.


Rama mengeryitkan dahi,ia jelas tak mengerti maksud Laras.


"Bu Tanika??"


°°°


"Ya Tanika .. gue udah bosen siksa fisik Lo disini.. mulai hari ini Lo harus jadi binatang yang hasiliin uang buat gue." Jelas Galang menatap tajam wanita dihadapan nya.


Orang orang yang berhasil menemukan Tanika dan membekamnya tadi, membawa Tanika kembali ke Villa itu,Tanika sudah sadar dan kini Galang juga Siska sudah ada dihadapannya.Tak lupa, tali yang sudah mengikat kedua tangannya,juga mulut yang juga dilakban,agar Tanika tak kembali berulah.


Plakkk ..


Siska menampar pipi Tanika,Tanika hanya mampu menitihkan air mata, menahan perih juga sakit.


"Lo harus siap jadi j a l a n g,supaya jadi ladang duit buat kita,Lo tenang aja,kita gak bakal kirim Lo ke Club ecek ecek ,harga Lo akan mahal disana,jadi Lo gak harus ngerasa murah,karena Lo emang udah gak ada harganya .. hahaha ..." Siska tertawa puas,menghina wanita dihadapan nya itu.


Galang mencengkram erat dagu Tanika, wanita itu hanya mampu menatap tajam mata Galang yang penuh dengan amarah dan balas dendam.


"Dan mulai sekarang j a l a n g,Lo gue talak,gue udah gak Sudi ngaku Lo sebagai istri atau manusia.Cuihhh .."


Galang meludah,tepat disamping Tanika,


Wanita itu hanya mampu menutup mata,bahkan saat ditutup,matanya itu menitihkan air mata,sakit sekali, nyatanya begitu sulit keluar dari penjara hina yang dibuat Galang itu.


"Seret dia .. bawa dia pulang!!" Sentak Galang,kepada penjaga disamping mereka.Ia juga menghempaskan wajah Tanika dengan kasar,tak memperdulikan wanita itu sudah menagis tersedu sedu dibalik mulut yang tertutup lakban juga tangan yang diikat kuat.


Tanika diseret dua pengawal disana,ia sungguh tak bisa apa apa sekarang, kakinya benar benar sudah lemas,kini dia hanya harus pasrah,dia akan menjadi santapan liar para hidung belang,dan entahlah .. hati Tanika hanya mampu berdoa..


"Selamat kan aku Ya Allah .. selamat kan lah cinta ku .. Selamat hidupku .." lirih Tanika dalam hatinya.

__ADS_1


⏳ ⏳ ⏳


__ADS_2