
Toni kembali menemui nyonya Lucia setelah menyelesaikan pembayaran administrasi rumah sakit Bu Mira.
"Sudah beres nyonya," ujar Toni sambil menyerahkan bukti pembayaran itu pada nyonya Lucia.
Lalu nyonya Lucia memberikan bukti pembayaran itu pada Maya.
"Ini bukti pelunasannya," ucap nyonya Lucia pada Maya.
"Terimakasih kasih banyak ya nyonya, saya janji kalau saya sudah punya uang saya akan membayar pada nyonya," ujar Maya.
"Sudah kamu gak usah pikirkan soal itu dan kalau kamu butuh apa-apa ini ada kartu namaku," nyonya Lucia menyodorkan kartu nama pada Maya.
Maya menerima kartu nama itu sambil berucap " Terimakasih nyonya," katanya.
Nyonya Lucia tersenyum tipis kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Maya sendirian.
Nyonya Lucia berjalan menuju ke ruang dokter spesialis penyakit dalam dan di sana nyonya Lucia menjalani pemeriksaan.
Kemudian Maya pulang naik ambulans bersama jenazah ibunya.
Dan setiba di rumahnya dengan di bantu para tetangga sekitar Maya melakukan prosesi pemakaman ibunya.
"Halo Toni kamu ada di mana sekarang?" tanya tuan Aldo pada Toni sopirnya.
__ADS_1
"Saya masih mengantar nyonya ke rumah sakit tuan," ujar Toni.
"Rumah sakit?" tanya tuan Aldo seperti keheranan.
"Iya tuan," ucap Toni lagi.
Lalu tuan Aldo menutup teleponnya dan beralih menelpon nyonya Lucia.
"Halo Al, ada apa?" tanya nyonya Lucia setelah menerima telepon dari Aldo.
"Mama ngapain ke rumah sakit?" tanya tuan Aldo.
"Mama check up Al....," ujar nyonya Lucia gemes dengan pertanyaan putranya itu.
"Oh begitu, hasilnya bagaimana ma?"
"Baguslah ma," ujar tuan Aldo lagi.
"Sudah Al mama mau pulang ini," potong nyonya Lucia pada tuan Aldo.
"Iya ma."
Satu Minggu sudah setelah kepergian ibunya, Maya jadi berpikir harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga untuk membayar hutang pada nyonya Lucia.
__ADS_1
"Aku harus menemui nyonya Lucia siapa tahu aku bisa diterima kerja di rumahnya jadi apa sajalah yang penting bisa buat biaya hidup aku," gumam Maya di dalam rumah kontrakan nya itu.
Lalu Maya beranjak dari duduknya dan meraih tas nya yang ia gantung di tembok.
"Nah ini dia kartu nama nyonya Lucia alamatnya di jalan Kertanegara dua, aku harus segera ke sana," gumam Maya lagi.
Lalu Maya segera bergegas keluar dari rumahnya dan ia berjalan menuju ke arah jalan besar untuk mencari angkot.
Dan tak lama Maya pun akhirnya menemukan angkot, lalu Maya naik ke dalam angkot tersebut menuju ke jalan Kertanegara rumah nyonya Lucia.
"Kertanegara!! Kertanegara....!!!" teriak kenek angkot tersebut.
Maya lalu segera turun dari angkot dan berjalan masuk ke dalam perumahan elite tersebut.
Maya berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri di mana banyak rumah-rumah besar dan luas sekali di sana.
"Sudah pasti yang tinggal di perumahan ini adalah orang-orang yang kaya," batin Maya.
Ketika tiba di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah sekali Maya menghentikan langkahnya.
Maya berdiri di depan pagar rumah itu yang menjulang tinggi dengan kokohnya.
"Ini pasti rumah nyonya Lucia," kata Maya sambil mencocokkan dengan kartu nama yang di berikan nyonya Lucia padanya.
__ADS_1
Kemudian Maya celingukan mencari bel rumah itu.
"Itu dia bel nya," pekik Maya yang kemudian memencet bel itu.