
Nayla menahan diri untuk tak begeming dari tempatnya saat ini, meskipun hati di selimuti rasa yang tidak bisa ia jabarkan, Nayla tetap harus berada di sini sampai Pandu kembali. Tapi tidak, dia berfikir harus mengunjunginya ke Macau, selain beberapa hari ini Pandu tidak menelponnya, perasaan Nayla juga cukup tidak nyaman seperti resah ataupun cemas.
Sementara ibu berusaha mencegah Nayla untuk pergi ke Macau tanpa Putranya, namun di abaikan hingga tepat Nayla membuka pintu, ada tiga pria yang berdiri tengah ngobrol dengan Apri dan Adan. Sontak mereka langsung memusatkan perhatian pada Nayla.
Nayla tidak tahu siapa mereka, tapi cukup terkejut ketika salah satu pria itu menyebut nama bu Risa dengan sorot mata yang tidak bisa dia artikan.
"R-Risa" ucapnya terbata.
Nayla langsung menolehkan wajah ke belakang menatap ibu mertuanya yang tengah menyentuh mulut dengan telapak tangan.
"Risa, buka pintunya" ucapnya dengan wajah memerah, tangannya bergerak seperti mendorong pintu besi seakan berusaha membuka.
Dia mengalihkan pandangan ke arah Nayla, membuat Nayla kian bingung. Sedangkan Apri berusaha untuk mengusir pria itu dari depan apartemen mereka.
"Nayla" panggilnya, "Kamu Nayla kan?"
Jantung Nayla mendadak berdesir ketika dia menyebut namanya, "Nayla buka pintunya, saya ingin bicara denganmu"
Wanita itu masih terdiam karena merasa terkejut.
"Risa, tolong Ris buka pintunya, ini tentang anak kita Pandu"
Mendengar nama Pandu, Nayla di buat penasaran sekaligus panik, dia mengira ada yang terjadi pada suaminya, sampai pria paruh baya ini mendatangi mereka.
Nayla berfikir dan mengira bahwa dia adalah ayah dari Pandu.
"Nay tolong Nay" mohonya seperti menahan panik yang kian memuncak. "Buka pintunya Nay, ini tentang suamimu, kamu harus menyelamatkan Pandu dari pernikahan terlarangnya"
Mendengar ucapan Hermawan, jantung Nayla seolah mau runtuh, pikirannya langsung tertuju pada sang suami. Ia menerka-nerka ada hal apa yang membuat pria ini mengatakan bahwa mereka harus menyelamatkan Pandu dari pernikahan terlarangnya.
__ADS_1
"M-maksud bapak?"
"Buka dulu Nay, kita bicara baik-baik" pintanya.
Pintu apartemennya memang ada dua rangkap, satu pintu berbahan kayu untuk menutup sempurna supaya situasi di dalam rumah tidak terlihat dari luar dan satu pintu lagi berbentuk rangkaian besi, seperti pintu gerbang.
Karena rasa penasaran yang kian meninggi, Nayla buru-buru membuka pintu besi yang masih tertutup.
Tak di sangka, begitu pintu besi terbuka, Hermawan langsung melangkah dan berlutut di depan kursi roda.
Hermawan tidak percaya akan bertemu dengan mantan istrinya, cinta pertama yang sampai saat ini tidak bisa ia lupakan. Meskipun sudah ada Maria, namun perasaan terhadap Risa tak pernah pudar. Ia memilih Maria karena harta.
"R-Risa?" panggilnya parau.
Risa tak bergeming sebab masih belum percaya dengan kedatangan Hermawan.
Dalam hati Risa, andai saja tangannya bisa ia gerakan, ia sudah pasti akan menampar pria yang saat ini bersimpuh di hadapannya.
Mendengar ucapan Hermawan, Nayla nyaris pingsan, Nuri buru-buru merangkul Nayla lalu membawanya duduk.
Pikirannya kacau, jantungnya bergetar hebat, dan hatinya tercubit, sementara paru-parunya seperti tertimpa beton hingga tak mampu menampung oksigen. Sesak, itulah yang di rasakan Nayla.
Omongan Pandu benar-benar tidak bisa ia percaya. Semua janjinya bagi Nayla hanyalah bualan. Marah, kecewa, sedih, semua berebut ingin nimbrung mengisi dadanya.
Karena Risa tak ada respon apapun kecuali tatapan kosong yang ia tunjukan, Hermawan bangkit kemudian menghampiri Nayla.
"Nay, kamu ikut saya ke Macau, mereka sedang mempersiapkan pernikahan dan besok pagi sumpah setia akan Pandu ikrarkan"
Menelan saliva, air yang berusaha Nayla sembunyikan di balik kelopak matanya tiba-tiba mengalir.
__ADS_1
Nayla masih belum merespon ucapan ayah mertuanya, karena masih shock dengan berita Pandu yang akan menikahi Delita.
Selagi Hermawan berbicara dengan Nayla, Apri tak henti-hentinya menghubungi Pandu, namun hingga beberapa kali panggilan, nomornya masih belum aktif.
*****
Macau
"Kamu jangan buta karena cinta Del" ucap Alvin berusaha mengejar Delita. "Pandu itu sudah punya istri" lanjutnya dengan napas tersengal.
Delita berhenti lalu berbalik. "Apa urusannya denganmu, kenapa selalu itu yang kamu ucapkan?. Kalau kamu bisa membawa istrinya kak Pandu ke hadapanku, aku akan percaya padamu"
Mendengar apa yang di katakan Delita, Alvin seperti kehabisan kata-kata. Merasa tidak mungkin membawa Nayla ke hadapan Delita.
"Aku memang tidak bisa membawa Nayla ke hadapanmu, tapi foto-foto yang aku tunjukan, itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dia sudah punya istri"
"Tapi sayangnya aku tidak percaya dengan foto-foto itu"
"Tapu kamu harus percaya Del"
"Bawa wanita itu kesini kalau kamu ingin aku percaya" balas Delita dengan suara lantang. "Hadirkan dia di pernikahanku besok"
Usai mengatakan itu, Delita berbalik lalu segera meninggalkan Alvin yang masih menatap punggung Delita hingga menjauh dari pandangannya.
Untuk kesekian kalinya Alvin di buat membatu dengan sikap Delita.
"Keras kepala, aarrgg" desis Alvin frustasi. Alvin memang sudah jatuh hati pada Delita, rasanya, ia ingin sekali membatalkan pernikahan Delita dan Pandu, atau menggantikan Pandu untuk mengucapkan janji setianya pada delita.
"Pandu, aku benar-benar ingin membunuhmu"Alvin berteriak sembari menendang bangku taman di dekatnya. "Nayla di mana kamu?" teriaknya lagi dengan hembusan nafas yang memburu.
__ADS_1
Bersambung