
Mas Pandu meraih tanganku, lalu menuntunku untuk berdiri di hadapannya. Level mata kami yang nyaris sama, membuatku tak harus mendongak, karena dia masih duduk di tepian meja.
"Kalau itu aku, lalu kenapa?" tanya mas Pandu dengan fokus sepenuhnya padaku. Tangan mas Pandu bergerak menuntun tanganku untuk melingkar di pinggangnya.
Jarak wajah kami yang kian terkikis, membuatku tak nyaman dengan posisi seperti ini. Apalagi perlahan tangan mas Pandu menekan bagian punggungku agar lebih merapat padanya. Meneguk ludahku sendiri aku merasa kesulitan, dan jantungku benar-benar tidak bisa ku ajak kompromi.
Mas Pandu mengangkat satu alisnya ketika aku hanya diam sambil mengunci netranya.
"Sekarang" kata mas Pandu saat kami terjerat keheningan selama sekian detik. "Jangan tanya lagi kenapa aku menikahimu secara mendadak, jangan tanya lagi kenapa aku begitu mencintaimu"
"Kenapa?" tanyaku mencoba berkelit.
"Aku bukan pria bejad yang memanfaatkanmu untuk memenuhi kebutuhan biologisku, aku tidak pernah berniat hanya menjadikanmu teman ranjangku saja, bukan juga untuk pemuas nafsuku lalu akan membuangmu jika aku bosan. Seperti prasangkamu selama ini"
Entahhlah, mungkin jika jantungku ini buatan manusia, bisa ku pastikan sudah meledak dari tadi.
"Aku mencintaimu sejak dulu Nay, bahkan rasa cintaku padamu lebih besar dari pada rasa cinta pada diriku sendiri. Kamu harus tahu itu! Jangan pernah kamu tanyakan lagi alasan kenapa aku menikahimu, karena jawabanku akan tetap sama. Wo ai ni, na shi, xianzài he yongyuan"
Aku mencintaimu, dulu, saat ini dan selamanya, itu yang ku tahu maksud dari perkataan mas Pandu dalam bahasa mandarinnya.
"Aku akan menggantikan papa untuk menjagamu"
Dan saat itu juga, setetes embun dari kelopak mataku meluncur.
"Kamu tidak punya alasan untuk meneteskan ini lagi sekarang" tambah mas Pandu sambil mengusap pipiku yang basah.
"Jika kamu masih belum percaya, kamu harus ingat perjuanganku mendatangimu ke Jogja untuk melakukan penawaran dengan tantemu, kamu harus ingat bahwa aku berani membelimu meski hargamu setara dengan seluruh harta yang ku miliki, kamu harus ingat bahwa aku langsung ingin menikahimu tanpa menundanya lagi"
Mulutku benar-benar terkunci sangat rapat, bahkan untuk mengeluarkan satu kata saja lidahku kelu.
"Kamu harus bahagia Nay"
Dan aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak memeluknya.
Ku peluk erat tubuhnya, menyesap aroma manis di piyamanya, dan ku pastikan detik ini juga, aku harus menjaganya sampai kapanpun, karena aku percaya, masih ada cinta yang tak pernah melukai.
__ADS_1
Pandu
Wanitaku, meskipun usianya jauh lebih muda dariku, tapi perkataannya bak wanita dewasa yang membuatku ingin selalu mendengarkan celotehnya.
Masa lalu sudah terungkap, gadis kecilku sudah kembali, dan pria yang dia tunggu sedang memeluknya saat ini. Akan ku biarkan dia memelukku hingga puas, menuntaskan rasa rindunya yang tak kalah hebat dengan rinduku. Rindu yang selama ini sama-sama kami simpan hingga bertahun-tahun lamanya. Tak akan kubiarkan lagi dia menghilang dari hidupku untuk yang kedua kalinya.
Pelukan Nayla di pinggangku mengerat ketika aku melakukan sedikit pergerakan hanya untuk sekedar bangkit dari posisiku yang duduk di tepian meja. Pelukan yang lewat hingga bermenit-menit, sampai hawa dinginpun tidak lagi aku rasakan.
"Kenapa mas merahasiakan dan tidak berkata jujur dari awal?" tanyanya dengan suara teredam.
"Karena aku ingin kamu mengetahui sendiri tanpa aku beritahu"
"Tapi kenapa?" tanyanya lagi, kali ini kepalanya mendongak lalu menempelkan dagunya di dadaku.
"Karena aku belum yakin kalau kamu juga mencintaiku"
"Tapi sudah pernah aku beri tahu kan kalau aku masih menanti Pipo, kenapa waktu itu mas tidak langsung mengatakannya?"
"Aku bingung mau ngomong dari mana, takutnya kamu tidak percaya jika aku bilang bahwa aku Pipo pemilik sapu tanganmu, kamu tahu aku tidak punya bukti" ucapku lembut sambil mengusap rambutnya yang tergerai.
"Jangan pergi dariku lagi" katanya parau.
Detik kemudian, kami hanya diam saling mengunci pandangan. Aku mengecup bibirnya kilat, lalu ku kecup lagi bibir itu yang terasa begitu kenyal dan lembut. Hanya sekedar mengecup, tapi justru Nayla menyambut kecupanku dengan mem*agut bibirku, detik berlalu, aku melepas tautan bibir kami meski sejujurnya masih ingin menjamah bibirnya lebih dalam lagi.
"Kamu tahu sendiri" kataku saat melepas ciuman kami. "aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, jadi kamu harus percaya sepenuhnya padaku"
Meski kening kami masih saling menempel, bisa kurasakan anggukan kepalanya. Dia menatapku dengan nafas tak teratur akibat ciuman panas kami barusan.
"Kita tidur sekarang?" kataku melepas kesunyian.
Nayla mengangguk. Dan aku memalingkan laptopku yang belum sempat ku shut down. Setelah itu, aku mengangkat tubuhnya, membawanya ke ranjang kami, tapi aku tidak berniat main-main malam ini, sebab aku tahu dia sangat lelah.
"Kapan mas temui Delita untuk meminta maaf?" tanya Nayla saat kami sudah sama-sama berbaring dan saling memeluk.
"Apa kamu mau menemaniku menemuinya?"
__ADS_1
"Kalau mas ijinkan?"
"Tentu saja" jawabku cepat. "Aku tidak mau menemuinya sendiri"
"Apa mas takut di gampar sama Delita?"
"Bukan itu yang ku takuti, tapi tatapan Alvin. Aku yakin dia tidak suka jika aku menemui Delita"
"Dia sedikit berubah sekarang"
"Sudahlah sayang, jangan bahas itu, lebih baik tidur sekarang. Besok kita PT PT"
"PT PT?"ulang Nayla sedikit menjauhkan tubuhnya lalu menatapku lengkap dengan alis yang menukik tajam. "Apa itu?"
"Pesta-pesta?"
"Pesta-pesta?"
"Iya, kita makan-makan besok"
"Memangnya ada acara apa besok" tanyanya kian penasaran.
"Acara menyambut kepulanganmu ke Macau. kita makan hidangan penutup sampai puas"
Persekian detik aku langsung mendapat cubitan di pinggangku.
"Aku serius Nay, mumpung cuma ada kita berdua, jadi bisa fokus"
Kedua kalinya aku mendapatkan cubitan di tempat yang sama.
"I love you Nay" kataku seraya mengeratkan pelukan kami.
"I love you too, mas"
"Ok sekarang kita tidur, besok kita makan dessert sama-sama"
__ADS_1
"Mas ihh" serunya lalu menggigit bagian dadaku lembut.
Malam ini, adalah malam yang tidak pernah untuk berhenti ku syukuri.