
"Maaf sudah menyakitimu" ulang Pandu dengan suara sendu serta sorot mata kelam.
Delita sepertinya shock dengan sikap kakaknya yang begitu tulus saat meminta maaf, terlihat jelas gurat itu terlukis di wajahnya.
"Maaf ya Del"
Entah sudah berapa kali Pandu mengucapkan kata maaf untuk adiknya. Namun dari sang adik tak ada sepatah katapun yang keluar.
Melihat hal itu, Nayla mencoba menyalurkan kekuatan pada sang suami dengan memegang tangannya di atas meja. Delita sempat melirik sekilas ke arah tangan mereka yang saling menggenggam.
Selang beberapa detik, gadis itu kembali menunduk sambil mengusap pipinya yang basah.
Delita menangis..
Entah menangisnya karena sedih, kecewa, atau sakit hati, yang jelas jika ada di posisinya, pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang Delita rasakan.
Saat mata Nayla beralih ke wajah Pandu, ia melihat sang suami juga meneteskan air mata sambil terus menatap sang adik.
Nayla sangat yakin bahwa saat ini Pandu sedang merasa bersalah sudah berbuat begitu tega terhadap adiknya sendiri.
Tangan Nayla mengerat ketika buliran bening itu kembali meluncur dari pelupuk mata suaminya. Sepertinya ia tidak bisa diam saja ketika menyaksikan kakak beradik ini saling membisu.
"Del, kami minta maaf ya" Ucap Nayla ketika mereka sama-sama tidak bersuara.
Pandu melirik istrinya sekilas, dan Nayla langsung melempar seulas senyum padanya, berharap senyumannya itu bisa menambah optimisnya untuk mendapatkan maaf dari sang adik.
"Kenapa kak Pandu tidak bilang sebelumnya kalau kakak adalah kakakku?" tanya Delita akhirnya.
Susah payah Pandu meneguk ludahnya, lehernya seakan tercekat hingga nyaris tersedak ludahnya sendiri. Pria itu hanya diam sambil terus memperhatikan wajah Delita. Mungkin saja dia tidak mampu menjawab pertanyaan dari adiknya.
Hingga lewat bermenit-menit, akhirnya Pandu memberikan jawaban.
"Karena kakak akan menjadikanmu alat supaya papahmu mengakuiku sebagai anaknya, tapi justru tidak, dia malah membiarkan kakak menikahimu"
"Papah memang salah, dia sangat keterlaluan, tapi kak Pandu tidak harus melakukan itu kan"
"Kakak gelap mata Del, yang ada dalam pikiran kakak hanyalah kebencian pada papahmu"
"Dia papahmu juga kak" potong Delita cepat.
"Bukan, dia tidak mengakuiku Del, dia tidak pernah mengatakan di hadapanku bahwa dia papahku"
__ADS_1
"Ternyata kakak sama keras kepalanya dengan papah" Delita mengatakan dengan pandangan kosong menatap meja. "Kalian sama-sama egois. Papah dengan pendiriannya, sedangkan kak Pandu dengan dendamnya. Kalian menjadikanku korban dari keegoisan kalian"
"Maaf Del, kakak akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan kakak"
"Kalau gitu bantu aku berpisah dari Alvin" pinta Delita di luar dugaan Pandu dan Nayla.
Sepasang suami istri itu saling pandang begitu mendengar ucapan Delita.
"Kenapa?" tanya Nayla penuh selidik.
"Aku tidak mencintainya"
"Tapi dia sangat mencintaimu Del"
"Apa kamu juga akan menjadikanku korban Nay?" Delita bertanya pada Nayla dengan sorot mata benci. "Kamu tahu kalau Alvin bukan pria baik-baik, kenapa kamu memintaku menikahinya"
"Dia akan berubah Del" sela Pandu cepat. "Jika dia menyakitimu, kakak yang akan menghajarnya langsung"
Delita tersenyum miring. "Mudah sekali kalian berkata seperti itu, kalian tidak tahu seperti apa perasaanku terhadap Alvin kan, aku tidak mencintainya, kalian barus tahu itu"
"Aku tahu seperti apa rasanya" ucap Nayla yang membuat Delita seketika memindai wajahnya. "Aku merasakan sama persis dengan yang kamu rasakan"
Delita menatap Nayla dengan sorot bingung.
Delita tampak seperti menelan salivanya sendiri. Sementara Pandu tertegun sambil menatap Nayla dengan cinta yang kian besar.
"Aku tidak mencintai kakakmu dulu" ulang Nayla pelan. "Tapi lambat laun sikap kakakmu membuatku jatuh cinta padanya, kamu tahu karena apa? karena dia mencintaiku, sebisa mungkin dia melakukan segala cara untuk membuatku membalas cintanya. Sama halnya dengan Alvin, dia akan melakukan apapun demi cintanya terbalaskan"
"Alvin dan kak Pandu itu berbeda Nayla" desis Delita dengan suara tertahan.
"Sama" sahut Nayla. "Mereka sama-sama memiliki cinta yang besar untuk wanita yang mereka cintai"
"Setidaknya beri Alvin kesempatan Del" sambung Pandu yang membuat dua wanita itu segera menatapnya. "Beri dia kesempatan untuk menunjukan cintanya padamu, jika dia berbuat kasar, atau menyakitimu, kamu bisa datang pada kami" lanjut Pandu berusaha memberikan pengertian pada sang adik.
Mendesah pelan, Delita menghembuskan napas frustasi.
"Beri Alvin kesempatan Del" Nayla kembali bersuara.
Hening, tak ada lagi perdebatan di antara mereka, hingga pesanan mereka datang.
"Kita makan dulu" ucap Nayla memecah keheningan yang mereka ciptakan.
__ADS_1
Nayla segera menyidukkan nasi untuk Suami dan sang adik.
Mereka menikmati makan siang dalam diam.
*****
Berjalan gontai, Delita memasuki apartemen Alvin dengan langkah terpaksa, sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan ucapan Nayla yang mengatakan bahwa dia memiliki nasib yang sama dengan dirinya. Di nikahi oleh pria yang tidak mereka cintai.
"Apa aku harus memberi Alvin kesempatan?" gumam Delita. "Apa aku harus menerima pernikahan ini?"
Dering ponsel dari dalam tas bergetar mengagetkannya, Delita segera meraih benda itu.
Alvin Caling...
Delita mengambil napas berat sebelum kemudian mengangkat telfon dari Alvin.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Alvin tanpa basa-basi.
"Sudah" jawab Delita datar.
"Nanti malam mau masak atau beli?"
"Masak"
"Fine, nanti aku akan pulang sebelum pukul lima. Aku akan membawa bahan masakan. Kira-kira apa yang mau di masak?"
"Terserah"
Terdengar suara des*ahan dari balik telfon. Alvin merasa frustasi dengan jawaban singkat dari Delita.
"Ok nanti ku kabari lagi"
Panggilan di putus sepihak oleh Delita.
"Apa benar yang Nayla katakan, seorang pria akan melakukan apapun untuk wanita yang ia cintai"
"Apa lambat laun aku juga akan mencintai Alvin"
"Itu tidak mungkin, Alvin adalah pria bejad, setidaknya itulah penilaianku terhadapnya"
Menggigit bibir bawah, Delita terduduk di lantai, ia bersandar pada sisi ranjang. lengan kirinya mendarat di atas kasur, sementara keningnya menempel di lengan yang ia daratkan.
__ADS_1
Memejamkan mata dengan sekelumit rasa sakit, perlahan alam bawah sadarnya mulai mengambil alih ingatannya. Tak sadar ia tertidur dalam posisi duduk.
Bersambung