Love In Silence (Mencintai Dalam Diam)

Love In Silence (Mencintai Dalam Diam)
Bab. 20


__ADS_3

Karin menoleh pada Maya lalu dia berkata pada Maya " Eh....tidak perlu biar aku yang melayani tuan Aldo karena aku adalah calon istrinya," ujar Karin ketus.


Maya terdiam ia melihat ke arah Karin, Maya terpukau melihat kecantikan dari Karin "Dia calon istri tuan, cantik sekali dan serasi dengan tuan Aldo," batin Maya.


"Heh...kenapa malah bengong, sini piringnya!!" teriak Karin pada Maya.


Maya menjulurkan piring itu pada Karin lalu Karin mengambil piring itu dengan kasar dan menepiskan tangan Maya.


Dan tanpa sengaja lengan Maya menyentuh wajah tuan Aldo.


Tuan Aldo merasakan lengan Maya yang sangat panas sekali.


Tuan Aldo yang sedari tadi hanya diam saja seketika dengan refleks menatap ke arah Maya lurus-lurus.


Maya terkejut ketika tuan Aldo melihatnya seperti itu dan buru-buru Maya berkata pada tuan Aldo.


"Maaf tuan saya tidak sengaja," kata Maya yang menyadari kalau lengannya tadi menyentuh pipi tuan Aldo.


Tuan Aldo diam saja seperti biasa dia tidak berkomentar apapun tapi dia tahu kalau Maya sedang demam karena kehujanan semalam.


"Sayang....kamu mau makan apa....?" tanya Karin tiba-tiba.


"Aku makan dengan rendang saja Rin," ujar tuan Aldo pada Karin.

__ADS_1


"Oke," lalu Karin mengambilkan nasi dan menaruh beberapa rendang daging di atas nasi.


"Ini sayang," Karin meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk itu di depan tuan Aldo.


"Makasih," jawab tuan Aldo tersenyum pada Karin.


"Ya sayang," Karin membalas senyuman tuan Aldo.


Kemudian merekapun mulai menikmati sarapan pagi ini.


Maya berdiri di tempat biasanya sambil menunggu tuan Aldo dan nyonya Lucia selesai sarapan.


Dia merasakan tubuhnya semakin panas dan kepalanya sangat pusing sekali.


Maya berpegangan pada sudut bufet kecil yang ada di sampingnya.


"Maya kamu kenapa?" tanya nyonya Lucia dari tempat duduknya.


Maya langsung menegakkan kembali tubuhnya yang tadi sempat bersandar pada bufet di sampingnya itu.


"Mmm ... tidak apa-apa nyonya," ucap Maya mencoba terlihat baik-baik saja di depan nyonya Lucia.


Nyonya Lucia mengerutkan kedua alisnya menatap lurus-lurus ke arah Maya.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya nyonya Lucia lagi.


Maya diam tidak berkata apa-apa ia hanya merasakan kepalanya yang sangat pusing sekali.


"Bik Atik.....!!" teriak nyonya Lucia.


Lalu muncullah Bik Atik yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang meja makan tersebut.


"Iya nyonya," kata Bik Atik setelah tiba di depan nyonya Lucia.


"Bawa Maya masuk ke dalam suruh dia istirahat," ucap nyonya Lucia pada Bik Atik.


"Baik nyonya," jawab Bik Atik yang kemudian berjalan ke arah Maya yang masih berdiri di tempatnya.


Kemudian Bik Atik merangkul Maya dan membawanya keluar dari ruang meja makan tersebut.


"Badanmu panas sekali," pekik Bik Atik ketika melewati tempat duduk tuan Aldo.


"Dia kehujanan semalam," kata tuan Aldo datar pada nyonya Lucia.


Nyonya Lucia mengangkat kedua alisnya menatap tuan Aldo.


"Darimana kamu tahu Al?" tanya nyonya Lucia pada tuan Aldo.

__ADS_1


"Semalam aku melihatnya kehujanan di dekat halte menunggu angkot, lalu aku mengajaknya masuk ke dalam mobil dan mengantarkan ke rumahnya," kata tuan Aldo.


Nyonya Lucia membolakan matanya dengan sangat sempurna sekali menatap tuan Aldo.


__ADS_2