Macau Love Story

Macau Love Story
Kedatangan Alvin ke kantor


__ADS_3

Setibanya aku di kantor, sudah ada Alvin yang duduk di sofa sebelah meja kerjaku. Satu tangan mengapit sebatang rokok, tangan lainnya menggeser layar ponsel yang tengah di pegangnya, sementara kakinya, ia daratkan di atas meja dalam kondisi menyilang.


Aku menggelengkan kepala seraya menghela napas pelan, kali ini dengan pasrah. Dia memang seperti itu setiap kali berhadapan denganku, hanya tatapan kebencian yang ia lemparkan padaku.


"Bisakan kamu sopan sedikit" ucapku sambil berjalan menuju kursi kerjaku.


"Kamu ini sudah paham kan bagaimana aku?" sinisnya lalu menghembuskan asap putih dari mulutnya. "Jadi tidak perlu repot-repot menyuruhku untuk bersikap sopan padamu"


Entah kenapa setiap kali menghadapi Alvin, kesabaranku bisa terulur hingga beratus-ratus meter. Dia memang kepala batu, susah di bujuk, apalagi di suruh berbuat baik.


"Ngomong-ngomong, dimana kamu sembunyikan istrimu?" tanyanya seraya menghampiriku.


"Apa urusannya denganmu?"


"Ayolah berbagi denganku, aku saja sudah rela membagi ayah dan perusahaanku denganmu"


"Jaga mulutmu" sahutku dengan kedua siku menempel pada meja, sedangkan punggung tangan ku gunakan untuk menopang daguku. "Sampai kapan kamu akan hidup seperti ini"


Entah apa yang salah dengan kalimatku barusan, sebab ku lihat ada kerutan di keningnya. Dia tak merespon ucapanku, yang dia lakukan hanyalah membalas tatapanku dengan sorot tajam.


"Aku pasti akan menemukan Nayla" ucapnya dengan tangan terlipat di atas meja. "Karena akulah pemilik sebenarnya"


"Sudah cukup aku mengalah selama ini" Aku mengatakannya tanpa melihat wajahnya. "tapi untuk Nayla, aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya dariku" lanjutku dengan fokus tertuju pada tanganku yang tengah menuliskan cek untuk laba yang dia dapat dari hotel dan restaurannya. "Ini keuntunganmu, dan pergilah dari sini sekarang"


Dia tersenyum sinis setelah menerima cek dariku. "Ingat ndu, aku pasti akan menemukan Nayla"


"Apa yang akan kamu lakukan setelah menemukannya?" tanyaku sarkasme.


"Menikahinya"


"Ckk,," decihku "Kenapa harus dia, yang jelas sudah menjadi milik orang lain?"


"Karena awalnya akulah pembelinya"


Tiba-tiba terdengar suara kursi di dorong, dan Alvin berdiri dengan mata memerah. Dia pergi meninggalkan ruanganku dengan sedikit membanting pintu ketika menutupnya.


Menghela napas panjang, aku berusaha menetralisir emosi yang mendadak singgah.


"Dia kenapa kak?" tanya Clara yang tiba-tiba muncul di hadapku.


Mataku yang tadinya terpejam seketika ku buka.


"Maksud kamu Alvin?"

__ADS_1


"Hu'um. Aku papasan dengannya tadi di depan"


"Dia mau cari tahu soal Nayla"


"Masa si kak?" sahutnya lalu menarik kursi dan duduk bersebrangan denganku. "Aku saranin kakak jangan keseringan bolak-bolak Hongkong-Macau deh"


"Aku juga mikir gitu Cla, tapi Nayla kan juga sedang hamil"


"Maunya apa si tu Alvin" gerutu Clara. "Hidup-hidup saja kenapa harus ngerugiin orang lain terus. Oh ya kak, ada tantangan dari bos diskotik sixteen kak, orang yang pernah kakak kalahkan beberapa bulan lalu"


"Dia menghubungimu?"


Clara menggeleng sambil bersuara "Kak Rondy yang bilang, kabarnya juga Alvin mau ikut"


"Bilang saja aku tidak mau"


"Tidak bisa kak, mereka masih belum terima kekalahannya"


"Kapan?" kataku akhirnya.


"Malam minggu"


"Malam minggu aku pulang ke Hongkong"


Mendengar ucapan Clara, dadaku seketika berdesir, untuk menghirup napas saja terasa berat.


****


Malam harinya sepulang kantor, aku di buat kaget saat tahu ada seorang wanita di depan pintu apartemenku.


Reflek aku menggelengkan kepala, mau apa dia, malam-malam di depan rumahku.


"Kak Pandu" sapanya ragu-ragu "Selamat malam" lanjutnya seraya menunduk.


"Ada apa kesini?"


"Aku cuma mau kasih ini" sahutnya sambil menyerahkan kotak makanan.


"Kamu tidak perlu repot-repot" jawabku seraya memasukan kunci di lubang pintu lalu memutarnya.


"Aku tidak merasa repot kok kak. Ini sebagai bentuk ucapan terimakasih sudah menolongku"


"Kamu duduk, aku mau mandi dulu"

__ADS_1


Andai kamu bukan adiku, sudah pasti akan ku usir, memangnya tidak ada hari esok untuk bertamu. Mendesah pelan, aku melangkah begitu saja meninggalkan dia yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Merebahkan diri di atas ranjang, aku meraih gawai di saku celanaku, aku ingin menelpon Nayla, dan menanyakan kondisi anaku serta ibuku.


"Assalamu'alaikum?" Sapanya lembut, membuatku semakin tak kuat lagi menahan rindu.


"Waalaikumsalam"


"Kenapa baru telfon" tanyanya membuatku semakin merasa bersalah.


"Maaf, hari ini sibuk"


"Sibuk apa?"


Belum sempat aku menjawabnya Nayla sudah buru-buru menyimpulkan.


"Sibuk judi?"


"Kamu jangan melulu berprasangka buruk padaku Nay"


"Maaf, itu reflek keluar dari mulutku"


"Mana ada berprasangka buruk itu reflek" sahutku tak mau kalah.


"Iya maaf"


"Nggak lucu tahu" selorohku sambil tersenyum geli. "Lagi apa anaku?"


"Lagi kangen papahnya, kira-kira kapan papahnya jengukin adek?"


"Malam minggu besok ya, papah pulang"


"Ok di tunggu ya"


"Kak Pandu" suara dari ambang pintu, yang sudah ku tahu siapa pemiliknya.


"Mas lagi di mana, kok ada suara perempuan?" Tanya Nayla, kini fokusku terbagi menjadi dua, suara di balik telpon, dan suara seorang wanita di ambang pintu kamarku.


"Maaf ganggu, kakak belum makan malam kan?" ucapnya membuatku reflek berdecih.


"Itu siapa mas, sepertinya bukan suara Clara"


"Itu Nay__" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, dia sudah buru-buru menutupnya. Aku yakin dia pasti berprasangka yang tidak-tidak.

__ADS_1


__ADS_2