
Pandu menatap layar ponsel ketika baru saja memasuki sebuah gedung yang memang sudah di persiapkan sedemikian mewah oleh Maria dan Devano. Saudara kembar Delita memang sangat antusias mempersiapkan pernikahan sang adik dengan Pandu.
Delitapun sudah mengenakan gown mewah rancangan designer terkenal di kotanya. Ia berjalan menghampiri Pandu yang tengah termenung menatap benda pipihnya.
"Kenapa kak?" tanya Delita ketika dia datang menghampirinya.
"Oh, ini... coba kirim pesan ke Clara, tapi belum juga di balas"
"Terus gimana, kok dia belum datang" Delita bertanya sembari mengedarkan pandangan ke arah pintu. "Dia ada dimana katanya?"
Pandu mengedikkan bahu dengan rahang mengatup keras.
Dia memang tengah menunggu kabar dari Clara dan Rondi yang sedang mencari keberadaan Nayla. Menurut dugaannya, Nayla saat ini ada bersama Alvin.
Sedikit bimbang, Pandu menimbang-nimbang ingin membatalkan rencana ini dan pergi mencari Nayla, namun melihat Hermawan yang tampak tenang, seolah tidak ada raut gelisah atau khawatir, membuat Pandu berdecak geram dan ingin benar-benar menikahi Delita lalu setelah itu akan membuat hidup Delita kacau.
Satu pesan masuk dari Clara.
"Kami belum bertemu Alvin kak, apartemennya di jaga ketat, kami kesulitan masuk"
Menghirup napas pasrah, Pandu membalas pesan Clara agar secepatnya datang ke acara pernikahannya.
Sementara Hermawan, ia juga tampak bimbang, sama seperti yang di rasakan oleh Pandu, Hermawanpun sebenarnya ingin membatalkan pernikahan ini, tapi belum siap dengan respon Maria dan juga Delita. Andai Nayla tetap berada di tangannya, sudah pasti dia yang akan membatalkan pernikahan ini dengan dia mengakui dirinya sebagai istrinya Pandu. Dengan begitu, Hermawan bisa mengatakan tentang Pandu di lain waktu.
***
Nayla memejamkan mata seraya menghembuskan napas berat. Rasa sesak kembali ia rasakan dan matanya kembali memanas jika mengingat rencana sang suami untuk menikahi adiknya tanpa memberitahukan dirinya. Bayangan Pandu adalah Pipopun ikut mendominasi. Namun sebisa mungkin ia berusaha menahan agar tidak menangis.
Saat menarik napas sekali lagi, rasa nyeri itu justru terasa semakin kuat, sampai Nayla berfikir bahwa rasa sakit yang ia rasakan, mampu menghentikan air matanya untuk keluar.
Rasanya, Energi Nayla benar-benar sudah habis terkuras. Kalau saja tidak di paksakan, mungkin dia sudah berjalan dengan terseok, bahkan merangkak hanya untuk sampai di parkiran bawah apartemen Alvin.
Saat baru saja keluar dari gudang, Netra Nayla menangkap sebuah kaos yang tidak asing baginya. Kaos itu seperti milik Nancy sang tante. Tapi Nayla justru berfikir bahwa kaos itu hanya mirip dan memastikan bukan milik tantenya.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang, pernikahannya akan di mulai satu jam lagi" Alvin mengatakannya sambil mengenakan jaket. Nadanya terdengar sangat datar, dan wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun.
Barusan Alvin mendapat kabar dari anak buahnya, bahwa Clara dan Rendi akhirnya pergi karena sama sekali tidak di ijinkan masuk oleh penjaga apartemen yang di huni oleh Alvin.
"Apa kamu akan membiarkan bayiku kelaparan?" Tanya Nayla. "Sebelum berangkat, bisakan kita makan siang terlebih dulu"
Mendengar perkataan Nayla,
Ekor mata Alvin reflek melirik perut lawan bicaranya.
"Kita sudah terlambat, kamu bawa saja roti itu" ucap Alvin sambil menunjuk roti di atas meja.
Mendengkus pelan, Nayla melangkah keluar tanpa mengambil roti seperti saran Alvin.
"Aku harus bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan rentetan pertanyaan pada mas Pandu nanti, aku harus berusaha setenang mungkin di hadapannya" bisik Nayla dalam hati.
"Aku harus berhasil membujuk Delita tanpa mengatakan kalau Pandu adalah kakaknya, dan membiarkan Pak Hermawan yang akan memberitahu sendiri pada Delita dan sang istri"
Nayla terus membatin seraya terus melangkahkan kaki mengekor Alvin yang sudah lebih dulu berjalan sekitar tiga langkah di depannya, menuju area parkir.
Pandu dan Pipo, dua nama satu orang, yang memenuhi isi kepalanya dan bergiliran ia ucapkan dalam hati.
Memutar roda kemudi, Alvin mulai menginjak gas dan mengendalikan mobilnya. Perlahan mobil itu melaju hingga sampai di jalan raya, ia langsung menambah kecepatannya.
Menit berlalu begitu saja, tanpa Nayla sadari, tahu-tahu mobil yang ia tumpangi sudah berada di sekitar gedung tempat di adakannya pernikahan suami dan adiknya.
Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sebelum turun, ia berusaha memberikan kekuatan pada dirinya sendiri, berusaha tegar di hadapan Pandu dan semua orang yang menghadiri undangan.
Mengedarkan pandangan, Netra Nayla menangkap ada beberapa media yang mungkin sengaja Pandu undang untuk meliput jalannya acara.
Beberapa media itu sempat melirik ke arah Nayla istri Pandu yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Ini adalah pertama kalinya Nayla muncul di depan public dan media, membuat media langsung mengarahkan camera pada sosok yang selama ini sangat misterius.
Para paparazi di buat tercenung saat mendapati Nayla berjalan memasuki gedung dengan langkah tenang dan elegan. Raut wajahnya yang cantik, membuat mereka melongo. Beberapa dari mereka pun seperti menelan salivanya masing-masing.
__ADS_1
Nayla sudah mengira, jika media akan meliput acara sakral dari orang yang dulu pernah di gosipkan dengan artis papan atas.
Di saat media tercengang dengan wajah Nayla yang alami tanpa make up, Sementara Alvin justru sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan Nayla, sebab bagi dia, hanya Delitalah yang mampu memberikan debaran tak menentu di dadanya serta menjadi ratu di hatinya, bahkan kecantikan Nayla sama sekali tidak bisa mengalahkan Delita sekarang dan selamanya.
Ratusan orang di dalam gedung, memusatkan perhatian begitu Nayla melenggang dengan santainya di atas karpet merah. Berjalan bersisian dengan Alvin, kakinya terus melangkah menuju meja tempat mempelai berada.
Sepasang ratusan mata, terus tertuju pada dua sosok yang berjalan dengan begitu tenang di tengah-tengah mereka. Fokus mereka benar-benar tak teralihkan menatap Nayla dan Alvin barang sejenak.
Ketika Hermawan menyadari kedatangan Nayla, dia langsung berdiri dan menerbitkan senyum menang. Begitu juga dengan Pandu dan Delita, serta Maria dan Devano. Mereka kompak berdiri lalu mengarahkan pandangan pada sosok yang terus mendekat ke arah Pandu dan Delita.
Dalam hati Maria, dia bertanya-tanya siapa gerangan yang berani menghambat jalannya pernikahan sang anak.
Tepat ketika di hadapan Pandu, dengan jarak yang hanya per sekian senti, dengan keberanian dan ketenangan yang luar biasa, tangan Nayla terangkat dan sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Pandu.
Plak....!
Para tamu undangan di buat terkejut melihat Nayla menampar mempelai pria. Delita dan Maria pun tak kalah terkejut atas sikap wanita yang tidak mereka kenal. Sedangkan Hermawan, tersenyum miring dan berharap Nayla akan mengaku bahwa dia adalah istrinya Pandu, Hermawan yakin setelah mendengar itu, Delita akan langsung membatalkan pernikahannya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla ia menyingkirkan rasa hormat pada sang suami. "Apa kamu lupa dengan istri dan calon anakmu?"
Mendengar itu, Delita ternganga dengan sorot tak percaya. Sedangkan Pandu berusaha menyusun kalimat untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Nayla.
"Dan kamu" Nayla mengarahkan pandangan ke wajah Delita, lengkap dengan tudingan jari telunjuknya. "Kenapa tidak percaya dengan ucapan Alvin yang mengatakan bahwa pria yang akan kamu nikahi sudah beristri?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Nayla, Delita justru menerbitkan senyum sinis, dan itu membuat alis Nayla menukik tajam.
"Kamu lupa, jika laki-laki berhak memiliki lebih dari satu istri" balas Delita sarkastis. "Suamimu mencintaiku, aku pun mencintainya, tidak ada salahnya jika kami menikah, iya kan?"
Kini giliran Nayla di buat tercenung. Tidak hanya dia, Hermawan, Pandu dan juga Alvin pun tak kalah terkejut.
"Meskipun aku istri kedua, aku yakin jika kak Pandu akan menomor satukanku terlebih dulu. Mengingat dia tidak peduli sama sekali terhadapmu" tambah Delita.
Ucapannya, benar-benar tidak bisa diterima oleh Nayla.
__ADS_1
Bersambung...