
POV : Faris
Apa yang dirasakan seseorang? ketika tahu,akan berpisah dengan orang yang dia cintai?
Tentu saja,tak rela,sedih,dan berharap itu tidak terjadi saja.
Itulah aku saat ini, aku tak ingin kehilangan wanita yang kini sedang berada disamping ku.
Malam ini,aku dan Bu Tanika duduk berdua di ranjang ku,tentu saja,ini adalah permintaan ku,aku ingin kita berdua bersama sama, menikmati waktu berkualitas kita berdua, sebelum pada akhirnya,aku dan dia berpisah.
Aku tiduran diatas paha istriku,sembari memegangi tangan kanannya, sementara tangan kirinya fokus memegang novel yang sedang dia baca.
Aku memainkan jarinya, sesekali ku ciumi punggung tangannya.
"Faris .. kamu terus aja cium tangan saya,gak bosen gitu?" Bu Tanika bertanya, setelah untuk kesekian kalinya,aku mencium tangannya itu.
"Nggak,saya gak pernah bosen pegang tangan ibu,saya gak akan pernah rela tangan ini terluka" Aku menunjukan tangan Bu Tanika yang ku pegang.
"Okey deh,apapun itu asal kamu bahagia" ucap Bu Tanika mengelus lembut rambut ku.
"Bu.." ucapku mengambil tangannya lagi.
"Mmmh" Bu Tanika menyimpan buku nya dinakas samping ranjang.
Ia lalu menatap ku,menarik tangan kanannya, kembali mengelus lembut rambutku, sedang tangan kirinya, memegang bahuku.
"Kenapa?" Ia tersenyum manis padaku.
"Kalau saya bilang .." aku mengambil tangan kanannya lagi, lalu mencium punggung tangan nya cukup lama.
Bu Tanika diam sejenak,
"Kamu mau bilang apa?" Bu Tanika akhirnya bertanya,karena mungkin aku menggantung pertanyaanku.
"Ibu bilang apapun akan ibu lakukan asal saya bahagia,gimana kalau saya bilang saya bahagia kalau terus bersama ibu,apa yang akan ibu lakukan?"
Aku membetulkan dudukku, duduk disebelah Bu Tanika, menatap penuh harap.
Bu Tanika nampak bingung harus jawab apa,ia menggenggam kedua tangan ku.
"Ris..kamu tahukan pernikahan kita gak normal, apalagi aku lebih cocok jadi kakak,bahkan mungkin Tante kamu" Bu Tanika menjelaskan itu dengan lembut.
Aku memeluk tubuhnya.
"Saya gak peduli,yang saya tahu , saya udah terlanjur sayang sama ibu,apa salah nya ibu lebih tua dari saya,saya bakal tetep jadi suami yang baik,jika ibu ingin saya tetap bersikap sopan dan menghormati ibu layaknya guru saya,saya rela melakukan itu,saya bakal lakuin apapun itu asal ibu gak ninggalin saya" jelasku penuh keyakinan.
Karena,memang hati ku sudah terlanjur mencintai dan menyayangi nya,satu bulan kebersamaan kita,membuatku tahu sosok lain dari Bu Tanika,guru yang awal nya ku kira galak dan hanya ada ketegasan dalam dirinya,kini aku tahu dia hanya gadis yang manis dan penuh perhatian.Aku tak ingin melepaskan nya,rasanya akan sulit bagiku menemukan wanita yang sama.
Aku tahu dia ragu membalas pelukanku,tapi setelah ku selesai kan penuturan ku, iapun balas memeluk ku.
"Kamu tahu ris, kamu adalah murid terbaik saya,kamu bahkan lebih dari sekedar itu" Bu Tanika balas memelukku dengan lembut.
Drrrtttt Drrrtttt Drrrtttt.. tiba tiba suara ponsel Bu Tanika berbunyi.
__ADS_1
Bu Tanika melepaskan pelukan ku perlahan,aku mengerti dan ikut melepaskan pelukan ku.
"Bentar ya .." Bu Tanika tersenyum pada ku,ku balas senyuman itu.
"Hallo Assalamualaikum" sapa Bu Tanika pada orang yang menelpon nya.
Bu Tanika nampak mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan orang dibalik telpon itu.Tiba tiba Mata Bu Tanika membulat,ia nampak kaget,aku tak mengerti dan juga tidak tahu siapa orang yang menghubungi Bu Tanika, hingga ia kaget seperti itu.
"Ya okey ,baik baik saya akan segera ke rumah sakit sekarang" Bu Tanika langsung mematikan ponselnya.
Hah? Rumah sakit? Aku merasa aneh, Rumah sakit Bu Tanika bilang?? Jangan jangan ada hubungan nya sama kakek,aku pun memberanikan diri bertanya.
"Rumah sakit? Ada apa Bu?" Tanya ku saat melihat Bu Tanika bergegas turun dari ranjang.
"Iya ris,ini gawat,kamu tunggu saya di mobil,kita ke rumah sakit,kakek kamu tiba-tiba serangan jantung, sekarang para medis sedang berusaha, untuk memeriksa nya" jelas Bu Tanika dengan nada panik,ia berjalan cepat mengambil ponsel nya.
"Apa?kakek?" Tanya ku tak percaya.
"Iya ayo kita cepetan kesana,kamu tunggu dimobil ,aku cuman ambil kerudung aja" jelas Bu Tanika,membuka pintu kamarku.
Aku yang tak kalah kaget, langsung turun dari ranjang, mengambil jaket ku dan mengikuti Bu Tanika keluar kamar.
Seperti yang Bu Tanika bilang,aku berjalan cepat menuju mobil.Tak lama Bu Tanika datang dan langsung melajukan mobilnya,bahkan dengan kecepatan lebih.
Sesampainya di rumah sakit,Aku dan Bu Tanika langsung masuk ke ruang dokter.
"Dok bagaimana keadaan kakek saya?" Tanya ku cepat pada dokter dihadapan ku.
Aku dan Bu Tanika menurut.
Tapi aku benar benar tak sabar dan kembali bertanya.
"Dok,kakek saya baik baik saja kan?apa yang terjadi dok?" aku seperti nya benar benar terlihat panik,sampai Bu Tanika mengelus bahu ku,agar aku tenang,tapi aku merasa tak sanggup tenang, karena serangan jantung bagi kakek sangat lah berbahaya.
"Baik,kamu tenang ya..saya akan jelaskan .." aku memasang pendengaran ku dengan baik,agar aku bisa mendengar penjelasan dokter dengan baik.
"Sebelumnya kami minta maaf,kami datang terlambat,kami tak bisa menyelamatkan Kakek Gunawan, mungkin serangan jantung nya sudah berlangsung lama,kami baru tahu beliau serangan jantung, saat petugas kami memasuki ruangan beliau,kami menyesal kami minta maaf,kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan beliau,tapi sekali lagi,kami minta maaf kami tidak berhasil." Jelas dokter itu membuat ku serasa tak bisa menapak kan kaki dibumi,aku seperti hilang dan mata ku yang sedari tadi memanas karena khawatir,kini akhirnya mengeluarkan air matanya.Aku merasa kan tubuh ku seperti hilang keseimbangan.Aku tak percaya harus berpisah dengan kakek yang menemaniku selama tujuh belas tahun,pria yang menjagaku dari kecil,dari saat aku lahir, saat ibu meninggal kan ku untuk bekerja di luar negeri,dan yang selalu ku suapi makannya saat sakit.Apa benar kini aku harus berpisah dengan dia selama lamanya?? Siapa yang akan mendengar kan ceritaku lagi,juga tak akan ada lagi kakek yang bercerita padaku lagi.
Aku merasa kan pelukan hangat di tubuhku,aku lupa sesaat jika aku berada di dalam ruangan dokter,juga berada dirumah sakit.
Suara dokter menyadarkan ku.
"Sekali lagi saya minta maaf,kamu yang sabar nak,kita tidak pernah tahu kematian atau takdir seseorang,saya benar benar minta maaf,tapi saya tidak bisa mengembalikan nyawa yang hilang" jelas dokter itu,seakan membuatku kembali sadar, kakek benar benar telah meninggal kan ku selama lamanya.
"Anda sebaiknya, menenangkan dia,pasti berat untuk nya,saya izin keluar dulu" Dokter itu pamit meninggalkan aku dan Bu Tanika diruangan itu.
"Saya gagal Bu" ucapku, merasa gagal tak mampu menjaga kakek, yang kini harus meninggalkan ku selamanya.
"Maksud kamu apa? Kamu gak gagal,kita udah berusaha,ini udah takdir,kamu orang yang sabar, saya yakin kamu bisa lewatin ini semua" Bu Tanika memelukku dengan lembut,ia menaruh kepalaku agar bersender didadanya.
Aku memeluk nya dengan erat,aku menagis sejadi jadinya dipelukan Bu Tanika,ia mengelus punggung ku dengan lembut, menenangkan ku agar aku tak menagis lagi.
Tapi, jujur saat ini aku seperti lupa segalanya,yang ku ingat hanya kakek dan kini kakek sudah pergi,bahkan aku tak sempat melihat hembusan nafas terakhir nya.Aku merasa kan sakit dihatiku, ternyata benar aku harus kehilangan seseorang yang ku sayang dan setelah ini,,aku juga harus menerima kenyataan kehilangan Bu Tanika.
__ADS_1
Aku tidak tahu ,aku akan sanggup atau tidak,aku nampak seperti pria yang cengeng dan lemah saat ini.Tapi,sekali lagi,hatiku benar benar tak bisa berbohong.
Aku sekarang,hanya harus belajar menerima kenyataan ini,meski memang sangat amat menyakitkan.
Ku angkat kepala ku,juga melepaskan pelukan ku.
Aku berusaha tersenyum dihadapan Bu Tanika.
"Terima kasih Bu,karena ibu,kakek sangat beruntung bisa dirawat disini" aku menggenggam kedua tangannya.
Bu Tanika tersenyum sendu.
"Ya ,saya senang bisa bantu kamu, sekarang kamu janji jangan sedih dan nangis lagi? Faris yang saya kenal adalah sosok yang kuat dan sabar" Bu Tanika menghapus air mata ku yang masih tersisa akibat tangisan ku tadi.
Aku mengambil tangan itu,mengenggam erat tangan yang memegang pipiku.
Aku mengambil dan mencium punggung tangan itu.
"Terima kasih banyak,karena ibu masih setia bersama saya sampai saat ini,untung saja kita belum berpisah,saya tidak tahu akan seperti apa saya, jika kematian kakek, terjadi disaat kita sudah berpisah" aku menatap nya dengan tatapan sendu,aku melepaskan tangan yang kini menatap ku iba.
Aku berdiri
"Saya akan pergi ke toilet,ibu ke ruangan kakek duluan,saya akan menyusul" jelasku,lalu berjalan keluar ruangan itu,ku tinggalkan wanita yang menatapku iba, wanita yang memang ku harap tak pernah meninggalkan ku.
Keesokan harinya, jenazah kakek di makamkan,aku tak memberi tahu sekolah kalau kakek meninggal, aku hanya bilang aku izin ada urusan keluarga,itu adalah keputusan ku,karena aku tak ingin teman teman ku, melihat Bu Tanika bersama ku,jelas itu akan membongkar status ku dengan Bu Tanika,yang jelas bukan hanya sekedar murid dan Guru.
Pemakaman hanya dihadiri tetangga sekitar,pihak rumah sakit yang membantu,juga orang tua Tanika,dan tentu saja aku dan Bu Tanika.
Setelah pemakaman, orang orang mulai meninggalkan makam,kini hanya tinggal aku, Bu Tanika,dan kedua orangtuanya.
Aku duduk berjongkok disamping makam kakek memegangi nisannya,ditemani Bu Tanika.
Ibunya Bu Tanika memegang bahu ku.
"Nak,kamu yang sabar ya!? Ini sudah takdir,kamu pasti bisa melewati semua ini" ibunya Bu Tanika, mengelus lembut bahuku, menguatkan ku dengan kata katanya.
Setelah beliau melepaskan kan tangan dari bahuku,ayah Bu Tanika berganti mengelus bahuku, menguatkan ku dengan kata kata,layak nya seorang ayah yang menyemangati anaknya,kata yang memang tak pernah aku dengar dari ayahku.
"Kamu pasti bisa, kamu harus sabar,ayah dan ibu juga adalah orang tua kamu sekarang,kamu jangan pernah merasa sendiri,ini sudah takdir,kita tidak pernah tahu,terkadang yang menurut kita menyakitkan itu bisa menjadi yang terbaik untuk kita" jelas nya memegang bahu ku, menguatkan ku agar tetap tabah dan sabar.
Aku melirik kedua mertua ku itu,dengan mataku yang masih sembam karena menagis.
"Terima kasih banyak,ibu dan ayah sudah anggep saya kaya anak sendiri" aku tersenyum sendu, menatap mereka yang berdiri dibelakang ku.
Aku kembali mengalihkan pandangan ku ke makam kakek,aku merasa tak kuasa harus meninggalkan kakek sendiri disini,kakek akan kedinginan,dia sendiri disini.Apa yang aku katakan ini?? Kakek sudah meninggal,ini memang tempat nya sekarang.Tapi ... Lamunan ku terhenti saat Bu Tanika,memegang lembut bahu ku.
"Saya tunggu kamu dimobil ya?! Kamu harus kuat,jangan nangis okey?!" Bu Tanika menghapus air mata yang jatuh di pipiku.
Aku tersenyum sendu.
Bu Tanika berdiri dan nampaknya dia pergi menuju mobilnya.Aku tak tahu jelas,karena aku kembali menatap makam kakek.
Mulai sekarang aku harus terbiasa tanpa kakek,meski aku harus kehilangan sosok kakek yang baik,murah hati , selalu tersenyum.Kini aku harus sesabar kakek,aku tak boleh menyerah,aku akan membuat perjuangan kakek membesarkan ku tak sia sia.
__ADS_1