Macau Love Story

Macau Love Story
Pengusiran Hermawan


__ADS_3

"Kok bengong?" tanya Nayla ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai mandinya?"


"Sudah" jawabnya lalu berjalan menghampiri sang suami yang tengah duduk berselonjor di atas ranjang.


"Mas bengong kenapa? apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak ada" Tersenyum, Pandu turun dari ranjang lalu menggiring Nayla duduk di kursi rias. Ia mencolokan kebel hairdryer lalu bersiap mengeringkan rambut Nayla.


Merasa aneh, Nayla terus menatap Pandu melalui pantulan cermin. Ia merasa ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh suaminya.


"Mas tahu setiap kali aku berbohong kan?"


Mendengar pertanyaan dari sang istri, reflek Pandu menghentikan tangannya lalu membalas lirikan Nayla. Pandangan mereka pun bertemu lewat pantulan cermin. Selang dua detik, dia kembali menggerakkan tangannya di atas kepala Nayla.


"Kenapa?" tanya Pandu, tatapannya kini sudah fokus pada rambut Nayla.


"Aku juga tahu kalau mas berbohong"


"Bohong apa?" tanya Pandu datar.


"Apa ada sesuatu yang sedang mas pikirkan?"


"Delita"


Mendapat sahutan cepat dari Pandu, mata Nayla semakin tajam menyoroti Netranya.


"Ada apa dengan Delita?"


Menggeleng pelan, Pandu sedikit menarik napas berat. "Aku takut kalau dia depresi, takut kalau Alvin melakukan kekerasan pada Delita jika Delita terus menolaknya" Ujarnya tanpa menatap Nayla. "Kita tahu Alvin orangnya nekad" tambahnya, masih dengan nada datar khas miliknya.


Nayla merasa apa yang di katakan Pandu ada benarnya. Jika Delita terus menolaknya, pasti akan membuat Alvin jengah dan tidak sabar akhirnya melakukan kekerasan pada Delita.


"Bukankah mas memiliki insting yang sangat kuat?"


Lagi-lagi Pandu melirik Nayla melalui kaca, tapi kali ini tangannya terus bergerak mengeringkan rambut panjang Nayla yang sudah setengah kering.


"Maksud kamu?"


"Mas harus yakin kalau Alvin memang tidak main-main dengan ucapannya. Lagian Delita anak yang cerdas, dia pasti tidak akan diam saja jika Alvin berbuat kasar padanya"


"Tapi jika Alvin mengurungnya, apa yang bisa di lakukan Delita?"


Hening, hanya ada suara hairdryer yang terdengar berisik.


Sementara Nayla bungkam bukan berarti tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Tapi dia enggan jika harus beradu argumen dengan pria yang keras kepala seperti Pandu.


"Mas" panggil Nayla ketika selama beberapa menit mereka tidak bersuara. "Aku mau ajak ibu tinggal disini"


Sebelum menjawab pertanyaan Nayla, Pandu mencabut colokan kabel dari pengering rambut lalu menyisir lembut rambut Nayla.


"Bukankan lebih baik ibu tetap di sana?" tanya Pandu sambil menuntun Nayla untuk duduk di tepian ranjang.


"Tapi akan lebih baik lagi jika ibu bersama kita"


Pandu diam, yang dia lakukan hanya menatap Nayla penuh intens.


"Mas jangan takut sama musuh-musuh mas di Casino" ujar Nayla sambil merangkum wajah Pandu. "Dan juga tidak perlu takut sama Alvin"


Mata Pandu terus bergerak mengikuti manik hitam milik Nayla. "Biarkan ibu merubah Alvin dan memberikan kasih sayangnya pada anak dari suaminya"

__ADS_1


"Tap_"


Kalimat Pandu terpenggal karena Nayla buru-buru membungkam mulutnya dengan tangan kirinya. "Bebaskan ibumu dari penjaramu, biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan"


"Apa yang bisa ibu lakukan?"


"Apa saja" jawab Nayla "Jika ibu terus di sembunyikan, tidak menutup kemungkinan kalau ibu akan kembali sakit, tapi jika kita bebaskan ibu dari pikirannya yang mungkin masih merasa bersalah pada mendiang suaminya, atau memikirkan anak-anaknya yang sampai sekarang masih berselisih, ibu pasti akan menjadi bijak demi untuk mendamaikan anak-anaknya"


Pandu diam mendengarkan perkataan Nayla.


"Kita bawa ibu kesini, kita jaga sama-sama, kita lindungi sama-sama, dengan begitu ibu akan merasa sedikit lebih tenang. Mas jangan takutkan apapun"


Alih-alih menjawab, Pandu justru meraih tangan Nayla yang merangkum wajahnya, menciumnya sedikit lebih lama, lalu ia genggam erat-erat.


"Aku akan bawa ibu tinggal bersama kita disini"


Usai mendengar ucapan Pandu, senyum Nayla terbit, namun tiba-tiba jantungnya terasa kebat-kebit sebab pada detik itu juga Pandu mem*agut bibirnya.


Nayla hanya diam sembari menikmati sesapan-sesapan lembut dari suaminya. Ketika Pandu hendak mengurai tautan bibir mereka, dengan cepat Nayla menekan belakang kepala Pandu, membuat Pandu urung melakukannya.


Ciuman yang selalu membuat Nayla stres jika memikirkannya di saat mereka sedang berjauhan.


Tepat ketika mereka sama-sama kehabisan oksigen, Pandu melepas pa*gutannya. Nafas mereka masih memburu dan saling bertubrukan menyapu wajah mereka. Hanya selang dua detik, giliran Nayla yang memualinya. Ciuman yang sarat akan cinta yang begitu besar, apalagi jika Nayla teringat bahwa Pandu adalah lelaki di masa lalunya. Rasanya tidak akan pernah cukup kebersamaan yang mereka lalui.


Tamak, mungkin itu julukan yang pas untuk Nayla karena cintanya pada sang suami begitu besar.


Mereka saling beradu pandang dan berbalas senyum usai melepaskan bibirnya yang saling menempel.


"Mas tahu di bibir mas ada apanya?"


"Apa?" jawab Pandu, kening mereka masih sama-sama saling menempel.


"Ada magnetnya"


Nayla mengangguk seraya tersenyum. Sebelum bangkit, tangan Pandu terulur mengusap kepala Nayla.


...🌷🌷🌷...


Pagi harinya, sepasang suami istri menikmati sarapan pagi dalam diam. Pandangan Alvin terus tertuju pada Delita yang sepertinya merasakan ketegangan di luar batas.


Semenjak Alvin mengatakan akan merubah rencananya, Alvin seolah menjadi pria yang irit bicara, dan jarang sekali menampakkan dirinya di depan Delita selama di rumah, kecuali pada saat makan seperti ini. Tatapan Alvin yang seolah mengintimidasi, membuat Delita kehilangan nafsu makan selama sesi sarapan.


Entah apa yang ada dalam pikiran Alvin, Delitapun tak berhenti bertanya-tanya dalam benaknya.


Sepasang mata Alvin yang hanya beralih pandang ketika menyendok makanan atau mengambil minuman, selebihnya sorot tajamnya seperti terpaku pada Delita, dan itu semakin membuat Delita kian gugup, makin kikuk, dan salah tingkah.


"A glance of your eyes, make me want to throw a shoes at your face" Ucap Delita lirih namun bisa di tangkap oleh telinga Alvin.


Dan itu membuat Alvin menyunggingkan senyum, detik selanjutnya ia meraih gelas lalu meneguknya. "Bibir merahmu, membuatku ingin memakannya habis-habisan" ujarnya setelah meneguk setengah dari isi gelasnya.


Delita nyaris tersedak setelah mendengar ucapan Alvin, lalu berusaha mengendalikan dirinya sendiri yang tingkat gugupnya semakin meninggi.


"Jika pendirianmu terus berlanjut, maka akan ku pastikan kesabaranku tak ada batas" lanjut Alvin, sorot matanya terus fokus pada wajah istrinya yang memerah.


Usai mengatakan itu, dia langsung bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Delita yang masih mematung.


"Apa maksudmu?" tanya Delita menghentikan langkah Alvin.


Pria itu berbalik, kemudian berjalan mengungkung Delita dari arah belakang. Kedua tangan Alvin mendarat di tepian meja, sementara punggungnya sedikit merunduk. Ia menyesap dalam-dalam aroma rambut Delita wanginya terasa lembut di hidung.


"Aku tidak akan melepasmu, meski kamu menolakku hingga ribuan kali" kata Alvin dingin. "justru sebaliknya, aku akan membuatmu mengemis cinta padaku"

__ADS_1


Dia mencium puncak kepala Delita lalu pergi, kali ini ia tak merespon Delita yang menginterupsinya untuk jangan beranjak terlebih dulu, sebab dia belum selesai bicara.


"Hou fan a Lei" Pekik Delita dengan wajah memanas. "Aargghh,," desisnya sambil mengusap wajahnya kasar.


****


Sudah satu minggu lebih pernikahan Delita dan Alvin berlangsung, namun Maria seolah masih belum percaya bahwa pernikahan anaknya akan gagal dan justru menikah dengan adik tirinya.


Rasa sayang terhadap Pandu, kini berubah menjadi kebencian yang persekian detik langsung mendarah daging di dalam tubuhnya. Apalagi jika mengingat bahwa Pandu adalah anak kandung dari sang suami yang selama ini tidak ia ketahui.


Rasanya, ia ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada Hermawan, namun rasa cintanya yang begitu besar, seolah mampu menahannya agar tidak mengeluarkan umpatan atau kekesalan pada sang suami.


"Sampai detik ini, apakah ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Maria. Sorot matanya kosong, seakan ada begitu banyak hal yang memenuhi kelopak matanya.


Hermawan bungkam. Dia tak mampu menjawab pertanyaan Maria karena sampai detik ini dia masih mencintai mantan istrinya.


"Apa mantan istrimu ada di sini?" tanyanya lagi.


Menggeleng pelan, sebelum kemudian bersuara "Dia di Hongkong"


"Oh jadi selain kamu menyembunyikan tentang anakmu sendiri, kamu juga sering mengunjungi ibunya?"


Menelan saliva, pandangan Hermawan yang tadinya menatap tangan Maria di atas pangkuannya, kini beralih menatap wajah sendu miliknya "Aku tidak pernah menemuinya" jawabnya ragu, "Hanya sekali saat aku hendak membawa Nayla kemari"


Bibir maria terulas, senyum miringnya menampakan raut sinis setelah mendengar jawaban sang suami.


"Apa aku harus percaya dengan ucapanmu sekarang?, terlepas dari kebohongan yang sudah kamu lakukan hingga bertahun-tahun?"


"Tapi aku tidak pernah menemuinya"


"Lalu" kata Maria tanpa ekspresi. "Setelah kamu menemuinya sekali, apa kamu berniat akan menumui mantanmu kembali?"


"Jawab" desisnya sedikit meninggikan suara ketika Hermawan hanya diam.


"Itu masa lalu, aku tidak pernah berniat untuk mengulangnya"


"Lalu ini apa?" Maria menunjukan foto yang menampilkan kebahagiaan Hermawan, Pandu, dan juga Risa.


Foto itu di ambil pada saat Pandu berusia lima tahun. Kalau saja tidak ada tulisan tangan dari Hermawan di balik foto itu, mungkin Maria akan percaya.


Tapi kalimat yang dia tulis setelah pertemuannya dengan Risa beberapa hari lalu, yang mampu membuat hatinya kembali bergetar, membuat Maria sulit untuk percaya pada suaminya.


"Apa kamu berniat ingin kembali padanya?" tanya Maria.


Hatiku kembali bergetar setelah sekian lama tidak bertemu, dan aku sadar sampai detik ini masih sangat mencintaimu


Hermawan


"Jelaskan apa maksud tulisan di balik foto itu Hermawan!"


Hermawan tak bisa lagi berkutik setelah ungkapan hatinya di ketahui oleh sang istri. Padahal dia merasa sudah menyimpan foto itu sebaik mungkin agar Maria tidak pernah mengetahui perasaan dirinya yang sebenarnya.


Sementara ungkapan yang dia tulis, adalah suatu kejujuran yang selama ini ia pendam.


"Pergi dari sini" teriak Maria dengan suara lantang.


"Maria kendalikan dirimu, tenangkan pikiranmu"


"Aku tidak bisa mengendalikan diriku di hadapanmu. Sekarang juga keluar dari rumahku" Mata Maria berkilat merah, dadanya naik turun, nafasnya pun sedikit tersengal saat mengatakannya.


"Aku tidak mau melihatmu ada di rumahku" pekiknya lagi"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2