
Tuan Aldo menoleh ke arah Maya yang masih duduk di tempat tidur dengan balutan selimut sedadanya.
Lalu tuan Aldo berjalan mendekati Maya di tempat tidur.
"Jangan di kira aku akan jatuh cinta pada kamu setelah kejadian ini, tidak akan!!" ucap tuan Aldo pada Maya dengan sinis.
Maya diam mendengar perkataan tuan Aldo dia hanya bisa menelan ludah dengan sikap tuannya yang egois itu.
"Ya aku paham tuan karena semalam yang tuan sebut hanyalah nama Karin pacar tuan dan aku hanyalah pelampiasan amarah tuan saja, aku tahu itu," batin Maya dalam hatinya.
""Cepat turun dari sini dan bersihkan tempat tidur ini!!" perintah tuan Aldo seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
"Baik tuan," Maya lalu turun dari tempat tidur itu dan bergegas berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di ruang meja makan nyonya Lucia sudah menunggu tuan Aldo dan Maya untuk sarapan.
Tuan Aldo sudah tiba di ruang meja makan, nyonya Lucia melihat dengan heran karena dia tidak melihat Maya.
"Maya mana Al?" tanya nyonya Lucia pada tuan Aldo.
"Masih beres-beres di kamar ma," ucap tuan Aldo sambil menarik kursi lalu duduk di depan nyonya Lucia.
"Kenapa tidak kamu ajak sarapan?"
__ADS_1
Aldo diam dia tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan mamanya barusan.
"Bik Atik tolong panggilkan Maya untuk segera sarapan," perintah nyonya Lucia pada Bik Atik yang berdiri agak jauh dari meja makan.
"Baik nyonya," kemudian Bik Atik keluar dari ruang meja makan dan berjalan menuju ke kamar tuan Aldo.
Bik Atik melihat Maya yang sudah selesai merapikan kamar tuan Aldo.
"Maya, kamu di tunggu tuan dan nyonya untuk sarapan," ucap Bik Atik.
"Mmm ....gak usah Bik, aku gak ikut sarapan," ucap Maya pada Bik Atik.
"Tapi ini nyonya Lucia yang menyuruh," kata Bik Atik.
Maya mendengus dengan kesal menatap Bik Atik.
"Iya," jawab Maya lemas.
Lalu Maya berjalan bersama Bik Atik menuju ke ruang meja makan.
Setelah sampai di meja makan, nyonya Lucia berkata pada Maya " Ayo Maya ikut sarapan juga," ujar nyonya Lucia.
"Iya," jawab Maya sambil menarik kursi agak jauh dari tempat duduk tuan Aldo.
__ADS_1
"Eh!! duduk di sana saja di samping Aldo!!" teriak nyonya Lucia pada Maya sambil menunjuk ke kursi yang ada di sebelah tuan Aldo.
"Saya duduk di sini saja," ucap Maya sambil menundukkan kepalanya pada nyonya Lucia.
"Tidak-tidak kamu harus duduk di sebelah Aldo," kata nyonya Lucia memaksa.
Dengan malas Maya bergeser tempat duduk di sebelah tuan Aldo.
Sementara tuan Aldo tak menggubris apa yang sedang di permasalahkan oleh mamanya.
Maya mengambil piring tuan Aldo lalu seperti biasa dia menanyakan makanan yang mau di makan tuan Aldo.
"T-tuan mau makan apa?" tanya Maya agak gugup melihat wajah tuan Aldo yang dingin itu.
"Aku gak perlu di layani, aku bisa ambil sendiri makanan ku," ucap tuan Aldo sambil meraih piring yang ada di tangan Maya.
Maya tersentak mendengar ucapan tuan Aldo, lalu dia membiarkan tuan Aldo mengambil piring itu dari tangannya.
Nyonya Lucia mendelik melihat sikap tuan Aldo sambil berkata padanya.
"Al, Maya kan istri kamu wajar kalau dia melayani kamu sebagai suaminya," nyonya Lucia menatap tuan Aldo kesal.
"Aku gak butuh dan lagi aku tidak mau dia menjadi istriku!!"
__ADS_1
"Aldo!!" pekik nyonya Lucia.
"Mama yang memaksa aku untuk menikah dengan dia!! hanya karena aset Mega group dan mama tahu apa yang terjadi, hidupku hancur gara-gara pernikahan ini Karin pergi meninggalkan aku dan dia lebih memilih Kenji," ujar tuan Aldo penuh amarah.