Macau Love Story

Macau Love Story
Bab 9 (Bertemu Bu Risa)


__ADS_3

Dadaku berdesir semakin hebat, ketika taksi yang kami tumpangi sudah memasuki pintu masuk gedung apartemen. Taksi terus melaju dengan kecepatan sangat rendah, hingga berhenti tepat di samping Flat yang di tempati oleh ibunya mas Pandu, aku terus sibuk menenangkan debaran jantungku.


Saat turun dari taksi, kami sudah di sambut oleh dua orang kepercayaan mas Pandu. Dua pria berkebangsaan Filipina, dan Indonesia ini, tampak mengucapkan selamat pagi menggunakan bahasa inggris, dengan cepat pria dari Filipina mengambil alih koper di tangan mas Pandu, sementara pria dari Indonesia, menjawab setiap pertanyaan mas Pandu.


Menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan, aku berusaha menetralisir rasa carut marut yang bersemayam didalam dadaku.


"Bagaimana Ibu?"


"Kondisi dalam keadaan baik dan sehat pak" jawabnya tegas sambil terus melangkah memasuki pintu utama flat.


"Apa ada kemajuan mengenai kesehatannya?"


"Sedikit bisa menggerakan tangannya pak?" jawabnya sambil menunduk ramah kepada satpam gedung.


Pria yang baru saja di perkenalkannya padaku bernama April, tampak menekan tombol up pada sisi lift saat kami berdiri di depan pintu lift.


Tangan mas Pandu masih menggandeng tanganku yang kurasa kian dingin akibat rasa gugup yang menyerangku.


Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri, berharap mampu mengurangi debaran jantung yang masih berantakan.


Saat kami sampai di depan pintu bertuliskan F5/B07 yang ku tahu maksudnya adalah gedung nomor Lima dan unit B lantai tujuh, kami berpisah dengan April dan Adan, mereka lebih dulu masuk ke dalam unitnya yang terletak di depan unit milik Ibu.


Mas Pandu tampak menekan bell, padahal aku tahu kalau diapun memegang kunci cadangan.


Saat pintu terbuka, menampilkan sosok wanita muda tengah tersenyum saat pandangan kami bertemu.


"Selamat pagi pak, selamat pagi Nona"


"Selamat pagi" jawab mas Pandu, sedangkan aku hanya merespon dengan senyuman.


"Tolong kopernya bawa ke kamarku Nur" perintah mas Pandu padanya, dan gadis itu langsung patuh melaksanakan perintahnya. "Dia Nuri, ART dari Indonesia, yang membantuku mengurus ibu di sini" sambungnya menjawab rasa penasaranku.


Saat memasuki ruang tamu yang menyatu dengan ruang tv, netraku menangkap sosok wanita yang pernah ku lihat di bingkai foto saat mengunjungi salah satu restauran milik mas Pandu.


Wanita itu saat ini duduk di atas kursi rodanya dengan sorot mata kosong jatuh ke layar televisi.


Seketika langkahku melambat, dan pandangan ku alihkan pada mas Pandu yang saat itu juga langsung membalas tatapanku.


"Ibu" ucapnya lirih bermaksud memberitahuku.


"Apa kabar ibu?" Mas Pandu langsung berlutut ketika sampai di depan kursi roda milik Ibu, lalu mencium punggung tangannya takzim. Sementara aku, berdiri termangu menatap dengan sorot iba pada wanita yang melahirkan suamiku.


Dan entah kenapa mataku tiba-tiba meluncurkan buliran bening. Sepersekian detik, ingatanku singgah ke beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Mamah yang juga sempat duduk di kursi roda karena sakit kanker darah, membuatnya kian melemah dan akhirnya tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri.


Saat papah akan membawanya berobat ke luar Negri, tiba-tiba pesawat yang di tumpanginya mengalami hilang kontak, dan peristiwa naas tersebutpun tak bisa di hindari. Sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa mamah dan papah, detik itu juga aku kehilangan orang yang paling tulus menyayangiku.


Memejamkan mata, ku hirup napas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran yang mengingatkanku pada kedua orang tuaku.


"Nay"


Panggilan mas Pandu menyadarkanku dari lamunan. Saat aku memindai wajahnya, mas Pandu yang tadinya berlutut, kini sudah berdiri di sampingku.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa" bohongku sambil mengusap pipiku yang basah.


Tanpa di perintah, aku melakukan apa yang mas Pandu sempat lakukan tadi. Aku berlutut di depan kursi roda, dan meraih punggung tangannya. "Apa kabar bu?"


Ibu tampak mengerjap, mungkin itu adalah respon atas sapaanku. Hampir satu menit aku menatap ibu dalam diam, mas Pandu menginterupsiku dengan kalimatnya yang memperkenalkanku pada ibu mertuaku.


"Ini Nayla bu, istri Pandu" Aku tersenyum melihat mas Pandu membisikan kalimat itu di telinga ibu. "Sekarang ibu akan tinggal dengan menantu ibu, dan Pandu janji akan sering-sering datang nanti" bisiknya lagi membuat senyumku kian merekah.


Aku sedikit mendongak menatapnya, beberapa detik kemudian berdiri "Ibu kenapa mas?" tanyaku, namun mas Pandu hanya menggeleng. Aku tidak bisa menebak apa maksud dari gelengan kepalanya. Mataku terus menatap mas Pandu yang juga tengah mengunci bola mataku.


"Pak, kamar sudah siap, barangkali mau istirahat dulu" sela Nuri memecahkan keheningan di antara aku dan mas Pandu.


"Baik pak"


Mas Pandu membawaku ke kamar, sesampainya di kamar, kami sama-sama duduk berdampingan di tepian ranjang.


"Ibu sakit stroke" ucap mas Pandu yang membuat perhatianku semula tertuju pada tangan di pangkuanku, kini berpaling ke mas Pandu.


"Sejak kapan?"


"Dua tahun lalu?"


"Jadi sudah dua tahun ibu tidak melakukan aktivitas apapun?"


Mas Pandu mengangguk, untuk beberapa saat, kami saling diam, dan entah dorongan dari mana, aku tak bisa menahan diri untuk tetap diam.


"Aku akan membantu mas merawat ibu" kataku dengan pelan "Dan mas harus sering-sering nengokin kami disini" lanjutku mengingatkan.


"Terimakasih" jawabnya.


Giliranku menganggukan kepala kali ini. Setelah itu, kami sama-sama diam lekat saling menatap. Aku menyerah, sebab tak sanggup lagi membalas tatapan tajam mas Pandu.

__ADS_1


Aku menunduk, mengamati jemariku yang saling meremat, sesekali menatap cincin yang melingkar di jariku. Sebuah cincin pernikahan kami.


Aku merasa cemas, tapi aku tidak tahu dari mana datangnya kecemasan ini.


Tiba-tiba, satu tangan mas pandu terulur dan beberapa detik kemudian ku rasakan tangannya berada di puncak kepalaku.


"Aku akan mengunjungi kalian dua kali dalam seminggu" ucapnya seolah tengah menenangkanku "Jika memungkinkan, aku akan setiap hari pulang kesini"


Aku menolehkan wajah ke kiri, untuk kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya lebih lama, menyelami kedalaman retinanya yang sekelam malam, mencari tahu kesungguhan dari kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Di sana aku menemukan tak ada lagi sorot dingin dan menakutkan yang terpancar dari matanya.


"Apa?" tanyanya lembut.


"Tidak apa-apa?" sahutku seraya menunduk. Tangan mas Pandu yang tadi sempat menyentuh puncak kepalaku, tahu-tahu sudah melingkar di pinggangku kemudian menarik sampai tubuhku bergeser lebih dekat padanya.


Dan jantungku, dalam sekian detik langsung melompat-lompat. Reflek aku menarik diri menjauh darinya, namun tangannya seolah menahanku.


"jangan beranjak" ujarnya, yang membuatku semakin kikuk, selain itu mungkin wajahku memerah menahan malu.


Dan aku, mulai mencintainya meski baru sekian persen.


"Kita keluar temani ibu" ucapku, lalu kami sama-sama bangkit dari duduknya "Aku mau ke toilet dulu"


***


Nur, kapan ibu cek dokter?" tanya mas Pandu, suaranya samar terdengar dari toilet di kamar mas Pandu.


Karena apartemennya, tidak terlalu besar, hanya memiliki dua kamar dengan masing masing kamar mandi di dalamnya. Ada dapur berukuran kecil yang menyatu dengan ruang makan, dan ruang tv yang menyatu dengan ruang tamu, serta satu kamar mandi umum di samping ruang tv.


Saat aku sudah bergabung dengan mas Pandu, ibu dan juga Nuri, aku menyimak apa yang di ucapkan Nuri, dia tengah menjelaskan pada mas Pandu tentang kondisi ibunya, dan mas Pandu hanya mengangguk mengerti.


"Kamu bikin apa untuk makan siang ibu, Nur?"


"Mau bikin bubur ikan pak" jawab Nuri, aku hanya menyimak percakapan mereka sedari tadi.


"Sudah di masak?"


"Belum, baru mengeluarkan ikannya dari frizer"


"Di masak nanti malam saja ya, siang ini kita makan siang di luar, sekalian aku mau cek restauran miliku"


"Iya pak" sahutnya singkat.


Next...

__ADS_1


__ADS_2