
"Gimana, apa anak buah mas sudah menemukan tante Nancy?" Tanya Nayla sambil membantu Pandu memakai jas.
"Belum, kenapa?"
"Tidak"
Pandu memicingkan mata menatap Nayla. "Apa kamu berdoa dalam hati supaya aku tidak menemukan si kurang ajar itu?, atau setelah tahu aku belum menemukannya kamu bersyukur dalam hati?"
Perkataan Pandu barusan, bagaikan anak panah yang tepat sasaran. Dia membalas tatapan suaminya dengan gugup.
"Tidak kok"
"Tapi aku merasa kamu seperti itu"
"Seperti itu bagaimana, aku berusaha tidak mencampuri urusan mas"
"Masa si?" responnya santai.
"Hmm, lagi pula percuma saja kan aku melarang, mas tetap akan mencarinya, iya kan?"
"Semua ku lakukan untukmu Naya"
"Ya ya"
Suara ponsel menguar berasal dari ponsel Pandu, mereka kompak melirik ke arah nakas, sekian detik kemudian, Nayla meraih ponsel itu dan menyerahkannya ke tangan sang suami.
Melihat nama yang muncul di layar ponsel, Pandu melirik Nayla sesaat sebelum kemudian mengangkatnya.
"Iya"
"Baiklah, tunggu saya, saya akan datang sekarang juga"
Pandu menutup panggilannya sementara Nayla sangat penasaran dengan seseorang yang menelpon suaminya.
"Aku berangkat dulu"
"Mas mau kemana?" Selidik Nayla.
"Ke kantor, kenapa?"
"Tidak biasanya mas ke kantor di jam seperti ini"
"Bukankah tadi Kellen rewel dan kamu memintaku menenangkannya terlebih dulu?"
"Maksudku_"
"Sudah ya, aku berangkat dulu" Pandu mengecup puncak kepala Nayla, kemudian membuka laci nakas. Ia mengambil kertas notice berisi pengumuman tentang Nancy yang sempat dia bawa secara diam-diam, berikutnya Ia meraih tas kantor di atas tempat tidurnya.
"Kertas apa itu mas?"
"Bukan apa-apa"
Nayla menatap kertas yang terlipat menjadi dua, sepintas ada sebuah nomor ponsel dengan awalan kode (+62) tampak samar tertulis di sana.
"M-mas"
Pandu yang hendak memutar knop pintu, berhenti sejenak lalu menoleh menatap Nayla.
"Apa?"
"Boleh aku lihat itu kertas apa?"
"Kenapa?"
"Aku cuma ingin tahu saja"
"Ini hanya catatan kecil tentang restauran kita" Balas Pandu setelah melirik kertas di tangannya.
"Aku lihat, boleh?"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Hanya lihat saja"
"Tidak usah, kamu tidak akan paham dengan tulisannya" Tangan Pandu bergerak membuka pintu.
"Pergi dulu ya"
"Hati-hati" Lirih Nayla dengan pikiran tak lagi fokus.
Kertas apa itu, kenapa mas Pandu tidak mengijinkanku melihatnya. Ah, kenapa aku secemas ini, tapi ada nomor ponsel tertulis di sana, dan kode itu milik Indonesia.
"Apa jangan-jangan_" Gumamnya menggantung kalimatnya sendiri.
"Aku harus susul mas Pandu"
Nayla segera menyambar baju hangat dan bergegas memakainya, ia berlari hendak menyusul Pandu yang mungkin langkahnya hampir sampai di area parkir.
"Mas" Teriaknya ketika sepasang matanya menangkap punggung Pandu dari jarak sepuluh meter.
Paham dengan suara Nayla, Pandu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.
Nayla yang tengah berlari dengan tergopoh membuat Pandu heran dan reflek mengerutkan kening.
"Mas" panggilnya lagi dengan nafas terengah.
"Ada apa?"
Kini, mereka sudah saling berhadapan. Tangan Nayla menyentuh pergelangan tangan pria yang berdiri tegak di hadapannya lengkap dengan tampilan wajah datar tanpa ekspresi.
"Apa mas sudah menemukan tante Nancy?"
"Kalau iya kenapa?"
"Mas sudah menemukannya?" Nayla mengulang pertanyaannya, sebab masih belum puas dengan jawaban yang Pandu berikan.
"Iya"
"Maaf Nay, kali ini aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu"
"Tapi dia tanteku, please jangan lakukan, mas bisa mengabaikan berita itu dan membiarkan mereka menemukannya sendiri"
"Tidak bisa Nay, jika aku melepaskannya, tidak menutup kemungkinan dia akan kembali berulah dan mungkin akan menjualmu"
"Tolong mas kali ini saja"
"Ini semua demi kamu, jadi tolong jangan memaksa, usahamu membujukku akan sia-sia, kamu tahu itu. Jadi stop memohon padaku"
"Mas" Nayla memelas dengan puppy eyes berharap Pandu akan iba padanya.
"Don't show your puppy eyes, because will remind me of my pipo" dia mengatakannya sembari mengusap puncak kepala istrinya, detik berikutnya mencium keningnya sekali lagi.
"Kembalilah ke rumah, di luar sangat dingin"
Menghela nafas berat, Nayla akhirnya menyerah dan pasrah dengan nasib sang tante.
Pandangannya terus tertuju pada punggung sang suami yang perlahan menjauh.
Apa yang harus ku lakukan? Nayla membatin sambil menggigit bibir bawah bagian dalam. "Lebih baik aku menelpon Laura, aku yakin dia juga ada disini, sepertinya nomor ponselnya masih tersimpan di ponselku.
Wanita itu kembali masuk ke apartemen dengan langkah lebar. Ia langsung menuju kamar dimana ponselnya tergeletak di atas meja kamarnya.
Dengan gugup, dia mencari kontak bernama Laura, begitu ketemu ia langsung menyentuh ikon panggil lalu menempelkan ponsel di telinganya.
"Tidak aktif" Ia mencoba memanggilnya sekali lagi, namun tetap sama, hanya suara operator yang mengatakan jika nomor yang ia panggil sedang berada di luar jangkauan.
Tak sampai di situ, Nayla segera menelpon Alvin. Dia yakin jika Alvin pasti menyimpan nomor Nancy.
"Vin, tolong berikan nomor ponsel tante Nancy padaku"
__ADS_1
"Untuk apa kak? anak buahku sudah menemukannya, dan sekarang ada di apartemen kak Pandu"
"Apartemen yang mana Vin?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu kak"
"Sekarang kirim nomor tante Nancy ya, aku tunggu, cepat"
Hanya selang beberapa detik pesan dari Alvin masuk ke ponselnya, detik itu juga Nayla melakukan panggilan pada sederet nomor pemberian Alvin.
Beruntung, Nomor yang Alvin berikan tersambung dan tidak menunggu lama seseorang mengangkat panggilannya.
"Hallo" Suara di sebrang telfon, adalah milik tantenya, Nayla sangat paham dengan cengkok suaranya.
"Tante"
Sama Halnya Nayla, Nancy pun sangat paham dengan suara keponakan satu-satunya.
"Nayla?"
"Iya tante, ini Nayla"
"Nay, dimana kamu sayang?"
"Tante ada di mana sekarang?" Alih-alih menjawab, dia malah bertanya balik.
"Tante ada di apartemen Pandu, kenapa?"
"Tante pergi dari sana sekarang juga?"
"Hey Nayla, kamu mengusir tantemu sendiri?"
"Tidak, nanti akan aku jelaskan, yang penting sekarang tante keluar dari apartemen mas Pandu, dan pergi sejauh-jauhnya"
"Tidak bisa Nay, Pandu sendiri yang mengijinkan tante tinggal di sini"
"Tapi tante_"
"Sudahlah Nayla, apa kamu tidak senang jika tante dan sepupumu tinggal di sini?"
"Bukan begitu tante"
"Sekarang, datanglah ke sini temui tante dan sepupumu, okey"
"Tante jangan tutup dulu tante, mas Pandu dalam perjalanan kesana, jadi tolong sebelum dia sampai, tante keluar dari rumah mas Pandu"
"Kamu tega sama tantemu Nay, kamu melarang tante tinggal di rumah suamimu?"
"Dia akan menyerahkan tante pada si konglomerat itu" ucap Nayla dengan nada kian panik.
"Konglomerat apa?" Nancy memang tidak paham dengan sosok konglomerat yang di maksud oleh Nayla. Dia tahunya Keluarga Hadiningrat dan Den Aji. "Sudahlah Nayla, kamu bersiap ya, tante akan ajak kamu pulang ke Jogja, nanti tante cari waktu yang tepat, tante juga akan meminta ijin pada Pandu untuk membawamu pulang sebentar ke negara kita. Kita akan mengunjungi makam papa dan mamahmu nanti"
"Tapi tante dia akan menyerahkan tante kepada mereka"
"Kamu ngomong apa si? ngaco deh"
Suara bel pintu berbunyi, membuat Nancy memutus panggilannya.
"Itu pasti suamimu, sudah dulu ya sayang"
"Tante, halo tante, Tan,,,_"
Terputus
Brrsambung
Maaf Nay! selain Pandu, saya juga tidak akan mengabulkan permintaanmu 😀😀
__ADS_1