
Maya menunggu dengan gelisah di luar kamar ICU itu.
Setelah beberapa jam menunggu di luar akhirnya dokter keluar juga dari kamar ICU tersebut.
Maya langsung beranjak dari tempat duduknya ketika melihat dokter itu sudah keluar.
"Dokter,bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Maya tidak sabar.
Dokter itu menatap Maya sesaat lalu ia berkata pada Maya "Kami sudah berusaha semampu kami dan ternyata Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu dengan halus.
"Tidak!!!" teriak Maya yang kemudian menubruk dokter itu dan menghambur masuk ke dalam ruang ICU.
Di dalam ruang ICU Maya melihat sekujur tubuh ibunya sudah di tutupi dengan selimut.
Kaki Maya tercekat tak bisa bergerak matanya nanar menatap ke arah ranjang itu.
Dunia serasa gelap gulita dalam pandangannya kali ini.
Buliran demi buliran bening itu mulai berjatuhan di pipi kanan dan kirinya.
Lama sekali Maya terpaku di tempatnya berdiri itu.
__ADS_1
Kakinya bergetar untuk melangkah mendekati ranjang di mana ibunya terbaring dengan sekujur tubuh tertutup selimut itu.
Maya berusaha berjalan mendekat ke arah ranjang tersebut.
Maya kembali berdiri terpaku setelah berdada di samping ranjang itu.
Maya menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka selimut yang menutupi kepala ibunya itu.
Buliran demi buliran bening itu semakin deras berjatuhan di pipi Maya yang putih itu.
Maya mulai menyingkap selimut yang menutupi kepala ibunya itu.
"Ibu.....!!!" teriak Maya dengan sekencang-kencangnya setelah melihat wajah sang ibu.
Wanita yang selalu tersenyum padanya dalam keadaan suka maupun duka.
wanita yang selalu menguatkan dirinya untuk menghadapi dunia yang kejam ini.
"Ibu....., kenapa ibu tega ninggalin Maya sendiri...., Maya tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu....." tangis Maya pecah dan mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
Maya mengguncang-guncangkan tubuh ibunya sambil terus menangis memeluk tubuh sang ibu.
__ADS_1
Kemudian setelah beberapa lama datang perawat menghampiri Maya.
Perawat itu merasa kasihan melihat Maya yang sangat terpukul dengan kematian ibunya.
"Mbak...., mbak yang sabar ya...mungkin di balik ini semua Tuhan memberikan rencana lain untuk mbak," ucap perawat itu sambil mengusap-usap bahu Maya dengan perlahan.
Maya menoleh pada perawat itu sambil berkata padanya "Aku mau urus segera kepulangan jenazah ibuku," ucapannya masih menangis.
"Baik mbak nanti aku bantu untuk mengurus administrasinya," ujar perawat yang baik itu.
Maya menganggukkan kepalanya dengan lemah lalu perawat itu pergi meninggalkan Maya sendiri lagi.
Maya kembali memandangi wajah ibunya sambil berkata "Maafkan Maya ibu....Maya masih belum bisa untuk membahagiakan ibu selama ini, tapi Maya janji akan menjadi anak yang baik dan rajin bekerja seperti yang selalu ibu ucapkan setiap hari pada Maya."
"Maya sayang......sama ibu," Maya kembali memeluk tubuh ibunya itu sambil menangis lagi.
Tak lama kemudian perawat itu datang lagi menemui Maya sambil membawa kertas administrasi yang harus di bayar.
"Mbak, ini tagihannya," ucap perawat itu sambil menyodorkan kertas itu pada Maya.
Maya menerima kertas itu dan mulai membacanya.
__ADS_1
Tertera nominal Sepuluh juta rupiah untuk biaya perawatan selama kurang lebih satu bulan di rumah sakit tersebut.
Jantung Maya serasa berhenti berdetak ia tidak tahu harus dengan apa membayar tagihan tersebut.