
Tak akan perbincangan, Tanika hanya menatap keluar jendela mobil itu,dengan tangannya yang setia mengelus ngelus lembut kepala sang putri Rista,pikiran Tanika masih tertuju pada kejadian beberapa hari lalu,ia masih terus kepikiran,saat Siska mengucapkan maaf dengan linangan air mata.Bukan itu saja,Tanika bahkan harus melihat wanita itu meregang nyawa tepat dihadapan nya.
Ya,Siska sudah meninggal,detik dimana ia mengucapkan maaf pada Tanika,saat itu pula wanita itu menghembuskan nafas terakhir,Tanika sempat menuntun wanita itu mengucapkan dua kalimat syahadat.Entahlah, Tanika tak tahu wanita itu berhasil mengucapkan nya atau tidak.
Tanika kembali menghembuskan nafas,seakan mengeluarkan segala beban dipikirannya,
Pandangan nya masih melihat setiap bangunan juga pohon dibalik kaca mobil itu.Untuk Galang sendiri,kabar terakhir yang Tanika dengar pria itu sudah masuk penjara,bahkan ayah Galang sendiri yang menjebloskan Galang kesana.
Suatu kebetulan memang,malam ini Tanika bersama Faris juga Rista akan menemui ayah Galang disebuah hotel,bukan sekedar meminta maaf atas perlakuan Galang,ayah Galang juga memang akan membahas kerja sama bisnis dengan Faris.
Tanika mengerjapkan mata nya, mengingat segala sesuatu yang telah ia lewati selama lima tahun yang lalu dan lima tahun terakhir yang ia jalani,
Faris melirik kaca spion depan,ia yang memang sedang mengemudi, melihat Tanika tampak sedih dijok belakang.
"Tan .." panggil Faris setelah melihat spion,lalu kembali lurus menatap jalanan.
Tanika tersadar dari lamunannya,ia sedikit mengerjap ngerjapkan mata, melirik kaca spion,
"I..iya Ris," jawab Tanika, terdengar gugup.Mungkin Faris sudah tahu dia sedang melamun saat ini.
"Kamu baik baik aja kan?" Tanya Faris,sembari menghentikan mobil, rupanya mereka memang sudah sampai didepan parkiran hotel itu.
"Aku gak apa-apa Ris,"
Faris membalik badan, agar dapat melihat Tanika dengan jelas.
"Kamu yakin? kamu gak perlu bertemu Pak Putra kalau kamu gak siap." Pinta Faris,ia pikir Tanika tak ingin menemui ayah dari orang yang memang sudah menyakiti nya.
"Gak Ris,aku gak mau seegois itu,lagian Pak Putra mau minta maaf sama aku." Jelas Tanika, dengan senyum.
"Okey kalau gitu."
Faris membuka sabuk pengaman,lalu keluar dan membuka pintu belakang mobil,Faris menggendong Rista,
Tanika mengekor dibelakang Faris,
Setelah Faris memesan kamar,ia segera membawa Rista untuk menidurkan nya dikamar.
"Tan,aku akan meeting dulu sama Pak Putra, kalau sudah selesai aku akan hubungi kamu,kamu tunggu disini okey? Paling cuma sebentar, setelah nya kita makan malam bersama." Jelas Faris.
Tanika tersenyum,
"Iya ris,aku bakal tunggu kamu."
Faris pun berdiri dari duduknya,tiba tiba ia teringat sesuatu.
"Oh ya ..aku hampir lupa,aku udah kabarin mama soal kamu sama Rista,dia bakal kesini, mungkin .." Faris diam sesaat ia melihat jam ditangannya, "sebentar lagi." Jelas Faris dengan senyum simpul,lalu memegang bahu Tanika, melihat Tanika yang begitu cemas,entah karena akan bertemu Ayu atau Pak Putra,Farispun tak tahu akan hal itu,ia hanya mencoba menenangkan wanita itu.
"Kami tenang ya? Semua nya akan baik baik saja,mulai sekarang ada aku disamping kamu."
Tanika menongkang wajah, menatap Faris penuh arti.
"Makasih Ris," ia menjeda ucapan nya,sejenak memegang punggung tangan Faris yang menempel dibahunya, "aku beruntung bisa ketemu kamu lagi." Senyum Tanika, begitu tulus,menambah kecantikan dihadapan sang mantan suami.
Faris sejenak terkesima,hingga ia tersadar,lalu melepaskan tangan dari bahu Tanika.
"Okey kalau gitu,kamu tunggu disini."
Faris lalu bergegas keluar kamar untuk menemui Pak Putra,ayah Galang.
__ADS_1
Mereka melakukan pertemuan untuk membahas kerjasama bisnis mereka,bahkan bukan itu saja,Pak Putra meminta maaf pula pada Faris,pria itu merasa bersalah atas keburukan yang dilakukan anak nya pada Tanika.
°°°
Cahaya di ufuk barat kian turun,bagai ditelan bumi, pemandangan matahari terbenam terlihat begitu indah diatas hotel itu, fasilitas hotel yang memang menyediakan sebuah tempat makan juga kolam renang diatas hotel menghasilkan pemandangan yang begitu indah,dapat dilihat dari atas sana.
Angin malam mulai menyentuh kulit,kini senja berganti malam.Tanika masih setia berdiri disana menatap jauh bangunan bangunan,juga pergantian senja hingga menjadi malam.
Lampu taman disana mulai dinyalakan,Faris berkata dia dan Pak Putra akan naik ke atas setelah melaksanakan sholat magrib.Tanika menunggu disana dengan sabar,ada beberapa perasaan yang tak bisa wanita itu deskripsi kan.
Ia menikmati kesejukan malam itu,sebuah suara membuat Tanika membalikkan badan.
"Tan .." suara familiar dari Faris.
Langkah Faris terhenti dihadapan Tanika,tak lupa Pak Putra yang juga mengikuti nya.
"Ini Pak Putra Tan, beliau adalah ayah Galang." Faris memperkenalkan Pak Putra pada Tanika,dengan sopan Tanika mengulurkan tangan,
"Saya Tanika Pak." Senyum mengawali perkenalkan itu.
Ayah Galang menjabat tangan itu dengan sopan.
"Putra,saya ayah Galang." Lalu melepaskan jabatan tangan itu.
"Saya benar benar minta maaf." Ucap Pak Putra,mengubah senyumnya menjadi raut wajah penuh penyesalan, "saya tidak pernah tahu apa yang Galang lakukan,karena saya terlalu sibuk bekerja.Saya sungguh menyesal,saya tidak bisa mendidik anak saya dengan baik,saya juga merasa maaf saja tidak akan pernah cukup,saya akan mengganti rugi atas semua yang pernah Galang ambil dari kamu, mungkin ini terdengar seperti saya membayar harga diri kamu dengan uang,tapi saya benar benar tidak bisa melakukan apa-apa,selain dari itu." Ucap pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu,ia benar benar menunjukkan penyesalan yang luar biasa atas tindakan anaknya.
Tanika diam sejenak,ia rasanya sulit jika harus memaafkan kesalahan besar yang dilakukan Galang,bahkan bukan sekedar fisik yang dilukai Galang, tapi juga harga diri nya.
Melihat reaksi Tanika yang hanya diam,Pak Putra kembali melanjutkan permohonan maaf nya.
"Sakit?" Tanya Tanika, penasaran sakit apa yang diderita Galang.
Faris yang nampaknya sudah tahu,ia hanya diam sedari tadi.
"Iya,Galang mengalami gangguan jiwa,saat kabar kematian Siska samping ke telinganya,Galang berteriak histeris,bahkan dia sering ngamuk di sel penjara,hingga saya memutuskan membawanya ke rumah sakit jiwa,lagi disana dia dikurung di sebuah sel karena dia selalu mengamuk.Jujur saya tidak tahu harus berbuat apa,saya hanya berharap maaf dari kamu,bisa meringankan sakitnya." Jelas pria itu,tak mampu menahan air mata nya lagi,tapi dengan cepat dia menghapusnya.
Guratan kesedihan nampak jelas diwajah pria tua itu,Tanika tak bisa begitu egois terus menyimpan amarah ,ia pun mencoba menenangkan diri dan berpikir untuk memaafkan Galang,meski dengan perlahan.
"Pak,saya akan mencoba memaafkan anak bapak,saya tahu saya dulu juga salah menyakiti hati anak bapak."
Pria tua itu menyunggingkan senyum,merasa lega atas jawaban Tanika.
"Terima kasih banyak nak,saya berdoa semoga kamu bahagia,cukup kamu terluka karena anak saya,jangan sampai ada lagi orang yang melukai kamu." Ucap pria itu,lalu mengambil sebuah kartu disaku jasnya.
"Ini kartu nama saya,kalau kamu perlu apapun,kamu hubungi saya." Pak Putra menyodorkan kartu itu.
Tanika belum mengambil kartu itu,ia masih sedikit ragu.
"Tapi pak .."
"Hanya ini yang bisa saya lakukan,saya mohon kamu jangan menolak." Pria tua itu terlihat mendesak Tanika untuk menerima nya.
Dengan pasrah Tanikapun mengambil kartu nama itu.
"Terima kasih Pak,"
Pak Putra pun tersenyum lega,
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi, masih ada urusan yang harus saya urus,"
Pak Putra berjabat tangan dengan Tanika dan Faris secara bergantian.
"Saya permisi nak Faris,nak Tanika, terima kasih banyak sekali lagi."
Pak Putra meninggal kan tempat itu, setelah mendapat senyum juga anggukan dari Faris dan Tanika.
Ada perasaan lega dalam hati Tanika,kini semua penderitaannya sudah berakhir,mungkin apa yang yang terjadi pada Galang menjadi hukuman setimpal atas perlakuan nya selama ini.
Tapi, ada hal lain yang ia khawatirkan,pria yang kini ada dihadapannya,ia sangat ingin bersamanya tapi keraguan lagi lagi menjadi alasan Tanika.
Ia menunduk menatap kartu nama itu,tiba tiba tangan Faris menyentuh tangan Tanika yang sedang memegang kartu itu.Sontak Tanika mengangkat wajah menatap Faris, terlihat Faris tersenyum lembut.
"Kamu kenapa? Kamu baik baik aja kan?" Tanya Faris dengan sorot mata penuh kasih.
Tanika kembali menunduk entah apa yang harus ia katakan pada pria yang ia rindukan itu.
Tanika membalik badan,menatap langit malam yang cerah meski tak berbintang,ia sejenak menghela nafas,
"Aku gak tahu Ris, aku ngerasa aku gak bisa balik lagi sama kamu." Ucap Tanika, terdengar penuh penyesalan.
Faris sejenak tertegun,tapi ia menyadari Tanika butuh waktu untuk menjalin hubungan bersama nya lagi.
Kedua tangan Faris memeluk Tanika dari belakang,Tanika dapat merasakan kehangatan pelukan itu,entahlah ..Tanika tak ingin menolak,kedua tangan juga tubuh yang menyentuhnya itu seakan memberi rasa nyaman tersendiri.
"Kamu jangan buru-buru ambil keputusan,aku akan menunggu," bisik Faris tepat ditelinga Tanika.
Tanika membalikkan badan, membuat Faris melepaskan pelukan itu, wanita itu terlihat menunduk,
"Tapi Ris .." Faris menghentikan ucapan Tanika,ia mengangkat dagu Tanika perlahan.
Kini sepasang mata itu bertemu,saling tatap,tatapan yang terkunci satu sama lain.
Faris perlahan menurunkan tangannya,kedua tangan Faris menyentuh pipi Tanika,ia mengelus lembut pipi itu.
"Kamu tahu,aku sangat merindukanmu Tanika,tak ada yang aku inginkan saat datang kesini,aku hanya ingin kamu kembali Tan."
Elusan lembut tangan Faris, membuat Tanika menikmati sentuhan lembut itu,ia menutup mata,dengan nafas yang mulai tak beraturan.
"Aku mohon Ris,jangan lakuin ini." Tanika masih menutup matanya,seakan merasakan sentuhan lama yang ia rindukan.
Faris menarik lembut wajah Tanika,
"Aku hanya minta kamu kembali Tan," Faris berbisik ditelinga Tanika, wanita itu semakin tak sanggup mengatur nafasnya,
Perlahan Faris mendekatkan wajahnya,kini hembusan nafas Tanika dapat dirasakan jelas oleh Faris,hingga Faris memiringkan sedikit wajahnya, mendekat kan bibir agar menyentuh bibir Tanika,Tanika seperti tak akan menolak ciuman dari Faris hingga ia tersadar,lalu menundukkan wajah.
Nafas yang tak beraturan mulai Tanika kendalikan.
"Maaf ris aku gak bisa." ada bulir bening tertahan disudut mata Tanika.
Tanika menepis perlahan kedua tangan Faris,ia bergegas lari meninggalkan Faris.
Faris sejenak mematung, lalu ia berteriak.
"Tan ..!!"
__ADS_1