
"Apa yang kamu lakukan Alvin?" Tanya Delita ketika pria itu tampak belum siap untuk pergi. Rambutnya acak-acakan dengan pakaian seadanya.
Pria itu tengah duduk dengan fokus menatap layar Ipad di tangan kirinya.
"Urus kerjaan Del" jawabnya santai tanpa melihat wajah Delita.
"Kita mau ke rumah ibu kan? kenapa masih belum siap?"
"Next time saja ya kita kesana, aku masih belum siap bertemu ibu"
"Ayolah Vin singkirkan egomu, dosamu sudah sangat banyak di dunia ini" Delita membuka pintu lemari berniat memilihkan pakaian untuk sang suami. "Jangan sampai kak Nayla memenggal kepalamu karena tidak mau menemui ibu" lanjutnya lalu meletakkan pakaian di atas kasur.
Menghela nafas berat, Alvin menatap Delita yang kini tengah duduk berkaca sambil mengoleskan sesuatu di bibirnya.
"Kalau kamu mati, lalu aku sama siapa? kamu tahu sendiri kan, mamaku di Amerika, papahku juga belum di ketahui keberadaannya, sementara kak Devano sibuk dengan dunianya"
Delita berkata nyaris tanpa Jeda.
"Aku hanya punya kamu sekarang"
Kening Alvin mengerut mendengar ucapan Delita, sedetik kemudian ia meletakan Ipadnya di atas nakas lalu berjalan menuju meja rias.
Tubuh Alvin langsung mengungkung tubuh Delita dari arah belakang. Tangannya ia daratkan di sisi meja rias sementara badannya sedikit membungkuk. Ia mempertemukan netranya melalui pantulan cermin.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" kata Alvin lalu mengecup puncak kepala istrinya.
"Kalau begitu, bersiaplah kita ke rumah ibu, kak Nayla pasti sudah masak banyak untuk menyambut kita"
"Baiklah my queen"
"Terimakasih, sudah mau menurutiku"
Bibir Alvin tak mengembangkan senyum sama sekali untuk membalas ucapan terimakasihnya.
Memutar badan, Delita sedikit mendongak menatap Alvin lalu mengecup bibirnya singkat.
"Aku tidak akan pernah bisa melawan kak Nay" lirih Delita tanpa mengikis jarak di antara wajah mereka. "Jika kamu melakukannya untukku, aku makasih banyak-banyak"
Alvin diam dengan netra masih terkunci dengan netra Delita.
Delita kembali mendekatkan wajah kali ini untuk menciumnya. Butuh beberapa menit untuk Alvin membalas ciumannya.
"Sudah sekarang bersiaplah" ucap Delita ketika mengurai bibir mereka.
Alvin pun segera bersiap-siap. Mengganti bajunya dengan pakaian yang sudah Delita siapkan di atas kasur beberapa menit lalu.
*****
"Sayang, ikannya mau di apain?"
"Yang ini nanti masukin ke sup" jawab Nayla sambil menunjuk ikan di wadah warna hijau. "Yang ini" tambahnya nunjuk ikan di wadah warna merah. "Nanti di panggang"
"Yang di panggang sudah di kasih bumbu?"
"Belum sayang"
"Aku kasih ya"
"Ok" sahut Nayla singkat.
Pandu dan Nayla tengah sibuk mempersiapkan makanan untuk makan malam bersama Delita dan Alvin. Sementara Nuri menjaga ibu yang sedang menimang cucu pertamanya.
"Alvin akan datang kan mas?"
"Entahlah"
"Kok entahlah si" Protes Nayla dengan alis menukik tajam. "Tadi waktu mas ngomong, Alvinnya jawab gimana?"
"Tidak menjawab, dia hanya diam seperti orang bodoh" jawab Pandu Asal, Tangannya terus menaburkan garam, merica bubuk, dan kecap manis di ikan yang hendak di panggang.
"Harusnya mas ancam, jangan ikut diam saja seperti orang bodoh juga"
"Kamu ngatain suamimu bodoh Nay?" Pandu melirik istrinya.
__ADS_1
"Kan mas juga ngatain orang bodoh"
"Tapi tidak harus mengatai suamimu kan?"
"Iya maaf, aku cuma mau ngingetin, jangan bilang bodoh di depan orangnya, nanti api yang sudah susah payah aku padamkan, nyala lagi" Kata Nayla dengan pandangan fokus ke arah tumisan. "Bukan usaha yang mudah loh buat memadamkan api itu"
"Hmm" jawab Pandu singkat.
"Hmm apa?"
"Tidak akan ngatain orang bodoh"
"Bagus dong" sahutan Nayla bersamaan dengan bunyi kompor di matikan.
Setelah itu hening, Pandu tak lagi merespon ucapan Nayla. Pria itu kini fokus memasukkan ikan ke dalam panci sup yang telah mendidih.
Merasa bersalah, akhirnya Nayla melingkarkan tangan ke pinggang Pandu dari balik punggungnya.
"Maaf"
Pandu masih bungkam tak bergeming barang sejenak.
"Aku minta maaf" Nayla kembali mengucapkan permintaan maafnya, raut wajahnya terlihat lebih sungguh-sungguh.
"Minta maaf buat apa?" sahut Pandu Akhirnya. "Kamu kan sekarang bos, bos tidak pernah salah, iya kan?"
"Jangan bilang begitu, aku kan jadi merasa tidak enak hati"
"Sejak kapan merasa tidak enak hati" goda Pandu sambil terus mengaduk sup di atas kompor. "Bukankah kamu sekarang seorang mafia?"
"Maksud mas?" tanya Nayla sedikit merenggangkan lingkaran tangannya.
"Suka mengancam, Mafia kan kerjaanya kalau tidak mengancam ya membunuh"
"Mas tahu aku ngancam Alvin?"
"Kamu ngancam Alvin?" Pandu bertanya balik, lalu menolehkan wajah ke samping kanan.
"Hmm" jawab Nayla, pria itu merasakan anggukan kepala Nayla yang masih menempel di balik punggungnya.
"Akan membunuhnya jika tidak mau menemui ibu"
"Waahh sadis juga ya kamu?"
"Mas mau tahu seperti apa wajah Alvin ketika aku mengancamnya?"
Pandu menaikkan satu alisnya dengan mata sedikit menyipit.
"Seperti apa memangnya?"
"Yakin mau tahu?" tanya Nayla, kepalanya mendongak lalu menempelkan dagu di dada sang suami.
"Tidak" sahut Pandu lalu menggigit lembut hidung Nayla membuatnya merintih pelan.
"Aaww"
"Ngapain peluk-peluk di dapur, nanti ketangkap basah sama Nuri"
"Aku bahkan ingin sekali mencium mas"
Usai mendengar ucapan Nayla, detik itu juga Pandu langsung mencium bibir istrinya dan sedikit memberikan lum**an, membuat Nayla hanyut dan membalas ciumannya. Ketika Pandu hendak mengurai tautan bibir mereka, Nayla justru menekan tengkuknya untuk memperdalam pertemuan bibir mereka.
"Makin berani kamu sekarang" kata Pandu selepas ciumannya. "Bahkan tidak mengenal tempat"
Nayla hanya diam sambil mengulas senyum. Netranya terus menyorot manik hitam milik Pandu. Mereka saling menatap sebelum kemudian kembali berciuman.
"Aku memang menjadi lemah ketika berada di dekat mas, makannya tidak peduli sekalipun itu di dapur, yang penting pas hanya ada aku dan mas saja, my pipo"
"Ishh, pipo itu nama kucing tahu"
"Mas kan memang kucingku" timpal Nara sambil menciumi pipi suaminya. "I love you, I love you, I love you"
"Besok pas di Jogja, kita kunjungi tempat masa kecil kita"
__ADS_1
"Itu harus sayang" sahut Nayla berbisik.
"Jangan bisik-bisik, nanti ada yang kebangun suaramu terlalu seksi Nay"
"Mesum kan? ayo lanjut masak"
"Mau lanjut ke kamar dulu juga hayuk"
Nayla langsung mencubit pinggang Pandu begitu mendengar ucapan absurtnya.
Waktu terus berjalan maju, tanpa ada yang bisa menghentikannya. Ketika Pandu dan Nayla selesai memasak, jam sudah menunjuk tepat di angka tujuh.
Beberapa saat setelah semua hasil masakan tertata di atas meja, bel pintu pun berbunyi. Nayla sudah bisa menebak siapa yang datang.
Melangkah ke arah pintu, tangan Nayla bergerak memutar handle pintu.
"Delita, Alvin? masuk yuk"
Perlahan Alvin melangkah melewati ambang pintu. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, ini pertama kalinya dia dan bu Risa akan bertemu setelah beberapa tahun.
Ingatan tentang mendiang papahnyapun saling berebut masuk kedalam pikirannya.
Pandu baru saja keluar dari kamar dengan menggendong Kellen ketika Alvin berdiri terpaku dengan pandangan terarah ke bu Risa.
Ia tetap berdiri di depan pintu kamar seraya menyaksikan pertemuan Alvin dengan sang ibu.
Begitu juga dengan Nayla dan Delita serta Nuri yang berdiri di samping Risa yang masih duduk.
Tangan Risa meraih tongkatnya, lalu perlahan bangkit dari duduknya.
Menelan ludah, wanita paruh baya itu mulai melangkahkan kaki untuk menghampiri anak dari mendiang suaminya.
Sementara Alvin masih diam di tempatnya dengan tatapan nanar.
Tepat ketika di depan Alvin, bu Risa memindai tubuhnya dari kaki hingga kepala, selang tiga detik satu tangannya terulur hendak menyentuh pipi Alvin.
"Maafkan ibu Nak" lirihnya sendu. "Maafkan ibu" ucapnya lagi di iringi buliran bening yang meluncur di pipinya.
Sekuat tenaga Risa berusaha melepaskan tongkat di tangan kanan agar bisa menangkup wajah putranya.
"Alvin anakku"
Kini bu Risa bertahan menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Hanya lima detik kaki itu berpijak tanpa bantuan tongkat.
"Ibu" seru Pandu, Nayla, Delita dan juga Nuri nyaris bersamaan ketika bu Risa hendak tumbang.
Namun Alvin segera menangkap tubuhnya.
"Ibu" pekik Alvin sambil terus menahannya.
"Ibu merindukanmu nak, maafkan ibu sudah lalai padamu, maafkan ibu sudah mengabaikan dan meninggalkanmu"
Rahang Alvin mengeras, susah payah ia meneguk ludahnya sendiri.
Melihat wajahnya, seketika Alvin teringat dengan kebenciannya pada Risa yang sudah menjadi penyebab sang papa meninggal. Tapi di sisi lain, ada bayangan Delita yang seolah meminta untuk melupakan masa lalu dan memulai hubungan baik untuk kedepannya.
Hampir lima menit ia terlena dengan pikirannya sambil terus menatap Risa, akhirnya Alvin memutuskan untuk memenuhi ucapan sang istri.
Sesuatu yang baik, akan membawa kita pada kebaikan, begitu juga sebaliknya, sesuatu yang buruk, akan membawa kita pada keburukan pula. So Alvin, mari kita sama-sama melakukan kebaikan, bukan hanya untuk diri kita, tapi untuk anak-anak kita kelak. Delita.
"Maafkan Alvin bu?"
Mendengar permintaan maafnya, air mata Risa luruh seketika, Ia langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Alvin.
"Ibu yang minta maaf nak, ibu sudah mengingkari pesan papamu untuk menjagamu" balas Risa lalu mengecup pipi Alvin. "Ibu sudah meninggalkanmu di saat kamu kehilangan papahmu"
Alvin dan Risa saling berpelukan cukup lama. Delita merasa lega karena sang suami benar-benar sudah berubah. Ia harus bersyukur untuk itu dan detik itu juga teringat akan ucapan Nayla bahwa seseorang akan melakukan apapun demi orang yang di cintai.
Nayla yang sejak beberapa menit lalu sudah berdiri di sisi sang suami pun turut bahagia menyaksikan pemandangan mengharukan antara anak dan ibunya. Jika Tania ada disini, pasti juga akan merasa bahagia dengan keadaan ini.
Untuk sesaat Pandu dan Nayla saling memandang, Tangan Nara merangkul pinggang Pandu, sementara Pandu mengusap salah satu sisi wajah Nayla.
"Makasih sayang" bisik Pandu yang di respon anggukan kepala oleh istrinya.
__ADS_1
Makan malam kali ini, benar-benar makan malam yang penuh kebahagiaan bagi bu Risa.
Bersambung.