
POV : Faris
Sudah sekitar tiga hari aku sakit dan sungguh beruntung aku, karena Bu Tanika yang selalu merawatku, memberikan makan juga obat,sudah dua hari pula aku izin sekolah.
Kini dihari keempat aku sudah agak baikan,Aku keluar kamar untuk sarapan,ku lihat Bu Tanika sedang memasak sesuatu di dapur.
Dia menoleh padaku yang duduk dimeja makan, dekat dapur itu.
Banyak sekali yang ingin ku tanyakan padanya,termasuk tentang rumah ini.
Ya,memang agak aneh,karena Bu Tanika bilang kita akan tinggal di apartemen tapi nyatanya kita malah seperti tinggal dirumah sendiri.
Aku baru keluar kamar hari ini,karena untuk urusan mandi pun, dikamar ku sudah ada kamar mandi sendiri.
Rumah ini cukup besar dan mewah apalagi punya dua lantai,aku dapat menyimpulkan itu dengan jelas, melihat ada nya tangga disana.
Aku masih celingak-celinguk, mengagumi rumah yang bagus, berdinding abu putih itu.
"Ris ,udah mendingan?" Pertanyaan Bu Tanika menghentikan lamunan ku.
"Alhamdulillah udah Bu" jawabku tersenyum padanya.
Bu Tanika menyediakan sarapan pagi itu,dia menyiapkan makanan di atas meja,nampak ada semangkuk sup ayam,nasi,egg roll,juga ada buah buahan,jus jeruk dan susu juga segelas air putih disamping piring kami, selain itu,ada roti tawar dan beberapa toples selai.
"Ya udah kamu sarapan dulu" Bu Tanika duduk,ia mengambil dua potong roti,lalu mengoleskan selai coklat di atas roti itu.
"Kamu mau sekolah hari ini?" Tanya Bu Tanika ,masih mengoleskan selai di rotinya.
Sepertinya Bu Tanika bertanya seperti itu,karena aku memang memakai seragam sekolah lengkap hari ini,juga sudah menggendong tas dibahu kananku.
"Iya Bu,aku udah ketinggalan banyak pelajaran,aku mau sekolah aja hari ini" jelas ku menatap serius wajah Bu Tanika dihadapan ku,ya .. aku dan Bu Tanika saat ini sedang duduk saling berhadapan.
"Mau bareng ibu ke sekolah nya?" Tanya Bu Tanika, dia menyuapkan roti ke mulutnya.
Aku sedikit ragu untuk menjawab,tentu saja aku ragu aku ingin ikut,ya karena aku sekarang belum punya uang jajan lagi,uang jajan ku kemarin tinggal dua puluh ribu.
Padahal hari ini hari Jumat,hari sumbangan mingguan,aku juga sudah tak bisa ikut sumbang lagi kayanya.Dan lagi uang itu paling cukup untuk ojek pulang pergi, karena kan rumah ini,seperti nya cukup jauh dari sekolah,tapi juga aku malu harus terus merepotkan Bu Tanika.
Aku malah melamun bahkan tak menyadari Bu Tanika yang sudah selesai sarapan nya,ia mencuci tangan nya,gemercik air dari washtaple menyadarkan ku akan lamunan itu.
"Ris .. kamu kok ditanya malah bengong? Mikirin apa sih?" Bu Tanika lalu menghampiri ku.
"Ngggak ..Bu" jawabku agak gugup,aku malu sekali kalau harus mengakui aku tak punya uang,Dan apakah aku harus meminta uang pada Bu Tanika?? Ah .. apa apaan itu?? Gak mungkin ..
"Tuh kan bengong lagi?" Bu Tanika kembali mengagetkan ku.
"Kamu masih sakit?" Tiba-tiba Bu Tanika memegang dahiku.
Ya ampun sentuhan nya,dingin ditangan nya itu,seakan membuat lidahku Kelu tak sanggup mengatakan apa apa,dan sekali lagi jantung ku entah kenapa dengan nya, seperti tersengat listrik,saat cukup lama Bu Tanika mengecek suhu tubuhku dengan meraba raba dahiku.
"Gak panas juga" Bu Tanika mengernyitkan dahinya."atau pusing? Yakin mau sekolah?" Tanya Bu Tanika menghentikan aktivitas tangan nya didahiku.
"Yakin Bu" jawabku setelah sebelumnya menelan ludah ku terlebih dahulu,karena merasa sedikit gugup dengan perlakuan Bu Tanika.
__ADS_1
"Ya udah ibu tunggu dimobil,kamu sarapan dulu sekarang,ibu tahu kamu pasti gak ada ongkos kan,jadi ibu yang bakal anter kamu,tenang aja ibu cuma bakal nganter kamu sampai minimarket Deket sekolah" jelas Bu Tanika sembari menepuk bahuku lembut,seakan dia tahu apa yang sedang aku pikir kan.
Dia lalu pergi keluar meninggalkan ku sendiri dimeja makan itu.
Aku memukul jidatku sendiri..
Astaghfirullah .. malu banget,emang bener ya kalau guru selalu tahu aja apa yang dipikirin muridnya.
Akupun melakukan perintah Bu Tanika, yaitu sarapan.
Seusai sarapan aku membereskan piring kotornya dan mencuci nya.
Untuk menu makanan disana aku biarkan saja,karena biasanya suka ada pembantu Bu Tanika yang datang tiap jam delapan dan pulang jam tiga sore,ya .. itu pembantu yang membantu pekerjaan Bu Tanika,nama nya Bu Hemi,dia juga yang sering memberiku makan siang,saat Bu Tanika pergi mengajar.
Aku berjalan menuju mobil Bu Tanika yang masih terparkir di garasi.Aku masuk dan melihat Bu Tanika sedang membereskan kertas ulangan.
"Udah selesai?" Tanya Bu Tanika lalu menyimpan kertas itu dijok kursi belakang.
"Udah Bu" jawab ku tersenyum malu malu.
"Ya udah sekarang pake dulu sabuk pengaman nya,kita berangkat sekarang" pinta Bu Tanika, pandangan nya masih lurus ke depan.
Aku pun mengikuti permintaan nya.
Saat diperjalanan Bu Tanika tak mengatakan apa apa dia fokus saja mengemudikan mobilnya.
"Bu .." tiba-tiba aku memanggil nya,memecah keheningan.
"Bu maaf ya,saya terus ngerepotin ibu,saya malu Bu, saya kan suami ibu,harusnya saya yang bertanggung jawab" jelasku sambil sedikit melirik Bu Tanika.
Wajah Bu Tanika terlihat seperti berpikir.
"Ya gak apa-apa,lagian kamu belum kerja kan?" Bu Tanika menjawab seakan ada sedikit rasa kecewa dihatinya.
Aku menatap nya.
"Bu ..kalau gitu izinin saya kerja ya Bu" pintaku menatap Bu Tanika penuh harap.
Bu Tanika sedikit menggeryitkan dahinya.
"Terus sekolah kamu? Kita mau olimpiade loh" Bu Tanika nampak tak setuju.
"Ibu tenang aja,itu gak bakal ganggu sekolah saya" jelasku meyakinkan Bu Tanika.
Wajah Bu Tanika tiba tiba menunjukan penolakan yang serius.
"Nggak,nggak .. saya nggak setuju,lagian ini pernikahan kita, cuman sampai Olimpiade, selesai itu kita cerai kan?kamu gak usah khawatir, anggap saja saya ngasih sodaqoh ke kamu,kamu gak usah mikirin masalah nafkah atau balas Budi dan sebagainya" Tegas Bu Tanika.
Yang entah kenapa, penjelasan itu seakan menusuk hatiku,setiap katanya membuat ku mengeluarkan banyak pertanyaan
Apa aku akan berpisah dengan Bu Tanika?
Apa aku bisa tanpa Bu Tanika?
__ADS_1
Dan kenapa rasanya hatiku tak rela?
Apa aku mulai jatuh cinta?
Maksud nya.. apa aku mencintai Bu Tanika?
Ah sudahlah,aku memang tak boleh berharap lebih .. sadar Faris !! Bu Tanika itu guru kamu,dia jelas gak cocok sama kamu ,gerutuku dalam hati.
Ya.. hening lah yang terjadi setelah penjelasan Bu Tanika padaku ,yang membuatku tak sanggup mengucapkan kata apapun ,ataupun kalimat yang mampu membela posisi ku, yang ingin bisa menjadi suami yang baik untuknya.
"Ris .. udah sampe,kamu jalan ya dari sini" Bu Tanika kembali membuyarkan lamunanku,kini aku menatap nya kaget
"Iya Bu?" aku menatap nya karena memang aku sedikit kurang mendengar apa yang dikatakan Bu Tanika tadi.
"Ya udah kamu turun disini,hari ini ada acara pengajian kan,nanti telat loh" Jelas Bu Tanika menunggu ku untuk keluar mobil nya.
"Ya udah Bu saya berangkat" aku menyodorkan tanganku untuk salim padanya.
Namun, diluar dugaan, Bu Tanika malah mengambil tanganku dan mencium punggung tangan ku.
Aku terbelalak menatap tak percaya.
"Ya ,kamu hati hati ya,nanti siang ibu tunggu lagi disini" jelas Bu Tanika, melepaskan tanganku,ia kembali melihat ke arah depan, memegang stir mobil dengan kedua tangan nya.
Aku masih menatap tak percaya,entahlah seperti ada gejolak di hatiku,aku merasa seperti ingin melayang,tak percaya dengan hal yang baru terjadi,aku sedikit menarik tangan ku perlahan.
"Kamu gak usah mikir aneh aneh,udah tugas saya sebagai istri menghormati suami saya" jelas Bu Tanika,masih menatap ke depan.
"Eh.. iya Bu,saya turun Bu .. Assalamualaikum" aku dengan gugup membuka pintu lalu keluar mobil.
Jumat Pagi
Seperti biasa diadakan pengajian rutinan, biasanya kami satu sekolah akan membaca surah Al Mulk, Yassin,dan Al waqiah berjamaah yang dipimpin oleh guru agama kami yakni Pak Yusuf.
Kami biasa melaksanakan nya di masjid milik sekolah yang sangat luas,sengaja dibuat luas dan bertingkat, untuk melaksanakan acara rutinan dan sholat berjamaah.
Seusai membaca Alquran, biasa nya akan ada sedikit tausiyah.
Yang entah kebetulan atau apa,Pak Yusuf kali ini membahas masalah rumah tangga,aku mendengar kan dengan khusyu,namun agak sedikit malu juga mengingat aku belum menjadi suami yang baik.
"Seorang lelaki dalam rumah tangga adalah pemimpin yang bertanggung jawab untuk segala nya di dalam rumah tangga nya itu,lelaki akan menanggung tanggung jawab bahkan sampai ke akhirat kelak,maka dari itu seorang wanita tidak boleh dzolim kepada suami,karena apa?? Perjuangan suami itu banyak,dia berkewajiban mencari nafkah, mengajari akhlak dan ilmu yang baik bagi anak istrinya dan belum lagi nafkah juga harus halal,karena nanti di akhirat hasil kerja suami untuk keluarga nya itu ,akan dipertanyakan dari mana dan bagaimana cara dia mendapatkan nya,dan tentulah sebuah kewajiban pula bagi suami untuk menafkahi istri nya dengan nafkah yang halal" jelas Pak Yusuf dihadapan kami semua. "Seorang suami harus bisa memberikan nafkah lahir batin kepada istri dengan baik,jika istri harus sakit karena melahirkan,maka suami tanggung jawab nya lebih besar dia harus mendidik bayi yang istrinya lahirkan itu, membawa nya ke jalan yang benar,dan ingat setiap kewajiban yang apabila tak dilaksanakan akan mendapatkan dosa dan pertanggungjawaban di akhirat kelak.Sebagai sepasang suami istri juga harus bisa mereda ego masing masing,supaya tidak ada perasaan paling merasa terbaik, maksud nya, perasaan dirinya lah yang paling banyak berkorban misalnya, dan meremehkan pasangan nya, berpikir pasangan nya tidak mengorbankan apapun.Padahal kan kita tidak pernah tahu sebesar apa pengorbanan pasangan untuk kita.Nah, itulah sedikit pengetahuan tentang rumah tangga yang harus kita semua tahu, apa lagi ini.. buat anak kelas XII yang biasanya udah lulus suka pengen langsung nikah juga buat para guru jones tuh .." serentak semua orang tertawa mendengar ceramah Pak Yusuf.
"Pokonya inget pesen saya, untuk selalu saling menghargai, menghormati,dan tentu nya mencintai pasangan kita, kelak jika sudah menikah, yang terpenting juga harus selalu saling mengingatkan pada kebaikan dan mencegah pada keburukan.Nah sampai situ kira kira ada yang mau bertanya gak? Biasanya anak kelas Bu Mira tuh,suka banyak nanya" pinta Pak Yusuf di akhir penjelasan nya.
Benar saja,Banu yang dari tadi mendengar kan dengan seksama, ia langsung mengacungkan tangan nya.
"Pak enak nya kalau udah nikah apa aja Pak?" Pertanyaan Banu benar benar konyol ,banyak murid dan guru tak sedikit dari mereka tertawa mendengar pertanyaan Banu.
"Tuh bener kan apa yang saya bilang,anak kelas Bu Mira emang banyak nanya,tapi bagus,saya suka,kamu ya Banu ..nanya nya yang enak enak Mulu" Pak Yusuf sedikit terkekeh.
Sementara Banu yang duduk disamping ku dia nampak cengengesan.
"Okey saya jawab ya enaknya nikah itu .......
__ADS_1