Lima Tahun Yang Lalu

Lima Tahun Yang Lalu
Lima Tahun Yang Lalu (Tak Ada Kesempatan)


__ADS_3

Tok tok .. tok tok ..


Suara pintu depan, membuat Tanika sedikit tersentak,ia yang sedang terduduk dilantai kamar itu, berusaha bangkit, perlahan dengan sekujur sendi serasa begitu ngilu,sakit dihatinya,benar benar menjalar hingga seluruh tubuh nya.Mata sembab yang dibanjiri air mata,ia mencoba menghapus bulir bulir bening itu, perlahan.


Dengan jalan yang terasa lemas,Tanika berjalan perlahan,membuka pintu rumah, sebelumnya pandangan Tanika mengelilingi semua sudut rumah.Tak ada Faris,tentu saja,dia benar benar pergi tadi,bahkan tanpa Tanika sadari.


Helaan nafas penuh kegetiran,pertanda hati yang sakit karena kehilangan.


Ceklek, pintu terbuka, sepasang mata menyipitkan pandagannya,menyelidik setiap bagian tubuh Tanika,terulas senyum sinis,penuh rasa puas,seakan tertawa akan semua derita yang dirasa Tanika.


"Dari yang gue liat,Lo udah berhasil usir suami Lo itu.Gue minta buktinya!!!" Seringai terlihat jelas dari wanita bernama Siska itu.


Tanika menatap tajam,ingin rasanya menjambak atau menampar wanita dihadapannya,tapi entah... Sulit tangan itu untuk terangkat,tangan yang penuh dengan peluh dan hanya mampu digepal sekuat tenaga,menahan amarah,amarah yang tak sanggup terungkap.Mata yang memerah,menahan tangis juga amarah.Tanika seakan kaku untuk membalas kekejaman Siska.


Siska masih dengan senyum menyeringai,ia merampas ponsel yang dicengkram erat oleh Tanika,tak peduli dengan Tanika yang terlihat tak suka diperlakukan demikian.Dengan seksama Siska meletakkan ponsel didekat telinganya, mendengarkan rekaman yang memang sudah Tanika buat.


"Hahaha .. " Tawa Siska begitu menjelaskan betapa bahagia dia.


Prakkk .. Siska melempar ponsel itu, mencengkram erat dagu Tanika, dengan tangan kanannya,kuku bercat merah itu,seakan menusuk rahang Tanika,sakit,tentu saja,karena bukan sekedar fisik yang disakiti,tapi hati dan jiwanya.


"Heh .. Lo emang bijak,ponsel itu sebagai ganti Lo udah lempar tablet gue,dan Tanika Kusuma Pratama, selamat atas sakit hati yang Lo derita,Lo jangan kangen sama gue,karena Lo bakal ketemu lagi sama gue,suatu saat nanti,dan tentu dengan rasa sakit lebih dalam," Penekanan disetiap ucapan Siska, berhasil membuat Tanika goyah,air mata kembali meluncur dipipinya,hanya itu yang mampu Tanika perbuat,lemas sekali hati dan raganya detik itu.


Siska mendorong wajah Tanika, membuat nya terjatuh terkulai dilantai,Tanika tertunduk, air mata masih membanjiri pelupuk matanya.


Tak .. tak .. tak .. derap langkah Siska,berjalan menjauhi rumah bercat monokrom itu.


Segukan terdengar jelas diruang tamu itu,tangis Tanika benar benar pecah ...lama ia terduduk di lantai itu, merasakan sakit yang teramat sangat,jika dulu ada Faris yang menenangkan nya,tapi kini .. dengan sangat kejam Tanika sudah mengusir suaminya itu.


"Nyonya .. nyonya .." Teriak Satpam rumah, membuat Tanika, dengan cepat menghapus air matanya, berlari kecil ,menuju gerbang tempat Satpamnya berteriak.


"Ada apa pak?" Tanya Tanika,saat membuka gerbang rumahnya itu dari dalam.


"Ini nya,ibu ibu ini pingsan."


Tak terdengar rasanya, penjelasan Satpam rumah itu,Tanika hanya menatap tak percaya, matanya melotot seolah begitu terkejut, melihat wanita dipangkuan Satpamnya itu adalah ibu mertuanya sendiri,dengan lengan berlumur darah juga kondisinya yang pingsan.Tanika yang terlihat mematung dikagetkan dengan teriakan Pak Satpam.


"Nya ..!! Kita bawa kemana ini,ke rumah atau langsung rumah sakit Nya?"


Tanika tersentak , kesadarannya perlahan kembali,ia mendengar pertanyaan satpam nya itu,meski memang hanya samar samar.


"Bawa masuk pak!"


Tanika menghubungi dokter pribadinya, untuk mengecek kondisi Ibu mertua nya,


Beberapa menit Dokter membalut juga memeriksa luka Ibu mertua Tanika. Tanika mengigit ujung jemari nya,begitu panik dia,berjalan mondar mandir di depan ranjang itu.


"Mba .."


Panggilanan dokter membuat Tanika, dengan segera mendekati sang dokter, tatapan penuh kepenasaran,juga khawatir terpancar jelas dimatanya.


"Jangan khawatir mba,ini hanya sayatan pisau,lukanya tidak terlalu dalam,hanya butuh dibalut juga minum obat pereda nyeri,dia pingsan karena efek obat bius,nanti juga akan segera sadar." Jelas dokter,

__ADS_1


"Alhamdulillah .." Tanika menutup mulut dengan telapak tangannya,begitu bersyukur ibu mertua nya,tak terluka parah atau bahkan kehilangan nyawa.


"Terima kasih dok,terima kasih banyak."


Dokter tersenyum


"Sama sama mba,jangan lupa tebus obatnya!" Dokter memberikan kertas,berupa resep obat.


Tanika mengambil kertas itu,dengan senyum yang ia paksakan,Dokter beranjak pergi, setelah memberi resep.


Tanika duduk disamping ranjang, melihat isi dari resep itu sesaat, sebelum ia beralih menatap ibu mertua nya,Ayu,ibu mertua Tanika,dia terbaring lemah, dengan perban dilengannya,lengan yang jelas Tanika lihat,telah disayat pisau tajam.Tanika kembali meneteskan air mata,


Apa salahnya? Begitu jahatkah perlakuan nya pada Ilham,hingga semua luka itu harus dia rasakan?


Ayu perlahan membuka mata, mengerjap ngerjapkan matanya,mengedarkan pandangan, melihat ruangan yang memang asing baginya, pandangan nya terhenti,menatap Tanika, menantunya itu sedang menangis tersedu sedu,menutup mulutnya,agar suara tangis itu tak memenuhi ruangan,Tanika yang menunduk,tak menyadari tatapan mertuanya itu.


Ayu menggenggam salah satu tangan Tanika yang terulur diatas kasur.


"Tan .." ucap Ayu, begitu lirih,ia masih berusaha mencerna situasi detik itu.


Tanika dengan cepat,menghapus air mata yang terlanjur berjatuhan.


"Ma .." Tanika balas menggenggam tangan Ayu erat, ia menyondongkan tubuhnya,agar bisa melihat lebih dekat mertua nya itu. "Mama baik baik aja kan? Ada yang sakit?" Tanya Tanika,begitu cemas,alisnya sedikit tertaut, kekhawatiran jelas sekali terpancar diwajahnya.


Senyum kecil, terlukis diwajah ayu,ia tak mau menantunya itu merasa khawatir,ia mengelus lembut punggung tangan Tanika.


"Gak sayang,mama gak apa-apa,kamu yang bawa mama kesini? Makasih ya sayang,mama tadi diculik orang,mama gak tahu siapa orang nya,tapi yang jelas mereka pake baju hitam, wajahnya juga ditutup masker,mama juga disayat pisau,mama kira mama akan mati saat itu juga,tapi tiba tiba mereka menyuntikan sesuatu dilengan mama, setelah nya mama gak inget apa apa." Ayu begitu rinci menjelaskan semua itu.


"Tan..kamu jangan sedih,mama gak apa-apa." Elusan lembut,terasa dipunggung tangan Tanika.


Tanika mencoba menahan kesedihannya,ia menatap ibu mertua nya itu, menggenggam erat tangannya,seulas senyum ia paksakan singgah diwajahnya.


"Ma,yang terpenting sekarang mama harus istirahat,aku akan buat makan,aku juga bakal beli obat buat mama,mama tunggu ya!?" Pinta Tanika dengan lembut,menyentuh lembut bahu mertuanya.


Tanika menaikan selimut, memakaikan nya sampai dada Ayu,ia kembali memegang kedua bahu Ayu, memenangkan ayu agar segera beristirahat dan tak mengkhawatirkan kejadian yang menimpa nya.


"Tan .."


Tanika menghentikan langkahnya yang akan keluar kamar,ia menoleh ke arah Ayu.


"Ya ma."


"Faris tahu tentang ini?"


Tanika diam sesaat,ia lalu menggeleng dengan pasti, dengan senyum yang setia ia paksakan.


"Tolong kamu jangan kasih tahu Faris ya,mama gak mau dia ikut khawatir." Mata wanita paruh baya itu,penuh rasa memohon.


Tanika menghela nafas kecil, sebelum menjawab permintaan Ayu.


"Iya ma."

__ADS_1


°°°


Faris baru sampai dirumahnya yang dulu,ia turun dari sebuah motor,lalu memberikan uang sepuluh ribu pada tukang ojek yang mengantarnya, kembali ke hunian lamanya itu.


Dengan jalan yang lesu,Faris mengetuk pintu rumah itu, berharap Si penghuni rumahlah yang akan menjadi pemenang hatinya yang terluka.


Tok tok ...


"Assalamualaikum ma.."


Tak ada jawaban,tentu saja,karena sang penghuni memang tak ada didalam.


Tok tok ..


"Ma .. mama dirumahkan?"


Tok tok ..tok tok .. berulang kali Faris mengetuk pintu itu,tak ada yang membuka atau jawaban dari dalam rumah.


Kini alis mata yang semula turun, menunjukkan ekspresi sedih,berubah menjadi saling bertaut, menunjukkan kekhawatiran.Faris tentu tidak tahu,dimana Ibunya,ia juga begitu khawatir pada ibunya itu.


"Kemana mama? Apa jangan jangan .." Setelah berpikir kemana ibunya pergi,Faris bergegas lari mencari tukang ojek terdekat,ia tahu harus pergi kemana,ia hanya berharap tempat yang akan ia tuju adalah tempat ibunya berada saat ini.


°°°


Tok tok .. Faris kembali mengetuk pintu ,saat setelah sampai ditempat yang ia tuju tadi.Ya tempat itu adalah rumah Tanika,entahlah .. Faris hanya berpikir Ibunya ada disana.


Tanika membuka pintu,matanya menatap tepat pria yang baru diusirnya beberapa saat yang lalu.


"Mama disini kan?" Seakan lupa,Faris langsung saja bertanya,ia mungkin lupa beberapa jam yang lalu ia sudah bertengkar dengan mantan istrinya itu,bahkan menceraikannya.


"Dia sedang tidur,mama seperti nya sakit."


"Aku akan bawa mama pulang,gak seharusnya mama disini."


Tanika diam sejenak,


"Biarkan mama tinggal disini malam ini,aku akan antar dia pulang besok,kamu boleh pulang sekarang!" Pinta Tanika, terdengar begitu kejam ditelinga Faris.


Tanika perlahan menutup pintu itu,tapi Faris menahan tangannya, menggenggam tangan itu,Tanika tak menolak,ia malah menatap Faris,dengan mata merah,menahan derai air mata.


Wajah Faris begitu serius saat ini.


"Apa kamu yakin,gak akan ada kesempatan untuk hubungan kita?"


Tanika menurunkan pandangannya.


"Kamu harus pulang,ini bukan rumah kamu sekarang,kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi." Tanika melepaskan tangan Faris, dengan satu tangannya, bergegas menutup pintu berwarna putih itu.


Trupp .. pintu tertutup seiring air mata yang berderai.


Tangan itu masih memegang gagang pintu,lama kelamaan menjadi begitu lemas ,hingga terlepas lah genggaman itu,tangannya turun menelusuri pintu,bersamaan dengan tubuhnya yang ikut terduduk,jatuh terkulai,air mata yang tak bisa terbendung lagi.Tanika kembali terisak dalam luka yang ia ciptakan sendiri.

__ADS_1


Sementara dibalik pintu itu,Faris masih mematung,tangan nya ingin kembali mengetuk pintu,tapi ada sebuah penghalang direlung hatinya yang mengatakan untuk tidak melakukan itu,ia m e r e m a s tangannya sendiri,menahan sakit yang teramat.


__ADS_2