
Nyonya Lucia tidak percaya dengan apa yang di ceritakan sang putra tuan Aldo yang selama ini ia kenal sangat tidak perduli dengan orang lain apalagi dengan orang yang belum ia kenal.
"Kamu mengantarkan Maya pulang ke rumahnya Al?" tanya nyonya Lucia meyakinkan dirinya akan kebenaran cerita dari tuan Aldo.
"Ya," jawab tuan Aldo datar.
"Apa!!!" pekik Karin terkejut teramat sangat mendengar penuturan tuan Aldo.
"Kamu kenapa Al? sejak kapan kamu punya empati pada seorang pelayan yang...yang gak penting banget bagi kamu," ucap Karin mendelik menatap sang kekasih.
"Aku hanya kasihan padanya karena sangat menggigil kedinginan," kata tuan Aldo tanpa melihat pada Karin yang masih tak percaya.
Karin bersungut-sungut mendengar ucapan tuan Aldo, sepertinya dia tidak suka dengan sikap Aldo yang tiba-tiba berubah jadi baik pada pelayan.
Nyonya Lucia tersenyum kecil mendengar penuturan tuan Aldo, dia melihat tuan Aldo sudah mulai bisa berempati pada orang lain sekalipun itu adalah seorang pelayan.
"Oh ya, mama duluan mama mau melihat kondisi Maya," ujar nyonya Lucia sambil beranjak dari tempat duduknya.
Karin mendelik mendengar penuturan nyonya Lucia.
__ADS_1
"Apa-apaan sih? kenapa Tante Lucia juga jadi perhatian sama pembantu itu, apa sih istimewanya dia?" batin Karin dengan kesal.
"Karin aku mau berangkat ke kantor sekarang dan kamu aku antar pulang ya," kata tuan Aldo pada Karin.
"Al..., aku gak senang kamu terlalu perduli dengan pembantu itu," ucap Karin dengan cemberut menatap tuan Aldo.
"Kamu ngomong apa Karin, aku tadi kan bilang kalau aku hanya kasihan melihat dia kehujanan," ujar tuan Aldo merangkul pundak Karin.
"Tapi Al.... kamu harus berhati-hati biasanya pembantu yang masih muda itu akan mengincar tuannya apalagi dia tahu kamu ganteng dan kaya, dia akan mencoba merayu tuan mudanya dan menarik perhatiannya dengan segala macam cara, kamu harus waspada Al," kata Karin dengan serius.
"Ayo berangkat," tuan Aldo berdiri dari kursinya dan mengajak Karin keluar dari ruang meja makan tersebut.
"Iya," kata tuan Aldo pendek.
Kemudian mereka berdua pun segera berjalan menuju ke mobil tuan Aldo yang sudah di siapkan di depan rumah oleh Toni sopir keluarga tuan Aldo.
Nyonya Lucia berjalan menuju ke arah dapur dan melihat ke kamar Bik Atik.
"Kamu istirahat saja dulu May, biar pekerjaan yang belum selesai nanti bibik yang handle ya," ucap Bik Atik sambil menyelimuti tubuh Maya.
__ADS_1
"Makasih ya Bik," ucap Maya dengan suara lemah.
"Bagaimana keadaan Maya?" tiba-tiba nyonya Lucia sudah masuk ke dalam kamar Bik Atik.
"Dia barusan saya suruh istirahat nyonya, badannya panas sekali," ujar Bik Atik dengan wajah khawatir.
Nyonya Lucia menganggukkan-anggukkan kepalanya sambil menatap Maya yang sedang terbaring di kasur.
Kemudian nyonya Lucia berjalan mendekat ke sisi tempat tidur.
Lalu dengan perlahan nyonya Lucia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh kening Maya yang suhu badannya sangat panas sekali.
Bik Atik yang melihat hal itu sedikit terkesima melihat empati nyonya Lucia pada Maya.
"Badannya panas sekali, sudah kamu beri obat penurun panas tadi Bik?" tanya nyonya Lucia pada Bik Atik yang masih berdiri di sana.
"Sudah nyonya terus dia langsung tertidur," ucap Bik Atik.
"Ya sudah biarkan dia istirahat dulu," kata nyonya Lucia yang kemudian keluar dari kamar Bik Atik.
__ADS_1