Macau Love Story

Macau Love Story
Pipo=Pandu


__ADS_3

"Ingat pesanku" ucap Nayla lembut. "Jangan bahayakan adik sendiri"


"Iya" jawab Pandu tanpa menatapnya karena dia tengah sibuk menyimpulkan tali sepatu.


"Jadilah kakak yang justru melindungi adiknya"


"Iya"


"Judinya di stop juga kalau bisa" ucap Nayla berniat memperingatkan. "lagi pula judi kan sampai malam, udara malam tidak baik untuk kesehatan kan?"


"Hai, siu cie" jawab Pandu dengan senyuman lalu menempatkan diri di depan Nayla "Terus apa lagi?"


"Kapan balik lagi?"


"Kurang tahu"


"Kalau jawabnya gitu, aku yang akan kesana?"


"Maksud kamu?" tanya Pandu memicing


"Memangnya ucapanku kurang jelas?" ujarnya seraya melingkarkan tangan di pinggang Pandu. "Aku yang akan menyusulmu ke Macau"


"Bahaya" balas Pandu cepat.


"Aku tidak peduli"


"Kamu lama-lama makin berani ya, dulu pertama kali bertemu bahkan selalu menunduk. Jangankan ngancam, natap wajahku saja tidak berani" kalimat Pandu yang berbalur sindiran membuat Nayla mencebik. "Ternyata seperti ini aslinya"


"Aku aslinya memang begini" Sahut Nayla "Aku sudah terbiasa hidup keras, aku tidak takut dengan bahaya"


"Kamu bisa bilang begitu karena dulu" Kata Pandu sambil mengusap perut Nayla " Di sini belum ada bayinya, tapi sekarang kamu berperan melindunginya. Jangan egois jadi mama"


"Sudah sana pergi, pamit sama ibu"


"Kamu mengusirku?"


Nayla memicing dengan Alis menukik tajam. "Ya sudah kamu disini saja, aku justru senang"


Pandu tersenyum mendengar ucapan Nayla. "Ingat ya jangan pernah gunakan ponsel, aku akan menelpon Nuri jika merindukanmu"


"Hai" jawab Nayla patuh. "Lagian selain ponsel, aku sudah punya kesibukan lain"


Pandu menatap Nayla penuh lekat lengkap dengan dahi yang mengernyit tajam. "Apa itu?"


"Merajut" Jawab Nayla sambil menyugar rambut Pandu. "Ibu mengajariku merajut, dan aku bikin sapu tangan karena kata ibu, itu sangat mudah, dan cocok untuk pemula sepertiku yang pengin belajar merajut"


"Ngomong-ngomong soal ibu, Aku makasih banyak sama kamu sudah tulus merawat ibu, dari yang tadinya tidak bisa apa-apa, sekarang jadi bisa merajut lagi"


"Dia ibuku juga, mas tidak perlu bilang makasih"


"Ok kalau gitu aku hutang nyawa sama kamu"


"Maksud mas?"


"Aku akan selalu melindungimu, hanya kamu istriku satu-satunya" bisik Pandu tepat di depan wajah Nayla.

__ADS_1


Persekian detik mereka saling mempertemukan bibir, saling membalas lum*atan, dan berbagi air liur.


"Aku pergi ya" pamit Pandu usai melepas bibirnya yang saling bertaut beberapa detik lalu.


Nayla mengangguk meski berat.


*****


Hari-hari di jalani oleh Nayla seperti biasanya, Ia sibuk merajut sapu tangan yang belum selesai hampir dua minggu, padahal sang ibu sudah menyelesaikan tiga sapu tangan dalam waktu dua minggu itu.


Otak Nayla di buat bekerja ekstra keras memikirkan Pandu yang belum menelponnya semenjak kepulangannya dari Hongkong. Pikiran buruk pun tiba-tiba singgah apalagi ketika ada dua orang yang tiba-tiba memencet bel rumahnya dan mencari keberadaannya, Sontak membuat Nayla mengunci diri di kamar bersama sang ibu. Dua orang datang ke apartemennya menanyakan Nayla. Beruntung saat itu Nuri yang membuka pintunya.


Nuri yang sudah di pesan oleh Pandu untuk menyembunyikan Nayla dan ibunya, membuat Nuri mengatakan bahwa Nayla sedang di ajak ke Macau oleh Pandu, Nuri berkata bahwa Nayla akan kembali satu minggu kemudian. Ucapan Nuri yang tampak sangat serius, membuat dua orang itu mempercayainya. Nuri juga mengatakan jika ada perlu, bisa datang kembali setelah satu minggu.


Usai mendengar ucapan Nuri yang sangat meyakinkan, dua orang suruhan Hermawan pun menurut.


Dan malamnya, Nayla, Ibu dan Nuri langsung bertukar unit apartemen dengan unit yang di tempati oleh orang kepercayaan Pandu. Apartemen yang letaknya tepat di depan unit milik Nayla.


Keberadaan Nayla yang sudah di ketahui oleh anak buah Hermawan yang Pandu kira adalah anak buah Alvin, membuat Nayla harus berpindah suasana. Apalagi suasana kamar yang bagi Nayla kurang nyaman. Meskipun semua barang di kamar barunya adalah barang-barang miliknya, hanya bertukar tempat tapi tetap saja tidak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak.


Semua yang Nuri katakan adalah rencana Pandu, karena Pandu sudah tahu pegawai hotel yang memberitahukan alamatnya. Dengan gerak cepat Pandu menyuruh Nuri untuk mengecoh anak buah Alvin.


"Haloo" Sapa Pandu melalui sambungan telfon. "Lagi apa?"


"Lagi duduk"


"Sudah makan siang?"


"Sudah"


"Sepertinya mereka belum datang kembali, Nuri bilang satu minggu, dan ini baru lima hari semenjak mereka datang kesini"


"Ingat ya, jangan keluar, anak buah Alvin pasti akan datang lagi dan akan membawamu"


"Iya ngerti" Sahut Nayla sendu. "Kok mas tahu kalau anak buah Alvin nanya ke pegawai di hotel?"


"Tahu dari CCTV Nay. Di situ memang tidak ada suaranya suruhan Alvin ngomong apa ke pegawai hotel, tapi gambarnya sangat jelas kalau dua orang itu yang ngikutin aku, pas aku tanya, dia jawab kalau mereka nanyain alamat kita di situ. Mereka memaksa si pegawai hotel untuk memberitahukannya, karena tidak ada pilihan lain, akhirnya dia memberikan alamat kita"


"Terus mas nyuruh Nuri buat akting begitu?"


"Hmm"


"Pantas mas selalu menang judi, mas punya trik mematahkan lawan"


"Kan aku sudah bilang, aku hutang nyawa sama kamu, apapun akan aku lakukan untuk melindungi kamu dan juga si adek"


"Tapi sampai kapan seperti ini"


"Sabar dulu ya, aku janji tidak akan lama"


"Tidak sampai aku melahirkan kan?"


"Tidak, akan aku pastikan saat kamu lahiran, kita sudah kumpul selamanya"


"Ya sudah mas, aku tutup dulu ya, udah jamnya bikin kudapan buat ibu"

__ADS_1


"Mau bikin kudapan apa memangnya?"


"Mau bikin puding mangga"


"Wah enak, besok-besok bikin buatku"


"Ok tutup dulu ya"


****


sesaat setelah mengakhiri panggilan, Nayla melangkah menuju sang ibu yang tengah menonton tv usai merajut. Nayla tersenyum mendapati wajah ibu mertuanya tampak lebih segar dan auranya lebih terlihat.


"Cantik" gumam Nayla sembari mengulas senyum.


"Ibu sudah selesai merajutnya?"


"S-sudah" jawab ibu masih dengan tergagap, karena memang belum sepenuhnya lancar berbicara.


"I-ni buat Pandu" ucapnya lagi.


Nayla memandangi sapu tangan berjumlah empat lembar. Matanya mengerjap saat menangkap sapu tangan dengan di sertai empat huruf.


"Pipo?" batinnya lalu menelan salivanya, sementara jantungnya makin tak beraturan di dalam sana. Ia memberanikan diri untuk menanyakan maksud dari nama itu.


"Bu ini apa?" Tanya Nayla menunjuk pada tulisan di pojok kanan atas.


"Pipo, kenapa?" Ibu balik bertanya.


"Siapa Pipo bu?"


Tersenyum, bu Risa meraih sapu tangan bertuliskan Pipo.


"Pipo itu nama kucing kesayangan Pandu Nay" Bu Risa berkata sedikit kesulitan. "Dulu sewaktu kecil, dia punya kucing dan Pandu menamainya Pipo. Semenjak kucingnya hilang, Pandu selalu meminta ibu buat menyematkan nama pipo di sapu tangannya" ungkap bu Risa membuat Nayla cukup terkejut.


Nayla seketika berdiri dan melangkah gugup menuju kamarnya untuk mencari sapu tangan yang ia simpan bertahun-tahun.


Setelah kembali, ia menanyakannya pada bu Risa.


"Ibu tahu ini milik siapa?" tanya Nayla sambil memperlihatkan sapu tangannya.


"Ini milik Pandu" Jawabnya sambil menatap sapu tangan itu dengan cermat. "Ini buatan ibu sudah sangat lama, apa anak itu masih menyimpannya?"


Bu Risa mengira bahwa sapu tangan itu Pandulah yang masih menyimpannya. Padahal Nayla lah yang sudah dengan rapi menyimpan dan merawat sapu tangan itu.


"Apa itu artinya mas Pandu adalah Pipo?, orang yang selama ini aku nanti?" Seolah tak percaya, air mata Nayla luruh seketika. Ia tak mampu lagi menahan genangan air di kelopak matanya.


"Apa mas Pandu pemilik sapu tangan ini?, tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku?" Apa mas Pandu tahu kalau aku adalah Nayla teman masa kecilnya?


Nayla sibuk dengan pikiranya, rasanya saat ini juga ia ingin lari ke pelukan pria yang membuatnya selalu memberikan kejutan manis.


"Mas Pandu" berkali-kali ia menyebut namanya dalam hati.


Bersambung


Sembari menunggu Nayla Update, mmampir dulu yuk ya ke cerita Aksa dan Khansa. 😀 klik profilku

__ADS_1



__ADS_2