Macau Love Story

Macau Love Story
Baby Kellen


__ADS_3

Sudah dua minggu Nayla berada di rumah sakit. Kini, dia sudah di ijinkan pulang dengan membawa serta bayinya. Sementara Pandu, sudah merenovasi kamarnya dengan desain unik khas anak laki-laki.


"Kita pulang sekarang?" tanya Pandu dengan sorot serius menatap Nayla lalu sang bayi yang berada dalam gendongan Nayla.


"Iya" sahut Nayla singkat.


Salah satu suster mendorong kursi roda yang di naiki Nayla dan bayinya menuju ke area parkir.


Sampai ketika tiba di rumah, mereka di sambut oleh ibu, Tania sang adik dari pernikahan bu Risa dengan ayahnya Alvin, Clara, ayik Btari, dan yang lainnya. Mereka tersenyum menyambut Nayla dan bayi laki-lakinya. Kebahagiaan itu tak lepas dari wajah Bu Risa yang saat ini sudah tidak menggunakan kursi roda. Ia suda bisa berjalan dengan berpegangan pada sebuah tongkat.


Bayi yang di namai Kellen Austin Mahardani langsung di ambil alih oleh ayik Btari selagi Nayla melepas rindu dengan ibu mertuanya.


"Bagaimana kabar ibu?"


"Ibu baik" sahutnya sambil menangkup wajah Nayla, kemudian mengecup kening Nayla sedikit lebih lama. "Istirahatlah, bayimu, biar kami yang mengurusnya"


Selang lima detik, Pandu meraih tangan Nayla lalu membawanya ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Nayla menatap takjub dengan kamarnya yang sudah berubah.


"Mas yang merubahnya?"


"Bukan" jawab Pandu jujur. Sementara Nayla menautkan kedua alisnya. "Tukang yang kerjain mommy, aku tinggal terima beres" lanjut Pandu dan langsung membuatnya mencubit pinggang sang suami lembut.


Pandu terus menatap Nayla yang kini badannya sudah ramping kembali. Meskipun buah dadanya agak sedikit melar, tapi itu tak mengubah kecantikan dalam diri Nayla.


Bahkan bagi pria itu, istrinya semakin hari semakin menunjukkan pancaran kecantikannya. Kulit putih mulus bagaikan pualam menambah nilai plus pada diri wanita yang kini tengah menanggalkan pakaiannya karena akan membersihkan diri.


"Bisa mandi sendiri?" tanya Pandu usai menyiapkan air hangat untuk sang istri.


"Bisa" jawabnya sambil mengulas senyum.


Pandu memapah Nayla hingga memasuki area kamar mandi. Ia bahkan tak menutup pintu selagi Nayla mandi.


Pandu sangat tahu bahwa luka bekas jahitan di perut Nayla masih belum kering sempurna, itu sebabnya, dia bersiap menjadi suami siaga untuk membantu melakukan pekerjaan yang sekiranya tidak bisa di kerjakan olehnya.


Butuh sekitar lima belas menit untuk Nayla membersihkan diri, Pandu langsung bergegas menuju kamar mandi dan kembali menuntun Nayla yang sudah terbungkus bathrobe menuju ke arah ranjang.


"Duduk, aku ambil baju untukmu" ucap Pandu.


Pandu berjalan menuju lemari dan mengeluarkan setelan piyama santai. Setelah membantu Nayla mengenakan bajunya, tanpa mengatakan apapun pria itu berdiri di hadapan Nayla lalu mengeringkan rambutnya.


"Apa selama dua minggu ini mas sudah menemui ayah?" Tanya Nayla pelan.


Begitu mendengar pertanyaan sang istri, Pandu melihatnya sekilas sebelum kemudian kembali menjatuhkan pandangannya ke kepala Nayla.


"Belum, aku bahkan tidak tahu dia ada dimana"


"Mas tidak mencoba mencarinya?"


"Selain sibuk mengurusmu dan bayi kita selama di rumah sakit, aku juga sibuk di kantor"


"Mas tidak tanyakan pada Delita?" tanya Nayla was-was.


Alih-alih menjawab, Pandu malah menatap Nayla selama beberapa saat. Kedua tangannya yang tadi bergerak mengeringkan rambut berhenti.


"Aku belum menanyakannya pada Delita, karena fokusku selama dua minggu ini hanya padamu dan Kellen, Setelah ini pasti aku akan mencari ayah dan menyelesaikannya seperti keinginanmu" Dia bicara sambil kembali mengeringkan rambut Nayla. "Lagi pula ibu juga menyuruhku untuk memaafkan pria itu dan melupakan kejadian saat dia meninggalkan kami"


"Lalu, apa mas memaafkannya?"


"Memangnya aku sebrengsek apa di matamu, sampai tidak bisa memaafkan ayah kandungku sendiri? Apa kamu masih berfikir bahwa aku pria dengan pembawaan seperti yang kamu nilai di awal pertemuan kita?"


"Maksud mas?"


"Seperti apa penilaianmu dulu padaku?"

__ADS_1


Mata Nayla mengerjap berusaha mencerna baik-baik pertanyaan Pandu lalu menggelengkan kepala.


"Kamu lupa, pernah mengataiku pria bejad yang suka meniduri wanita manapun, pria yang hobi mengumbar naf$unya pada sembarang wanita demi untuk memenuhi kebutuhan biologisku?"


"Jangan di bahas" potong Nayla cepat. Dulu memang Nayla pernah berprasangka seperti itu terhadap Pandu, sebab belum tahu alasan yang sebenarnya kenapa dia begitu cepat menikahinya dan mencintainya. Tapi sekarang dia sudah sangat tahu, jika Pandu adalah pria masa kecilnya.


"Kalaupun aku sebejad itu, aku masih ingat, kalau aku memiliki dua adik wanita. Apa aku tega membiarkan karmaku jatuh pada Tania dan Delita, jika aku menyakiti hati wanita"


Tentu saja Nayla yakin bahwa Pandu tidak mau hal buruk menimpa Tania dan Delita. Pria itu selain memiliki cinta yang besar untuk dirinya, cinta terhadap ibu dan kedua adik perempuannya juga sangat besar.


"Selesai" ucap Pandu lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk meletakan handuk kotor.


Bersamaan dengan langkah Pandu yang keluar dari kamar mandi, terdengar pintu di ketuk dari luar kamar. Nayla dan Pandu kompak memindai pandangannya ke arah pintu.


Dengan langkah lebar, Pandu segera membuka pintu yang tak terkunci.


"Ada apa Ta?"


"Ada kak Delita cari kakak di luar"


Tania sudah tahu bahwa Delita adalah istri sang kakak yaitu Alvin. Namun dia belum tahu jika Delita juga adik dari Pandu.


"Suruh masuk ke kamar gimana mas?" kata Nayla dari balik punggung Pandu. Sementara Pandu menengok ke belakang mencari netra Nayla.


"Kita bicarakan di kamar kita saja mas" tambah Nayla.


"Bawa dia kesini Ta"


"Iya kak Pandu" jawab Tania patuh.


Tak menunggu lama, Delita pun sudah berada di kamar Nayla serta Pandu.


Nayla dan Delita duduk di sofa panjang dekat ranjang, sedangkan Pandu, ia menggeser kursi rias milik Nayla untuk dia duduki.


"Bagaimana kabarmu Del?" tanya Nayla seraya memegang tangan Delita.


"Aku baik kak"


"Maaf aku sempat mengacaukan hidup kalian" kata Delita penuh sesal, jemarinya saling bertaut dia atas pangkuannya. "Aku menemui kak Pandu untuk membahas tentang papah" lanjut Deli sendu.


"Kakakmu berniat mencari papa" kata Nayla melirik ke Pandu yang tengah melipat tangannya di dada. Persekian detik kemudian, Delita pun memberanikan diri untuk menatap pria yang sempat membuatnya jatuh cinta.


"Apa kakak memaafkan papah?"


Hening, Delita kembali bersuara ketika Pandu tak kunjung menjawabnya. Sebab Pandu sedang larut dalam lamunannya tentang nasib rumah tangga Delita dan Alvin. Matanya bahkan menyorot iba terhadap nasib pernikahan kedua adiknya.


"Papah memang bersalah pada kak Pandu" Lanjut Delita menunduk. "Tapi selama ini papa tak pernah menyakitiku, dia selalu menyayangiku bahkan memperlakukanku seperti gadis kecil yang harus di lindungi. Papah masih merasa bersalah pada kak Pandu, aku mohon maafkan papa atas semua kesalahan papa kak"


Genggaman tangan Nayla semakin erat.


"Mama sudah menceraikan papa, dan saat ini hidup papa sangat menderita"


"Kamu tahu sekarang papa dimana?" tanya Pandu akhirnya.


Delita menggeleng. "Dia menolak memberitahu dimana dia tinggal kak"


"Kakak akan mencarinya, kita jaga sama-sama" ucap Pandu membuat Nayla menyunggingkan senyum.


"Jangan khawatir Del" Sela Nayla sembari mengusap punggung tangan Delita lembut. "Papah akan baik-baik saja di bawah perlindungan kak Pandu" imbuh Nayla berusaha menenangkan Delita.


Menarik napas dalam-dalam, setidaknya satu beban Delita kini berkurang. Dia merasa tenang memiliki seorang kakak seperti Pandu.


"Lalu bagaimana rumah tanggamu?" tanya Pandu menyelidik.


"Aku tidak tahu kak"

__ADS_1


"Apa rumah tangga kalian masih seperti dulu, bukan rumah tangga seperti pada umumnya?"


Kali ini Delita mengangguk jujur.


"Apa kalian masih tidur terpisah? Alvin menyakitimu? misalnya melakukan kekerasan?"


"Tidak kak?"


"Atau dengan ucapan?"


Lagi-lagi Delita menggeleng.


"Coba kamu buka hatimu, kamu jangan terlalu dingin padanya" pungkas Nayla, "Alvin sangat mencintaimu, beri dia kesempatan melakukan hal baik untukmu"


"Apa aku yang harus memulainya terlebih dulu?" Lirihnya tak berani menunjukkan wajahnya ke hadapan Pandu dan Nayla.


"Tidak masalah, dia suamimu, bukan pacarmu"


Hening, mereka saling diam, sementara Nayla dan Pandu saling bertukar pandangan.


"Kak" panggil seseorang dari balik pintu kamar mereka. Itu suara Tania. "Kellen nggak berhenti nangisnya, mungkin dia lapar" ucapnya lagi masih dari balik pintu.


Nayla segera membuka pintu lalu mengambil alih Kellen dari gendongan ayik Btari.


Menutup pintu, dia kembali berjalan mendekati Delita. "Ada ayik Delita sayang" kata Nayla yang nadanya di buat-buat seperti suara anak kecil.


Delita tersenyum sebelum kemudian memindai wajah keponakannnya yang tengah menyesap bulatan kecil di dada sang ibu.


"Siapa namanya kak?"


"Kellen"


"Namanya lucu" puji Delita seraya mengusap pipi Kellen dengan punggung jari telunjuknya.


"Kamu tadi kesini sendiri Del?"


"Iya kak Pandu"


"Alvin tahu kamu kesini?"


"Tidak kak"


"Beri tahu dia kalau kamu disini, nanti setelah makan malam, kakak antar kamu pulang"


"Aku bawa mobil kak, tidak usah"


"Kakak akan tetap mengantarmu. Bahaya wanita berkendara malam-malam"


"Aku akan pulang sekarang, sebentar lagi dia pulang dari kantor, aku harus menyiapkan makan malam untuknya"


"Tidak makan malam disini Del?" tanya Nayla.


"Tidak kak. Aku akan pulang sekarang"


"Ayo kakak antar ke bawah" Pandu mengatakannya seraya bangkit dari duduknya, lalu kembali menggeser kursi ke tempat semula.


"Pulang dulu ya kak"


"Hati-hati ya Del, ingat, kamu harus bahagia, jika merasa tertekan, langsung beritahu kami"


"Iya kak Nay"


TBC


Di tempatku musim sakit, (Batuk pilek). Bagaimana di tempat kalian?" 😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2