Love In Silence (Mencintai Dalam Diam)

Love In Silence (Mencintai Dalam Diam)
Bab. 9


__ADS_3

Sementara uang yang dia punya hanya berjumlah tiga juta rupiah saja.


Kemudian Maya berkata pada perawat yang masih menunggu nya itu "Baik mbak saya akan selesaikan administrasi nya ini," ucap Maya.


"Baik saya tunggu di loket pembayaran ya mbk," ucap perawat itu dengan ramah.


Maya keluar dari kamar ICU itu dan terduduk dengan lemas di depan kamar itu sambil memegang kertas tagihan itu.


Maya tidak memperdulikan lalu lalang orang-orang yang lewat di depannya.


Maya menangis sambil menatap kertas tagihan rumah sakit tersebut.


"Nyonya jalannya pelan-pelan saja biar tidak terjatuh," ucap seorang wanita yang mengikuti seorang nyonya yang seperti nya itu adalah majikannya.


"Iya," jawab nyonya itu sambil terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit Citra persada.


"Sebentar," ucap nyonya itu pada pelayannya.


"Ada apa nyonya?" tanya pelayan itu tapi nyonya itu tidak menjawabnya.


Nyonya itu melihat ke arah Maya yang sedang duduk sambil menangis sambil tetap memegang kertas tagihan itu.


"Itu seperti gadis yang pernah menolong aku waktu itu," ujar nyonya itu yang ternyata adalah nyonya Lucia.


Lalu dengan perlahan nyonya Lucia mendekat ke bangku tempat Maya duduk.

__ADS_1


"Maya," sapa nyonya Lucia pada Maya setelah berdiri di depan Maya.


Maya mendongakkan kepalanya masih dengan mata sembab melihat wanita yang ada di depannya itu.


"Nyonya," jawab Maya pelan sekali hampir tak kedengaran suaranya.


Nyonya Lucia membungkukkan badannya dan menatap Maya lebih dekat.


"Kamu kenapa menangis?" tanya nyonya Lucia pada Maya.


Maya diam sesaat dia tidak menjawab pertanyaan nyonya Lucia.


"Maya kenapa kamu menangis? Ada apa?" tanya nyonya Lucia lagi.


Nyonya Lucia sedikit trenyuh mendengar Maya barusan.


Lalu nyonya Lucia duduk di bangku itu di samping Maya.


"Sabar Maya, kamu harus bisa menerima kenyataan ini, ini sudah takdir," ucap nyonya Lucia sambil mengusap pundak Maya dengan perlahan.


"Makasih nyonya," ujar Maya.


Sekilas nyonya Lucia melihat ke arah tangan Maya yang sedang memegang kertas tagihan itu.


Lalu nyonya Lucia bertanya lagi pada Maya "Kamu mau mengurus administrasi rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya nyonya," kata Maya.


Nyonya Lucia terdiam sejenak seperti berpikir sesuatu, lalu ia berkata lagi pada Maya " Mmm ... karena kamu dulu sudah pernah menyelamatkan nyawa aku, jadi untuk tagihan rumah sakit ini biar aku yang tanggung semua," ujar nyonya Lucia pada Maya.


"Tapi nyonya....," ujar Maya tak enak.


"Sudahlah kamu gak usah pikirkan soal itu, sini kertasnya,"pinta nyonya Lucia pada Maya.


Dengan ragu Maya memberikan kertas administrasi itu pada nyonya Lucia.


Kemudian nyonya Lucia membaca kertas tagihan itu dan setelah itu nyonya Lucia menelpon Toni sopirnya.


"Toni, kau segera ke sini aku ada di depan ruang ICU," ucap nyonya Lucia pada Toni.


"Baik nyonya," jawab Toni.


Lalu Toni masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan menuju ke ruang ICU seperti yang nyonya Lucia katakan tadi.


"Ada apa nyonya?" tanya Toni setelah tiba di depan ruang ICU.


"Segera kamu selesaikan administrasi ini di loket pembayaran sana," perintah nyonya Lucia pada Toni sembari memberikan kertas itu dan uang sepuluh juta rupiah cash.


"Baik nyonya," ujar Toni yang kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.


Lalu Toni berjalan ke loket pembayaran dan setelah itu Toni menyelesaikan administrasi atas nama ibu Mira ibunya Maya yang sudah meninggal.

__ADS_1


__ADS_2