
Seorang pengusaha muda, yang juga di kenal sebagai ahlinya ahli dalam berjudi, memiliki banyak tak tik dan trik saat memainkan kartu di atas meja Casino, tertangkap camera tengah jalan berdua dengan seorang gadis. Di ketahui gadis itu bernama Delita, yang juga seorang karyawan di Royal Park Hotel miliknya.
Pandu Mahardhani Hermawan, yang juga mantan kekasih mendiang Sonya, artis berbakat serta multitalenta, kini sudah berganti pasangan, dan kabarnya, mereka berdua akan segera melangsungkan pernikahan.
Menurut hasil pemantauan paparazi, ini bukan pertama kali mereka terlibat dalam satu situasi, sebelumnya, mereka tertangkap tengah makan malam berdua.
Lalu bagaimanakah hubungan pengusaha sukses itu dengan istrinya Nayla, apakah benar mereka telah berpisah?
Sebuah berita televisi membuat Alvin berdecak kesal, tak sengaja ia membanting remotnya lalu menyugar rambutnya kasar.
"Ah Sh*it,,, Pandu, kenapa kamu selalu selangkah di depanku?" Kesalnya lalu menuangkan bir kedalam gelas.
"Siapa lagi Delita?", lalu dimana Nayla?"
Menghembuskan napas kasar, lalu meneguk minuman di gelasnya, sambil meraih ponsel di atas meja. Ia menghubungi Haikal sahabatnya.
"Menurutmu, apa hubungan Pandu dengan Delita?"
"Sepertinya mereka memang pacaran, karena beberapa kali Pandu mengantarnya pulang"
"Cari tahu gadis itu, lalu bawa padaku" Pinta Alvin dari balik telpon.
Setelah sambungan terputus, kini giliran dia menelfon Nancy untuk menanyakan lebih lanjut tentang Nayla.
"Apa sudah ada kabar tentang keponakanmu?" tanya Alvin saat sambungannya terhubung.
"B-belum"
"Terus apa yang kalian lakukan selama ini hah?, sia-sia aku menampung kalian secara gratis" desis Alvin geram.
"Kami janji secepatnya akan mengetahui keberadaan Nayla"
"Baiklah, aku beri waktu satu minggu, jika kalian tidak bisa membawa Nayla padaku, kalian angkat kaki dari apartemenku"
"B-baik, baik" Jawab Nancy dengan terbata.
Jika Alvin merasakan geram, berbeda dengan Pandu yang menampilkan senyum sumringah saat melihat berita tentang dirinya dan Delita.
"Satu trik, dua pria langsung kena" gumam Pandu lengkap dengan bibir tersungging. Beberapa detik kemudian, ponsel di atas nakasnya berkedip.
Clara Calling....
"Ada apa Cla?"
"Apa kakak sudah melihat berita tadi"
"Sudah" jawab Pandu santai.
"Rencana apa ini kak?"
"Kamu ingat dengan ayahku?" tanya Pandu dengan tatapan lurus ia arahkan ke pintu kamarnya. "Delita adalah anak dari ayah dengan wanita bernama Maria"
__ADS_1
"Apa?" Clara tampak kaget mendengar ucapan Pandu. "Itu artinya dia adikmu kak"
"Iya"
"Lalu maksudnya apa?, apa kak Rondy juga tahu?"
"Tahu, ini hanya trik kakak dan Rondy untuk mengecoh Alvin, supaya dia berhenti mencari Nayla"
"Tapi kenapa Delita kak?" adik kak Pandu sendiri" Tanya Clara penasaran.
"Karena kakak ingin membuat ayah mengakui kakak sebagai anaknya"
Terdengar hembusan napas Clara dari balik telfon."Apa kak Nay juga tahu?"
"Dia belum tahu"
"Aku saranin kakak beri tahu kak Nay, supaya dia tidak salah paham nantinya kak"
"Itu pasti, tapi tunggu waktu yang tepat, karena beberapa hari ini perasaan Nayla sangat sensitive, dan sepertinya tidak mungkin memeberitahunya lewat telfon, karena kakak tahu seperti apa Nayla, jadi ku pikir, kakak akan menjelaskannya secara langsung"
"Baiklah kak, aku lega, aku tutup dulu kak"
"Iya, tunggu kakak di kantor"
"Hmm" Jawab Clara lalu menutup panggilannya.
******
"Pah ternyata nak Pandu itu tidak main-main ya?"
"P-Pandu?" tergagap Hermawan merespon ucapan istrinya.
"Maksud mama?"
"Itu loh, tadi mama sempat lihat siaran di televisi, kalau Pandu dan Delita sudah melakukan kencan buta, mereka makan malam bersama, dan ketahuan sama media, gosipnya sampai viral di beberapa stasiun tv"
"A-apa?"
"Papa kenapa si?" tanya Maria saat mendapati wajah sang suami tampak resah. "Papah tidak setuju jika Delita menikah dengan Pandu, pria itu seorang pengusaha loh pah, pasti hidup Delita akan bahagia jika menikah dengannya"
"Mah, mereka kan baru saling kenal, menurut papah tidak perlu terburu-buru, biarkan mereka kenal lebih dekat lagi"
"Tapi mamah yakin kok kalau Pandu akan membuat putri kita bahagia pah"
"Kita lihat nanti saja ya mah" sahut Hermawan lalu menyudahi aktivitas sarapan paginya. "Papa berangkat dulu" lanjutnya lalu mengusap mulutnya dengan tisu.
"Aku harus menemui Pandu untuk memastikan bahwa dia benar anakku, aku adalah ayahnya, dan Delita adalah adiknya, jika benar, pernikahan ini tidak boleh terjadi, mereka adalah saudara sedarah, mereka tidak bisa menikah" Bisik Hermawan dalam hati.
Hanya karena masalah ini, Pria paruh baya itu kehilangan konsentrasi dan menjadi tidak tenang. Pikirannya benar-benar kacau atas kehadiran anak lelakinya yang sudah bertahun-tahun tidak dia temui, bahkan Hermawan lepas tanggung jawab terhadap Pandu dan tak pernah memberinya nafkah apapun setelah meninggalkannya.
"Aku harus telfon Delita dan meminta nomor ponselnya" Hermawan membatin seraya mengeluarkan ponsel dari saku di dada sebelah kiri. Ia mencari kontak bernama Delita di ponselnya.
__ADS_1
Saat panggilan sudah tersambung, terdengar suara putri semata wayangnya.
"Iya pah"
"Deli, boleh papah minta nomor ponsel Pandu?"
"Boleh pah, tapi buat apa?"
Alih-alih menjawab, Hermawan justru menanyakan perihal berita yang tadi sempat memenuhi layar televisi. Meskipun dia tidak melihatnya, namu sang istri telah memberitahukannya.
"Apa kami melihat berita di televisi?"
"Berita apa pah?"
"Soal Pandu yang akan menikahimu"
Delita mengerutkan kening begitu mendengar ucapan papahnya.
"Berita pernikahan pah" tanyanya penuh selidik. "Deli belum tahu pah"
"Papah saranin, kamu jangan buru-buru mengiyakan ajakan Pandu jika benar dia mengajakmu menikah?"
"Kenapa memangnya pah"
"T-tidak, papah hanya ingin kalian kenal lebih lama, dan tidak buru-buru menikah" kilahnya agar Delita tidak mencurigainya.
"Oh begitu"
"Ya sudah sayang papah tunggu nomor ponselnya Pandu ya?"
"Okey pah"
Mematikan sambungan, tak berapa lama, pesan masuk dari Delita berisi deretan nomon ponsel milik anak yang telah ia telantarkan. Dia menyimpannya terlebih dahulu, lalu mengirim pesan singkat pada nomor yang baru saja ia simpan.
^^^"Ini papahnya Delita, bisa kita bertemu?"^^^
Satu detik, dua detik, hingga detik itu berubah menjadi menit, belum juga ada balasan dari Pandu. Hanya menunggu pesan saja, Hermawan sepanik ini, entah apa yang akan ia lakukan jika laki-laki itu adalah anak kandungnya.
Persekian detik, ingatannya singgah ke masa lalu, saat dia meninggalkan istri dan putranya tanpa rasa bersalah sedikitpun
Ting.. Bunyi pesan masuk ke ponselnya mampu membuyarkan lamunan pak Hermawan.
Pandu : "Dimana anda akan menemuiku?" (07:30 am)
^^^"Di Scarlet Restauran, pukul empat sore"^^^
Pandu : "Baiklah" (07:34 am)
Membaca balasan dari Pandu, reflek Hermawan menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan, ia langsung memasukan ponsel ke dalam saku bujunya kembali, tanpa membalas pesannya.
Bersambung
__ADS_1